
Kedua orang itu berpelukan cukup lama. Isakan tangis seolah tenggelam bersama dengan kokohnya lengan yang membungkusnya dengan erat.
Wanita itu tetap menenggelamkan wajahnya di dada pria yang kini juga menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya. Keduanya seperti lupa bahwa mereka adalah kedua orang asing yang punya masa lalu menyedihkan. Keduanya juga merupakan pasangan yang harus berpisah. Namun, setiap detak yang bergema bersama detik waktu menyihir keduanya untuk melupakan semuanya. Rasa hangat dan nyaman membawa keduanya kembali ke masa lalu, bahwa ada cinta diantara mereka. Ada rasa cinta yang membuat mereka pernah hampir bersama.
Arnetta mau mengakui, bahwa ia rindu pelukan ini. Perasaan hangat dan menyenangkan dalam pelukan Jullian membuatnya enggan untuk membuka mata. Ia terlalu takut menerima kenyataan bahwa pria yang tengah memeluknya adalah pria yang telah memperkosanya dan juga menjadikannya simpanan.
Hal ini mengoyak hatinya setiap kali Arnetra terpaksa menyadarinya. Jullian adalah suami dari Lusi, saudara tirinya. Pria ini juga yang telah menghancurnya dirinya sampai berkeping-keping. Tapi, bodohnya jantungnya selalu berdetak kencang karena pria ini. Rasa cinta yang seharusnya hilang hari ini mampu ia rasakan kembali. Sangat kuat sampai menyihirnya untuk tetap memeluk pria di hadapannya itu.
Jullian, dengan aroma maskulin yang memyejukkan ini mampu membawa kenangan saat mereka berkencan dulu. Berkatnya, Arnetta tahu rasanya jatuh cinta sekaligus patah hati yang mengerikan. Pria yang semula mencintainya itu berubah menjadi monster mengerikan yang tega mengoyak hatinya.
Segera setelah menyadarinya, Arnetta pun mendorong tubuh Jullian menjauh darinya. Ketika itu ia melihat wajah terkejut dari Jullian, tapi Arnetta terpaksa mengabaikannya. Ia tak mau membuat pria itu semakin membencinya. Cukup sekali ia merasakan sakit hati. Kalau Jullian dari awal sudah mengatakan bahwa ia menjijikkan, Arnetta takkan mengubah hal itu.
"Arnetta..."
Suara lirih itu hampir membuatnya berhenti dan menoleh. Tapi tidak, ia tidak bisa lemah pada dirinya sendiri. Ia sudah berjanji untuk tidak masuk kembali ke dalam hidup Jullian. Biarlah ia di sini sampai lak-laki itu bosan padanya. Arnetta akan pergi setelah Jullian mengusirnya. Dengan begitu, Arnetta tahu kapan ia harus mengakhiri kepedihan hatinya. Hatinya punya masa kekuatannya, jika Jullian mengusirnya maka itulah saatnya ia harus mengakhiri semua. Ia tidak akan melarikan diri.
Mengabaikan panggilan itu, Arnetta segera berjalan menjauhi pria itu. Berada dekat dengan Jullian malah membuatnya menjadi wanita yang lupa akan masa lalu. Hanya dapur, tempat paling aman yang tak pernah di datangi oleh Jullian. Pria itu takkan pernah menginjakkan kakinya di sini.
"Kau tahu, wanita itu sudah dibuang oleh Tuan. Dia sekarang sama seperti kita. Pelayan!"
Suara itu langsung terdengar begitu kakinya memasuki area dapur. Arnetta melihat tiga orang pelayan di rumah ini sedang berkumpul di halaman belakang yang terhubung dengan dapur. Ketiganya tak menyadari kehadirannya. Untuk itu, Arnetta hanya diam di tempatnya tanpa niatan melanjutnya langkah kakinya lagi.
"Kudengar dia simpanan. Beberapa kali aku membersihkan kamar yang dulu dipakai Tuan Jullian untuk menidurinya dan dia masih tidur di sana dalam keadaan telanjang." ucap lagi salah satu pelayan di sana.
