
Arnetta memperhatikan sekelilingnya yang tampak tak asing lagi setelah berbulan-bulan lamanya ia runtin mendatangi tempat ini. Berkumpul dengan semua wanita yang juga mengalami kondisi yang sama dengannya membuatnya tampak tak aneh jika menunggu seorang diri di sini. Bahkan beberapa ada yang datang dengan kondisi tidak seperti dirinya. Yang membedakan dirinya dan semua orang yang ada di sini adalah, Arnetta hamil dengan ditemani suami. Begitu katanya.
Wanita itu selalu dianggap sebagai istri yang beruntung karena ada sosok lelaki yang berdiri disampingnya kala dirinya selalu datang melihat janinnya. Ya, sejak awal Patrick lah yang datang bersamanya. Pria itu juga merupakan dokter di rumah sakit ini dulunya. Sebelum akhirnya pria itu berpindah tugas, Patrick cukup banyak dikenal di sini. Bahkan beberapa takjub setelah melihat sosok dokter yang mereka kagumi sudah menggandeng seorang wanita hamil di sampingnya. Yang anehnya, Pria itu bahkan tak segan untuk memperkenalkan bahwa ia adalah istri dari pria itu.
Terkadang Arnetta ingin sekali membantah anggapan semua orang yang mengira ia istri pria itu. Ada kalanya ia cukup tahu diri jika dirinya tidak cukup baik jika bersanding dengan pria itu. Hanya akan menjadi tembok penghalang bagi pria itu untuk menemukan pasangan yang pantas dengannya. Arnetta cukup sadar jika Patrick terlalu baik baginya.
Pria yang kini sedang duduk di sampingnya sambil membaca majalah tentang kehamilan itu tetap pada pendiriannya. Ia sengaja membiarkan semua orang tahu kalau kini dia adalah seorang calon ayah yang sedang menanti anak yang akan lahir.
"Jika kau merasa berhutang denganku, maka biarkanlah semua orang tahu kalau anak itu adalah anakku. Dengan begitu hutangmu berangsur lunas."
Ya, kurang lebih seperti itu kata-kata yang selalu ia dengar setiap kali ia melayangkan protes atas anggapan orang-orang bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Jujur saja, Arnetta tidak mau terbawa perasaan. Baginya kebaikan Patrick menampungnya di rumah pria itu lebih dari cukup.
Diliriknya lagi pria yang sejak tadi berada dalam benaknya itu, yang tampak asyik dengan bacaan majalah di tangannya. Gayanya yang terkesan anggun itu membuat Arnetta sempat berpikir bisa saja Patrick penyuka sesama jenis. Namun, pikiran itu ia tepis jauh-jauh mengingat ia tak pernah melihat gerak-gerik mencurigakan dari pria itu.
__ADS_1
Patrick, jika malam itu ia tidak bertemu dengannya mungkin saja Arnetta memiliki nasib yang kurang baik di jalanan sana. Mungkin berakhir jadi gelandangan atau pengemis. Apapun itu, ia selalu mensyukuri semua yang telah terjadi padanya sampai hari ini. Hanya saja ia merasa di sisi lain telah memanfaatkan Patrick. Kebaikan hati pria itu membuatnya merasa terbebani.
Memikirkannya sudah membuat kepalanya berat, ucap Arnetta dalam hati. Ia sudah beulang kali ingin membantah tapi sepertinya Patrick menikmati perannya sebagai ayah palsu untuk anaknya. Ya, seandainya saja pria itu memang benar ayah dari bayinya tentu Arnetta tidak perlu kesulitan di masa kehamilannya. Terkadang ia ingin sekali memutar waktu dimana dirinya tidak bertemu dengan orang-orang jahat itu. Mengingat wajah mereka satu per satu saja sudah membuatnya mual.
Hari itu tanpa berpikir panjang, saat Lusi dan ibunya mengusir dirinya dari rumah Jullian tanpa berpikir dua kali Arnetta langsung menyetujuinya. Ia tidak perlu berpikir ulang untuk keluar dari rumah neraka itu. Bangunan itu akan terus menjadi pusat traumanya meskipun sikap Jullian sudah berubah sejak kehamilannya diketahui.
