
Arnetta merenung di atas tempat tidurnya. Wanita itu tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang ditempatinya di rumah itu. Ada yang aneh terasa di hatinya. Ia merasa ada atmosfer yang berubah setelah pengakuan yang ia buat kepada Patrick.
Sudah tiga hari sejak keduanya berbicara, pria itu seperti menghindarinya. Pembicaraan mereka saat itu bahkan berakhir dengan dirinya yang masuk begitu saja ke kamar dan meninggalkan pria itu sendirian di dapur. Sampai detik ini setiap kali Arnetta bangun tidur, pria itu sudah tidak ada di tempat. Rasanya Arnetta merasa baru saja berbuat kesalahan hingga membuat Pria itu tidak nyaman tinggal seatap dengannya.
Ya, mungkin saja karena kondisinya yang sedang hamil Patrick mulai berpikir bahwa sebuah kesalahan membawa Arnetta ke dalam rumahnya. Pria itu pasti berpikir kalau Arnetta bukannya wanita baik-baik.
Tentu saja Arnetta sejak awal memang bukan wanita baik-baik. Dirinya saja sudah tidak lagi suci dan bahkan membiarkan dirinya di lecehkan sampai hamil seperti saat ini. Arnetta sudah tidak memiliki harga diri jika disandingkan dengan wanita baik-baik di luar sana.
"Mungkin aku memang harus segera pergi dari sini." Gumamnya.
Sial, pikirnya. Matanya panas. Dadanya pun terasa sesak. Dalam benaknya, setelah ia pergi dari rumah ini takkan ada lagi yang mau menerimanya apalagi sudi memberikannya rumah. Sejak awal ia memang tidak punya apa-apa. Arnetta sudah sangat miskin.
Pelan, wanita yang tengah berbadan dua itu pun bangun dari tempat tidurnya. Dengan segera Arnetta mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang sama dengan yang ia pakai saat pertama kali ke rumah ini. Sekarang ia harus kuat, karena takkan ada lagi yang mau berbelas kasih kepadanya.
Ditengoknya jam dinding yang berada di sudut ruangan. Jam 11 malam. Semoga saja Patrick masih terjaga sehingga ia tidak perlu pergi dari sini dengan mengendap-endap. Tapi kalau pun pria itu sudah tertidur, Arnetta tetap tidak akan menunda keputusannya. Malam ini ia harus pergi sebelum dirinya membuat orang lain tidak nyaman akan keberadaannya.
"Terima kasih, akan kutunggu kabar darimu."
Suara patrick langsung memasuki indera pendengarannya. Begitu daun pintu hampir terbuka suara berat Patrick langsung terdengar sampai ke telinganya. Dan, benar saja ketika pintu terbuka sepenuhnya Patrick duduk di meja makan sambil memijat batang hidungnya. Tak lama berselang tatapan mereka pun bertemu.
Arnetta langsung terdiam di tempat ketika sepasang iris tajam itu langsung menatap ke arahnya tanpa ekspresi berarti. Patrick hanya mengamatinya dengan seksama. Beruntung Arnetta tidak membawa barang apapun dari rumah Jullian.
"Belum tidur ?"
Satu kalimat tanya yang pertama ia dengar dari pria itu selama tiga hari belakangan ini. Patrick memandangnya seolah tak pernah ada apapun di antara mereka. Sama seperti biasa ketika mereka bertemu sebelum hari pengakuan itu.
__ADS_1
Arnetta pun berjalan maju dengan ragu-ragu mendekati pria itu. Ia ingin mengutarakannya sesegera mungkin keinginannya pergi dari rumah ini. Semakin lama ia disini, maka semakin lama dirinya langsung tenggelam jatuh. Yang ia khawatirkan jika sampai ada wanita lain di kehidupan Patrcik, maka pasti akan sangat beresiko. Dan Arnetta lebih memilih menghindari pertengkaran itu.
"Pat, aku ... "
"Kau pasti haus. Mau kuambilkan?"
Pria itu langsung bangun namin pergerakamnya terhenti kala suara lemah Arnetta mengagetkan dirinya.
"Aku mau pamit pergi."
Patrick langsung memandang Reva dengan mata terbelalak. Seperti baru saja tersambar petir.
"Apa ?"
Arnetta pun menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya wanita itu mengutarakan niatannya kembali pada Patrick. Ia rasa pria itu masih belum pulih dari keterkejutannya.