"Memang dasar pelacur! Sudah tahu Tuan Jullian sudah menikah, tapi masih mengincarnya. Malah sekarang Tuan muda memanggilnya dengan sebutan bunda."
"Dasar perempuan sundal!"
Air mata Arnetta sudah menggenang. Tangannya meremat kerah pakaiannya dengan kencang bersamaan dengan nyeri yang mendera hatinya. Memang sudah sepantasnya orang-orang mengatakan hal itu tentangnya. Arnetta sudah tidak lagi memiliki harga diri. Sejak dulu, ia sudah kotor. Dengan masa lalunya yang kelam, sangat wajar orang lain menilainya demikian. Rasanya panggilan bunda dari Arif untuknya pum terlalu berharga bagi dirinya yang hina ini.
"Kalau wataknya sudah begitu, berarti wanita itu tidak tahu diri."
Begitu kalimat itu kembali terdengar, air mata Arnetta jatuh seketika. Ia kembali menangis hari ini. Hatinya patah tidak lagi menjadi dua, tapi sudah berkeping yang tak terhitung. Ia sudah hancur. Sebagai seorang wanita ia telah gagal menjalankan hidupnya. Bahkan, ibunya memilih untuk meninggalkannya dari pada hidup dengan seorang anak yang menjijikkan sepertinya.
Perempuan sundal, pelacur, wanita tidak tahu diri. Begitu mereka menyebutnya. Tidak heran mengapa Jullian jijik padanya. Wanita seperti dirinya bahkan tak pantas berada di mana pun di dunia ini.
**
Sepasang mata tajam itu tak berhenti memperhatian gerak-gerik seorang wanita yang turut mengikuti beberapa pelayan lainnya yang sedang menata makanan di meja makan malam ini. Wanita itu tampak biasa saja dan seolah bisa bersikap wajar. Tak sedikit pun gerakannya yang terlihat canggung dimata Jullian.
Setelah mandi dan menyegarkan pikiran, semula ia ingin menemui wanita itu. Namun kini, Pria itu hanya berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan gerak-gerik Arnetta yang menurutnya membingungkan.
__ADS_1
Pagi tadi, setelah pembicaraan mereka yang berakhir dengan pelukannya, Arnetta langsung melepaskannya dan berjalan ke arah dapur. Wanita itu tak mengucapkan sepatah kata pun pada Jullian sampai pada detik ini. Meski Jullian sudah memberikan mandat pada Maria bahwa Arnetta tidak boleh memegang pekerjaan apapun di rumah ini, nyatanya wanita itu masih berkutat dengan alat pembersih ruangan. Bahkan, wanita itu juga turut mencuci pakaian.
Lelaki itu sudah kehabisan akal melihatnya. Seharusnya ia mudah saja membentak wanita itu dan menyuruhnya diam. Tapi, kediaman Arnetta malah membuat nyalinya ciut. Wanita itu bersikap seolah wajar jika mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah ini. Beberapa kali pula Arif meminta wanita itu untuk bermain, tapi di tolaknya.
"Tunggu!"
Suara berat Jullian membuat gerakan seluruh pelayan, termasuk Arnetta berhenti. Semua mata tertuju padanya yang sejak tadi hanya berdiri di depan meja makan seperti seorang mandor yang mengawasi bawahannya yang sedang bekerja. Tatapannya pun beralih pada Arnetta yang tampak pucat dengan kaos putih dan juga celana bahan lusuh yang sudah tak lagi sama dengan pakaiannya tadi pagi.
Dalam hati Jullian merutuki mengapa ia tetap menarug perhatian pada apapun yang dipakai oleh wanita itu. Sepantasnya Arnetta mengenakan pakaian yang lusuh, karena wanita itu miskin. Tapi, hatinya malah berdenyut pedih melihat keadaannya. Seharusnya dengan kondisi yang tinggal bersamanya, wanita itu sudah menikmati apa yang tersedia di rumah ini. Namun, nyatanya Arnetta tetap memakai pakaian lusuh itu seperti saat pertama kali wanita itu menginjakkan kaki di rumah ini. Tidak seperti Lusi yang menikmati semua kekayaan Rivai, Arnetta justru harus menjadi simpanannya demi mengumpulkan biaya pengobatan ibunya.
