
"Sejauh apapun tindakan kalian untuk mengusir wanitaku, cepat atau lambat kalian akan melihat pernikahan kami. Katakan juga pada ibumu, jika masih ingin hidup tenang maka jangan coba menghasut siapapun lagi. Aku bisa menghancurkan perusahaan ayahmu yang seharusnya milik Arnetta."
Lusi mengepalkan tangannya dengan wajah yang memandang pantulan wajah lelaki yang "katanya" sudah menjadi mantan suaminya itu. Hatinya kebas melihat betapa dinginnya Jullian padanya. Padahal ia sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan hati pria itu lagi.
Hidupnya sudah seperti di neraka. Ayahnya terus membandingkan dirinya dengan Arnetta, Ibunya terus memperalatnya agar dengan mudah mendapatkan kekuasaan sedangkan wanita yang bertindak begitu lembut kepadanya sudah tidak mau lagi berurusan dengannya, bahkan hanya untuk membantunya mengembalikan Jullian kepadanya.
Ya, Lusi sudah mendapatkan bantuan dari mendiang Ratih. Berkat wanita itu ia bisa menyingkirkan Arnetta dan menikah dengan pria yang memamg sudah seharusnya menjadi miliknya. Namun, setelah semua perjuangannya kenapa Jullian sama sekali tidak pernah melihat ke arahnya. Kebencian Jullian kepadanya tidak mampu membuat pria itu mau menyentuhkan, bahkan sekedar untuk memukulnya seperti yang dilakukannya pada Arnetta.
Apa salahnya?
Apakah karena dirinya dulu pernah menyia-nyiakan Jullian dengan meminta Arnetta menyamar sebagai dirinya atau memang Arnetta sudah merebut semua miliknya dengan sengaja?
"Kenapa?"
Jullian yang tadinya enggan memandang ke arah wanita itu, langsung tertegun. Rahangnya masih mengetat. Rasanya tak sudi berlama dengan wanita ini. Masih banyak yang harus ia lakukan terutama menemukan keberadaan Arnetta. Namun, Jullian tidak mau menunjukkan kegelisahannya meski hatinya saat ini tidak tenang. Melihat keberadaan wanita ini yang menjadi penyebab calon istrinya pergi rasanya Jullian ingin mencekik Lusi hingga mati.
Dan, sekarang seolah sedang tersakiti Lusi dibawahnya hanya bisa memandangi lantai. Kalau wanita itu mengira tindakannya bisa membuatnya iba, maka Jullian harus menertawainya. Bagaimana pun kerasnya usaha Lusi untuk menarik perhatiannya, Jullian tidak akan pernah tergugah. Sejak mengetahui wanita ini telah menipu keluarganya dengan mengaku Arif adalah bagian dari keluarga Basuki, maka saat itulah Lusi telah kehilangan harga diri di matanya.
"Aku sudah mengorbankan segalanya, Jullian. Segalanya !"
Jullian terkekeh geli. Bagaimana bisa wanita gila ini mengatakan telah berkorban, padahal yang Jullian ingat Lusi hanya mengambil cara licik untuk mendapatkan segalanya.
Pria itu pun merendahkan tubuhnya dan mencengkram rahang wanita itu hingga mau tak mau Lusi harus bertemu pandang dengannya. Linangan air mata tak lagi bisa dihindari dan Jullian melihat itu semua. Tapi, tak sedikit pun hatinya merasa iba. Justru ia muak dengan kelakuan Lusi yang seolah seperti korban disini.
"Apa saja yang sudah kau korbankan? Bukankah selama ini kau hanya bisa membohongi kami semua? Kau pasti tidak buta dan sangat tahu kalau kebohonganmu soal Arif sudah aku ketahui. Aku hanya tinggal bertanya sisa kebohongan yang telah kau lakukan kepadaku."
Wanita itu menegang ditempatnya. Ia berusaha untuk melepaskab cengkraman tangan Jullian di rahangnya, namun tenaganya tak cukup untuk menepis pegangan tangan pria itu. Rasa sakit mulai menjalar seperti Jullian akan meremukkan rahangnya. Ya, pria itu bisa melakukannya.
"Katakan dengan lantang, kebohongan apa yang masih kau sembunyikan dariku. Apakah itu berhubungan denganku dan Arnetta?"
DEG
Pias di wajah Lusi tidak lagi bisa disembunyikan olehnya. Pandangannya mendadak kabur melihat wajah sangar Jullian. Ia ingin kabur dari sini secepat mungkin. Jullian yang seperti ini bukanlah pria dengan emosi biasa. Pria itu bisa saja membunuhnya andaikan mengetahui hal apa saja yang sudah ia lakukan agar bisa sampai ke titik ini.
