
Seringai sinis itu tak pernah lepas dari wajah pria itu sesaat setelah menerima pesan singkat dari orang yang ia tunggu. Memang ia mengatakan jika dirinya akan menunggu pesan singkat nomor rekening wanita itu sore, tapi seorang Jullian tak biasa untuk menunggu. Kalau bukan karena ingin meraih tujuannya, mungkin ia akan mengamuk dan membatalkan rencana halusnya menjebak Arnetta.
Hal baik akan datang pada mereka yang mau menunggu, bukan?
Gemuruh dadanya tak pernah berhenti ketika menyadari bahwa sekarang dirinya pemegang kartu AS. Ia akan menjalankan rencananya dengan semulus mungkin. Tanpa celah, Jullian akan membuat wanita itu bertekuk lutut seperti yang diinginkannya sejak lama. Tak peduli dengan rasa iba untuknya, karena wanita itulah yang berani mematahkan hatinya. Menghancurkan cinta yang sudah ia berikan.
Arnetta hanyalah perempuan kotor.
"Kulihat sejak tadi kau tak pernah berhenti tersenyum. Tidak merasa pegal?"
Mendengar suara itu, senyuman itu langsung surut tergantikan dengan kegarangan dalam dirinya. Ia tahu istrinya pasti dapat dengan mudah membaca pergerakannya. Namun kali ini Jullian tidak akan membiarkan Lusi mengambil peran disini. Ia tidak membutuhkan wanita itu hanya untuk menjerat Arnetta.
Ia berbalik dan berdiri dengan dagu terangkat didepan Lusi yang sedang menyandarkan tubuhnya diambang pintu kamar mereka.
"Aku akan mendapatkan hadiah atas kesabaranku."
"Arnetta maksudmu?" Lusi tak bisa menahan senyum kecutnya yang berkedut. Entah mengapa ia kembali tak menyukai perasaan dimana dunia seolah berputar disekitar wanita itu. Sudah bagus lima tahun ia lewati tanpa bayang wanita itu, tapu kini si pengganggu itu kembali. Seperti berusaha menghancurkan miliknya yang ada.
Jullian tak memperdulikan kelakar istrinya yang akan berujung pada kecemburuan. Sejak awal ia sudah mengatakan bahwa pernikahan mereka tidak lebih dari memberikan keuntungan pada masing-masing keluarga. Setelah Jullian mendapatkan Arif dan Lusi mendapatkan proyek besar untuk ayahnya, seharusnya wanita itu merasakan kepuasan yang sama dengannya.
Pernikahan mereka hanyalah kehidupan diatas kertas, yang bisa suatu saat dibatalkan sesuai keinginan Jullian. Lusi tidak berhak mengintervensi perjanjian itu sama sekali. Wanita itu tidak pernah memiliki hak dalam hal itu.
Pria itu memandang Lusi remeh, sembari mengenakan jas miliknya. "Kukira ada yang sepettinya lupa posisinya."
Wajah wanita itu mengeras. Paras cantik yang memperlihatkan kelembutan langsung berubah menjadi kegarangan atas perkataan suaminya.
"Apa perlu kutunjukkan kertas itu lagi padamu?"
"Hentikan! Aku tidak akan pernah melupakan posisiku, Jullian. Aku dan kau ... kita menikah hanya diatas kertas, tapi bagaimana jika aku menginginkan lebih?" Lusi mengeraskan rahangnya.
Jullian tetap meneruskan gerakannya merapihkan diri. Dibalik gerakannya yang melingkarkan sebuah jam tangan di pergelangannya, ia tersenyum penuh kegelian. Suara Lusi terdengar sumbang dan aneh baginya.
Lebih?
Terbentur apa kepala wanita itu?
"Kau tahu ... aku pikir sebaiknya kau mengembangkan bakatmu menjadi penyair. Aku hampir saja tersentuh oleh perkataanmu."
"Jullian ..."
"Aku sudah tidak tertarik padamu sejak, ... kau menukar dirimu dengan adikmu yang ****** itu." Ucap lelaki itu sebelum melangkah pergi.
Lusi mengepalkan kedua tangannya geram. Ia ingin sekali meneriakkan amarahnya pada sang suami, tapi rasanya akan sia-sia. Jullian pasti akan semakin senang jika ia melakukan hal itu. Lebih baik, ia bersabar dan mengikuti permainan yanh dimainkam suaminya itu. Hanya saja jika sampai Arnetta ada dibalik kesengsaraannya kali ini, dia takkan tinggal diam.
"Aku akan mempertahankan apa yang menjadi milikku, Neeta."
