
Arnetta membuka mata untuk pertama
kali dan menangkap bahwa ia berada di dalam kamar yang sama dengan tempat yang
ia huni selama beberapa hari di sini. Wanita itu pun tak ingat kapan ia
tertidur di tempat ini. Yang jelas wanita itu tidak mengingat apapun selain
terakhir kali ia ingin pergi dari rumah ini. Setelah itu ia sama sekali tidak
ingat apapun lagi. Rasanya ia baru saja bangun dari mimpinya sendiri dan pagi
ini ia merasa tubuhnya terasa lemas.
Pelan ia terbangun dari tempat tidur
dan menemukan bayangan dirinya terpantul di cermin lemari pakaian yang
sebenarnya tak pernah ia isi dengan barang apapun. Karena sejak awal ia datang
dengan memakai benda yang tertempel di tubuhnya. Begitu ia menyadari sebuah
kejanggalan, waniat itu segera mendekatkan wajahnya ke cermin dan menemukan
matanya terlihat sangat bengkak seperti baru saja habis menangis.
"Bengkak ..."gumamnya.
Taka da hal yang bias ia gal dalam
ingatannya mengapa ia bias berakhir tidur di tempat tidur ini. Padahal semalam
ia sudah berniat untuk keluar dari rumah ini. Sudah cukup lama baginya untuk
menumpang di rumah Patrick. Ia merasa pria itu bisa saja terbebani dengan
kehadirannya di tempat ini. Apalagi mereka adalah kedua orang asing yang baru
saja bertemu dan mengenal. Ia sendiri semula sangsi jika Patrick memiliki
niatan yang tulus untuk membantunya. Arnetta pun pasrah jika suatu saat pria
itu berubah menjadi jahat seperti yang sudah-sudah.
Ya, Arnetta tahu pernah ada pria
yang semula menawarkan bantuan sebelum akhirnya menghancurkannya separah ini.
Sekarang Arnetta tidak lagi mau
menunda niatannya untuk pergi. Semakin lama ia berada di rumah ini maka semakin
berat beban yang akan ia berikan pada Patrick yang mungkin saja tidak nyaman
dengan keberadaannya di sini. Apalagi ia sedang dalam kondisi hamil dan bisa
saja semakin merepotkan pria itu nantinya.
“Ya, aku harus segera berkemas dan
pergi. Kasihan Patrick jika harus mengurus wanita hamil yang merepotkan
sepertiku.”
Arnetta langsung keluar dari
kamarnya tanpa ada niatan untuk mandi atau bersiap terlebih dahulu. Ia merasa
bahwa dirinya tidak membawa barang apapun saat pertama kali ke rumah ini, jadi
tidak masalah jika ia tidak bersiap-siap dulu sebelum pergi. Namun belum sempat
ia menginjakkan kaki keluar dari kamar, di sana, tempat di depan pintu kamar ia
sudah melihat Patrick menyambutkan dengan sepiring omelet dan sosis di
tangannya. Apron bermotif kembang merah pun memperkuat dugaan kalau pria itu
baru saja menyelesaikan tugas di dapur.
“Pat ?”
Pria itu yang semula hanya memasang
__ADS_1
ekspresi biasa pun langsung tersenyum sumringah ketika mendengar panggilan yang
diucapkan oleh Reva untuknya. Seolah ia baru saja mendengar ada nada bersahabat
dari wanita itu.
“Sarapan ?”
Alih-alih membalas panggilan itu,
Patrick lebih memilih membiarkannya mengambang di udara bersamaan dengan
perasaannya yang mengembang ketika suara wanita itu memanggilnya dengan akrab.
Ia takut ketika dirinya kembali memastikan panggilan itu, maka hanya ada
jawaban mengecewakan yang ia dapat.
Arnetta mau tak mau mengangguk
pelan. Ia sendiri juga sudah merasa kelaparan melihat omelet dan sosis yang
terpampang di hadapannya. Kalau ibu hamil lain biasanya akan mual melihat
telur, maka lain hal dengan dirinya. Arnetta sangat tergila-gila dengan telur
sejak hamil. Hal yang jarang sekali ia masukkan ke dalam daftar sarapan karena
menurutnya berbau amis. Nyatanya sejak mengetahui kehamilannya, Arnetta sering
sekali mengidam telur dadar sebagai sarapan paginya.
Wanita itu pun duduk manis di meja
makan dengan hidangan sarapan yang membuat anaknya merasa kegirangan. Sudah hamper
terlupakan niatannya keluar kamar pagi ini sampai ia mendengar suara Patrick
yang langsung menghentikan kunyahan makanan di dalam mulutnya.
