
Seorang wanita tampak duduk seorang diri diatas tempat tidur kamar yang biasa di gunakan oleh si pemilik rumah. Wanita itu senantiasa membuat gerakan lembut diatas perutnya yang terbalut oleh pakaian yang ia kenakan. Arnetta memandang lembut pada perutnya yang masih rata. Rasa terkejut yang diselimuti oleh rasa bahagia telah menggerogoti hatinya. Betapa tidak, ia begitu senang ketika tahu bahwa dirinya tengah berbadan dua. Ia pikir Tuhan telah mengambil segalanya di dalam hidupnya. Namun, nyatanya Tuhan memiliki rencana lain yang tak disangka olehnya. Meski Arnetta tahu bahwa kehadiran sang calon buah hati merupakan hal yang tidak di rencanakan, tapi tak sedikit pun niatannya untuk menggugurkan kandungannya. Memikirkannya saja ia sudah merasa derita akan mendera dirinya. Dalam hati ia berharap agar sesuatu yang sedang tumbuh di dalam sana akan baik-baik saja.
Terbayang bagaimana kelak anak ini akan lahir dan memanggilnya ibu. Ia sudah tidak lagi sendirian di dunia ini. Masih ada anaknya yang akan selalu menemaninya. Akan tetapi satu hal yang masih mengganjal dalam hatinya. Entah bagaimana reaksi Jullian yang begitu marah setelah ia sadar dari tidurnya. Dan lagi, Arnetta juga tak habis pikir dengan dirinya yang begitu berani untuk melawan pria itu. Padahal sebelumnya setiap kali mendengar suaranya saja ia sudah hampir pingsan ketakutan.
"Kau sedang menguatkan ibu ya, Nak?" Tanyanya seolah ia memang sedang berbicara dengan anaknya sendiri.
Jika saja Jullian menolak kehadiran anak ini, maka Arnetta akan memilih untuk pergi dari sini. Ia akan berusaha mencicil uang yang pernah di pinjamkan pria itu setiap bulannya. Apapun itu asalkan dirinya tidak kehilangan buah hatinya. Kali ini ia akan melindungi miliknya dan takkan membiarkan sesuatu yang buruk menimpanya. Biarlah ia menderita asalkan anaknya kelak tidak merasakannya juga.
Tak lama terdengar suara kenop pintu yang berputar. Tatapannya pun sontak bersiborok dengan sepasang intan kelam milik pria yang baru saja berada dalam pikirannya. Sepersekian detik keduanya hanya diselimuti oleh keheningan tanpa ada satu pun yang mau mengalihkan pandangannya masing-masing. Perlahan, pria itu melangkah mendekati tempat tidur dimana wanita itu berada. Sambil menutup pintu rapat di belakangnya, Jullian memindai pandangannya ke seluruh bagian yang ia kenali milik Arnetta. Betapa ia seharusnya terkejut sejak awal jika bobot tubuh wanita itu menurun sejak pertama kali mereka kembali bertemu. Otaknya mulai berpikir tubuh sekecil itu tidak mungkin bisa menahan bobot anaknya yang akan semakin membesar.
Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa ia merasa begitu senang kala mengetahui bahwa Arnetta saat ini sedang mengandung anaknya. Ia tak bisa menapik lagi bahwa rasa cintanya yang dulu masih ada meski waktu telah membuat kebenciannya sukar menghilang. Tapi, kali ini Jullian tidak akan menyakiti wanita itu. Kehamilan ini bukanlah kesalahan Arnetta. Dirinyalah yang sengaja menyetubuhi wanita itu tanpa pengaman. Semula ia tak mau berpikir kemungkinan wanita itu akan hamil. Ia hanya tahu bahwa dendamnya akan terbalaskan begitu Arnetta menganggap hidupnya sudah tak berarti lagi. Akan tetapi, Tuhan telah berkehendak membolak-balikkan hatinya. Arnetta yang kini seharusnya merasa dirinya kotor dan penuh dosa, dimata Jullian terlihat seperti wanita luar biasa yang sudi mengandung anak dari laki-laki yang telah membuatnya menderita. Seharusnya wanita itu sedang memukuli perutnya sendiri, mengutuk kehamilan yang menimpanya. Namun, justru Arnetta malah mengelus sayang perutnya yang masih rata. Sungguh, kali ini Jullian takkan memusingkan masa lalu. Biarlah masa itu membawa kepahitan baginya. Ia akan menganggap bahwa apa yang dilakukan Arnetta pada keluarganya, terutama ibunya adalah bentuk ketidaksengajaan semata.
"Ada apa?"
Bukan. Seharusnya bukan itu yang keluar dari bibir Jullian. Ia ingin bertanya apakah kondisi wanita itu dan anak mereka baik-baik saja. Apakah ada hal yang diinginkan oleh Arnetta. Setahunya wanita hamil pasti mengidamkan sesuatu.
Kerutan di kening wanita itu menambah daftar malu Jullian. Pria itu memilih tetap memasang wajah dingin menatap wanita itu, meski kenyataannya ia ingin memeluk dan menciumi Arnetta seganas mungkin.
"A-Apakah kau menginginkan sesuatu?"
Tak perlu berpikir dua kali untuk menjawabnya. Sebuah gelengan telah membuat pertanyaan itu terhenti. Wajah Arnetta sudah tidak tampak lagi pucat. Ia yakin Bibi Maria sudah membuatkan makanan untuk wanita itu.
