Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 35


__ADS_3

Arnetta membuka mata untuk pertama


kali dan menangkap bahwa ia berada di dalam kamar yang sama dengan tempat yang


ia huni selama beberapa hari di sini. Wanita itu pun tak ingat kapan ia


tertidur di tempat ini. Yang jelas wanita itu tidak mengingat apapun selain


terakhir kali ia ingin pergi dari rumah ini. Setelah itu ia sama sekali tidak


ingat apapun lagi. Rasanya ia baru saja bangun dari mimpinya sendiri dan pagi


ini ia merasa tubuhnya terasa lemas.


Pelan ia terbangun dari tempat tidur


dan menemukan bayangan dirinya terpantul di cermin lemari pakaian yang


sebenarnya tak pernah ia isi dengan barang apapun. Karena sejak awal ia datang


dengan memakai benda yang tertempel di tubuhnya. Begitu ia menyadari sebuah


kejanggalan, waniat itu segera mendekatkan wajahnya ke cermin dan menemukan


matanya terlihat sangat bengkak seperti baru saja habis menangis.


"Bengkak ..."gumamnya.


Taka da hal yang bias ia gal dalam


ingatannya mengapa ia bias berakhir tidur di tempat tidur ini. Padahal semalam


ia sudah berniat untuk keluar dari rumah ini. Sudah cukup lama baginya untuk


menumpang di rumah Patrick. Ia merasa pria itu bisa saja terbebani dengan


kehadirannya di tempat ini. Apalagi mereka adalah kedua orang asing yang baru


saja bertemu dan mengenal. Ia sendiri semula sangsi jika Patrick memiliki


niatan yang tulus untuk membantunya. Arnetta pun pasrah jika suatu saat pria


itu berubah menjadi jahat seperti yang sudah-sudah.


Ya, Arnetta tahu pernah ada pria


yang semula menawarkan bantuan sebelum akhirnya menghancurkannya separah ini.


Sekarang Arnetta tidak lagi mau


menunda niatannya untuk pergi. Semakin lama ia berada di rumah ini maka semakin


berat beban yang akan ia berikan pada Patrick yang mungkin saja tidak nyaman


dengan keberadaannya di sini. Apalagi ia sedang dalam kondisi hamil dan bisa


saja semakin merepotkan pria itu nantinya.


“Ya, aku harus segera berkemas dan


pergi. Kasihan Patrick jika harus mengurus wanita hamil yang merepotkan


sepertiku.”


Arnetta langsung keluar dari


kamarnya tanpa ada niatan untuk mandi atau bersiap terlebih dahulu. Ia merasa


bahwa dirinya tidak membawa barang apapun saat pertama kali ke rumah ini, jadi


tidak masalah jika ia tidak bersiap-siap dulu sebelum pergi. Namun belum sempat


ia menginjakkan kaki keluar dari kamar, di sana, tempat di depan pintu kamar ia


sudah melihat Patrick menyambutkan dengan sepiring omelet dan sosis di


tangannya. Apron bermotif kembang merah pun memperkuat dugaan kalau pria itu


baru saja menyelesaikan tugas di dapur.


“Pat ?”


Pria itu yang semula hanya memasang

__ADS_1


ekspresi biasa pun langsung tersenyum sumringah ketika mendengar panggilan yang


diucapkan oleh Reva untuknya. Seolah ia baru saja mendengar ada nada bersahabat


dari wanita itu.


“Sarapan ?”


Alih-alih membalas panggilan itu,


Patrick lebih memilih membiarkannya mengambang di udara bersamaan dengan


perasaannya yang mengembang ketika suara wanita itu memanggilnya dengan akrab.


Ia takut ketika dirinya kembali memastikan panggilan itu, maka hanya ada


jawaban mengecewakan yang ia dapat.


Arnetta mau tak mau mengangguk


pelan. Ia sendiri juga sudah merasa kelaparan melihat omelet dan sosis yang


terpampang di hadapannya. Kalau ibu hamil lain biasanya akan mual melihat


telur, maka lain hal dengan dirinya. Arnetta sangat tergila-gila dengan telur


sejak hamil. Hal yang jarang sekali ia masukkan ke dalam daftar sarapan karena


menurutnya berbau amis. Nyatanya sejak mengetahui kehamilannya, Arnetta sering


sekali mengidam telur dadar sebagai sarapan paginya.


Wanita itu pun duduk manis di meja


makan dengan hidangan sarapan yang membuat anaknya merasa kegirangan. Sudah hamper


terlupakan niatannya keluar kamar pagi ini sampai ia mendengar suara Patrick


yang langsung menghentikan kunyahan makanan di dalam mulutnya.