Wanita itu tahu kalau tindakannya ini terkesan tidak tahu terima kasih. Namun, ada baiknya ia mengakhiri segalanya sebelum akhirnya ia malah membuat sang pemilik rumah tidak nyaman di huniannya sendiri. Dan, akan sangat egois jika ia tetap tinggal di rumah ini sementara ia tahu sebenarnya ia tidak diterima sepenuhnya di sini.
"Aku tahu kalau kau tidak nyaman dengan keberadaanku di sini. Apalagi setelah kau tahu kalau aku sedang hamil. Pasti kau sudah berpikir kalau aku bukan orang yang baik."
Arnetta hanya bisa menunduk sambil menatap sepasang kakinya yang memijak di lantai. Malam itu ruangan tidak terasa panas sama sekali, namun ia mendadak pengap seolah pasokan udara sudah tersedot habis karena perkataannya. Ia yakin setelah ini tanpa perlu berpamitan, Patrick pasti sudah akan menendangnya keluar.
Namun, hal yang dinantikan tak kunjung ia dengar. Selama beberapa menit Arnetta justru tidak mendengar suara apapun di sekitarnya. Dengan pelan ia pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan seketika ia menemukan tatapan menyedihkan yang diarahkan Patrick kepadanya. Ditambah lagi pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Pat ..."
__ADS_1
"Aku tidak tahu seberapa banyak penolakan yang sudah kau terima." Ucap pria itu parau tak bertenaga. Tak sedikit pun terdengar nada tinggi atau tak menyenangkan dari suaranya.
Patrick berjalan mendekati tempat dimana wanita itu berdiri. Tubuh jangkungnya menjulang di hadapan Reva yang masih menatapnya penuh tanya.
"Mungkin kesakitan yang sudah kau alami memang meninggalkan luka, tapi percayalah ... Aku tidak pernah berpikir buruk tentangmu."
Arnetta tak bisa lagi berkata-kata. Wanita itu hanya terus terdiam di tempatnya. Meski matanya terus mengarah pada pria itu, tapi tatapannya memutih. Buram. Tak ada yang bisa dengan jelas dilihatnya.
"Aku bukan mereka, Reva. Sejak pertama kali melihatmu di rumah sakit, aku tahu kau butuh pertolongan. Setidaknya jika 99% orang yang kau kenal menyakitimu, maka jadikanlah aku 1% diantara mereka yang berlaku sebaliknya."
Tanpa sadar Arnetta kembali menangis di hadapan Patrick. Ia tak menyangka jika masih ada manusia yang tidak menghakiminya. Yang menjadikan dirinya 1% orang yang mau menolongnya. Selama ini, ia tak pernah mendapatkan pertolongan apapun. Sebaiknya perlakuan yang ia terima hanyalah kediaman dari mereka atas penderitaannya. Rasanya itu lebih baik dari pada harus ikut menghakiminya.
"Aku ... Hiks... Hamil." Sahut Arnetta dengan terisak hebat.
"Aku yakin kau adalah wanita baik, karena meski kau tidak menginginkan anak ini, kau tetap membiarkannya hidup. Bahkan, kau sendiri sering terlihat menyayangi anak ini. Kau ibu yang hebat."
Reva menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Memikirkan bagaimana anak ini akan lahir dari wanita kotor sepertinya langsung membuat dadanya terasa sakit. Entah apakah yang akan anaknya katakan nanti ketika tahu wanita yang telah melahirkannya pernah menjual tubuhnya sendiri hanya untuk uang. Memikirkannya sudah membuat Reva ingin sekali berdoa untuk Tuhan mengambil nyawanya setelah melahirkan. Tapi, ia sendiri tidak tega membiarkan anaknya hidup sendiri di dunia ini.
"Jangan sekalipun menyesali hidupmu. Jika kau merasa kotor, maka kau bisa memperbaikinya dengan hidup yang baik."
"Pat-..!"
TOKTOKTOK
"Pak, buka! Kami tahu anda sudah menyembunyikan wanita yang bukan istri anda !"
__ADS_1
Kedua orang itu langsung memandang horor pada pintu rumah yang masih tertutup rapat itu. Mereka yakin ada sesuatu yang buruk menanti mereka diluar sana. Tak hentinya suara ramai orang bersahutan meminta mereka membukakan pintu rumah.
"Kurasa mereka sedang membutuhkan penjelasan, Reva."