
"Tolong jangan buat aku salah paham, Patrick."
Wanita itu menegaskan kalimat terakhirnya sebelum akhirnya berbalik badan dan berjalan memasuki rumah pria itu. Jika hari ini Patrick merasa tersinggung dengan ucapannya dan mulai membencinya, maka tidak ada alasan lagi baginya untuk bertahan di sini. Mungkin suatu hari nanti ia akan membalas semua kebaikan pria itu kepadanya.
Namun belum sempat Arnetta benar-benar pergi meninggalkan Patrick, suara pria itu tampak menyentak hati dan pikirannya sekarang. Ucapan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari pria itu.
"Aku tidak masalah jika kau salah paham dengan semua kebaikanku. Teruslah salah paham karena semua dugaan yang ada di kepalamu adalah benar."
Arnetta membalikkan tubuhnya dengan segera dan menangkap jika Patrick masih berdiri di tempatnya semula, tapi kedua tangan pria itu mengepal kuat seperti sedang menahan sesuatu.
"Teruslah salah paham, tapi yang harus kau tahu, aku benar-benar senang menjadi suami pura-puramu setiap saat. Jika kau berpikir aku memang mencintaimu, ya ..."
Rasanya semua waktu terasa berhenti di antara keduanya. Baik Arnetta maupun Patrick sama-sama merasakan pergerakan waktu yang melambat di sekitar mereka.
"Aku memang mencintaimu."
"Pat ..."
Pria itu mendekatkan dirinya kembali pada Reva dan alih-alih menghindar, wanita itu malah tak bisa menjauhkan diri seinci pun dari Patrick. Logikanya yang sudah berbunyi nada peringatan pun tak terdengar lagi. Ia terdiam membisu di tempatnya. Bahkan ketika tangan panjang pria itu mengelilingi dan membungkus tubuhnya dengan hangat, Arnetta hanya bisa terdiam.
"Jangan tolak aku. Meski kau tidak akan segera menerimaku, tapi jangan pernah menolakku."
Patrick mengucapkan dengan sungguh - sungguh kalimat itu di atas ubun - ubun kepala Reva. Tak lupa ia memberikan kecupan selembut kapas di kepala wanita itu. Terserah jika setelah ini Reva akan membencinya. Rasanya seluru berat beban di dadanya seolah sudah terangkat. Ia benar-benar lega sudah mengungkapkan segala isi hatinya.
__ADS_1
"Pat, jangan begini. Aku sudah rusak dan kau berhak untuk mendapatkan yang ..."
"Lebih baik ? Di mana ?" Patrick segera melepaskan pelukan itu dan menatap tajam Reva yang sungguh menyinggung hatinya. Ia tidak suka wanita itu merendahkan dirinya. Baginya Reva kauh lebih berharga dari itu. Di matanya wanita itu sempurna. Seorang wanita yang akan menyempurnakan sebuah pernikahan. Apalagi tak lama lagi akan hadir seorang anak di antara mereka. Patrick mau anak itu tumbuh dengan normal. Tidak ada pertanyaan siapa ibu dan siapa ayahnya. Anak yang akan ia jaga seperti anak mereka sendiri nantinya.
"A-Aku ... wanita yang sudah rusak. Aku sudah hancur, Pat. Kau adalah pria yang baik dan berhak untuk mendapatkan segala-galanya."
Arnetta tercekat pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya tak tertahan mengingat hidupnya yang sudah berantakkan. Padahal ia sudah menyiapkan segala kondisi kalau nantinya ia akan melepaskan perasaan ini. Tapi setiap mengingat betapa hancur hidupnya saat ini semakin membuat hatinya terasa pedih.
Sejak awal ia menyadari kerasnay dunia ini, ia ingin merasakan setitik kebaikan. Ia ingin hidup normal seperti wanita biasa. Tidak perlu menjadi kaya, karena ia sudah snagat bersyukur dengan hidupnya yang sederhana dengan ibunya. Akan tetapi, dunia seolah tak henti mengirimkan lara padanya. Duka silih berganti menghampirinya. Ia juga tidak pernah berharap dapat dicintai oleh lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya. Tapi, tak disangka lelaki itu justru melukainya tanpa tahu apa kesalahannya.
