Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 37


__ADS_3

"Permisi pak, kami sudah menemukan titik terang. Satu bulan yang lalu ada seorang kasir supermarket yang tak sengaja melihat wanita ini sedang berbelanja. Kasir itu menjelaskan bahwa wanita yang ia lihat sama dengan foto yang kami berikan dan kondisinya sedang hamil besar." jelasnya.


Pria itu yang sejak tadi membelakangi orang suruhannya segera membalikkan tubuhnya. Sosok Jullian yang berwajah angkuh itu mulai mencairkan es di hatinya. Pada akhirnya ia bisa mendengar kabar berita tentang wanita yang selama ini ia cari. Dalam hatinya ia bersyukur jika wanita itu dan juga bayi mereka baik-baik saja. Kalau kasir supermarket itu melihatnya dalam kondisi yang sedang hamil besar, artinya wanita itu dan anak mereka baik-bak saja.


"Dimana mereka sekarang ?"


Tanpa perlu memperjelas lagi siapa "Mereka" yang dimaksudkan oleh atasannya, pria yang sudah bekerja sebagai detektif selama sebulan itu langsung memastikan posisi orang yang dicarinya.


"Ada di kawasan Menteng dan kasir itu juga menjelaskan bahwa wanita itu tidak sendirian. Ada seorang pria yang menemaninya. Kasir itu yakin kalau pria itu adalah suaminya.


"APA?!"


Pria itu segera menurunkan pandangannya saat melihat reaksi yang tidak menyenangkan dari atasannya. Siapa saja mengenal jika wajah muram Jullian merupakan pertanda yang tidak baik dan bisa menimbulkan masalah bagi semua orang.


"I-Iya. Kasir tersebut bersaksi bahwa wanita yang kita cari sedang berbelanja dan sedang di temani oleh seorang pria. Tapi, pria yang dimaksud tidak begitu jelas, karena kejadian sudah berlalu beberapa hari sehingga petugas itu lupa dengan wajahnya.


BRAK!

__ADS_1


"Sialan!" Geramnya. Jullian langsung menggebrak meja di hadapannya sekeras yang ia bisa. Mungkin saja yang mendengarkannya dapat membaca emosi pria itu. Betapa marahnya sosok Jullian mendengar laporan yang ia terima hari ini. Sudah sejak berbulan-bulan lamanya Jullian itu mencari seorang wanita yang sangat membuat pekerjaan para bawahan pria itu kuwalahan. Tak jarang Jullian bisa sampai mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya agar bisa menemukan sosok tersebut.


Pasca bercerai dengan istri pertamanya Jullian dikenal semakin dingin kepada siapapun. Banyak yang pada awalnya berspekulasi bahwa pria itu terpukul dengan kehidupan rumah tangganya. Seringnya wanita yang berada di sekitar pria itu mencoba mendekat, tapi Jullian dengan tegas bahkan kasar mengusir wanita-wanita yang mencoba menggodanya dari kehidupannya sejauh mungkin. Sampai saat ini hanya ada satu sosok yang mampu mencairkan suasana di hati Jullian, yakni Arif anak lelakinya. Hanya dengan sang anak Jullian akan terlihat layaknya manusia normal. Sedangkan di hari-harinya Jullian bekerja layaknya sebuah robot yang hanya istrirahat di saat malam hari. Atau bahkan sering menginap di kantor.


"Saya belum menemukan dimana wanita itu tinggal. Hari ini saya akan kembali ke lokasi untuk memantau pergerakan wanita itu." Lanjut pria paruh baya itu yang kini bekerja sebagai seorang detektif.


Jullian tak bisa berkata lebih banyak. Tak ada sahutan yang keluar dari bibirnya lantaran pria itu begitu lemas. Ia pikir kalau dirinya harus bisa berpikir lebih rasional. Tidak ada gunanya untuk meluapkan emosi berlebihan. Tujuan utamanya adalah menemukan dimana Arnetta sekarang. Wanita dan juga calon anak mereka adalah prioritas untuk saat ini.


"Baiklah, lanjutkan dan kau boleh keluar."


