
"Jullian ?"
Patrick tidak salah mengira bahwa sosok yang dilihatnya kini merupakan pria yang sudahl lama tidak ia jumpai. Rasanya sosok Jullian sangatlah familiar dimatanya dan mungkin mata semua orang. Apalagi dengan pakaian jas formal yang sangat mencolok itu.
Segera pria itu berjalan menghampiri Jullian yang nampak baru saja turun dari mobilnya. Jullian pun yang merasa ada yang sednag datang menghampirinya langsung membalikkan tubuhnya dan menggantikan wajah garang yang sejak tadi ia tampilkan dengan raut seramah mungkin. Ia tak mungkin memberikan wajah menyeramkan kepada sepupunya itu.
Ya, Sepupu yang sudah lumayan lama tidak ia temui, dan bahkan mungkin saja tidak tahu tahun-tahun berat yang sudah ia lalui selama ini.
"Pat!"
Patrick langsung memberikan pelukan hangat kepada sepupunya itu. Meski terbilang tidak terlalu dekat, namun Jullian adalah sosok saudara yang baik sejauh ingatannya selama ini. Tidak pernah ada konflik diantara mereka. Jarangnya intensitas pertemuan didasari dengan kesibukan masing-masing.
"Apa kabarmu, Jullian ?"
Jullian menampilkan senyum terpaksanya. Ia tidak bisa membuat kesan baik-baik saja jika saat ini saja pikirannya pergi entah kemana. Tapi, sepertinya senyumannya itu tidak mmberikan arti apa-apa untuk sepupunya ini.
"Lumayan."
Patrick menengok ke kiri dan ke kanan dan mulai mengerutkan keningnya. "Kau sendirian? Di mana istrimu ?"
Seperti yang sudah-sudah, nyatanya jarak hubungannya dengan patrick memanglah tidak sedekat itu. Pria ini tidak mendengar kalau dirinya sudah berpisah dengan Lusi. Membayangkan bahwa dirinya pernah menikahi wanita itu saja membuat dirinya jijik. Tidak percaya bahwa ia bisa selengah itu memasukkan ular berbisa beserta keluarganya ke dalam daftar riwayat hidupnya.
"Kami sudah berpisah." Jawabnya enggan.
Patrick langsung tergugu. Diam membisu. Ia sadar bahwa ini saatnya untuk menghentikan basa-basi tak menyenangkan. Ia tak mau membuat Jullian yang baru saja bercerai merasa semakin tak enak hati setelah pembahasan ini.
"Kau sendiri sedang apa di sini?"
Pria itu terkekeh pelan dan menjawab, "Rumahku memang di sekitar sini, Juls. Tapi memang aku ,memiliki sedikit urusan di sini."
__ADS_1
Juls, Ya itu lah nama kecil yang hanya diketahui orang-orang masa kecilnya. Sejak keluarganya sudah bangkit dari kebangkrutan beberapa tahun silam, ia hampir tak pernah mendengar orang lain memanggilnya begitu. Ini adalah kali pertama ia mendengarkannya lagi dan itu dari sepupu kecilnya.
Jullian menoleh ke belakang Patrick dan melihat ada toko sushi yang sepertinya baru selesai di datangi oleh pria itu. "Sushi ? Kau membelinya? setahuku kau tidak menyukai makanan itu."
Patrick langsung menampilkan senyuman sumringah begitu melihat bungkusan di tangannya dan juga memikirkan untuk siapa makanan ini nantinya akan mendarat. "Untuk istriku. Calon buah hati kami sedang ingin makan sushi. Entah dia menuruni siapa."
Jullian tersenyum masam. Ia ingat jika saja Arnetta masih berada di sisinya mungkin ia juga bisa merasakan bagaimana rasanya memenuhi keinginan calon anaknya yang saat ini juga masih dalam kandungan wanita itu. Wanita hamil itu akan membuatnya kuwalahan memenuhi keinginan anak mereka. Namun, rasanya apa yang ia bayangkan sulit untuk terjadi jika kenyataannya keberadaan wanita itu masih menjadi misteri.
Wilayah ini adalah satu-satunya lokasi terakhir dimana orang suruhannya melaporkan pernah melihat Arnetta berkeliaran. Ia juga ingin menarik paksa wanita itu dari sisi laki-laki yang saat ini bersamanya. Sekarang jika wanita itu sendiri yang menyatakan dirinya adalah wanita kotor, ia sama sekali tak peduli. Bagi Jullian menemukan Arnetta adalah hal yang paling ia inginkan. Jika nanti wanita itu berniat pergi lagi darinya, ia bersumpah akan merantai atau mungkin memotong kedua kakinya sehingga tak bisa lagi berpindah tempat tanpanya.
"Kenapa ?"
Suara Patrick membangunkannya dari lamunan. Ia langsung terkesiap dan kembali ke dalam kenyataan. Sosok pria yang merupakan sepupunya sedang mengalami hal yang paling ia inginkan.
"Kau tidak mengundangku ke pesta pernikahanmu ?"
