
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana rasa yang dialami sosok wanita yang bersembunyi dibalik selimut tipis itu. Beralaskan lantai kayu yang dingin, Arnetta harus melewatkan malam penuh kesakitan dan kehampaan. Ia tak bisa menggerakan seinci tubuhnya menjauhi tempat terkutuk itu. Napasnya hampir habis karena tangisan. Ketakutan pun seolah mengejek hidupnya yanh telah hancur dan hina.
Tidak ada lagi yang tersisa untuknya. Setelah kejadian semalam, tak mungkin rasanya bagi Arnetta untuk melarikan diri. Tubuhnya sudah bukan lagi miliknya. Semua yang ada pada dirinya telah dirampas. Dengan sangat keji dan hina. Semua perlakuan yang diterimanya telah berhasil merobek hatinya hingga menjadi kepingan yang tak terlihat.
Dia yang menyakitinya, adalah dia yang paling dicintai Arnetta.
Kenyataan itulah yang semakin menyakiti perasaan Arnetta. Saat timbul harapan pria yang 'pernah' dicintainya sebagai sang penolong lalu berubah menjadi monster tak berperasaan, disanalah titik balik kehidupannya. Arnetta tahu setelah semua ini hidupnya takkan lagi sama.
Untuk kedua kalinya, ia mengalami perkosaan. Keadaan yang sama dimana rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya. Bedanya, kini ia melihat dengan jelas penderitaan seperti apa yang telah menunggunya. Masa depan seperti apa yang telah memanggilnya sudah bukan lagi bayangan untuknya.
Dinginnya tubuh yang tak lagi terbalut busana, perih yang menusuk sangat kentara. Hati dan fisiknya terasa menyakitkan. Patah hati dan terluka sekaligus merupakan hukuman tanpa batas yang dialaminya selama ini.
Matanya hanya menatap kosong pada apa yang ada didepannya. Ruangan sunyi dan sepi inilah temannya saat ini. Setelah sebelumnya Jullian mengatakan bahwa ini adalah "tempat"nya, Arnetta tidak bisa berbuat banyak.
Ini adalah penjaranya. Ruangan dengan satu kasur lantai saja yang mengisi akan menjadi teman setianya untuk waktu yang entah berapa lama lagi. Jangankan menghitung, bicara saja sekarang sudah menghabiskan banyak tenaga untuknya.
"Jadi, kau sudah sepenuhnya sadar, ******?"
Tanpa perlu menjawab Arnetta sudah tahu mimik seperti apa yang ditunjukkan Jullian kepadanya. Lelaki itu berdiri dengan tegap sambil bertolak pinggang bak penguasa. Ya, pria itu sudah menguasai dirinya. Kini dia hanyalah seoongok sampah tak berharga karena ulang pria itu.
__ADS_1
Jullian memandang kondisi tubuh wanita yang terbaring lemah dibawah kakinya dengan tatapan penuh kemenangan. Ia tak pernah menyangka jika menjebak Arnetta sangatlah mudah. Tak perlu waktu lama baginya untuk memancing agar wanita itu kembali ke sarangnya. Dengan kondisi seperti ini ia sangat yakin wanita itu sudah rusak.
Diturunkan tubuhnya kehadapan wanita itu. Ia berjongkok sambil menyeringai menatap Arnetta. Perasaan puas menyelimuti hatinya seperti kabut. Untuk sekarang, tak ada yang lebih diinginkannya selain melihat kehancuran wanita itu. Arnetta sudah kotor. Setelah ini masa depan wanita itu sudah tak berarti lagi. Tidak akan ada pria yang mau menghabiskan waktu bersama perempuan hina sepertinya.
Dan, Arnetta sudah tak mungkin lagi berpaling darinya.
"K..Ken..apa?" Suara lirih itu menyurutkan seringai dari bibir Jullian. Dalam keadaan senyap, pria itu hampir memastikan kembali apakah suara itu benar-benar nyata atau hanya sekedar ilusinya. Ketika ia menatap kembali sepasang mata bulat milik Arnetta tersimpan tatapan penuh luka dan tanya, yang langsung menimbulkan rasa tak nyaman dihatinya.
