
Sosok wanita itu hanya menatap lurus ke depan. Bukan ke objek yang bergerak diatasnya, tetapi menatap sesuatu yang bahkan tak terlihat kasat mata. Tubuh lemah itu tergolek tak berdaya diatas ranjang yang terus berderit entah sejak kapan. Wanita itu pasrah, tak mampu bereaksi seperti manusia normal lainnya. Guncangan yang diberikan pria yang menggagahinya pun seolah tak berarti apapun untuknya.
Tidak ada rintihan sakit. Tidak ada jeritan memilukan. Tidak ada rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak ada air mata yang membasahi pipinya.
Semua terasa baginya ... mati rasa.
Wanita itu sudah tak lagi merasa ada yang perlu dipertahankan dari tubuhnya. Seperti daging membusuk, ia pun sebentar lagi akan rusak dan tak bisa melakukan apa-apa. Uang telah membeli jiwanya. Demi kesehatan ibunya, sosok itu rela dirinya dirusaki untuk kesekian kalinya oleh pria itu.
"Sialan! Kau masih begitu sempit meski sudah dua hari kita melakukannya, ******."
Jullian, yang telah melepaskan hasratnya pun bangkit dari tempat tidur dengan tenaga seadanya. Sudah dua hari ia menyetubuhi wanita ini, sudah selama itu pula ia melihat posisi Arnetta dalam keadaan pasrah seperti ini.
Ya, tentu saja wanita itu tidak memiliki tenaga untuk melawannya. Selama dua hari ia hanya mengijinkan wanita itu untuk makan dua kali dan sisanya Arnetta hanya diperbolehkannya minum air saja.
Jika dipikir mungkin apa yang dilakukan Jullian tak ubahnya seorang psikopat kejam yang tega membiarkan mangsanya mati perlahan-lahan. Tapi tidak ... Arnetta harus merasakan bagaimana terpuruknya ia saat tahu bahwa wanita ini sudah tidur dengan laki-laki lain setelah ia baru saja mencintai wanita itu. Arnetta harus merasakan apa yang dirasakannya lima tahun lalu. Bahkan, kematian "jiwa" yang telah ia alami saat itu.
Dengan tergesa, Jullian memakai kembali bajunya yang tergeletak berantakan dilantai. Ketika ia mengambil celana untuk dipakai, matanya menangkap robekan baju wanita itu yang ia buang begitu saja. Melihat hal itu, sesuatu yang tak menyenangkan mulai menjalari hatinya. Arnetta sudah ia perlakukan sedemikian buruk. Jauh lebih buruk dari pada ia memperlakukan binatang. Tapi, kenapa ia tidak merasakan kepuasan.
Sesuatu dalam diri Jullian memaksa lelaki itu menoleh kembali ke arah wanita yang masih diam terlentang diatas ranjang. Masih terlihat jelas bukti persetubuhan mereka menjejaki tubuh wanita itu, dan mungkin saja akan membuat Arnetta segera mengandung bayinya. Tapi, tidak ... ia takkan tersentuh. Apapun yang terjadi, rencananya untuk menghancurkan wanita itu akan tetap berjalan. Arnetta harus tahun bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang yang pernah didustainya.
"Kau akan hancur, Arnetta. Kau akan merasakan betapa kematian jauh lebih indah dari pada hidup di dunia yang kejam ini." Sungutnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita itu seorang diri. Atau mungkin lebih tepatnya Jullian ingin meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya cukup mampu untuk menyakiti Arnetta tanpa belas kasihan.
Setelahnya, keheningan menyambut tak ada suara yang mengiringi penderitaan wanita itu. Arnetta sudah lelah berteriak. Ia sudah terlalu lelah menangisi dirinya sendiri. Sebanyak apapun ia memohon ampun, tidak akan ada satu pun yang mendengarkannya.
Jullian benar, kematian pasti terasa lebih menyenangkan dari pada harus menjalani kehidupan seperti ini. Mungkin ... jika ibunya tak berhasil selamat, Arnetta akan memilih mengakhiri hidupnya. Perjuangannya tak ada artinya bila Ratih tak bisa terselamatkan. Ia rela menukar hidupnya demi sang ibu. Arnetta rela mengorbankan demi satu-satunya keluarga yang masih mencintainya tanpa syarat.
Tak lama sosok wanita paruh baya yang pernah dilihatnya masuk ke dalam kamar dan tak pernah memberikan tatapan kepadanya selain tatapan kasihan. Arnetta tak tahu apakah wanita ini pun memiliki hati atau tidak. Tatapan siapapun bisa menipu, bahkan tatapan ramah yang pernah jullian belikan padanya nyatanya hanyalah tipuan belaka. Wanita itu sudah dilihatnya selama dua hari ini mengantarkan makanan ke kamarnya dengan rutin, dan sepertinya hanya dialah yang boleh melakukannya. Dari sekian banyak pelayan yang berkeliaran di rumah ini, Arnetta hanya sering melihatnya menampakkan diri bahkan tanpa membuat Jullian marah.