"Apakah kau merasa mu - "
__ADS_1
"Bisakah aku kembali ke kamar ku? Aku ingin istirahat." Ucap Arnetta senormal mungkin.
Sejujurnya wanita itu menahan rasa ingin memukuli wajah Jullian. Entah kenapa hawa ditubuhnya terasa panas begitu melihat kedatangan pria itu kepadanya. Mungkin bawaan bayinya atau memang ia sedang marah, tapi rasanya melihat Jullian membuat emosinya meningkat. Hampir saja ia menggertakkan giginya lantaran Jullian sudah duduk di tepi samping tempat tidur. Mati-matian ia merasa ingin sekali melayangkan pukulan pada pria itu sampai melihat darah mengalir di wajahnya. Untuk meredamnya, Arnetta meremat seprai ditangannya kuat-kuat.
Namun, perilaku tak biasa Arnetta itu berhasil tertangkap oleh kedua mata Jullian yang langsung memandangnya heran.
"Kau yakin tidak menginginkan sesuatu? Aku tidak akan mengijinkanmu kembali ke kamar sialan itu, kalau kau mau tahu."
Arnetta menggigit kuat bibirnya. Napasnya sudah memburu kala mendengar ucapan Jullian. Sungguh tak biasa baginya ketika dirinya sangat ingin menyakiti seseorang. Tanpa sadar ia pun mencengkram lengan pendek kaos yang Jullian kenakan dan langsung mengumpati pria itu.
"Brengsek! Brengsek!"
Sontak saja umpatan itu membuat Jullian terperangah. Ia tak pernah meoihat Arnetta yang menahan emosinya seperti ini sampai wajahnya memerah. Ia tak mengerti mengapa wanita itu sama sekali tidak mengatakannya.
"Kau marah?"
"Arnetta, katakan saja. Aku tidak akan marah."
Nada lembut yang diselipkan Jullian di setiap kata yang ia ucapkan bagai mantra sihir bagi Arnetta. Wanita itu pun mulai menangis tersedu-sedu tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Jullian.
"Aku ingin memukulmu. Sungguh, aku ingin sekali melihatmu terluka. Aku tidak tahu kenapa. Aku merasa marah sekali setiap melihay wajahmu."
"Arnetta ..."
__ADS_1
Jullian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia hanya bisa diam dalam ketakjuban yang ia sendiri tak paham artinya. Yang jelas ia tahu bahwa wanita itu tidak mengidamkan apapun selain melampiaskan amarah padanya.
"Kumohon maafkan aku, Tuan. Sungguh aku tidak berniat melakukannya. Aku ... Aku ..."
Jullian langsung membawa tubuh rapuh itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seolah wanita itu akan lari darinya. Ia akan mencoba memahami bahwa keinginan aneh itu bukanlah berasal dari Arnetta, melainkan dari bayi yang dikandungnya. Anaknya mungkin merasakan penderitaan yang dirasakan sang ibu.
"Aku bisa apa selain pasrah. Kau boleh memukuliku asal kau tidak meninggalkanku."
***
"AAAARGH! Brengsek kau Jullian!"
Seorang wanita tampak melemparkan seluruh barang di sekitarnya dengan brutal. Teriakannya menggambarnya rasa frustasi akibat rasa kekalahan yang kini di rasakannya. Seonggok surat sudah hampir terkoyak tak bersisa lagi mulusnya di lantai. Beberapa menit yang lalu kedatangan seorang pengacara wanita paruh baya yang tidak ia kenali memberikan kertas itu kepadanya. Ia pikir maksud dari kedatangannya adalah untuk merubah keadaan.
Bukan harta atau pun saham yang ia inginkan. Wanita itu hanya menginginkan harga dirinya kembali. Ia sudah mengorbankan harga dirinya hanya untuk kehormatan keluarga yang tak pernah memikirkannya. Ia pikir setelah membuat Arnetta menderita hidupnya akan merasa puas. Namun, Arnetta malah merebut kembali miliknya.
Jullian sudah mengesahkan perceraian mereka. Pria itu lagi-lagi menggunakan kekuasaan untuk mempercepat proses perceraian keduanya. Padahal Lusi sudah berusaha untuk menundanya dengan permintaan mediasi. Tapi, pengacara iti malah mengatakan bahwa pria yang telah resmi menjadi mantan suaminya itu akan menikah lagi lusa. Dan wanita yang akan ia nikahi adalah Arnetta.
Sungguh, ia hanya ingin kehidupannya kembali lagi. Kehormatan, status, keluarga yang oernah diraihkan raib begitu saja pasca kepulangan wanita itu. Lima tahunnya yang berharga kini telah lenyap.
"Sialan kau Arnetta! Sialan!"
Jauh di balik pintu yang menghubungkan kamar yang di tempati Lusi dengan bagian tengah rumah megah itu, senyuman terlukis di wajah wanita yang memiliki wajah hampir serupa dengan Lusi. Kerutan di wajahnya tertarik begitu melihat kemarahan sang anak yang sudah memuncak terhadap Arnetta, anak dari wanita yang sangat ia benci. Sekarang, wanita paruh baya itu tinggal menjalankan rencananya menuju babak akhir. Lusi akan menuruti semua instruksinya sejalan dengan emosi yang menderanya. Kali ini Arnetta sudah dapat dipastikan takkan bisa merengguk kembali kebahagiaan.
__ADS_1
Kehamilan Arnetta akan dijadikannya senjata untuk meruntuhkan kewarasan wanita itu dan juga Jullian.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa di akhir cerita, Ratih."