“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
Arnetta segera mengarahkan matanya
mereka saling bertatapan.
“Baik. Aku baik-baik saja. Terima
kasih atas sarapannya.”
Patrick menghela napasnya
dalam-dalam. Ia tahu kemungkinan sangat kecil untuk wanita yang ada di hadapannya
mengingat kejadian semalam. Keyakinannya bahwa Reva bias saja mengahalmi delusi
semalam semakin kuat. Ditambah ekspresi Reva pagi ini yang tidak memperlihatkan
keanehan apapun seperti tidak pernah terjadi hal apapun. Namun, ia pun tidak bisa
mengambil kesimpulan begitu saja. Ia harus memastikan kembali kondisi Reva yang
bisa saja bertolak belakang dengan dugaannya.
“Kau tidak ingat apa yang terjadi
semalam?” Tanya Patrick sedikit berhati-hati.
Arnetta mau saja mengatakan
niatannya semalam untuk pamit, tapi entah mengapa ia merasa tidak enak hati
ketika melihat ekspresi Patrick yang tampak begitu mengkhawatirkannya. Apalagi ia
belum membalas kebaika pria itu yang sudah menampungnya di rumah ini. Hingga
detik ini Patrick tidak pernah melaksanakan perkataannya saat pertama kali
mereka bertemu. Di awal pria itu bilang ingin menjadikannya sorang asisten
rumah tangga. Nyatanya, Patrick malam memperlakukannya sebagai seorang tamu. Jauh
dari kebiasaan asisten rumah tangga. Setiap harinya pun akan datang seorang
__ADS_1
wanita paruh baya yang sudah selesai menyelesaikan semua pekerjaan rumah
sebelum ia bangun tidur. Hal ini yang semakin membuat Arnetta semakin tak enak
hati untuk berlama-lama tinggal di rumah ini.
“A-aku, …” Arnetta sampai harus menjilat
bibirnya yang kering untuk menyelesaikan kalimatnya. Mendadak ia gugup. Takut
apa yang nantinya akan disuarakan olehnya akan menimbulkan rasa sesal di
hatinya. “Sebenarnya aku … mau pergi.”
Kedua alis Patrick saling tertaut.
Pria itu tak habis piker dengan perkataan wanita ini. Ia pikir wanita bernama
Reva ini akan mengatakan kalau dirinya sedang bermimpi buruk. Bahkan bukan
reaksi dari seseorang yang baru saja mengalami delusi semalam.
“Hanya itu ? Tidak ada lagi yang kau
ingat?”
Wanita yang di panggil Reva itu pun menggelengkan
kepalanya pasti. Ia tahu hanya sampai di sana ingatan memori di otaknya
bermain. Sisanya Reva hanya bisa mengingat dirinya telah berakhir di atas
tempat tidur pagi ini.
“Ya, dan aku bangun tidur di kamar
yang sudah kau berikan kepadaku.” Sahutnya sambil menggedikkan kedua bahunya.
Patrick hanya diam saja sesaat.
Delusi. Wanita ini semalam sedang mengalami titik kambuhnya. Entah luka apa
yang sudah pernah di rasakan oleh wanita ini sehingga kejiwaannya sangat
terganggu. Apalagi ketika segerombolan orang mendatangi mereka semalam. Ia
yakin delusi ini akan terus kambuh jika Reva kembali di hadapkan pada situasi
yang sama. Namun, Patrick tidak mau menggali lagi luka lama itu. Biarlah jika
Reva yang ia kenal sekarang adalah oranb baru dan penderitaannya hanyalah
sebuah delusi.
“Ada apa ?”
Patrick tersadar dari lamunannya dan
kembali mengarahkan pandangannya pada Reva. Ia pun menampilkan senyuman
canggung tanpa disadarinya. Dan satu hal, ia harus memberitahu jika Reva belum
bisa keluar dari rumah ini. Setidaknya sampai orang-orang akan lupa pada
insiden semalam.
“Tentang niatanmu untuk pergi,
sepertinya aku belum bisa mengabulkannya, Reva.”
“Kenapa ?”
Hampir tak ada kunyahan lagi di
mulut Arnetta. Saking tegangnya ia lupa rasa laparnya dan rasa enaknya omelet
yang beberapa waktu lalu memanjakan lidahnya.
“Karena, … semua tetanggaku tahu
kalau kau adalah istriku yang baru saja kembali dari rumah orang tua. Mereka
sudah tahu kalau kau sedang hamil … anak kita.”
__ADS_1