Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 31


__ADS_3

Pria itu menatap nyalang seorang lelaki yang kini sudah bersujud di hadapannya. Tanpa ampun ia sudah menghancurkan satu persatu apa yang dimiliki oleh seorang Rivai. Pria paruh baya yang dulunya tampak gagah berjalan di atas harta benda yang dimilikinya hari ini harus tunduk di bawah kuasa seorang Jullian yang sudah siap untuk menghancurkan semua kejayaan yang ia miliki. Di depan mantan menantunya, Rivai harus membuang segala kehormatan yang dulu pernah ia junjung tinggi atas dasar derajat kekayaan seseorang. Pria itu kini hanya bisa datang ke kantor Jullian dan memohon ampun atas segala kesalahan yang ia sendiri masih meragukan apakah itu kesalahan miliknya atau tidak. 


"Tolong maafkan kesalahan putriku. Mohon kembalikan semua aset perusahaanku seperti semula."


Tolong?


Jullian hampir menertawai laki-laki yang pernah hadir di dalam hidupnya sebagai seorang ayah mertua. Tak dapat dipercaya olehnya bahwa selama ini ia telah hidup di tengah kawanan serigala berbulu domba. Ia begitu buta untuk tetap membiarkan keluarga mantan istrinya itu berbahagia di atas penderitaan orang lain. Bisa-bisanya Rivai masih bisa tertawa ketika mantan istri dan anaknya kelaparan setelah dikirim ke luar negeri. 


Sebulan yang lalu, Jullian telah resmi membuang gelarnya sebagai bagian dari keluarga busuk itu Pria itu tak membiarkan adanya mediasi dalam proses perceraiannya. Sejak awal menikah dengan Lusi, Jullian telah menyiapkan dokumen pranikah yang tentunya tak dibaca dengan teliti oleh mantan istrinya itu. Lusi terlalu senang mendapatkan apa yang diinginkannya sehingga tak menyadari bahwa ada poin di mana Jullian bisa kapan saja menggugat tanpa ada pembagian harta bersama, apabila Lusi satu saat bersalah kepadanya Wanita itu dengan mudahnya menandatangani dokumen itu tanpa mau membacanya. 


Ya, Jullian seharusnya sudah menyadari sebelumnya tingkah Lusi yang seperti itulah yang telah membawanya masuk ke dalam lubang neraka sesungguhnya. Dan mengingat bahwa wanita itu telah menipunya habis-habisan, Jullian takkan berbaik hati lagi. Ia telah menarik seluruh sahamnya dari perusahaan milik keluarga mantan istrinya itu. Bahkan ia juga mempengaruhi para investor untuk menarik semua dana investasi dari perusahaan itu. 


Biarlah!


Jika Jullian hancur maka ia takkan mau menderita sendirian. Orang yang sudah membuatnya seperti ini harus merasakan kehancuran dua kali lipat dari yang ia rasakan. Jullian tak peduli tangis raungan yang ditujukan mantan istrinya itu saat palu hakim menyatakan bahwa usia pernikahan mereka telah usai. Bahkan Jullian merebut hak asuh anak atas Arif dari tangan Lusi. Tak ada satu pun yang ia akan bagi dengan mantan istrinya itu. 


"Nak, ayah mohon." Ucap Rivai lirih. 


Jullian tak serta merta langsung menjawabnya. Lelaki itu menampilkan senyum sinis atas apa yang ia dengar. Dengan mudahnya Rivai memohon kepadanya, sedangkan dulu ada seorang wanita muda dan ibunya yang juga memohon untuk tidak dibuang begitu saja. Ada seorang anak yang menderita hanya karena ayahnya memilih untuk membahagiakan anaknya yang lain. 


"Mohon? Apa kau masih pantas untuk memohon kepadaku ?"Tanya Jullian sambil bersedekap. Wajahnya tampak tak memiliki raut keramahan. Tak ada lagi tata krama kesopana yang ia tunjukkan pada mantan mertuanya itu. Ia sudah menjelma menjadi iblis dan semua itu berkat satu keluarga kecil yang sudah menghancurkan kehidupannya. 


