
Di dalam banyak dedaunan yang jatuh menimpa wajahnya, wanita itu sadar bahwa ketika matanya terbuka ia sedang terbarik di bawah pohon yang rindang. Semilir angin menyapa wajahnya kala ia mulai membangkitkan tubuhnya. Tempat yang sejuk dan menenangkan, seolah ia telah lama tidak merasakan perasaan setenang ini.
Wanita itu tidak tahu saat ini ia berada di mana. Ia hanya melihat rerumputan sejauh matanya memandang dan langit biru cerah yang memanjakan dirinya. Melihat pemandangan itu membuat sang wanita tersenyum. Sudah sangat lama sekali ia tidak merasa takut, bahkan untuk bernapas sekali pun. Ia lupa akan rasa sakit yang menyarang di hatinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin terbangun seandaikan semua ini adalah mimpi.
"Kau sudah bangun?"
Inderan pendengaran wanita itu tergelitik. Dari pertanyaan itu sebenarnya menyiratkan kesederhanaan seseorang yang menanyakan keadaannya. Namun, lain halnya jika pertanyaan itu di dengarnya dari suara lucu seorang anak kecil yang duduk di sampingnya.
Seorang anak perempuan yang cantik dengan mata bulat besarnya dan rambut yang dikuncir dua. Gaunnya yang putih panjang membuat wanita itu tidak bisa melihat seberapa tinggi anak ini. Ya, ia yakin makhluk lucu di sampingnya itu adalah seorang anak kecil.
"Ya, aku sudah bangun. Kau siapa?"
Anak perempuan itu tidak menjawab. Mata besarnya tetap menatap ke arah wanita dewasa di depannya dalam kediamannya.
"Siapa namamu?"
Kali ini anak itu pun meresponnya dengan gelengan pelan. Bibirnya mengerucut manis hingga membuat wanita itu terkekeh geli.
"Ayah belum memberikan aku nama. Ayah bilang aku tidak boleh lahir."
Senyuman wanita itu sirna begitu saja. Napasnya seperti tertarik paksa saat anak itu melontarkan kalimat yang membuat kerja jantungnya berhenti. Anak ini tidak diinginkan, sama sepertinya dulu. Ia merasa hatinya tercubit mendengar pengakuan anak ini. Ia tahu rasanya tidak diinginkan.
"Ayahmu berkata seperti itu padamu?"
Namun, anak itu menggelengkan kepalanya kembali. Hal itu membuat sang wanita bisa bernapas sedikit lega.
"Ayah bilang pada ibu bahwa ayah tidak ingin punya anak dari rahim ibuku."
__ADS_1
Mendadak mata sang wanita terasa sangat pedas sampai ia merasa air mata lolos begitu saja tanpa bisa di tahan olehnya. Perkataan itu berhasil menusuk tepat di jantungnya. Terasa sakit, sampai ia berharap lupa dengan pernah mendengarkan perkataan anak itu.
"Lantas, kemana ibumu?"
"Tidak tahu." Jawabnya langsung. Anak kecil itu memandangi wanita di depannya dengan tatapan serius yang seharusnya terlihat lucu lagi di matanya. Tapi, sang wanita tetap menangis melihat keadaan anak itu.
"Apa kau mau menjadi ibuku?"
Demi Tuhan, wanita itu takkan menyia-nyiakan kesempatan ini dua kali. Ia menginginkan seorang anak dan anak ini mau menjadi miliknya. Rasanya melegakkan saat dirinya tahu bahwa ia tidak lagi sendirian di dunia ini. Tapi, bagaimana jika anak ini tahu bahwa ia hanyalah seorang pelacur bagi laki-laki yang masih berstatus kakak iparnya?
"Apa kau mau memiliki ibu yang kotor sepertiku?"
Anak itu tidak menyahutinya. Malah, gadis kecil lucu itu langsung memeluk wanita dewasa yang ingin dijadikannya ibu.
"Aku bisa mencium aromamu. Kau wangi, kau tidak mungkin kotor."
Wanita itu menangis semakin terisak kencang. Ia membalas pelukan gadis kecil itu dan mendekapnya erat. Rasa hangat menjalar ke tubuhnya bersamaan dengan kasih sayang. Ia berdoa kepada Tuhan, sebesar apapun dosanya, ia hanya minta ada seseorang yang mampu mencintainya tanpa syarat seperti anak ini. Wanita itu begitu mencintainya meski belum lama bertemu.
**
"Berapa lama dia akan siuman?"