“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”


Arnetta segera mengarahkan matanya


mereka saling bertatapan.


“Baik. Aku baik-baik saja. Terima


kasih atas sarapannya.”


Patrick menghela napasnya


dalam-dalam. Ia tahu kemungkinan sangat kecil untuk wanita yang ada di hadapannya


mengingat kejadian semalam. Keyakinannya bahwa Reva bias saja mengahalmi delusi


semalam semakin kuat. Ditambah ekspresi Reva pagi ini yang tidak memperlihatkan


keanehan apapun seperti tidak pernah terjadi hal apapun. Namun, ia pun tidak bisa


mengambil kesimpulan begitu saja. Ia harus memastikan kembali kondisi Reva yang


bisa saja bertolak belakang dengan dugaannya.


“Kau tidak ingat apa yang terjadi


semalam?” Tanya Patrick sedikit berhati-hati.


Arnetta mau saja mengatakan


niatannya semalam untuk pamit, tapi entah mengapa ia merasa tidak enak hati


ketika melihat ekspresi Patrick yang tampak begitu mengkhawatirkannya. Apalagi ia


belum membalas kebaika pria itu yang sudah menampungnya di rumah ini. Hingga


detik ini Patrick tidak pernah melaksanakan perkataannya saat pertama kali


mereka bertemu. Di awal pria itu bilang ingin menjadikannya sorang asisten


rumah tangga. Nyatanya, Patrick malam memperlakukannya sebagai seorang tamu. Jauh


dari kebiasaan asisten rumah tangga. Setiap harinya pun akan datang seorang

__ADS_1


wanita paruh baya yang sudah selesai menyelesaikan semua pekerjaan rumah


sebelum ia bangun tidur. Hal ini yang semakin membuat Arnetta semakin tak enak


hati untuk berlama-lama tinggal di rumah ini.


“A-aku, …” Arnetta sampai harus menjilat


bibirnya yang kering untuk menyelesaikan kalimatnya. Mendadak ia gugup. Takut


apa yang nantinya akan disuarakan olehnya akan menimbulkan rasa sesal di


hatinya. “Sebenarnya aku … mau pergi.”


Kedua alis Patrick saling tertaut.


Pria itu tak habis piker dengan perkataan wanita ini. Ia pikir wanita bernama


Reva ini akan mengatakan kalau dirinya sedang bermimpi buruk. Bahkan bukan


reaksi dari seseorang yang baru saja mengalami delusi semalam.


“Hanya itu ? Tidak ada lagi yang kau


ingat?”


Wanita yang di panggil Reva itu pun menggelengkan


kepalanya pasti. Ia tahu hanya sampai di sana ingatan memori di otaknya


bermain. Sisanya Reva hanya bisa mengingat dirinya telah berakhir di atas


tempat tidur pagi ini.


“Ya, dan aku bangun tidur di kamar


yang sudah kau berikan kepadaku.” Sahutnya sambil menggedikkan kedua bahunya.


Patrick hanya diam saja sesaat.


Delusi. Wanita ini semalam sedang mengalami titik kambuhnya. Entah luka apa


yang sudah pernah di rasakan oleh wanita ini sehingga kejiwaannya sangat


terganggu. Apalagi ketika segerombolan orang mendatangi mereka semalam. Ia


yakin delusi ini akan terus kambuh jika Reva kembali di hadapkan pada situasi


yang sama. Namun, Patrick tidak mau menggali lagi luka lama itu. Biarlah jika


Reva yang ia kenal sekarang adalah oranb baru dan penderitaannya hanyalah


sebuah delusi.


“Ada apa ?”


Patrick tersadar dari lamunannya dan


kembali mengarahkan pandangannya pada Reva. Ia pun menampilkan senyuman


canggung tanpa disadarinya. Dan satu hal, ia harus memberitahu jika Reva belum


bisa keluar dari rumah ini. Setidaknya sampai orang-orang akan lupa pada


insiden semalam.


“Tentang niatanmu untuk pergi,


sepertinya aku belum bisa mengabulkannya, Reva.”


“Kenapa ?”


Hampir tak ada kunyahan lagi di


mulut Arnetta. Saking tegangnya ia lupa rasa laparnya dan rasa enaknya omelet


yang beberapa waktu lalu memanjakan lidahnya.


“Karena, … semua tetanggaku tahu


kalau kau adalah istriku yang baru saja kembali dari rumah orang tua. Mereka


sudah tahu kalau kau sedang hamil … anak kita.”

__ADS_1


__ADS_2