"Jullian, ada apa?" tanya Maria yang baru saja datang dari arah dapur.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa Arnetta dilarang melakukan semua pekerjaan di rumah ini?" ungkapnya dengan nada yang sedikit meninggi.
Maria terperangah mendengar ucapan Jullian. Ia pikir sebelumnya pria itu tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Selama ini ia selalu mengira jika anak asuhnya itu tidak membiarkan Arnetta tenang di rumah ini. Namun, tatapan tajam yang penuh kemarahan itu menunjukkan hal sebaliknya. Diliriknya Arnetta yang menunduk sambil memainkan ujung kaosnya yang lusuh itu. Sejak kematian ibunya wanita malang itu memang tak pernah berhenti bekerja. Arnetta tinggal selayaknya pembantu di rumah ini. Bahkan, wanita itu juga menerima saja cemoohan yang dialamatkan padanya oleh para pelayan dan pekerja lain.
"Dan, kemana semua pakaian yang kubelikan untuknya? Apakah kalian tidak memberikannya? Apa selama ini wanita ini juga tidak tidur di kamar tamu seperti yang kuperintahkan?" tambahnya yang semakin murka melihat kondisi wanita itu.
"Saya belum mengatakannya dan selama ini Arnetta tinggal di sini mengerjakan tugas seperti para pekerja yang lain. Dia juga tidak menempati kamar tamu. Arnetta tidur bersama saya, Tuan" balasnya pada Jullian.
Sontak saja pria itu mengepalkan tangannya, lalu meraih sebuah piring kaca di atas meja dan melemparkannya ke lantai. Bunyi kencang itu langsung mengagetkan semuanya yang berada di sana. Bahkan, Arif yang tadinya berada di lantai dua pun langsung keluar kamarnya. Dari atas ia terlihat ketakutan melihat kemarahan ayahnya hari ini.
Teriakan itu menggema hingga ke seluruh rumah. Tak ada satu pun pelayan yang berani menatap wajah majikannya itu, termasuk Maria sendiri. Wanita paruh baya itu tahu saat dimana Jullian mulai berperan sebagai seorang tuan rumah yang sesungguhnya, bukan anak asuhnya.
Sedangkan Arnetta, wanita itu berusaha menahan isakannya. Ia ketakutan setengah mati setelah mendengar kemarahan Jullian. Tubuhnya bergetar tak karuan. Kakinya pun terasa lemas. Ia tak sanggup menatap mata penuh kemarahan itu. Ia tidak mau melakukannya. Hatinya sudah cukup tersakiti hari ini. Jullian yang jijik padanya malah akan semakin membuat dirinya merasa lemah dan tak berarti.
"Jawab, Arnetta!" sentaknya lagi.
Menyadari bahwa tak ada niatan wanita itu untuk menjawabnya, bahkan untuk sekedar menatapnya, Jullian berjalan ldengan langkah lebar ke arah wanita itu berdiri. Wajahnya yang marah mampu membuat semua pelayan di sana memilih untuk menjauh. Mereka tampak kasihan melihat Arnetta yang tersudutkan, tapi tak tertolong. Siapa yang bisa, mereka pun butuh bekerja dengan Jullian demi menghidupi diri mereka masing-masing.
Ketika pria itu berada di hadapan Arnetta, segera Jullian melayangkan tangannya mencengkram dagu wanita itu. namun, bukannya mendongak, Arnetta Justru langsung meluruhkan tubuhnya ke arah Jullian. Dengan sigap pria itu menangkap tubuh Arnetta yang sudah tak sadarkan diri.
Arnetta pingsan dalam pelukannya dan kulitnya yang terasa oleh tangan Jullian pun sangat panas. Sontak saja, lelaki itu langsung menepuk wajah Arnetta untuk bangun.
"Sial! Bangunlah, Arnetta! Tolong panggilkan dokter segera!"