Tak lama Jullian pun menekan telpon yang terletak di atas meja kerjanya. Ia tampak menghubungi seseorang yang langsung menjawab di seberang sana. 


"Tolong datang ke ruangan saya." titahnya. 


Sedangkan Rivai masih setia bersimpuh di depan mantan menantunya itu. Ia berharap Jullian akan mengampuni segara perbuatan yang dilakukan oleh Lusi dan Amara. Ia tak pernah tahu apa yang diperbuat anak dan istrinya. Selama ini ia berpikir bahwa rumah tanggan anaknya baik-baik saja. Namun, sebulan lalu ia dikejutkan dengan kabar perusahaannya yang hampir collaps lantaran semua invetor menarik dananya dan Jullian pun ikut melakukan hal yang sama. 


Masih ia ingat Amara mengamuk kepadanya karena seluruh aset keluarga mereka harus di sita oleh bank karena semua yang mereka miliki telah ia jaminkan untuk proyek besar yang di usung bersama Jullian. Kini ketika pria itu menarik seluruh dana perusahaannya, maka tamatlah Rivai. Ia tak punya apapun untuk dimiliki. Hanya rumah, satu-satunya harta yang tidak ia jaminkan. Tapi, menggaji ratusan karyawan takkan bisa tertutup hanya dengan menjual rumah. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya hanya Jullian. 


"Nak, ayah mohon tolong perusahaan ayah. Ayah akan melakukan apa saja yang kau minta agar perusahaan itu tidak bangkrut. Ada banyak karyawan yang harus digaji. Mereka semua bergantung padaku."


Sebenarnya bukan hanya itu. Amara bisa mengamuk lagi padanya. Istrinya takkan membiarkan kemiskinan menguasainya lagi. Wanita itu sudah merasakan kemiskinan sebelum mereka menikah. Rivai tidak akan membiarkan istri tercintanya mengalami hal itu kembali. 

__ADS_1


Namun tak sedikit pun hati Jullian tergerak. Pria itu masih saja berdiri dengan wajah angkuh memandangi ketidakberdayaan Rivai. Hatinya sama sekali tidak merasa iba atas kemalangan yang menimpa pria tua itu. Bayangannya tentang wanita yang kini telah pergi dari kehidupannya lebih menghantuinya dan wajah itu pulalah yang membuat tekadnya untuk menghancurkan orang-orang ini semakin memuncak.


"Dulu ada seorang anak perempuan yang memohon bantuan padamu. Tapi, sepertinya tidak pernah kau ingat siapa anak itu dan mengapa sekarang kau lebih memperdulikan nyawa ratusan karyawan yang notabennya adalah orang asing?"


Rivai mendongakkan kepalanya dan bertemu pandang dengan Jullian yang masih memandanginya dengan tatapan menusuk. Tatapan pria itu seorang sedang menantang jawaban apa yang akan ia berikan. 


"Jika yang kau maksud Arnetta, maka Aku akan berkata anak iblis itu memang pantas mendapatkannya." Sungut Rivai sambil mendesis. "Dialah yang membuat Ratih membenciku."


Ya, ia sangat membenci anaknya itu. Anak yang tak pernah ia harapkan kehadirannya. Jika Arnetta tidak pernah ada, mungkin ia masih bisa bersama dengan Ratih. Rivai sejak awal tidak pernag menginginkan anak dari wanita itu. Ia hanya ingin Ratih bersamanya dalam keadaan sehat. Tapi, sejak mengandung Arnetta, mantan istrinya menjadi lebih memperhatikan kandungannya dari pada kesehatannya sendiri. Dan yang paling ia benci adalah ketika Ratih lebih memilih untuk di ceraikan dari pada harus menyingkirkan Arnetta yang kala itu masih dalam kandungan. 


Jullian di sana berusaha menahan amarahnya yang sudah memuncak ketika telinganya mendengar penghinaan yang di lakukan Rivai kepada anak kandungnya sendiri. Entah setan apa yang sudah merasuki pria itu hingga membuatnya sangat membenci Arnetta. 


