Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 14


__ADS_3

Jullian memperhatikan wanita yang kini duduk dihadapannya. Seperti tak percaya atas apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Arnetta yang kini berada dihadapannya seperti bukan wanita yang ia lihat beberapa hari yang lalu. Bahkan, Bibi Maria pun terlihat takjub dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Arnetta tampak sibuk menyuap makan kepada Arif layaknya seorang ibu. Tak ada kecanggungan atau bahkan sikap impulsifnya. Arnetta benar-benar hidup dihadapan anak itu. Sedangkan Arif, Bocah itu pun terlihat tak asing dengan keberadaan Arnetta meski diakuinya Arif baru dua kali ini bertemu dengannya.


Pemandangan itu tak ubahnya membuat Julliam menikmati makanannya. Matanya terus terpaku pada wanita yang selama ini mendiaminya seperti patung. Nyaris tak percaya bahwa Arnetta bisa bicara dan tersenyum seperti itu. Hal ini membuatnya tergelitik akan ingatan masa lalu.


Senyum yang sama dan cara bicaranya yang lembut, yanh masih dikenalinya meski sudah lima tahun berlalu. Ya, pada kenyataannya hati Jullian merasa puas bukan karena menyiksa wanita itu, melainkan melihat senyuman itu kembali. Entah bagaimana hatinya kini terasa membengkak seperti ingin meledak. Ia pun sedikit iri dengan putranya yang bisa mengundang senyuman itu.


"Mama bilang aku harus disini bersama Ayah. Jadi, apa kau mau menemaniku bermain, tante?"


Arnetta terus menyuapkan nasi di piringnya. Wanita itu tak bersuara, hanya mengamini melalui anggukan.


Arif. Ingin sekali Arnetta memiliki anak sepertinya. Hidupnya hancur. Ia hanya punya ibunya yang saat ini sedang sakit. Ia pikir asa takkan pernah mengundangnya kembali untuk bahagia. Namun, detik dimana anak ini duduk dihadapannya dan memeluknya, Arnetta yakin Arif adalah harapan kedua setelah hidupnya. Selama tiga hari, ia diam. Memilih untuk tak lagi berharap pada dunia. Ia hanya menuruti semua perintah Jullian, lelaki yang tak ingin lagi ia rapalkan dalam harapannya.


Pernah sekali ia berharap Jullian akan mengasihaninya. Sering kali ia pun berharap lelaki itu akan memberikannya sedikit senyuman. Akan tetapi, doanya tak pernah terjawab. Dan lagi, tidak ada satu pun dirumah ini yang bisa membantunya. Meringankan bebannya pun tak ada. Diam adalah satu-satunya cara untuk tetap bernapas tanpa sesak.


Arnetta menyadari suatu hal dalam kediamannya, ia takkan berarti untuk siapapun. Takkan ada yang akan menangisinya jika ia menderita, bahkan mati sekalipun. Tuhan sudah menunjukkan jalan hidupnya yang harus seperti ini. Manusia kotor sepertinya sudah tak memiliki tempat untuk berdoa. Ia hanya cangkang tanpa kehidupan. Malam dimana Jullian kembali memperkosanya, disanalah takdirnya terasa nyata.


"Bunda!"


Arif bersuara. Semua terpaku bukan karena lengkingan suaranya, tapi karena panggilan anak itu yang mengarah pada Arnetta. Dengan polosnya, sepasang mata besar itu mengarah kepada sang ayah yang terbeliak atas ulahnya.

__ADS_1


"Boleh kupanggil tante Netta dengan sebutan Bunda, Yah?" Tanyanya.


Jullian yang selama ini mendeklarasinya dirinya takkan pernah menolak permintaan sang anak pun terdiam. Ini bukanlah permintaan yang sulit. Sepeserpun uang tak berkurang dari dompetnya. Tenaga pun tak terkuras dari tubuhnya. Namun, entah mengapa permintaan sesederhana itu mampu menyedot seluruh energinya dengan paksa. Permintaan aneh dari putranya yang tak ingin ia amini pun tanpa sadar diiyakan. Tubuhnya bereaksi dengan sendirinya. Jullian mengangguk dan mengabulkan permintaan putranya. Sedangkan Maria, wanita paruh baya itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya meski ia sendiri merasa bahagia. Setidaknya ada orang lain yang juga mencintai wanita malang itu.


Arnetta hanya bisa terdiam. Hampir ssja sendok ditangannya jatuh jika ia segera tak menyampirkannya ke piring. Dadanya sakit. Kembangan didalamnya membuat suaranya tak bisa keluar. Matanya pun panas. Seperti ada lelehan larva yang siap meledak kapan saja. Ia ingin berteriak. Sangat kencang sampai pita suaranya putus. Bukan teriakan kemarahan. Sesuatu yang tak akan dimengerti siapapun kecuali mereka adalah seorang ibu. Namun, Arnetta tak melakukannya. Wanita itu menangis dalam diam. Air matanya bukan lagi menetes, melainkan mengalir seperti air. Reaksi yang ia kira takkan lagi ada, muncul secara tiba-tiba.


