
Sosok wanita dengan gaun berwarna marun selutut tampak duduk dengan sebuah majalah dipangkuannya. Tatapannya terlihat meneliti ke arah gambat yang tersaji disana. Barang mewah dan bermerek yang ditampilkannya membuatnya jauh lebih tertarik dari pada memperhatikan sosok yang lebih muda didepannya, yang menampakkan amarah.
"Mama harus tahu, Jullian mengabaikanku sejak kepulangan wanita sialan itu!" Sungutnya marah.
Sosok anggun itu pun mengangkat wajahnya. Senyum arogan tampak di bibir wanita paruh baya bernama Amara itu. Ia selalu tahu bahwa putrinya adalah sosok yang ingin memiliki apapun. Sekalipun ia tak menyukai hal tersebut, maka suatu keharusan bagi Lusi untuk memilikinya. Termasuk dalam urusan laki-laki. Meski sudah menikahi sosok Jullian lima tahun silam, tapi Lusi takkan pernah puas. Sama sepertinya.
"Apa yang kau takutkan, Nak? Jullian sudah menjadi suamimu. Kalian juga sudah memiliki Arif."
Lusi, sosok yang memiliki rupa hampir sama dengan Amara hanya mendengus tak suka. Ia sama sekali takkan pernah tenang selama Arnetta disekitarnya. Sudah lima tahun ia bisa bernapas lega karena wanita itu telah pergi, tapi entah mengapa suaminya malah membuat wanita itu kembali lagi. Meski kenyataannya Jullian hanya akan menyiksanya, tapi Lusi khawatir jika suaminya itu akan terjerat lagi.
"Wanita itu sudah kembali. Bukankah tidak menutup kemungkinan dia akan menggoda suamiku?"
Amara menutup majalah dipangkuannya dengan senyum dibibirnya. "Kukira apapun yang terjadi Jullian tetaplah suami sahmu. Tidak peduli apapun yang dilakukannya, Jullian takkan bisa melangkah terlalu jauh. Kita juga tahu seberapa besar kebenciannya kepada Arnetta."
Lusi tidak bisa tidak mengamini ucapan ibunya. Memang benar semua yang dilakukan Arnetta tidak berguna. Jullian sudah menjadi suaminya, yang berarti lelaki itu adalah miliknya. Tapi, keresahan didalam dirinya tak bisa berkurang. Setelah membuat sahabat adik tirinya itu berpaling dan Jullian membencinya, Lusi masih tidak bisa tenang. Ia ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Arnetta. Ia takkan pernah puas sampai wanita itu tidak memiliki apapun lagi.
"Apa kau mulai mencintai suamimu, Lusi?"
Pertanyaan itu sontak membekukan hati Lusi. Pertanyaan itu tak pernah terlintas dalam benaknya selama lima tahun pernikahannya dengan pria itu. Jullian baginya hanya sosok yang tidak bisa ia bayangkan akan mencintainya. Pernikahan mereka hanya sebatas rasa tanggung jawab karena kehamilannya dulu. Tapi, untuk cinta ... membayangkannya saja Lusi tak berani. Ia tahu betul watak keras suaminya yang tak segan mempermalukannya didepan umum.
"Aku tidak tahu. Membayangkannya saja aku takut." Ucapnya suram.
Dari sudut matanya Amara tahu bahwa sang anak memiliki sudut kecil dihatinya yang menerima Jullian sebagai suaminya. Ayah dari anaknya. Tapi, bukan rahasia lagi jika Jullian memiliki watak yang keras. Laki-laki itu hampir tak tersentuh bahkan dengan keluarganya sendiri, kecuali ibu dam juga Arif.
Tak ada yang mampu menyentuh hati menantunya itu, sekalipun Lusi yang sudah menikahinya. Namun, Amara takkan membiarkan itu terjadi. Lusi harus merasakan cinta laki-laki itu. Sudah cukup sikapnya dulu telah membuat Lusi hampir berpaling kepada Ratih. Ia takkan membiarkan anaknya kehausan cinta. Jika Jullian tidak bisa memberikannya, maka Amara akan memaksanya.
"Tenang saja. Setelah wanita itu dan ibunya mati, Jullian pasti akan datang kepadamu, Nak." Ujar Amara dengan senyum licik dibibirnya.
***
Ketika matahari sudah hampir turun dari langit dan menimbulkan senja, Arnetta memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Sudah hampir tiga hari ia tidak mengunjungi ibunya. Ia yakin Ratih pasti merindukannya.
