Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 15


__ADS_3

Wajah terlelap Arif membuat semangat hidup Arnetta timbul. Anak ini nyaris seperti harapan baginya. Ia yang semula memilih untuk menyerah pada nasib pada akhirnya kalah oleh pesona anak ini. Ia tak pernah menduga apa yang membuat Lusi sangat membencinya, padahal Arif adalah darah dagingnya dan juga anak semata wayangnya. Jika saja Arnetta memiliki sebuah keluarga kecil, dimana ia adalah seorang ibu pasti anaknya takkan pernah ia lukai hatinya sedikit pun. Seandainya saja Arif menjadi anaknya, hidup Arnetta akan membaik.


Ia pun tahu ditengah kegiatannya bersama anak itu, Jullian selalu mengawasi. Mata elang miliknya tak pernah singgah di tempat lain selain kepadanya. Jujur saja apa yang sudah dilakukan laki-laki itu membuatnya ketakutan. Ada getaran tak menyenangkan setiap kali melihat wajahnya dan bahkan membuat Arnetta ingin muntah.


Sekarang setelah anak itu tertidur, Arnetta tak tahu lagi bagaimana harus bersikap. Apalagi tatapan Jullian tak pernah berpindah darinya yang duduk diatas sofa ruang tamu sambil memangku kepala Alif di pahanya.


Jullian yang duduk di seberangnya sambil menatapnya tajam membuat Arnetta ingin segera berlari dari tempat ini. Degupan jantungnya menggila sampai ia merasa keringat dingin memperparah degup itu. Ingin rasanya Arnetta tidur yang nyenyak seperti Alif, tapi sayangnya ia tak sanggup.


"Jadi, kediamanmu selama beberapa hari ini adalah sandiwara agar aku mengasihanimu?"


Kata-kata itu seharusnya tak membuat Arnetta terkejut. Seharusnya ia sudah siao menerima cercaan dari mulut Jullian. Namun, apa mau dikata. Tangannya tetap bergetar dan tak sanggup membalas pertanyaan itu.


"A-Aku t-takut."


Suaranya seperti menggigil. Parau dan nyarus tak terdengar. Dengan wajah yang tertutup rambut, Jullian tak bisa melihat bagaimana raut wajah wanita itu. Namun, sesekali ia menangkap adanya tatapan kosong dari sepasang mata yang dulu menjadi tempatnya untuk membayangkan wanita itu.


"Kau jelas bersalah. Sudah selayaknya kau merasa ketakutan." Ucap Jullian dengan wajah kelam.


Kalau memang benar Arnetta hanya bersandiwara demi menghindarinya selama berhari -hari ini, maka ia takkan segan melakukan hukuman keji bagi wanita ini.


Baginya, Sejak Arnetta mulai berani mematahkan hatinya maka Jullian juga berhak mematahkan sesuatu milik wanita ini.


"Kalau kau hanya berbohong dan berakting, maka aku takkan segan menghukummu lebih berat dari kemarin."


Wanita itu terlihat ketakutan.


Jullian bukannya tak menyadari getaran pada kedua tangan Arnetta yang saling bertautan. Wanita itu gelisah, bahkan sampai mengigil setelah ia bersuara. Meski seharusnya senang dengan ketakutan yang dimiliki wanita itu kepadanya, pada kenyataanya ia merasa terluka juga. Jauh di dalan lubuk hatinya Jullian ingin sekali melihat senyuman yang telah lama hilang dari bibir wanita itu.


"Kau ketakutan?"


Arnetta merasa pusing di kepalanya. Ia ingin sekali menarik rambutnya sampai putus. Sakit yang ia rasakan bukanlah sakit yang ia tahu penyebabnya. Banyak suara berbisik yang seolah membuat dirinya kacau. Apalagi suara teriakan yang familiar dengan suara laki-laki di hadapannya.


Wanita itu ketakutan. Ia tak tahan.


Jullian hampir menerja wanita itu saat dilihatnya tangan Arnetta mulai menjambakki dirinya sendiri. Ia pun langsung berlari dan mengambil Alif dari pangkuan wanita itu.

__ADS_1


"Bi Maria! Cepat kesini!"


Wanita paruh baya itu langsung berlari dari arah dapur dengan tergesa-gesa. Kepanikannya semakin menjadi saat melihat Arnetta terisak di tempatnya sambil menjambaki rambutnya sendiri.


"Kau temani Alif. Biar Arnetta aku yang urus."


Maria tak perlu menerima perintah itu dua kali. Ia langsung melesat setengah berlari meninggalkan kedua orang itu sendirian.


Jullian langsung berjongkok di depan Arnetta yang masib menjambaki rambutnya dengan membabi buat. Isakannya mulai terdengar jelas saat wanita itu meraung kesakitan. Tak tega dengan kondisinya, Jullian langsung memegang tangannya meski harus menerima rontaan.


"Sakit! Lepaskan aku! Sakiiiit!" Hanya itu kalimat yang diperdengarkan Arnetta pada Jullian.


"Sadarlah Arnetta! Kepalamu akan semakin sakit jika kau terus menyakiti dirimu."


Tapi, apa mau dikata. Arnetta sudah seperti kehilangan dirinya yang lembut beberapa saat yang lalu saat bersama Alif wanita itu seketika berubah menjadi histeris entah mengapa.


"Arnetta ... "


Lelaki itu membawa tubuh Arnetta ke dalam pelukannya. Sama seperti beberaoa tahun lalu, percikan yang aneh selalu terasa di hatinya kala memeluk tubuh mungik wanita itu. Jullian merasa kemaren terbawa oleh suasana di saat mereka masih bersama.  Namun, perasaan itu tak berlangsung lama, karena ia terkejut saat mendapati tubuh wanita itu bergetar dan dingin. Ia semakin erat memeluk Arnetta lantaran getaran pada tubuhnya semakin menjadi.