Sedangkan Jullian berjalan dari kamarnya menuju kamar yang ditenpati oleh jagoannya. Ketika ia membuka pintu, terlihat seorang anak laki-laki tengah memainkan robot miliknya. Kamar yang luas dengan dekorasi karatkter superhero seperti superman dan batman menghiasi sisi dinding. Jullian ingat jika dirinya yang sangat berantusias menyambut kelahiran sang anak, tidak dengan Lusi.
"Hai jagoan!" Panggilnya dari ambang pintu.
Bocah laki-laki itu menoleh dan tersenyum senang saat melihat sosok yang paling disayanginya didunia ini. Dengan semangat tinggi, Arif, bocah laki-laki itu berlari dan melompat kepelukan sang ayah yang sudah berjongkok menyambutnya.
"Ayah, mau pergi ya?"
Jullian menjauhkan wajahnya untuk mengamati sang anak. Wajah yang hampir mirip dengan versi dirinya saat kecil terpampang jelas didepan matanya. Ia tersenyum tulus menyambut pertanyaan sang anak. Sejak dulu Jullian sudah jatuh hati pada anak ini. Ia mengurusnya dengan kedua tangannya sendiri dibantu dengan dua orang perawat. Cintanya pada Arif menutup kenyataan yang sudah ia simpan rapat sejak kelahirannya.
"Dua hari. Ayah akan pergi mengurus beberapa hal. Arif jangan nakal, ya?"
Sontak pancaran sinar diwajah anak itu meredup. Jullian paling benci jika harus melihat wajah sang anak meredup. Ia tahu tidak ada yang lebih mencintai anak itu selain dirinya. Bahkan, saat masih bayi Jullian hampir setiap hari membawa anak itu bekerja. Tak peduli dengan tatapan aneh bawahannya. Jullian tak pernah tenang meninggalkan Arif ditangan Lusi, yang sudah jelas tidak pernah menaruh cinta pada Arif.
"Ayah hanya sebentar. Setelah itu akan ada seseorang yang mengasuhmu."
"Teman baru?" Arif tersenyum menampilkan deretan diri depannya yang lepas dua. Jullian ada disaat momen itu dan selalu ada dimomen apapun yang dilalui Arif sepanjang hidupnya.
"Ya. Dia orang yang baik. Ayah yakin kalian akan berteman."
Sejenak Jullian menatap Arif dengan senyum pahit. Ia tak tahu apakah Arnetta akan menerima anak ini atau tidak setelah menerima perlakuannya nanti. Pikiran jelek tentang wanita itu mengenai pas dihatinya. Bagaimana jika wanita itu tega mencelakakan sang anak?
Tapi tidak. Ia kenal wanita itu. Dari pada Lusi, Jullian lebih mempercayakan Arif padanya. Arnetta takkan mungkin tega melukai anaknya, setelah ia melihat bagaimana Arnetta menatap Arif untuk pertama kalinya saat dirumah mertuanya.
"Tapi ayah harus cepat pulang. Aku kesepian."
Jullian mengangguk dan mencium kening sang anak. Ia tentu saja akan kembali secepat yanh ia bisa. Setelah kepulangannya Lusi pasti akan pergi lagi ke Singapura dan Jullian tak peduli ada urusan apa disana.
__ADS_1
Melihat Arif seperti melihat bayangan dirinya dimasa lalu. Betapa beratnya diabaikan oleh orang tua yang jelas-jelas ada dihadapannya. Terlihat tapi tak teraih. Jullian tak mau Arif merasakan hal yang sama. Ia sudah berjanji untuk menyayangi Arif segenap hatinya. Tak peduli Rahasia yang sampai saat ini hanya dirinya dan Lusi tentu saja yang tahu.
Jullian akan tetap mencintai anak itu walau Arif bukanlah anak kandungnya.
**
Sebab luka takkan pernah kenal waktu untuk menyebarkan kepedihan.
Memandang tempat yang pernah diduduki dan menyimpan kenangan, tak serta merta membuat wanita itu tak acuh. Ia menoleh sedikit - tidak hampir sepersekian detik ia memandangi salah satu bangku restoran yang trrlihat dari lobby hotel. Bangku yang mengingatkannya kembali pada kenangan masa lalu yang tak bisa dibuangnya begitu saja.
Salah satu bangku yg kini di huni oleh sepasang kekasih yang sedang melihat pemandangan langit malam diluar sana membawa Arnetta kembali masuk ke dalam bayangan film usang tentangnya dan juga seseorang. Kini janji yang ia sumpahkan, bahwa dirinya takkan lagi terjebak nolstagia menguap seperti angin. Ia masih bernolstagia dan berharap kepahitan ini adalah mimpi.