"Kalau kau penasaran, biar kuberi tahu. Arnetta bukanlah anak yang aku harapkan. Dia adalah anak yang terlahir membuat ibunya menderita. Kesehatan Ratih menurun karena dia nekat melahirkan anak sialan itu!" 


Pria itu sudah tidak bisa menahannya lagi. Dengan gerakan kilat, Jullian langsung menghampiri Rivai dan menarik kedua kerah bajunya hingga pria tua itu terpaksa harus berdiri. Wajahnya mendekat dan berteriak di depan wajah Rivai dengan tatapan membunuh "Brengsek! Dia anakmu, sialan!" 


Beruntung tak lama dua orang pihak keamanan datang dan membuat Jullian mau tak mau harus melepaskan cengkramannya dari kerah baju Rivai. 


"Bawa dia pergi. Jangan biarkan sampah ini menginjakkan kakinya di sini. Dia dan juga putrinya Lusi. Kalian paham ?"


"Ratih telah meninggal. Anak yang kau sebut sialan itu sudah berusaha menyelamatkannya hingga menjual tubuhnya sendiri, tapi istri tersayangmu mengacaukan segalanya."


Rivai tak sempat bertanya lagi apa maksud perkataan Jullian. Namun satu hal yang membuat pria itu seolah kehilangan pijakan kakinya. Aliran darahnya seperti tersedot keluar dari tubuhnya dan membuat pria tua itu jatuh di depan meja sekretaris ketika pihak keamanan sedikit melonggarkan pegangan mereka. 


Rowena, yang kebetulan masih berada di balik meja sekretaris langsung menghampiri pria itu. Ia pun ikut membantu Rivai berdiri dan memandanginya penuh kecemasan. 


"Paman ada apa ?"


Rivai tidak bisa mengatakan apapun. Pertanyaan itu seperti terlintas begitu saja di kepalanya tanpa perlu di proses ke dalam otaknya. Mendadak ia membeku di tempatnya. 


Ratih telah meninggal.


Wanita yang diam-diam juga ia cintai selain Amara sudah tidak ada lagi di dunia yang sama dengannya. Tidak ada lagi wanita yang dulu pernah mencintainya dengan tulus dan membuatnya menjadi pria yang tak pernah menuntut apapun. Cukup Ratih hidup sehat bersamanya. 

__ADS_1


Ditengah kebisuan Rivai, pria itu masih bisa bersuara, tapi betolak belakang dengan hatinya. Tanpa sadar ia pun menyebutkan nama Arnetta yang langsung menyulutkan api kemarahan Rowena. Wanita itu langsung menduga bahwa kekacauan ini pasti di sebabkan oleh wanita ular itu. Wanita yang dulu pernah berlakon baik menjadi sahabatnya sebelum pada akhirnya membuatnya menjadi wanita paling hina. 


Rowena takkan tinggal diam. Ia akan membuat Arnetta menyesal telah membuatnya merasa terhina dulu. Wanita itu memang harus diberi pelajaran. 


**


Sepasang mata yang biasanya melayangkan tatapan tajam pada setiap lawan bicaranya, kini setelah sekian lama kembali memancarkan kesedihan melalui tatapan sendu kala melihat benda mati yang menjadi saksi hidup betapa kejamnya perlakuannya pada seseorang yang bahkan tidak pernah bersalah. Menjadi saksi saat tangan besarnya pernah hampir meremukkan leher seorang wanita. Masih segar dalam ingatannya kala wanita itu memohon pengampunan saat dirinya memperlakukannya tidak manusiawi. Hanya permohonan sederhana yang seharusnya ia lakukan dulu. Namun, Kebencian telah membutakan matanya. Ia tak pernah menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya kini membawa perasaan lara untuknya.


Mungkin orang lain bisa mengatakannya terlalu cengeng untuk seorang lelaki, tapi kesalahannya terlalu besar. Selama bertahun-tahun ia sudah menyimpan dendam pada orang yang salah. Ia telah menuduh hal keji pada wanita yang seharusnya ia cintai dan masih sangat dicintainya hingga saat ini. Ia sadar bahwa perasaan itu masih ada dan akan selalu ada. Namun, bayangan wajah pucat ibunya yang hampir meregang nyawa selalu menghantuinya. Wajah itu yang selalu muncul ketika hati nuraninya mulai berteriak untuk menghentikan kegilaannya dulu. 


Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi dan dirinya hanya bisa pasrah. Ia tak mau terlalu menggebu untuk mencari kemana sosok itu pergi. Ia cukup tahu diri bahwa ia takkan pernah pantas untuk memohon pengampunan wanita itu. Bahkan untuk bersujud di kakinya pun takkan pernah cukup untuk meghapus segala perlakuannya dulu. 


Arnetta. 


Bahkan untuk menyebut namanya pria itu merasa dirinya terlalu hina. Hal yang kini bisa dilakukannya adalah meratapi semua benda yang dulu pernah memberikan kenangan ketika wanita itu menempati kamar yang biasa digunakannya untuk ... menyetubuhi wanita itu tanpa ampun. 


"Tuan."


Pria itu mendengar sebuah suara yang ia kenali memanggilnya. Namun ia enggan untuk membalikkan tubuhnya. Ia masih betah untuk tetap memunggunginya sambil memandangi tempat tidur yang biasa digunakan Arnetta untuk memejamkan mata. 


Ya, seharusnya ia tahu mengapa wanita itu lebih sering menidurkan diri dari pada harus membuka matanya. Dunia kejam dan ia pun menambah daftar kekejaman yang menimpa hidup malang wanita itu. 


"Sudah dua hari anda belum makan apapun."


Pria itu tahu kalau perutnya sudah memberontak sejak kemarin ingin diisi. Ketika dirinya memandang pantulan wajahnya di depan cermin, seratus persen ia sadar bahwa wajahnya tak ubahnya mayat hidup. Tubuhnya sedikit lemas, tapi ia tak memiliki tujuan lagi selain mendatangi kamar ini. Sebuah sudut kecil di hatinya berharap mungkin saja jika ia mendatangi kamar ini, akan ada sosok yang ia nantikan sedang berbaring di sana. 


"Apa aku masih bisa makan enak sedangkan aku tahu bahwa penyebab penderitaan ini adalah diriku sendiri ?" Gumamnya. 


Jullian mendongakkan wajahnya ke atas untuk menhalau air mata yang nyaris saja keluar. Sejak kepergian Arnetta ia menjadi laki-laki yang mudah menangis. Sedikit saja ia mengingat wanita itu, maka hancurlah pertahanan dirinya. 


Maria hanya bisa terdiam di belakang Jullian. Ia tahu persis betapa menderita atasannya itu sejak mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Lusi telah membuat Jullian hancur sehancur-hancurnya. Wanita itu telah mengakui semua kejahatan yang ia perbuat hingga membuat kebencian Jullian pada Arnetta semakin menjadi-jadi. Baru kali ini juga Maria melihat Jullian terpuruk seperti ini. Biasanya pria itu akan selalu tampil gagah tanpa celah. Seumur hidupnya mengasuh Jullian sejak kecil, ini adalah kali pertama ia melihat pria itu mudah menangis seperti ini. 


"Dia sedang apa saat ini ? Apakah Arnettaku makan dengan baik ? Apakah dia sedang mengidam seperti kebanyakan ibu hamil ? Apakah dia tidur dengan nyaman sekarang ? Apakah dia ..."

__ADS_1


Jullian tidak sanggup melanjutkan pertanyaan yang seolah ia tujukan kepada langit yang berkuasa di atasnya. Pria itu pun luruh ke lantai dan menangis tersedu. Pria itu langsung terduduk di lantai sambil menutupi matanya. Kedua pundaknya pun bergetar hebat ditengah suara isakan yang keluar dari mulutnya. 


Maria sontak saja langsung menghampiri Jullian dan memosisikan diri di sampingnya. Wanita paruh baya itu membawa kepala Jullian ke dalam pelukannya. Tidak ada yang dibutuhkan Jullian selain sebuah kasih untuk meringankan rasa Penyesalan yang ia yakin akan bertahan seumur hidup. Sekali pun Arnetta akan kembali lagi, tentu saja semua itu takkan lagi sama. 


__ADS_2