Jullian menyeringai saat tahu kalau pertanyaannya sudah menusuk langsung ke hati wanita itu. Ya, ia sudah curiga sejak awal mengapa Lusi yang semula enggan di jodohkan dengannya tiba-tiba saja menyerahkan diri begitu saja seperti wanita murahan. Kemana perginya seorang Lusiana yang ayahnya katanya sebagai wanita berpendidikan dan berwibawa. Nyatanya, Lusi tak ubahnya seperti Arnetta yang mudah menyerahkan tubuhnya demi kepuasan hidup.
"Aku bisa saja menghancurkan ayahmu detik ini juga dan membuat kalian semua menjadi gelandangan. Tapi, aku masih ingin bermain dan ingin membuat kalian sebagai pion yang bisa kujalankan untuk menghancurkan Arnetta. Jadi, katakan yang sejujurnya sebelum aku berubah pikiran... "
Jullian mengerahkan tenaganya untuk mengangkat Lusi dengan paksa. Rahang wanita itu ia yakini mungkin akan membiru lantaran tarikan paksa darinya. Tapi siapa peduli?
Jika Lusi bisa mengusir calon istrinya dari rumah ini, itu tandanya wanita itu sudah siap menyerahkan nyawa padanya.
"J-Julian... s-sakit !" Rintihnya. Lusi memukul tangan Jullian yang masih mencengkram rahangnya. Ia hampir sulit bernapas dan ia yakin Jullian memang berniat membunuhnya.
__ADS_1
"Ayolah mantan istri, aku menunggu."
Tidak, Lusi tidak bisa mati sekarang dan membiarkan orang-orang ini menang. Ia akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri, tidak sebelum ia merebutnya kembali dari Arnetta. Kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya sejak awal. Ia juga sudah berjanji pada Ratih agar dirinya akan bahagia dengan hidupnya. Wanita baik itu sudah mau membantunya untuk yang terakhir kalinya.
"A-Aku yang membuat ... Kalian berpisah."
Jullian bukannya mengurangi cengkraman itu, malah semakin mengetatkan tangannya pada rahang wanita itu.
"Jelaskan, sialan!"
Tenaga Lusi hampir habis. Ia sudah tidak lagi memukuli tangan Jullian yang setia mencengkram rahangnya. Tak lama lagi ia pasti akan pingsan. Napasnya sudah berhembus lemah.
"A-Aku yang menjebak Arnetta dan ... Yang mengirimkan foto itu."
BRUK
Bersamaan dengan lepasnya tangan Jullian, Lusi pun luruh ke lantai tak sadarkan diri. Tenaganya hilang seketika dan ia tahu kalau Lusi tidak perlu menjelaskan lebih banyak. Hanya itu kebenaran yang ia ingin tahu dan ketika ia mendengar semuanya, rasanya Jullian ingin menghilang dari muka bumi ini.
"Ar ... Netta..."
***
Patrick memandangi punggung sempit yang sedang sibuk berjibaku di dapurnya sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Setelah bertahun-tahun dipenuhi oleh debu dan kesunyian, kini bagian dari rumahnya itu tampak hidup. Perabotan yang tadinya hanya hiasan di rumahnya kini sudah berfungsi. Aroma masakan yang sudah lama ia rindukan mulai merebak di seluruh penjuru rumah.
Dan hari ini, berkat wanita yang bernama Reva itulah keinginannya tercapai. Ia bisa melihat betapa lincahnya wanita ini menggerakkan tangannya untuk mengolah makanan. Rasanya satu jam berdiri hanya memandanginya saja tidak membuat Patrick bosan.
Reva dengan daster sederhana yang semalam ia berikan untuknya dengan bertelanjang kaki di dapurnya membuat pikirannya berkelana membayangkan jika wanita itu adalah istrinya.
Ya, Reva yang menjadi istrinya. Setiap pagi ia akan melihat wanita itu berkeliaran di rumahnya. Sungguh, jika tidak ada jadwal praktik di rumah sakit Patrick ingin menghabiskan waktunya lebih lama di rumah.
"ASTAGA!"
Patrick segera menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di dinding dapur. Ia memberikan senyuman terbaik miliknya agar Reva tidak terlalu tegang melihat keberadaannya.
"Sorry."
Pria itu berjalan mendekati Reva yang sedang memindahkan masakannya ke atas piring. Ia memindai setiap pergerakan dari wanita itu. Sungguh, ia ingin sekali melihat pemandangan ini setiap hari.
Atau mungkin selamanya.
"Kau bisa membuat jantungku keluar dari mulut." Sungut Reva dengan nada yang dibuat seolah ia sedang kesal.
Patrick tertawa kecil. Betapa lucunya jika ia bisa melihat jantung wanita itu keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Maka aku akan bersedia memungutnya untukmu. Tak usah cemas, manis."
Reva mau tak mau tersipu mendengar panggilan itu. Tak banyak pria yang memujinya karena sejak kejadian naas saat ia bekerja di luar negeri, Reva mencoba menutup diri dari dunia. Ia berusaha sebisa mungkin tak terlihat oleh pria mana pun. Namun, entah mengapa ia merasa nyaman bersama pria asing bernama Patrick padahal mereka baru saja bertemu. Belum lama, tapi Pria itu berhasil membuatnya tertarik dengan perasaan hangat.