Tangan kecil Arif terangkat mengusap air mata itu. Telapak yang mungil bersentuhan dengan wajah Arnetta. Kalimat sederhana yang menghangatkan darinya malah semakin mengundang isakan tangis wanita itu.


"Bunda jangan sedih. Mulai sekarang Arif akan menjaga Bunda. Siapa yang berani menyakiti Bunda, akan Arif balas." Ucapnya.


Tapi siapa sangka ucapan itu mampu membuat Jullian tak tahan dan memilih untuk angkat kaki dari ruang makan. Perasaan tak terima atas apa yang diucapkan oleh anak kecil lima tahun itu menohok hatinya. Bukan siapa-siapa, tapi dirinya. Jika Arif tahu siapa yang menyakiti Bundanya itu, mungkin anak itu akan menaruh dendam kepadanya, karena dirinya adalah satu-satunya pria yang menjadi sumber penderitaan bagi wanita itu.


***


Ratih tahu Arnetta tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Anak semata wayangnya tak mungkin mengambil resiko dengan pekerjaan yang membahayakan nyawanya. Terlebih, Ratih hampir tak pernah melihat anaknya itu lagi selama beberapa hari belakangan ini. Entah apa yang terjadi padanya. Ia pun tak memiliki akses untuk menghubungi putrinya, karena ponsel anaknya sudah dijual untuk biaya perawatannya.


"Memikirkan anakmu jalangmu itu, Ratih?"


Wanita itu terbeliak kaget. Meski ia sudah bertahun-tahun tak pernah melihatnya lagi, tapi ia kenal suara itu. Ketika ia menoleh ke arah pintu, dilihatnya sosok wanita yang masih terlihat cantik tanpa kerutan. Amara benar-benar memanfaatkan uang Rivai dengan baik untuk menjaga penampilannya.


Pakaian mahal, riasan mewah dan juga cara wanita itu berjalan anggun kearahnya, tak sebanding dengan mimik wajah bengis yang selalu ditunjukkannya pada Ratih.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan, Amara?"


Ratih sudah menyerahkan segalanya. Harta, kedudukan, bahkan suami yang sangat ia cintai sampai dirinya harus mengaku bahwa Arnetta bukanlah darah daging suaminya. Ya, tentu saja. Tak ada suami waras yang mau mengakui anak hasil hubungan gelap sebagai anaknya. Tapi, semua itu dilakukannya demi Arnetta. Anaknya takkan pernah mendapatkan transfusi darah jika bukan karena Amara. Wanita itu memiliki darah yang sama dengan Arnetta. Dengan kata lain, didalam tubuh anaknya juga mengalir darah Amara.


"Hanya memastikan bahwa kau sudah menderita, mantan sahabatku."


Amara memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki bagaimana mengenaskannya Ratih saat ini. Wanita bodoh yanh mau saja menampungnya dulu kini sudah bertukar posisi dengannya. Ia tak suka wanita ini memiliki pria yang bertanggung jawab atas masa depannya. Rivai dan Ratih harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padanya. Hidupnya hancur karena mengandung Lusi, dan sekarang Ratih pun harus merasakannya juga.


Wanita itu menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ratih. Bisikannya mampu membuat wanita itu hampir kehabisan napasnya.


"Anakmu sekarang sedang menjadi simpanan menantuku. Kau tahu? Arnetta sudah menjual tubuhnya pada Jullian demi pengobatanmu, Ratih."


Setelah Amara menjauhkan wajahnya, ia melihay reaksi Ratih yang seperti baru saja tertimpa beban berat. Wanita itu tak bereaksi sama sekali selain menunjukkan wajah terkejutnya.


"Bohong..." lirihnya penuh kegetiran.


"Ibu dan anak akan selalu memiliki jalan yang sama. Putrimu kotor, Ratih."


Airmata itu jatuh. Rasanya baru saja nyawanya ditarik paksa dari tubuhnya. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan Amara. Ingin rasanya ia tak percaya atas semua perkataan yang keluar dari bibir wanita itu. Tapi, semua yang dikatakan Amara sudah terlanjur menempel dalam benaknya. Apalagi saat teringat luka lebam ditubuh putrinya itu.


"Ini racun. Kau bisa meminumnya kalau kau tidak tahan, Ratih. Aku hanya memudahkan kematianmu." Wanita itu meletakkan botol kecil bening disamping meja nakas tempat tidur Ratih.

__ADS_1


Setelah mengucapkannya, Amara melenggang pergi meninggalkan Ratih dengan luka dihatinya. Wanita itu merasa gagal sebagai seorang ibu. Hidupnya seperti tak ada artinya lagi jika ia harus mengorbankan anaknya sekali lagi.


"Maafkan Ibu, sayang ..."


__ADS_2