Laki-laki muda di depannya hanya memijat pelipisnya kencang. Ia sudah tak tahu berapa kali pria itu menanyakan hal yang sama. Sudah berjam-jam pria itu menahannya pulang ke rumah menemanis istrinya hanya untuk menunggui wanita yang tertidur itu sampai bangun. Pria yang duduk di pinggir tempat tidur, dimana wanita itu tak sadarkan diri menolakĀ untuk berpindah. Sudah dua hari pria itu menghabiskan waktunya menemani wanita itu.
"Kau sadar ini jam berapa? Bagaimana aku bisa mengejar target memiliki anak kalau kau menahanku di sini semalaman?"
Jullian dengan mata tajamnya berbalik dan memperhatian pria bernama Rian itu duduk dengan sebelah kaki terangkat di atas pahanya. Selain Rian, ia tak tahu lagi harus meminta pertolongan kepada siapa. Hanya Rian yang sejak dulu ia percayai menjadi dokter pribadinya. Sahabatnya itu tidak mungkin dan sangat langka memiliki rencana jahat kepadanya.
__ADS_1
"Hanya kepadamu aku meminta tolong, Rian. Tidak ada orang yang bisa kupercayai di dunia ini." Ucapnya gamang.
Sejak dua hari yang lalu, Arnetta enggan membuka matanya. Seolah apa yang terjadi di alam mimpinya lebih bahagia dari pada terbangun dan hidup dengannya. Ia selalu memgarang cerita kepada Arif bahwa Arnetta hanya mengalami kelelahan akibat mengandung calon adiknya. Beruntung, kebahagiaan anak itu yang akan segera menjadi kakak mampu menutupi rasa penasarannya.
"Termasuk wanita itu?"
Jullian tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita yang masih setia menutup kedua matanya itu. Ia tak mengerti mengapa Arnetta masih enggan membuka matanya. Rian berkata bahwa kondisi wanita itu baik-baik saja. Namun, kondisinya yang tak sadarkan diri membuat Arnetta harus di infus sehingga wanita itu tetap mendapatkan asupan makanan.
"Kenapa dia tidak juga terbangun? Kau bilang kondisinya dan calon anak kami baik-baik saja." Katanya hampir seperti bergumam.
Rian pun menepuk kedua pahanya dan bangkit untuk mendekati Jullian. Ia tahu kekhawatiran pria itu, tapi ada suatu kondisi dimana seorang pasien tidak terbangun karena trauma yang dialaminya.
"Dia mengalami trauma psikis yang mengerikan. Arnetta memerintahkan alam bawah sadarnya untuk tetap tertidur. Dia tidak lebih seperti mayat hidup." Jelasnya.
Jullian meremat tangannya sendiri. Ia tahu trauma apa dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas hal itu. Sejak mengetahui ada calon anaknya yang tumbuh di dalam rahim wanita itu, Jullian mulai berdoa pada Tuhan jika Dia bisa memgambil Jullian kapan saja asalkan Arnetta bisa kembali seperti sedia kala. Namun, menurunnya kondisi Arnetta membuatnya tahu Tuhan tidak begitu saja membiarkan ia pergi. Setidaknya Jullian harus merasakan penderitaan melihat wanita yang ia cintai terbaring tak berdaya.
Suara lenguhan membuat perhatian Jullian segera teralihkan. Pria itu langsung mendekatkan tubuhnya ke Arnetta yang sudah menerjabkan matanya. Perlahan tapi pasti, kedua mata yang sudah ditunggu Jullian pada akhirnya terbuka. Sepasang intan hitam itu langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah, sebelum akhirnya jatuh kepada sosok pria yang sedang berada di dekatnya.
Tidak ada ekspresi terkejut atau pun ketakutan seperti yang dilihat Jullian sebelum wanita itu tak sadarkan diri. Arnetta hanya memasang wajah datar seolah tak pernah terjadi sesuatu kepadanya. Bibir wanita itu juga diam membisu.
"K-Kau sudah sadar?"
Jujur saja Jullian gugup melihat betapa datarnya ekspresi wanita itu. Ia merasa canggung untuk pertama kalinya. Setidaknya jika Arnetta berteriak atau mengamuk rasanya lebih baik dari pada mendiaminya seperti ini.
"Kenapa kau bertanya? Kau mau tahu sekali sepertinya."
Demi Tuhan, siapa saja yang mendengarnya pasti akan terkejut mengetahui bahwa kalimat itu berasal dari orang yang baru saja sadarkan diri setelah berhari-hari tertidur. Rian pun langsung memasang wajah terbelalak melihat reaksi yang diberikan wanita bernama Arnetta itu pada sahabatnya.
__ADS_1
"Neeta..."
"Minggir! Aku benci sekali melihat wajahmu." Makinya pelan sebelum akhirnya membuang muka dan meninggalkan keheningan pada Jullian yang terpaku di tempatnya.