**
Tubuh lemah itu terbaring di atas ranjang kamarnya. Jullian tidak peduli dengan apapun lagi. Begitu melihat tubuh wanita itu meluruh padanya, ia pun langsung membawa arnetta masuk ke dalam kamarnya. Tangisan Arif pun tidak dihiraukannya. Dalam benaknya, ia takut terjadi sesuatu yang akan merenggut wanita itu dari sisinya.
Kini layaknya orang bodoh, ia hanya berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan seorang dokter memeriksakan kondisi Arnetta yang sampai saat ini belum membuka matanya.
__ADS_1
Jullian tidak peduli lagi biaya yang akan ia keluarkan seandainya Arnetta menderita penyakit yang cukup parah. Ia akan mengeluarkan uang berapa pun asalkan wanita itu tetap berada di sisinya. Malam ini melihat wanuta itu tak sadarkan diri, ia tahu bahwa dirinya tidak bisa lagi kehilangan wanita itu. Arnetta sudah kembali dan sulit baginya membayangkan ketidakhadiran wanita itu di sisinya.
Apakah ia masih mencintai wanita ini?
Apakah lima tahun yang sudah terlewati belum cukup atau tidak akan pernah cukup untuk menguburkan rasa cintanya pada wanita ini?
Arnetta, wanita penipu yang menggantikan Lusi untuk menemuinya saat perjodohan lima tahun silam. Wanita yang sama yang telah mengajarkannya untum menikmati hidup meski berat. Wanita yang sudah meninggalkannya tiba-tiba setelah membuatnya patah hati dan hampir membunuh ibunya sendiri.
Setelah semuanya...
Jullian masih takut kehilangannya. Jullian masih... Mencintainya.
"Demamnya cukup tinggi. Aku sudah memberikannya suntikan vitamin. Untuk obat lainnya, aku tidak bisa memberikannya."
Suara berat dokter yang baru saja memeriksakan kondisi Arnetta langsung menyadarkan lamunannya. Jullian bersedekap di depan dadanya.
"Maksudnya? Bukankah harusnya diberikan obat demam?" tanyanya dengan penuh kebingungan.
Dokter pria paruh baya itu tersenyum kecil seolah perkataan Jullian terdengar lucu baginya. Ia pun menampilkan raut wajah penuh kemakluman. Tidak semua orang bisa menyadarinya.
"Saya tidak bisa memberikan sembarang obat pada wanita yang sedang mengandung."
Apa...?
Mendadak semua pandangan Jullian mengabur. Ia sendiri lupa bagaimana dirinya berdiri dengan raut seperti apa. Perkataan yang baru saja diucapkan dokter itu menghempaskan dirinya ke titik terdalam. Pandangannya pun teralih kepada tubuh yang terbaring lemas itu. Seperti bom waktu, detak jantungnya langsung tak terasa lagi. Seolah waktu telah berhenti saat ia mendengarkan kalimat itu.
Arnetta hamil?
Ia pasti melupakan hal itu. Jullian lupa kalau setiap hubungan intim yang mereka lakukan selalu tanpa pengaman. Jullian sadar saat melakukannya pertama kali, lalu melupakan untuk saat berikutnya.
Pria itu sudah menghancurkan hidup Arnetta, sekali lagi.
"Untuk usia kandungannya, anda bisa memeriksakan kondisinya ke dokter spesialis kandungan. Lebih baik secepatnya, karena dikhawatirkan kondisinya yang lemah akan memengaruhi kesehatan janin yang dikandungnya."
Masa bodoh!
Jullian sudah tidak lagi mendengarkannya. Ia terlalu terpaku pada kabar ini. Senang atau marah, ia sudah tak bisa membedakannya lagi. Namun, kali ini kesalahan bukan terletak pada wanita itu. Kesalahan ini ada padanya, Jullian merasa dirinyalah yang salah dan mengakibatkan semua masalah ini.
Tidak, janin itu bukan masalah baginya, tapi Arnetta bisa saja semakin menjauh darinya. Si pria brengsek yang sudah menghancurkan segalanya.
"Brengsek!"
__ADS_1