Dengan tubuh gempalnya, Wanita paruh baya itu memunguti robekan pakaian yang berada dilantai tanpa suara. Entah mungkin rasa prihatin itu telah pergi atau wanita itu sengaja tak ingin mengganggunya. Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Wanita paruh baya yang memiliki mata sipit itu mendekat ke arah ranjang, tempat dimana Arnetta berbaring tak berdaya. Sekali lagi tatapan mengiba itu dilayangkannya tanpa ragu. Tangan wanita itu bergerak meraih selimut yang berada ditangannya dan menutupi tubuh telanjang Arnetta, sebelum akhirnya memilih untuk duduk dipinggir tempat tidur disamping Arnetta.
__ADS_1
"Kasihan sekali kau, Nak. Aku tak menyangka jika Jullian bisa setega ini padamu. Maafkan aku yang tak bisa berbuat banyak untuk menolongmu."
Arnetta hanya diam mendengarkan suara wanita itu. Ia tak bisa melakukan apapun selain menatap langit-langit kamar yang begitu hampa. Hatinya terlalu sakit untuk merasakan rasa simpatik yang ditunjukkan wanita itu kepadanya. Baginya selama Jullian selalu memastikan kesehatan ibunya, maka semuanya seimbang dengan yang ia korbankan saat ini.
Saat sebuah tangan mengelusnya, Arnetta tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Tangisan tanpa suara pun pecah saat wanita paruh baya itu membawa kepalanya dalam pelukan hangat. Arnetta rindu pada ibunya. Ratih akan selalu melakukan hal yang sama ketika ia sedang terjatuh. Dan kini, semua itu telah sirna. Ibunya saat ini tengah berjuang untuk hidup dan Arnetta akan melakukan hal apapun untuknya. Akan tetapi, ia masih merasakan hatinya nyeri. Bagaimana hidupnya sekarang tak ubahnya seperti seorang wanita yang menjajakan tubuhnya demi uang dan Jullian berhasil membuatnya terlihat lebih rendah dari seorang ******.
"Aku sudah tidak kuat lagi. Rasanya sangat sakit sekali. Aku merasa ... seperti binatang. Aku ... "
Maria memeluk erat wanita muda itu. Ia pun turut merasakan sakitnya perasaan Arnetta. Meski tidak berada dalam posisinya, sebagai seorang wanita ia tahu betul rasanya direndahkan dan dirinya merasa tak berguna ketika tahu tak ada yang bisa dilakukannya. Hanya pelukan ini yang diharapkannya bisa meringankan rasa sakit luka itu.
"Kau harus kuat. Aku ada disampingmu. Maafkan aku yang tak berdaya ini. Aku tak cukup mampu mencegah Julliah melakukannya. Kuatkan dirimu, Arnetta."
Kamar itu pun diisi oleh isak tangis keduanya. Baik Maria maupun Arnetta sama-sama menangisi nasib wanita muda itu. Hingga satu pun dari mereka tak ada yang tahu bahwa sepasang mata kini sedang mengawasi keduanya dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Sosok itu mendengarnya, tapi tak ikut larut didalamnya. Hanya wajah datar yang menghiasi dirinya dengan iringan perasaan yang memberatkan hatinya.
"Sebenarnya, apa yang kulakukan?" Ucapnya sembari melihat sebuah benda ditangannya.
Rowena menatap gelas kecil yang berisikan cairan berwarna kuning pekat didalamnya. Hari ini ia sengaja datang ke tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu malamnya hingga menjelang pagi. Hingar bingar musik yang berdentum takkan mengganggunya sedikit pun. Namun, seperti biasanya ketika kesadarannya akan hilang, maka sosok wanita yang merupakan sahabatnya akan menjemputnya di tempat itu. Seperti sekarang ini.
"Astaga, Kak. Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Kau sudah terlalu banyak minum!"
Maria, sosok wanita muda yang kini telah menjadi ibu itu mendecakkan bibirnya melihat tingkah Rowena yang tak pernah berubah sejak lima tahun lalu.
"Biarkan! Aku ingin seperti ini dulu. Kau ini cerewet sekali!"
Maria hanya bisa mengusap keringat didahinya, karena terlalu lelah berlari. Wanita itu memilih duduk disamping sahabatnya itu dan mengabaikan fakta bahwa suaminya kini sedang menunggu diparkiran. Beruntung penjaga keamanan disini adalah tema suaminya, jadi Maria tak pernah khawatir keluar masuk Club malam ini tanpa takut menerima pelecehan seksual dari pengunjungnya. Saat matanya bersiborok dengan Rowena, Maria tahu bahwa wanita itu kini tengah memikirkan sesuatu. Setela pertemuan mereka dengan Arnetta tempo hari lalu, Rowena seperti kembali membuka luka lama.
