Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 32


__ADS_3

"Kenapa kau begitu baik? Aku dan kau adalah dua orang asing yang belum mengenal."


Patrick tak tahan menampilkan ******* senyum yang langsung menciptakan lesung di kedua pipinya. Setelah semalaman dan wanita itu tampak begitu senang menerima bantuannya, kini Reva malah mempertanyakan hal itu. Bukankah sudah Sangat terlambat ?


"Kenapa? Kau takut kalau aku adalah pria yang jahat?"


Ya, dalam hatinya. Reva tak mau lagi menerima perlakuan hina itu. Setiap kali membayangkannya tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya yang mulai waras bisa saja kembali hilang. Ia tahu rasanya terpaku pada penderitaan hingga tak ingin lagi melanjutkan hidup. Jika bukan karena Arif dan anak di dalam kandungannya, mungkin Reva bisa benar-benar gila.


Pria itu bersedekap dan memberikan tatapan intens pada wanita yang sudah ia tetapkan akan menjadi bagian dari lembaran hidupnya. Kehadiran Reva adalah sebuah tambahan tokoh dalam kisah hidupnya. Ia percaya bahwa wanita itu bukanlah orang jahat dan ia tahu bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk mencelakakannya.


Reva.


Gila rasanya ia mulai menafsirkan perasaannya sebagai rasa suka. Ia tertarik dengan wanita ini sejak pertemuan mereka pertama kali di rumah sakit. Tatapan penuh keputusasaan membuatnya ingin merengkuh tubuh mungil itu seerat mungkin. Menyembunyikannya dari dunia yang kejam ini. Sekarang, Tuhan seperti sedang mengambulkan keinginan yang tak pernah terucap itu. Reva datang sedikit ke dalam hidupnya tanpa usahanya sedikit pun.


"Anggap saja aku baik karena sebuah pertemanan."


Reva terhenyak. Mendadak tubuhnya terasa kaku dan ia tak sanggup mengalihkan tatapannya dari pria itu. Tidak ada debaran jantung seperti saat dulu ia bertemu pandang dengan pria jahat dari masa lalunya. Tapi, melihat Patrick membuat perasaannya menghangat. Layaknya seorang pengembara yang pada akhirnya menemukan sebuah rumah untuk berlindung. Meskipun hanya sementara.


Patrick memajukkan wajahnya dan berhenti tepat di depan, tak jauh dari wajah Reva. Kalimat yang terucap dari bibirnya langsung mengundang gumpalan air mata yang tak pernah wanita itu perlihatkan setelah peristiwa mengerikan lalu.


Teman?


Ia pernah punya, tapi dulu sebelum dunia merenggutnya paksa. Dan kini pria asing ini ingin berteman? Apakah kali ini dunia akan merebutnya dengan kejam ?

__ADS_1


"Aku ingin menjadi temanmu. Teman yang sangat dekat denganmu, Reva."


Patrick memajukkan wajahnya dan berhenti tepat di depan, tak jauh dari wajah Reva. Kalimat yang terucap dari bibirnya langsung mengundang gumpalan air mata yang tak pernah wanita itu perlihatkan setelah peristiwa mengerikan lalu.


Teman?


Ia pernah punya, tapi dulu sebelum dunia merenggutnya paksa. Dan kini pria asing ini ingin berteman? Apakah kali ini dunia akan merebutnya dengan kejam ?


"Aku ingin menjadi temanmu. Teman yang sangat dekat denganmu, Reva."


Wanita itu tak lagi mendengarkan perkataan pria yang sudah menolongnya malam itu. Ia tahu jika inilah kehidupan yang selama ini ia inginkan. Berteman dan bertemu orang baik. Tapi, saat ia menjalaninya justru ia semakin takut. Ketakutan bahwa semua kenyamanan ini hanyalah ilusi. Bisa saja ketika dirinya bangun nanti, ia malah akan kembali ke kehidupannya yang penuh derita.


Cinta dan teman baik, ia hanpir tak memiliki itu semalam setahun ini. Hidupnya kelam dan semakin bertambah kelam saat ia tahu bahwa ibunya sudah tidak ada lagi di dunia yang sama dengannya.


Dan Jullian, ...


Kini hanya anak yang bisa ia gantungkan. Meski anak dalam rahimnya hadir disaat yang tidak tepat, tanpa ada keinginan untuk memilikinya, namun Arnetta tahu ia sudah meletakkan cintanya pada janin yang akan lahir ini.


Dengan pria bernama Patrick di hadapannya, ia hanya mampu berdoa agar sosok baru dalam hidupnya ini tidak membahayakan dirinya dan anaknya.


"Aku Sedang hamil." ujarnya.