Tak lama pria paruh baya itu pun pamit pergi meninggalkan Jullian seorang diri dalam ruangan yang sunyi. Jullian segera menghempaskan tubuhnya di kursi. Matanya terpejam dengan raut wajah yang ebigtu frustasi. Sudah sejak lama perasaan sesak ini melingkupinya. Ia pikir sebelumnya akan sangat mudah menemukan wanita itu. Namun sudah berbulan-bulan lamanya Arnetta pergi dari hidupnya. Perkiraannya kalau usia kehamilan wanita itu un sudah menginjak usia enam bulan. Seharusnya mereka sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka. Namun, semua angan-angan itu hanya ada dalam kepalanya. Nyatanya Arnetta sudah pergi karena kesalahan Lusi dan ibunya. Dan, juga kesalahannya.


Bagaimana bisa Jullian tidur dengan tenang jika setiap kali matanya terpejam ia selalu melihat mimpi buruk tentang wanita itu. Pernah sekali dalam mimpinya ia melihat Arnetta dalam keadaan hamil tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan dengan bersimbah darah. Mimpi itu terus menghantui bayangannya setiap kali ia mencoba menutu kedua matanya meskipun bukan dalam keadaan tertidur. Sungguh, ia sebenarnya merasa sedikit lega jika mengetahui kondisi Arnetta baik-baik saja.


Akan tetapi ia tidak tahan saat mendengar kalau wanita itu berada dalam pelukan pria lain, apalagi dengan kondisi sedang mengandung anaknya. Bayangan Arnetta yang tergeletak bersimbah darah dan bayangan wanita itu menjadi milik orang lain mampu membuat hidupnya semakin tidak tenang. Jullian hanya mau wanita itu terus menjai miliknya. Terlepas dari kesalahan yang sudah ia lakukan. Pria itu akan menebus semuanya dengan seluruh hidupnya. Terserah, jika nantinya Arnetta akan mengutuknya dengan perkataan menyakitkan sekalipun, yang terpenting wanita itu tetap berada dalam pandangannya.


BRAK!

__ADS_1


Jullian langsung tersentak dari kursinya begitu mendengar suara pintu yang terbuka dengan paksa. Dilihatnya Rowena yang terlihat kuwalahan menghalau tamu tak di undang yang datang dengan wajah memerah seolah siap meledakkan isi kepalanya.


Rowena langsung membungkukkan tubuhnya dengan wajah cemas. Ia tahu mood Jullian sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja saat ini sejak sidang perceraiannya berakhir. Bisa saja pria itu memecatnya karena imbas dari insiden tamu tak di undang ini.


"Maafkan saya pak. Saya sudah bilang kalau anda sedang tidak bisa menerima tamu tanpa membuat janji terlebih dahulu." ujarnya.


Jullian tidak bisa memarahi sekretarisnya ini. Jangankan Rowena, pasti petugas keamanan di bawah juga sama kerepotannya mengahalau tamu tak di undang ini. Ia tidak terkejut lagi dengan kedatangannya karena sudah bukan rahasia lagi jika tamunya hari ini tidak memiliki tata krama yang baik.


"Tidak apa-apa, Na. Kau bisa keluar. Biar aku yang tangani ini."


Semula Rowena merasa ragu untuk meninggalkan kedua orang berbeda generasi ini hanya berdua. Selain karena mood Jullian yang akhir-akhir ini tidak bagus, ia pun sudah hafal jika tabiat orang ini sangat tidak baik dan cenderung menyebalkan. Rowena sendiri heran mengapa Lusi bisa tahan serumah dengan wanita gila ini. Namun Rowena sadar jika dirinya tidak berhak mencampuri urusan diantara Jullian dan wanita ini. Pasti kedatangannya hari ini menyangkut masalah keluarga, terutama perceraian Jullian dan Lusi yang sudah ketuk palu. Wanita itu pun segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan mereka berdua.


Ketika mereka berdua sudah berada di ruangan hanya berdua, Jullian pun bangkit dari kursinya sambil mengancingkan jasnya. Seringaiannya muncul kala dirinya sadar jika kedatangan tak biasa wanita ini pasti karena perceraiannya dengan Lusi yang tidak bisa lagi terelakkan.


"Wah, ada kejutan apa sampai mantan ibu mertuaku datang dan membuat keributan di dalam wilayahku ?" Sengitnya tajam.


Amara, wanita yang membuat keributan pagi hari ini tak lagi memiliki urat malu. Semuanya sduah menguap saat dirinya sudah berjuang mati-matian mempertahankan apa yang sudah dirinya dapatkan lima tahun lalu. Apalagi saat dirinya menyadari jika Jullian secara terang-terangan mengibarkan bendera perang.

__ADS_1


"Sialan kau! Bisa-bisanya kau bermain api denganku Jullian Basuki."


__ADS_2