Hampir setiap malamnya Rowena akan menghabiskan waktu sendiri dan merenung ditempat yang mampu memekakkan telinga. Sejak mengalami peristiwa naas itu, Rowena yang dulu tegar tidak lagi sekeras batu karang. Wanita itu hancur atas vonis yang dilayangkan massa saat melakukan pembakaran dan pemukulan itu.
"Kau masih memikirkan kejadian itu, ya?"
__ADS_1
Rowena diam tapi kepalanya memberikan gerakan mengamini pertanyaan itu. Meski setengah sadar ia masih bisa mendegar suara Maria bergema ditelinganya. Mungkin orang lain menganggap kekalutannya adalah hal yang berlebihan, tapi melihat sosok yang amat dibencinya itu mengundang kembali rasa sakit yang terkubur bersama dengan memri masa lalunya.
Arnetta.
Butuh waktu lama baginya agar bisa melupakan peristiwa menyakitkan itu. Lima tahun lalu tepatnya, saat malam hari hendak menutup Bar miliknya tiba-tiba saja segerombol masa datang dengan membawa benda-benda tumpul ditangan mereka. Semua mata yang menatap kearahnya melihat dengan penuh kebencian, bahkan rasa jijik. Teriakan dan cacian yang menyebutnya ******, wanita murahan, bahkan pelacur pun mengalir. Dan malam itu orang-orang yang menganggap diri mereka suci itu membakar Bar miliknya. Mereka juga tak segan memukulinya hingga polisi datang untuk menghentikannya.
Ia Ingat Maria yang saat itu tengah hamil besar menemuinya di rumah sakit. Wanita itu yang merawatnya dan dialah juga sosok yang menerima perlakuan sama tapi dalam bentuk yang berbeda. Surat yang berada ditangan Maria menjadi kunci dari semua pertanyaan pasca peristiwa mengenaskan itu. Tak ada satu pun yang mengetahui masa lalu Rowena selain Arnetta dan kini rahasia itu telah terbongkar dan menyebabkan dirinya begitu terluka. ditambah surat yang kini menjadi pertanda bahwa hubungan pertemanannya dengan Arnetta tak semurni kertas putih. Wanita itu membencinya.
"Cobalah untuk melupakan semuanya dan belajar memaafkan dirimu sendiri, Kak. Mungkin saat itu Arnetta benar-benar tidak sengaja melakukannya sebelum kepergiannya. Dia hanya ... tak sengaja menganggap kita sampah seperti yang ditulisnya, karena sedang marah."
Rowena berusaha mengambil gelasnya kembali, tapi Maria jauh lebih cepat darinya. "Tidak ada yang boleh menghina orang lain sampah seperti yang dilakukan ****** itu. Dia tidak lebih berharga dari kita, Maria."
Wanita muda itu mengerutkan dahinya saat kalimat itu terlontar begitu saja. "Apa maksudmu, Kak?"
Rowena terkekeh. Suara sumbang yang terdengar dari bibirnya lebih terdengar seperti nada meremehkan. "Kau tahu, tadi pagi aku menemui Jullian dan mendampratnya karena telah melukai teman kita, Lusi. Tapi ketika aku mendengarkan pengakuannya, aku sungguh terkejut."
Maria semakin tak mengerti kemana arah ucapan Rowena. Ia pun merasa sahabatnya ini telah kehilangan kesadaran sehingga mengucapkan kalimat melantur. "Kau harus pulang. Mungkin kau sudah benar-benar mabuk."
Namun, Rowena menepisnya. Ia segera menegakkan tubuh meski matanya memandang Maria dengan sayu. "Kau tahu, Arnetta yang sekarang tak lebih dari peliharaan pria kaya yang mau menjual tubuhnya hanya demi uang. Dan sekarang, wanita itu adalah peliharaan Jullian demi 500 juta. Sekarang terlihat bukan siapa yang ****** disini?"
Maria membelalak tak percaya. Ia pun yang tadinya berdiri disamping Rowena langsung terduduk lemas tak berdaya. Ia terdiam tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan sapai Rowena menggerakkan ponselnya yang semakin membuat Maria terkejut tak berkata-kata.
"Kau lihat? ini buktinya. Jullian sendiri yang memberitahukannya kepadaku."
Disana, dilayar itu terlihat tubuh Arnetta yang polos tanpa sehelai benang diatas tempat tidur dengan tak sadarkan diri.
"Arnetta... "
Rowena mengambil kembali ponselnya dan menyimpannya didalam tas jinjingnya. "Dia hanya pelacur yang bisanya meneriaki orang lain ****** tanpa berkaca terlebih dahulu."
__ADS_1