Sungguh, mengapa dunia bisa sekejam ini. Di saat ia sudah memasrahkan segalanya, ia malah di pertemukan dengan lelaki baik yang membuatnya semakin merasa tak pantas untuk hidup layak di dunia ini. Apakah setelah ini ia akan merasakan duka lagi.
"Kau sempurna." Lelaki itu segera menangkup wajah wanita itu dan menatapnya dengan penuh pujaan. "Aku beruntung sudah bisa bertemu denganmu. Apapun kondisimu, kau tetaplah Reva, wanita yang sudah berhasil mencuri hatiku sejak pertama kali kita bertemu."
Kali ini, apakah ia diijinkan untuk mencintai lagi ?
Apakah kali ini ia boleh berharap kalau dunia sudah berhenti menyiksanya ?
"Apakah aku boleh berharap pada semua kata-kata yang kau ucapkan, Pat ? Ucap wanita itu lirih.
Patrick segera menganggukkan kepalanya cepat. "Kau bukan hanya boleh berharap, kau bisa memegang kata-kataku seperti sebuah janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti mereka. Aku akan mencintaimu dan juga anak ini seperti nyawaku."
"Pat .." Arnetta segera menjauhkan tangan pria itu dari kedua sisi wajahnya dan menangkupnya di tangannya. Menggenggam jemari pria yang mungkin akan mulai ia percayai. Patrick, pria yang mengirimkan segala bentuk kebaikan dan kini berubah menjadi kebahagiaan untuknya. Bisakah ia memulai hidupnya yang indah dengan pria itu dan juga anak yang ada di dalam kandungannya ?
__ADS_1
"Aku tidak mencintaimu. Tapi, aku akan mencoba. Tolong, kalau kau sudah tidak mencintaiku cukup katakan saja, jangan membuangku. Aku akan pergi sesegera mungkin." pintanya. Tidak ada perasaan lebih menyedihkan dari pada perasaan terbuang. Ia sudah merasakan ayahnya dan juga lelaki yang pernah ia cintai membuangnya seperti sampah. Setidaknya jika Patrick sudah tidak mencintanya lagi, pria itu cukup mengatakan perpisahan dan ia akan pergi sesegera mungkin.
"Tidak akan. Aku akan terus mengatakan kalau aku mencintaimu setiap hari sampai kau bosan, tidak ..."
Pria itu menjeda ucapannya lalu membawa tangan Reva mendekat ke arah wajahnya dan kemudian mengarahkan kecupan hangat pada setiap jemari wanita itu dan berkata, "Aku akan bilang kalau aku mencintaimu sampai kau juga akan mencintaiku."
"Ya, terima kasih."
Arnetta menangis. Kali ini bukan tangis yang menyesakkan dadanya yang menyakitkan, melainkan sebuah sesak karena dadanya seolah mengembang. Perutnya terasa penuh seperti ada ratusan kupu-kupu tak kassat mata yang sedang berterbangan di sana. Ia bahagia. Kali ini wanita itu menitihkan air mata karena kebahagiaan yang membuncah di dalam dadanya.
Sungguh, ia akan berusaha mencintai pria ini dan melupakan masa lalunya.
***
Tanpa kedua orang sejoli itu sadari setiap gerak-gerik mereka tertangkap sebuah lensa dan juga sepasang mata yang sejak awal kepulangan keduanya mengamati dari jauh. Di balik pepohonan yang rindang tepat di depan bangunan rumah itu, seorang pria tampak menangkap adegan itu dalam lensanya. Ada sebuah perintah yang akhirnya sudah ia selesaikan dengan baik dan kini ia bersiap untuk mendatangi bosnya dengan kemajuan yang pesat.
Arnetta Revalina.
Pada akhirnya wanita itu berhasil ditemukan setelah berbulan-bulan lamanya. Dan sebentar lagi bosnya akan kembali menemukan permatanya yang hilang.
Pria itu segera mengarahkan ponsel tempat di samping telinganya dan tak lama terdenfar suara di seberang sana yang sudah menanti kabar bagus ini.
"Saya sudah menemukan tempat di mana wanita yang anda cari bersembunyi, Pak Jullian."
__ADS_1