Dan Arif, entah bagaimana nasib anak itu sekarang. Satu-satunya yang ia rindukan adalah anak itu. Tangannya pun langsung menyentuh ke permukan perutnya yang sudah membesar. Di dalam sana ada adik dari bocah itu. Arif akan memiliki seorang adik, anaknya bersama Jullian. Pasti anak menggemaskan itu akan menyamnbut antusias kelahiran anaknya. Reaksi yang lucu sudah tergambar dalam benaknya hingga tanpa sadar telah mengundang senyuman lebar di bibirnya.
Ekspresi itu tak luput dari pandangan sosok pria yang dikira wanita itu masih asyik menikmati bacaannya. Namun sejak tadi, Patrick bisa melihat perubahan ekspresi melalui ekor matanya. Reva yang terkadang cemberut dan terkadang tersenyum sambil mengelus perutnya yang membuncit. Senyuman lebar yang terbit dari bibir wanita itu membuatnya mau tak mau ikut tersenyum juga. Betapa ia sangat menyukai senyuman yang hadir di wajah Reva. Rasanya ia merasakan dadanya terasa lapang kala melihat wanita itu tersenyum. Apalagi sejak kehadirannya, selama beberapa bulan ini ia selalu di hadiahi senyuman yang rutin ia dapatkan saat bangun tidur dan sebelum tidur. Tak jarang senyuman itu pula lah yang menjadi pengobat lelahnya.
"Kau semakin cantik saat sedang tersenyum seperti itu."
Tanpa sadar Pria itu langsung menyuarakan pikirannya. Ya, di matanya wanita itu sangat cantik saat tersenyum. Dan keduanya pun hanya bisa terdiam saling berpandangan satu sama lain setelahnya. Tak ada suara seolah ruang kehampaan melingkupi sekeliling keduanya.
__ADS_1
"Kalian benar-benar romantis." Ucap salah seorang pasien ibu hamil yang duduk berhadapan dengan keduanya.
Sontak baik Arnetta dan Patrick langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah lain dengan perasaan canggung. Jika Patrick merasa canggung dengan rasa debaran yang luar biasa di hatinya, lain dengan Arnetta yang seolah tertampar oleh realita. Ia tidak bisa menganggap remeh perkataan itu. Bukannya ia terlalu percaya diri, namun ia menangkap ada nada ketertarikan dari kalimat itu.
Arnetta senang jika ada yang memujinya cantik. Siapa yang tidak senang jika di puji oleh orang lain. Tapi, jika itu Patrick yang mengatakannya maka sudah berbeda makna. Pria itu tidak boleh tertarik kepadanya. Sungguh sangat tidak tahu diri jika dirinya masih berniat untuk menggoda pria itu. Nyatanya Patrick terlalu sempurna baginya yang sudah hina ini.
Patrick sudah selayaknya mendapatkan cinta dan pasangan dari seorang wanita yang memang pantas untuknya. Cantik dan sederajat, begitulah yang harusnya terjadi. Jika Patrick jatuh cinta kepadanya, maka Arnetta harus menjauhkan dirinya sejauh mungkin. Setidaknya ia harus tahu diri dimana posisinya berdiri sekarang.
"Nyonya Reva !"
Suara panggilan terdengar, maka itulah saat giliran Arnetta untuk bertemu dengan bayinya lagi dan tentu saja Patrick akan setia mengekori di belakangnya. Kepergian mereka disertai dengan puja-puji pasien yang melihat mereka sebagai sepasang suami istri yang harmonis, meski kenyataan bahwa semua itu palsu.
Tak jauh dari tempat di mana Arnetta dan Patrick berada, sosok pria yang tak sengaja lewat di poli kandunagn rumah sakit itu mengernyit kala melihat pemandangan yang tak asing baginya. Pria itu yang semula akan bertolak kembali menuju ke kantornya langsung berhenti begitu melihat seseorang yang dikenalnya. Ia pun menyipitkan kedua matanya untuk memastikan sekali lagi orang yang ia kenal itu sebelum akhirnya bersuara menyebutkan namanya, nama pria yang merupakan sepupunya itu.
__ADS_1
"Patrick ?"