"Kalau begitu selamat! Aku turut bahagia." Ucap Jullian dengan tulus.
Lagi-lagi hanya ada kata seandainya dalam hidupnya. Ia iri. Sungguh, tidak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini selain sebuah rasa iri. Seandainya ia menyadari lebih cepat bagaimana takdir dan kesalahpahaman dalam hidupnya bisa terselesaikan, ia bisa hidup bahagia dengan Arnetta. Sayangkan ketika ia menyadari semuanya, dunia sudah tak lagi sama. Wanita itu menghilang begitu saja dari hidupnya.
"Kau mau main ke rumahku? Akan kukenalkan pada wanitaku."
Pria itu hanya bisa terdiam dan tidak bisa langsung memutuskan ajakan sepupunya itu. Sejujurnya Jullian tak punya waktu lagi. Ia harus segera menemukan Arnetta. Sudah banyak waktu terbuang dan Jullian masih belum juga menemukan titik terang.
"Aku lupa, apa kau kesini karena ada urusan juga ? Aku yakin kau sangat sibuk." Ucap Patrick yang mulai menyadari bahwa sepupunya itu sedikit enggan menerima tawarannya. Ia sendiri lupa bahwa keberadaan Jullian di sini tentu beralasan penting. Ia sangat kenal Jullian yang sejak kecil hampir tidak pernah menghabiskan waktunya untuk bermain.
"Aku ... mencari seseorang." Cicitnya pelan. "Tapi, mungkin aku bisa singgah sebentar di rumahmu, sekalian memberikan selamat langsung kepada calon sepupu iparku."
Kerutan di kening Patrick langsung muncul. Dengan ragu ia kembali memastikan apa yang baru saja ia dengar. "Kau yakin ? Aku tidak mau menghalangimu."
__ADS_1
Jullian menggelengkan kepalanya dengan pasti. "Tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu. Aku perlu mencari orang itu dengan kepala dingin."
***
"Di sini rumahku." Ujar Patrick setelah mobil yang ia dan Jullian tumpangi tiba di depan sebuah rumah minimalis yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Jullian menawarkan tumpangan kepada sepupunya, sekalian melihat di mana kini Patrick tinggal.
Jullian melongokkan kepalanya ke sisi kiri kemudi. Ia memperhatikan dengan seksama suasana rumah tinggal Patrick yang terlihat asri dan juga *familiar*. Ia merasa seperti pernah melihat pemandangan rumah ini di suatu tempat\, tapi ia lupa dimana. Padahal ia baru pertama kali mendatangi kediaman Patrick.
"Ayo masuk! kau harus kukenalkan pada Reva."
"Reva ?" Kedua alis Jullian meninggi. Selama perjalanan tadi Patricl belum pernah menyinggung nama wanita itu.
Patrick mengangguk pelan. "Dia adalah istriku. Kalian pasti akan sangat akrab apalagi seleramu dan selera anak kami sama, kalian sangat suka sushi."
Kedua pria itu pun keluar dari mobil setelah Jullian memastikan mobilnya terparkir dengan sempurna. Patrick sebagai tuan rumah berjalan di depan membimbing Jullian yang berjalan di belakangnya dengan raut wajah semakin tak biasa. Pria itu berjalan mengikuti Patrick sambil menelaah pemandangan di rumah yang tak memiliki pagar tinggi itu. Ia yakin perasaannya tidak salah, ia pernah melihat rumah dan juga pagar rumah itu di suatu tempat, meskipun ini adalah kali pertama ia datang ke tempat ini.
"Ayo silahkan masuk, Juls." Ujar Patrick begitu pria itu sudah membuka pintu utama rumahnya dan menampilkan sofa berwarna putih di dalamnya.
"Reva, kita ke datangan tamu." teriak Patrick yang langsung disahuti oleh suara yang langsung menyentak indera pendengaran Jullian.
"Sebentar. Aku ke sana."
Jullian merasakan jantungnya berdegup sangat kencang dan bahkan telinganya sudah tidak bisa mendengarkan apapun lagi selain suara helaan napas yang bersatu dengan detak jantung yang semakin menggila. Dan anehnya ia bisa mendengarkan langkah kaki seseorang yang menapaki lantai berjalan mendekatinya dan Patrick. Saat ia melihat ke dinding, ia pun bisa melihat pantulan bayangan seorang wanita yang mengenakan baju daster putih dengan perutnya yang membuncit menghampirinya.
Sedetik kemudian saat wajah itu muncul, Jullian seolah kehilangan pasokan oksigen di kepala dan pernapasannya. Kepalanya mendadak kosong dan tatapannya hanya tertuju pada sosok wanita yang kini berada di hadapannya dan juga ikut memandanginya seolah ia adalah sosok penampakkan mengerikan.
Wujud wanita itu, suaranya, rambutnya. semuanya. Jullian masih mengingat semua. Wanita yang kini tampak hidup dengan perut besarnya itu masih ada di sana. Nyata. Bukan bayangan yang setiap malam hanya bisa menghantuinya.
"Arnetta ..."
__ADS_1