Percuma saja. Apapun yang ia katakan tubuh wanita itu tetap gemetaran. Arnetta seperti kedinginan dan berusaha menggapai rambutnya.


"Mereka ... jahat. Neraka akan menghukumku. Aku kotor."


Meski pelan tapi Jullian mendengarnya dengan jelas. Entah mengapa rasa benci yang sebelumnya ia rasakan menguap begitu saja. Arnetta yang berada dalam dekapannya seperti benda rapuh yang bisa ia hancurkan kapan pun. Racauannya malah semakin menambah tenaga Jullian untuk memeluknya dengan erat.


"Mereka yang jahat akan kubunuh. Tidak ada yang boleh menyentuhmu seujung kuku pun, Netta."


Tanpa sadar kalimat iru terucap dari bibir Jullian. Tangannya mengusap punggung sempit milik wanita itu dengan lembut. Untuk sementara Jullian akan membiarkan wanita ini tenang. Rasa benci bisa ia ke sampingkan. Entah, tapi perasaan itu lebih baik dari pada ...


Kehilangan Arnetta untuk kedua kalinya.


***


"Dia mengalami trauma psikis yang hebat. Peristiwa menyakitkan di masa lalu membuatnya seperti itu. Kukira gejala ini sudah dialaminya bertahun-tahun."

__ADS_1


Penjelasan dokter di sampingnya cukup mengejutkan baginya. Ia pikir wanita itu mulai bereaksi seperti itu setelah ia menyiksanya. Ia sendiri tanpa sadar meremat kertas resep obat di tangannya. Mendengar ada orang lain yang menyakiti Arnetta sanggup mengundang amarahnya.


"Kukira banyak yang harus diceritakan wanita ini kepadaku, Rian."


Laki-laki itu melepas kacamatanya. Sudah cukup lama Jullian menghubunginya sebagai seorang dokter dan terakhir kali adalah saat memeriksakan seorang wanita yang tertidur di apartemennya. Namun, siapa sangka jika lelaki ini mengulang kejadian dulu, di mana ia juga memeriksakan kondisi Arnetta. Tapi, ia tak bisa memberikan diagnosa lebih jauh. Ia adalah dokter ahli dalam, bukan psikiater. Ia tahu benar kondisi yang di alami Arnetta adalah depresi yang cukup berat. Jika dibiarkan Jullian harus mengirimkan wanita ini ke rumah sakit jiwa.


"Jangan memaksa. Aku tidak mau kondisinya semakin parah. Biasanya jika mereka merasa terancam, benda tajam apapun di sekitarnya bisa digunakan untuk melukainya."


Jullian menautkan kedua alisnya tak suka. Dahinya mengernyit dalam setelah perkataan itu dicerna oleh otaknya.


"Bunuh diri, maksudmu?"


Rian menghela napas pelan. Ia tahu berita ini pasti tidak akan di sukai oleh Jullian. "Ya,  gejala depresi seperti ini bisa membuat si penderita bertindak di luar nalar. Meskipun kita tak tahu apakah dia akan menyakiti orang sekitar, tapi dapat dipastikan orang yang pertama akan ia lukai adalah dirinya sendiri. Jangan sampai semangat hidupnya hilang, karena aku tahu akan sangat lama untuk penyembuhannya. Kalau lebih parah, kau harus membiarkannya di ..."


"Rumah sakit jiwa?" Jullian menimpali. Tiba-tiba saja tenggorokkannya menjadi kering. Membayangkan wanita itu mengenakan pakaian rumah sakit dengan tatapan kosong membuatnya tegang.


"Baiklah, aku pamit. Istriku pasti akan datang ke rumah sakit. Biarkan dia istirahat,  Jullian." Ucap Rian sebelum benar-benar pergi dari kamar itu.


Baru saja ia akan menyusul, Jullian langsung merasakan getaran pada ponselnya. Ketika ia melihat layarnya, dahinya mengernyit saat melihat dokter yang biasa merawat Ratih, ibu Arnetta menghubunginya. Sangat tidak biasa dokter ini meneleponnya kalau bukan melaporkan hasil operasi wanita itu.


"Ya, Dok?"


Suara di seberang sana sudah tak lagi mengucapkan salam sopan. Suara yang lemah menyambut telinga Jullian. Pria itu gak berbicara apapun dan hanya menunggu, tapi kalimat selanjutnya yang diucapkan lawan bicaranya langsung membuat Jullian terkejut dan membeo ucapannya.


"Apa? Bu Ratih meninggal?"


Ia masih dalam keterkejutannya sampai tak menyadari sosok lain di ruangan itu sudah berlari keluar seperti orang gila. Wanita itu berteriak kencang dan berlari keluar setelah tahu apa yang baru saja di dengarnya.


Jullian yang baru saja menyadari kepergian Arnetta yang tiba-tiba langsung mengejar wanita itu dengan sekuat tenaga. Namun, entah apa yang merasuki wanita itu sampai akhirnya ia tak bisa menyusulnya berlari ke jalanan. Arnetta berlari tanpa menggunakan alas kaki dan berteriak kencang serta menangis memanggil nama ibunya.


Ketika ia melihat mobil Rian yang masih terparkir di depan rumahnya, Jullian langsung menghampirinya. Rian sendiri juga terlihat terkejut melihat Arneta berlari keluar dari rumah Jullian.


"Ada apa dengannya?"


"Dia mendengar ibunya meninggal."

__ADS_1


__ADS_2