Sejujurnya, kepergiannya ini pun sempat membuat Maria, pelayan di rumah Jullian cemas. Wanita itu takut jika Jullian akan marah ketika tahu dirinya tidak dirumah. Tapi, Arnetta sudah tidak peduli lagi. Ia begitu merindukan ibunya.
Ketika Arnetta hendak berbelok ke lorong arah ruangan ibunya, tubuhnya terhempas begitu saja. Seperti ada sebuah objek kokoh didepannya yanh baru saja ia tabrak. Sontak saja, tubuhnya terhuyung ke lantai dengan keras.
"Astaga! Maafkan aku."
__ADS_1
Sosok pria dengan wajah khas chinese mengulurkan tangannya ke arah Arnetta. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir kala melihat Arnetta yang meringis kesakitan di bokongnya.
Sedangkan wanita itu hanya bisa meringis menahan sakit. Nyeri di pinggulnya terasa begitu menyakitkan. Bukan karena tabrakan itu, tapi karena apa yang telah dilakukan Jullian padanya selama berhari-hari kemarin. Ia pikir sakit itu sudah menghilang, tapi nyatanya benturan itu kembali mengundang rasa itu sekali lagi.
"Ya, .. tidak apa."
Arnetta menyambut uluran tangan itu. Namun, ketika matanya melihat pemuda itu ia pun tersentak. Ia hampir berteriak saat melihat wajah familiar didepannya. Kalau bukan karena mata sipit itu, mungkin ia akan melarikan diri.
Laki-laki itu mirip Jullian. Hanya saja wajahnya lebih chinese. Ya, itulah yang membuat ia tidak jadi menjerit.
"Apa kau terluka?" Laki-laki itu tampak menelusuri tubuh Arnetta. Ringisan wanita itu bukanlah ringisan orang yang baru saja terjatuh ke lantai. Ia tahu wanita itu terluka.
Sadar dirinya diamati, Arnetta langsung menarik tangannya kasar. "T-Tidak. Aku baik-baik saja."
Arnetta segera memeluk tangannya. Ia akui wajah familiar itu membuat tubuhnya bergetar. Ada semburat rasa takut jika orang itu benar-benar Jullian. Ia tidak bisa membayangkan laki-laki itu akan kembali memperkosanya dengan keji seperti malam itu. Ingatan malam mengerikan itu membuatnya tak bisa tenang.
"Kau yakin?"
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, apalagi saat disadarinya tubuh wanita itu bergetar. Ditambah dengan merah dissbelah pipi wanita itu. Seperti luka tamparan.
Arnetta mengangguk cepat sebelum akhirnya pergi tanpa suara. Namun, belum sempat ia menjauh, tangan laki-laki itu berhasil menghentikan langkahnya.
Bohong jika Arnetta tidak terkejut menerima tindakan pria itu. Jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat betapa mengerikannya pergelangan tangannya yanh memar dan ia tahu laki-laki bernama Patrick itu menyadari lukanya. Terasa dari pegangannya yang mulai mengendur.
"Terima kasih." Ucap Arnetta sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
Melihay kepergian wanita itu, membuat Patrick dirundung rasa kasihan. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya tapi luka ditubuhnya tak bisa mengatakan bahwa wanita itu baik-baik saja. Tubuhnya yang bergetar membuatnya tahu wanita itu tersiksa. Ia hanya berharap wanita itu akan meminta tolong kepadanya, karena ia tahu bagaimana ibunya mencoba bertahan dalam kondisi yang sama.
***
Hal pertama yang dilihat Arnetta didepan matanya adalah sosok sang ibu yang telah duduk diatas tempat tidur dengan wajah pucat. Tapi, ketimbang kondisi terakhirnya Arnetta tahu ibunya terlihat jauh lebih sehat. Setidaknya perngorbanannya tidak sia-sia. Ibunya masih bisa bertahan sejauh ini dan ia sangat bersyukur.
"Halo, Ibu." Sapa Arnetta yang langsung membuat wanita itu berpaling dari jendela.
"Anakku."
Sesak didadanya langsung menguap begitu saja bersamaan dengan air mata yang membasahi matanya. Arnetta berusaha. Ia sudah bersusah payah memenuhi janjinya untuk tidak menangis dihadapan ibunya, tapi sesak didadanya tak bisa lagi dibendung. Sangat sakit mengingat apa saja yang telah mereka lalui. Suara ibunya adalah penyemangat untuknya. Tidak ada yang paling dibutuhkannya dari pada pelukan hangat wanita itu.