"Ap..a s..ala..hku?" Masih dalam keadaan nyeri diseluruh tubuhnya, Arnetta merasakan serbuan sakit hingga memancing air mata membasahi wajahnya secara perlahan. Ia perlu tahu mengapa dirinya harus berakhir seperti ini. Ia perlu mengerti amarah pria itu kepadanya. Dan, ia juga harus yakin bahwa Jullian yang sekarang berjongkok didepannya adalah sosok lelaki penolong yang kemarin memberikan pinjaman uang kepadanya.
Jullian terkekeh, meski sesungguhnya lebih dari pada itu, ia ingin merengkuh Arnetta sampai hancur dalam pelukannya. Menyakiti wanita bukan ciri khasnya. Sekalipun Jullian tak pernah memainkan tangannya untuk mengasari wanita, sebejat apapun wanita itu. Tapi, kepada Arnetta rindu dan benci melebur jadi satu. Perasaan menyakitkan setiap kali mengingat foto Arnetta dan juga kenyataan bahwa dirinya bukanlah lelaki pertama bagi wanita itu. Semuanya terdengar masuk akal untuknya.
Meski Jullian ingin bertanya, tapi bibirnya kelu untuk bersuara. Rasanya seperti tertimpa batu berton-ton dikepalanya.
"Salah seorang rekan kerja menjebakku. Beruntung saat itu aku tidak hamil." Kentara sekali ada rasa enggan dibalik alunan suara Arnetta saat mengutarakan semuanya. Kenangan pahit dan luka lama berhasil membuat dirinya kembali dihancurkan. Mahkota yang ingin ia persembahkan kepada suaminya telah hilang tanpa bekas.
"Kau kira aku akan percaya?" Jullian menjaga suaranya agar tetap terdengar sinis, meski sebenarnya ia ingin sekali mematahkan kaki siapa saja yang berani melakukan itu kepada Arnetta.
Arnetta tertawa miris pelan. Ia sudah tahu akan menerima tanggapan itu dari Jullian. Ia tidak menyalahkan kemurkaan pria itu jika kesalahannya terletak pada kekurangannya sendiri. Tapi, ia perlu mengerti untuk tetap bertahan. Ia harus tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga membangunkan singa didalam tubuh pria itu.
__ADS_1
"Jangan percaya apapun kepadaku. Aku hina. Kau tidak perlu berbuat baik. Terima kasih sudah menolongku. Pergunakan aku selama kau mau. Akan kutebus semua kebaikanmu dengan sisa hidupku." Tepat setelah kalimat itu terucap, setetes air mata mengakhirinya. Iringan perih yang menyayat hati menjadi tanda bahwa sesuatu dalam dadanya retak. Retakan yang selamanya takkan pernah bisa terangkai kembali.
Jullian tercekat. Ia hampir limbung jima saja tidak segera tersadar. Wajah wanita ini hampir seperti panah yang meremukan dirinya. Tak ada celah selain kesedihan. Entah apakah ini yang benar-benar diinginkan olehnya atau hanya hasrat sementara akibat emosinya.
"Kau harus." Jullian bangkit dan berjalan ke arah pintu. Sebelum benar-benar menutupnya, kalimat terakhir yang maha menyakitkan kembali menjungkir balikkan perasaan Arnetta. "Ketika aku sudah puas denganmu, akan kupastikan hidupmu sudah tak lagi berharga. Kau hanya sampah yang telah kubuang."
Jullian menutup pintu setelah mengakhiri ucapannya. Hembusan napas panjang menyadarkannya bahwa selama berada didalam ruangan itu ia menahannya. Ia nyaris mati jika terus berada didalam sana lebih lama.
"Aku harap kau tidak menyesalinya."
Pria itu menemukan pengasuh sang anak, Maria berdiri dihadapannya dengan wajah penuh kesedihan. Monster kejaam yang ada dalam dirinyalah yang menjadi penyebab mimik wajah itu terlihat.
"Tidak akan."
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis. Kentara dari wajahnya bahwa wanita itu menyesali keputusan Jullian. "Aku tahu. Aku hanya berharap kau tidak menyesal jika sudah mengetahui kebenarannya. Jika kau tanya pendapatku, maka aku masih mempercayai Arnetta."
Jullian bergeming ditempatnya, tak sanggup menyahuti ucapan Maria.
"Semoga Tuhan masih memberikan kalian kesempatan untuk memperbaiki semuanya sebelum terlambat."
__ADS_1