Lama suasana di antara keduanya mendadak hening. Patrick hanya bisa terdiam dengan wajah datar yang tak menunjukkan perubahan mimik apapun. Pria itu hanya memandangi netra milik wanita yang ia kenal dengan nama Reva itu dalam-dalam.

__ADS_1


Reva yang juga merasakan perubahan suasana yang mendadak hening itu pun merasa tak nyaman. Ia tahu seharusnya sejak awal pria bernama Patrick ini mengetahui kondisinya. Mungkin setelah ini ia akan di usir dari rumahnya dan kembali menggelandang di jalanan.


Namun itulah resiko yang harus di tanggungnya. Arnetta tidak memiliki rumah untuk ia singgahi. Bangunan yang dulu pernah ia tempati bersama mendiang ibunya pun telah rata dengan tanah. Entah apa yang telah terjadi, yang jelas Arnetta tahu bahwa sekarang ia adalah gelandangan miskin. Mungkin setelah ia kembali terusir, ia akan menjadi pengemis atau tukang pungut sampah. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan dengan kondisinya yang tengah berbadan dua.


"K-Kalau kau keberatan, aku bisa...."


Patrick segera menggelengkan kepalanya seolah tak setuju dengan kata yang mengalir dari mulut wanita itu. Ia menepisnya dengan segera.


"Tidak ada yang merasa keberatan di sini. Seandainya aku tahu kondisimu sejak awal, maka aku akan langsung membawamu ke rumah sakit." Ujarnya khawatir. Tanpa sadar pria itu pun hampir melayangkan tangannya untuk menyentuh perut Reva yang masih tampak rata. Namun, tindakannya itu segera berhenti begitu ia menyadari bahwa tindakannya bukanlah hal wajar.


Pria itu pun segera menarik tangannya dan memandang Reva dengan tatapan kikuk.


"Maaf, sepertinya aku kelewatan. Tapi, aku serius. Aku bisa membawamu sekarang ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu." Sahutnya sambil mengusap kasar tengkuknya yang dingin.


Arnetta hanya bisa mematung di tempatnya. Wanita itu takjub dengan kata yang baru saja keluar dari bibir pria yang bahkan belum mengenalnya lebih dari sebulan. Entah apakah niatan baik itu benar-benar tulus atau tidak, Arnetta rasanya ingin menangis. Matanya memanas lantaran perkataan patrick itu terdengar indah si telinganya. Belum pernah ia temui ada seseorang yang sangat mengkhawatirkannya selain ibunya. Bahkan sosok  yang  diharapkannya dapat memberikan bantuan pun malah memgundang kembali trauma yang ia rasakan dulu.


"Aku tidak paham. Kenapa kau begitu baik sekali padahal kau belum mengenal siapa aku."


Reva pun tak kuasa menahan air matanya. Seharusnya ia tidak boleh menangis. Janjinya setelah ia keluar dari rumah Jullian, ia harus menjadi wanita yang sangat kuat. Tidak boleh mudah menangis. Tapi, kenapa air matanya mengalir begitu saja hanya karena ada seseorang yang memiliki niat baik terhadapnya.


Reva pun mengusap air matanya kasar. Ia tidak boleh menangis hari ini. Tapi, rasanya berat hanya untuk mencegah dirinya menangis. Hatinya terlampau sakit. Banyak rasa pedih yang sudah ia rasakan. Banyak kepahitan yang sudah terjadi dalam hidupnya.


"Kenapa sih air mata sialan ini tidak mau berhenti menangis? Aku seharusnya senang akhirnya bertemu orang baik sepertimu." ungkapnya dengan napas tersengal-sengal. Hatinya seakan remuk karena ia merasa tidak pantas menerima semua kebaikan ini.

__ADS_1


Tindakan Reva tak luput dari pandangan Patrick. Pria itu pun tak mau menghentikan aksi Reva yang terus saja mengusap air matanya yang jatuh seolah tak berhenti membasahi wajahnya. Kini ia sadar bahwa banyam sekali tangis yang telah ditahan oleh wanita itu padahal banyak sekali kesakitan yang sudah dialaminya. Sebagai seorang ahli kejiwaan ia tahu wanita ini masih terguncang. Ada luka yang masih menganga lebar bersarang di hatinya. Patrick tidak akan meminta balasan apapun. Sejak pertama melihatnya ia tahu kalau wanita ini butuh pertolongannya. Sampai tiba saatnya, ia berjanji akan melakukan apapun untuk tidak lagi melihat adegan yang sama seperti yang pernah dialami mendiang adiknya dulu.


Setidaknya tidak ada Amira kedua dalam hidupnya. Tidak akan.


__ADS_2