__ADS_1
"Ibu... hiks.." wanita itu langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan sang ibu. Betapa ia mencintai wanita paruh baya yang telah melahirkannya ini. Tanpa Ratih mungkin Arnetta takkan sanggup melewati ini semua. Ibunya yang takkan pernah meninggalkannya, takkan pernah menyakitinya dan takkan pernah menghakiminya. Hanya Ratih yang ia miliko di dunia ini.
"Ada apa?" Ratih mengelus punggung sang anak. Meski ia lama tak melihatnya, ia tahu bahwa ada yang berubah dari anaknya itu. Arnetta terlihat lebih kurus dan pucat dari yang terakhir ia lihat.
"Kau makan dengan baik, Nak? Dimana kau tinggal?"
Arnetta menghapus air matanya. Ia mencoba untuk tersenyum. Ibunya tidak boleh tahu apa yang terjadi padanya.
"Aku makan dengan baik. Temanku memberikanku makan setiap hari sampai aku kekenyangan. Dia juga memberikanku tempat tidur yang nyaman. Dia sangat baik padaku dan menjagaku dengan baik."
Bayangan bagaimana dirinya selama dua hari terkurung dalam kamar itu menyangkal semua ucapannya. Tidak ada makanan yang membuatnya kenyang. Tidak ada tempat tidur yang nyaman. Tidak ada perlakuan baik. Jullian melakukan sebaliknya. Arnetta selalu merasa lapar, ia selalu merasa tubuhnya lemah karena kurang tidur, dan ia terlalu merindukan ibunya yang selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan Rowena dan Maria pun lebih memilih menjauhinya sekarang.
Tangkupan hangat membuyarkan lamunannya. Ketika ia mengangkat wajahnya, Ratih, sang ibu menatapnya dengan senyum menyedihkan.
"Andai saja aku lebih berani mempertahankan hakmu, aku yakin kau tidak akan menderita seperti ini. Maafkan ibumu ini, Arnetta." Ucapnya penuh kepedihan.
Arnetta menyambut tangan sang ibu dipipinya dengan lembut. Tangan hangat itu membuatnya selalu tenang.
"Tidak apa-apa. Selama ibu bisa bertahan aku akan baik-baik saja. Ibu harus bertahan. Aku tidak akan sanggup hidup lagi jika Ibu memilih untuk menyerah."
***
Malam yang dingin mungkin menjadi pertanda bahwa harinya dengan sang ibu sudah berakhir. Entah kapan Arnetta bisa mendatangi ibunya lagi. Jika Jullian tidak memberikannya belas kasih, mungkin sulit baginya untuk bertemu ibunya.
Harapannya hanya satu, semoga Jullian mau memaafkannya.
Ketika ia sampai di lobby rumah sakit, Arnetta menghentikan langkahnya. Sontak tubuhnya bergetar hebat. Kali ini bukan karena kemiripan tapi memang sosok itu benar nyaya dihadapannya dengan tatapan membunuh yang mampu membuatnya mengingat peristiwa malam itu.
Jullian dengan angkuh memperlihatkan senyuman sinisnya. Ia merasa sepertinya kelonggaran yang diberikannya terlalu mudah. Arnetta harus tahu siapa pemilik wanita itu sekarang.
"Habis menemui ibumu itu, ******?"
Next chapter :
Arnetta berjongkok dengan tubuh terguncang. Tangisnya yang tak lagi tidak bisa ia bendung terisak kencang. Tak ada orang yang mau membantunya. Tidak ada. Ia hanya perempuan ****** yang harus menjual tubuhnya demi ibunya. Saat bibirnya hampir memyentuh sepatu pria itu, Jullian langsung menarik rambutnya sampai rasanya kulit kepalanya akan terlepas. Pria itu memaksanya untuk mendongak dengan wajah bersimbah air mata.
Tak ada lagi rasa kasihan untuknya. Laki-laki ini memang berniat membunuhnya secara perlahan.
__ADS_1
"Kau hanya sampah. Wanita rendahan sepertimu tidak pantas memohon kehidupan padaku. Kau harus ingat bahwa ini hanyalah sebuah peringatan. Jika sampai kau pergi tanpa sepengetahuanku, maka aku akan membiarkan laki-laki tua bangka itu memperkosamu."