Revatak pernah merasakannya. Sudah lama dan ia hampir melupakan sebuah kebaikan yang orang lain berikan kepadanya. Terkadang ia sering bertanya kemana perginya Tuhan? Apakah tidak ada keadilan untuknya ?
Ia akui bahwa dirinya adalah wanita yang tidak suci. Wanita itu sudah menjual tubuhnya hanya demi uang. Dan ia telah menerima hukumannya, ibunya tak pernah selamat. Tuhan mengambilnya mungkin karena Revamemperjuangkannya dengan cara yang salah. Kali ini bisakah ia mengulang kembali jalan hidupnya dengan cara yang benar.
Sekarang di dekat pria itu bisa saja ia mati mengenaskan. Reva tak pernah mengenal pria mana pun selain ... tidak ... Reva takkan lagi menyebut namanya bahkan dalam hati sekalipun. Ia takut dan patah hati. Lelaki yang semula ia kira adalah malaikat penyelamat pada akhirnya membuat hidupnya seperti berada di dalam simulasi neraka. Jika Patrick adalah pria yang bertolak belakang dengan pria jahat itu, maka Reva pasti telah diberikan kesempatan kedua untuk berubah. Berubah untuk dirinya dan anak yang akan lahir ke dunia ini.
"Patrick"
Pria itu menoleh kepada perempuan di sampingnya. Entah sejak kapan tubuh jangkung itu sudah berada dekat dengannya dan itu membuat wanita itu sedikit terkejut, sebelum akhirnya menormalkan napasnya.
"Apa ?"
Reva terlihat ragu pada awalnya. Apakah pantas dirinya menanyakan keraguan setelah kebaikan pria itu menampungnya semalaman. Namun, kembali terjebak di dalam lubang yang sama adalah tindakan bunuh diri paling bodoh.
"Kenapa kau begitu baik? Aku dan kau adalah dua orang asing yang belum mengenal."
Patrick tak tahan menampilkan ******* senyum yang langsung menciptakan lesung di kedua pipinya. Setelah semalaman dan wanita itu tampak begitu senang menerima bantuannya, kini Reva malah mempertanyakan hal itu. Bukankah sudah Sangat terlambat ?
"Kenapa? Kau takut kalau aku adalah pria yang jahat?"
Ya, dalam hatinya. Reva tak mau lagi menerima perlakuan hina itu. Setiap kali membayangkannya tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya yang mulai waras bisa saja kembali hilang. Ia tahu rasanya terpaku pada penderitaan hingga tak ingin lagi melanjutkan hidup. Jika bukan karena Arif dan anak di dalam kandungannya, mungkin Reva bisa benar-benar gila.
Pria itu bersedekap dan memberikan tatapan intens pada wanita yang sudah ia tetapkan akan menjadi bagian dari lembaran hidupnya. Kehadiran Reva adalah sebuah tambahan tokoh dalam kisah hidupnya. Ia percaya bahwa wanita itu bukanlah orang jahat dan ia tahu bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk mencelakakannya.
Reva.
Gila rasanya ia mulai menafsirkan perasaannya sebagai rasa suka. Ia tertarik dengan wanita ini sejak pertemuan mereka pertama kali di rumah sakit. Tatapan penuh keputusasaan membuatnya ingin merengkuh tubuh mungil itu seerat mungkin. Menyembunyikannya dari dunia yang kejam ini. Sekarang, Tuhan seperti sedang mengambulkan keinginan yang tak pernah terucap itu. Reva datang sedikit ke dalam hidupnya tanpa usahanya sedikit pun.
"Anggap saja aku baik karena sebuah pertemanan."
Reva terhenyak. Mendadak tubuhnya terasa kaku dan ia tak sanggup mengalihkan tatapannya dari pria itu. Tidak ada debaran jantung seperti saat dulu ia bertemu pandang dengan pria jahat dari masa lalunya. Tapi, melihat Patrick membuat perasaannya menghangat. Layaknya seorang pengembara yang pada akhirnya menemukan sebuah rumah untuk berlindung. Meskipun hanya sementara.
Patrik memajukkan wajahnya dan berhenti tepat di depan, tak jauh dari wajah Reva. Kalimat yang terucap dari bibirnya langsung mengundang gumpalan air mata yang tak pernah wanita itu perlihatkan setelah peristiwa mengerikan lalu.
Teman?
Ia pernah punya, tapi dulu sebelum dunia merenggutnya paksa. Dan kini pria asing ini ingin berteman? Apakah kali ini dunia akan merebutnya dengan kejam ?
"Aku ingin menjadi temanmu. Teman yang sangat dekat denganmu, Reva."
__ADS_1