Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 34


__ADS_3

"Pak, buka! Kami tahu anda sudah menyembunyikan wanita yang bukan istri anda !"


Kedua orang itu langsung memandang horor pada pintu rumah yang masih tertutup rapat itu. Mereka yakin ada sesuatu yang buruk menanti mereka diluar sana. Tak hentinya suara ramai orang bersahutan meminta mereka membukakan pintu rumah.


"Kurasa mereka sedang membutuhkan penjelasan, Reva."


Arnetta langsung merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya seolah baru saja tersiram air dingin. Kaku yang menjalar hingga membuatnya bergetar hebat. Bahkan untuk sekedar menyahuti perkataan Patrick pun ia tak sanggup. Sekujur tubuhnya, termasuk lidahnya pun bergetar hebat. Ia bisa mengingat dengan jelas bahwa terakhir kali ia mendapatkan teriakan itu ketika dirinya ...


"******, sialan!"


"Wanita kotor! Sampah!"


"T-Tidak." tanpa sadar Arnetta langsung menggumamkan kata-kata yang pernah ia ucapkan saat kata-kata hinaan itu bergema di kepalanya bagaikan sebuah teriakan yang menggaung. Tangannya pun ikut bergerak tanpa perintah menutup kedua telinganya menolak kata-kata yang terngiang di dalam kepalanya itu. 


Patrick menyadari jika tubuh wanita yang ada di depannya bergetar hebat. Ia pun menatap khawatir pada wanita bernama Reva itu. Ia pun ingin menenangkannya dengan membawa wanita itu ke pelukannya adalah hal yang tidak mungkin. 


"Reva ..."


Wanita itu tidak lagi merespon panggilan yang di arahkan kepadanya. Tubuhnya terlalu lemas dan bergetar hebat lantara kata-kata hinaan itu terus menggaung di kepalanya seolah sedang meneriakinya dengan kencang. Tanpa sadar ia pun langsung jatuh terduduk ke lantai sambil masih terus menutup kedua telinganya. Ia ketakutan. Seolah ia bisa melihat sosok bayangan itu akan datang dan mengasarinya lagi. Bayangan hitam yang membuatnya pasti akan menangis dan tertunduk ketakutan. 


Melihat hal itu Patrick pun langsung panik. Ia oun berjongkok di depan wanita itu dan berusaha mengguncangkan kedua bahunya, dengan harapan ia akan bisa menyadarkan wanita itu dari khayalan bawah sadarnya. 


"Reva, sadarlah!"


Wanita itu bukannya menjawab, malah langsung menggelengkan kepalanya sambil terisak dalam tangisnya. 

__ADS_1


"Tidak! Aku kotor! aku ******!" Ucapnya dengan suara bergetar. 


Mungkin kali ini Patrick harus mengesampingkan norma bahwa ia tidak bisa merengkuh tubuh mungil itu. Sekarang bukan tata krama yabg harus ia ke depankan, melainkan wanita yabg ada di hadapannya memang butuh pertolongan. Dengan cepat, Arnetta sudah berada dalam pelukannya. Tubuh Ringkih itu kini berada sangat dekat dengannya.


'Sialan! Jantungku berdebar sangat cepat.' ucap Patrick dalam hati.


Mengesampingkan fakta bahwa dirinya sudah tahu jika wanita yang kini berada dalam pelukannya sedang berbadan dua, Patrick tetap tidak bisa mengenyahkan perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Nyatanya perasaan ingin melindungi semakin bersaran di dadanya sampai-sampai semalaman kemarin ia sempat berpikir untuk menikahi wanita ini saja. Tentu saja pikiran gila itu pasti akan ditolak Reva. Siapalah dirinya ini. Hanya pria asing yang kebetulan saja singgah dan membantu wanita itu lepas dari penderitannya.


Setidaknya Patrick tahu ia harus sedikit lebih tahu diri untuk menggeser posisinya dalam hidup Reva. Wanita ini belum tentu mau menerima lamarannya. Maka dari itu, Patrick akan mencoba untuk menjadi satu-satunya orang yang akan berada di sisi Reva apapun yang terjadi.


Pelan, Patrick mengelus rambut wanita itu dengan lembut sambil membisikkan kata bak mantra yang langsung membuat Reva tenang sedikit demi sedikit. Tubuh wanita itu sudah tak lagi bergetar hebat seperti tadi.


"Kau akan baik-baik saja Reva. Aku di sini." bisiknya lembut tepat di samping daun telinga Reva.


Dengan sangat hati-hati, Patrick pun menggendong Reva menuju kamar tidur yang sudah ia berikan kepada wanita itu. Sepanjang langkahnya Patrick tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Reva. Dalam keadaan tak sadar pun di matanya Reva masih menjadi yang paling cantik dari semua wanita yang pernah ia temui. Ditambah luka pilu dibalik kondisinya semakin membuat Patrick tak bisa lagi mengenyahkan perasaannya.


Entah ini perasaan cinta atau hanya sekedar iba karena kondisi Reva yang hampir sama dengan mendiang adiknya. Yang jelas sampai detik ini Patrick sadar kalau ia tertarik kepada wanita yang tengah ia gendong ini.


Sesampainya di kamar Patrick menurunkan wanita itu dengan sangat berhati-hati. Seakan ia akan meremukkan tubuh wanita itu jika sedikit saja terjadi guncangan. Tak lupa pria itu menyelimuti Reva agar sang wanita tidak kedinginan.


Setelah selesai memindahkan Reva ke kamarnya, ia tidak langsung pergi begitu saja. Sejenak Patrick pun ikut duduk di atas tempat tidur di mana Reva terpejam. Lamat, ia memperhatikan wajah damai wanita itu. Hatinya masih terasa tercubit dengan kenyataan guncangan emosi yang di alami oleh Reva sebegitu hebatnya sampai membuatnya trauma. Kira-kira siapa lelaki yang tega membuat hidup wanita ini sangat hancur seperti ini. Reva seperti tidak lagi memiliki semangat hidup saat guncangan itu menghampirinya.


"Apa yang sudah terjadi padamu Reva? siapa orang yang tega menyakitimu separah ini ?" gumamnya sambil terus mengamati wajah damai Reva yang masih terpejam.


***

__ADS_1


Rupanya lama berada di kamar bersama Reva membuat Patrick lupa kalau ada sesuatu yang perlu ia selesaikan. Lebih tepatnya sekumpulan orang-orang yang masih berteriak di luar rumahnya. Ya, momen bersama Reva membuat telinganya mendadak tuli. Seolah ia berada di dimensi yang mensenyapkan suara lain selain dirinya dan wanita itu. Pria itu segera berjalan menuju pintu depan di mana semua orang yang ia kenal sebagai tetangganya berkerumun. Satu per satu ia perhatikan wajah-wajah tetua di tempat ia tinggali ini memandanginya dengan serius.


"Pak, maaf kami sudah lancang menggangu malam anda. Tapi, ada satu hal yang perlu kami pastikan di sini. Jangan sampai aja kesalahpahaman." ucap salah satu bapak-bapak yang berada di antara kerumunan masa.


Patrick ingin tertawa. Ia memang jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitarnya. paling hanya dengan sebelah dan di seberang rumahnya saja di komplek ini. Tapi ia sungguh tidak bisa menebak jika tetangganya akan selucu ini.


Meminta maaf karena sudah lancang ? Sungguh terlalu dekat kata lancang itu yang hampir membuat seorang wanita terguncang lagi emosinya hingga trauma. Ingin rasanya Patrick menghajar satu per satu pria tua yang ada di hadapannya ini kalau tidak mempertimbangkan bahwa orang-orang ini adalah orang tua.


Patrick sebisa mungkin menormalkan suaranya agara emosinya tidak sampai ke telinga orang-orang ini.


"Saya terima permintaan maaf kalian. Tapi, hal ini sangat mengganggu waktu istirahat saya. Saya pikir masih ada cara yang lebih sopan untuk mengklarifikasi suatu hal. Bisa saja dengan duduk bersama tanpa suara tinggi. Saya akan dengan sangat baik hati akan menyambutnya dari pada harus berteriak seolah saya pelaku kriminalitas." sahut Patrick dengan kata sedikit menajam.


Beberapa orang di sana langsung terdiam membisu saat mereka sadar kalau perkataan Patrick seolah menyindir kelakuan mereka malam ini.


"Tapi kami hanya memastikan siapa orang baru yang tinggal di rumahnya Nak ? Karena jika orang itu tidak memiliki hubungan yang jelas, maka dia berhak untuk pergi dari sini."


Kalau saja Patrick tidak bisa mengendalikan emosinya, mungkin ia bisa menerjang pria tus berkumis tebal yang baru saja mwngalamatkan Reva sebagai orang yang tidak jelas. Sabar sebentar lagi, itulah kata yang ia rapalkan dalam hati.


"Ya, betul. Kami tidak ingin ada hal yang tidak baik terjadi di wilayah tempat tinggal kami." ucap satu per satu orang di sana sambil bersahutan mengaminkan ucapan pria berkumis tadi.


Dan kali ini saja Patrick ingin Tuhan mengambil nyawa orang banyak. Ya, nyawa pria tua bangka ini. Namun, ia tahu kalau status Reva harus di perjelas. Ia tidak bisa membuat posisi wanita itu menjadi tidak baik di mata orang, meskipun Patrick sama sekali tidak memperdulikannya. Tapi, kondisi Reva yang sedang berbadan dua pasti akan sangat ringkih.


Dengan satu tarikan napas dalam, Patrick akan mengakhiri sekumpulan pria tua bangka ini. Dan mungkin saja jawabannya akan membuat masalah baru dalam hidupnya.


"Wanita itu bernama Reva. Istri yang kunikahi secara agama dan baru kujemput dari rumah mertuaku. Kini kami sedang menanti kehadiran anak pertama kami."

__ADS_1


__ADS_2