Arnetta mengetukkan sebelah kakinya cemas. Ia menunggu di lobby hotel Horrison dengan tatapan yang melayang entah kemana. Setengah jam ... ia menunggu sosok yang ditunggunya. Ia tak tahu apakah dirinya harus merasa takut atau cemas. Kedua perasaan itu seolah melebur jadi satu. Setelah menerima bukti transfer uang masuk, ia sudah meneken kontrak tak kasat mata untuk membalas kebaikan Jullian. Pria itu sudah menepati janjinya. Kini Arnetta yang harus menepati janjinya juga.
Tempat ini seharusnya menjadi tempat yang tak boleh ia jajaki. Terlalu banyak kenangan manis yang menbuatnya mual. Rasa ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya mengumpul jadi satu dipangkal tenggorokannya, disertai nyeri yang jelas terasa diperutnya.
Menunggu ...
Ia benci sejujurnya merasakan hal itu. Namun, sebagai wanita yang tahu diri ia mencoba untuk memaklumi. Jullian bebas memerintah dirinya apa saja. Lelaki itu telah memberikan jasa yang mungkin takkan pernah tergantikan. Karena pria itu, malam ini ibunya bisa menjalani operasi. Arnetta takkan meminta lebih selain rasa terima kasih yang akan diucapkannya berulang pada Jullian.
Tak lama suara dering dari ponselnya berbunyi. Beberapa orang yang melintad disekitarnya ikut memandang benda yang sedari tadi bersembunyi dibalik tangannya. Maklum saja, Arnetta masih menggunakan ponsel lama yang bunyinya hanya nada nyaring memekkakan telinga.
Langsung saja naik ke lantai 5 dan di kamar 531 tamuku sudah menunggumu.
- Jullian -
Arnetta menghela napas. Sedikit rasa kecewa ia rasakan saat tahu bahwa dirinya takkan bertemu dengan Jullian. Ia ingin dalam hati kecilnya berharap malam ini melihat senyuman teduh milik pria itu. Arnetta merindukan senyuman itu.
Tanpa berlama-lama lagi, ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Beruntung saat ia berjalan mendekatinya, pintu itu terbuka dan beberapa orang keluar dari sana. Arnetta menekan angka 5 pada tombol lift. Ia hanya sendirian didalam kotak besi yang sedang mengantarkannya ke lantai yang ditunjukkan oleh Jullian. Jantungnya bergemuruh kencang. Sebelum ini ia memang pernah menemani beberapa tamu, tapi orang-orang yang biasa ia temui adalah tipe pemabuk yang mungkin takkan pernah mengenalinya.
Bekerja di club malam dan menjadi salah satu host membuat Arnetta sudah terbiasa mengalami hal ini. Ditempatnya bekerja ia terlindungi karena memang peraturannya ia hanya akan menuangkan minuman lalu pergi atau menunggu mereka berjudi disudut ruangan. Hanya saja melihat level seorang Jullian Basuki, ia sangsi jika tamu ini adalah orang sembarang. Pastilah jika itu adalah rekan bisnis Jullian maka orang itu adalah orang penting. Menggunakan dress lengan pendek hijau muda dibawah lutut terbaik miliknya, ia berharap jika penampilannya cukup mendapatkan respon yang baik dari tamu Jullian.
Saat bunyi lift sampai membuyarkan lamunan singkatnya. Lorong yang sepi teraram sinar lampu berwarna kuning dengan karpet merah membuat Arnetta meremang. Jantungnya semakin membuat keributan didalam sana sampai ia harus menekan dadanya sendiri. Berkali-kali ia mencoba untuk menghembuskan napas berat. Arnetta yakin dirinya pasti bisa.
531.
Kamar yang letaknya paling ujung itu semakin membuat detak jantungnya tak karuan. Ia mencoba berpikir positif bahwa wanita yang akan ia temani malam ini adalah orang baik. Jullian tidak mungkin mencoba menyakitinya. Pria itu juga orang baik.
Hanya dalam tempo singkat, pintu kamar 531 itu terbuka dan menampilkan sosok paruh baya yang mengenakan kimono handuk. Melihat itu semua, Arnetta hanya bisa terbelalak tak percaya.
"Akhirnya kau datang juga sayang." Ucap lelaki itu dengan seringai licik.
Arnetta hampir berteriak melihat bukan hanya satu pria disana, melainkan ada empat orang pria yang ada didalam sana menggunakan kimono handuk. Tatapan semua pria itu terlihat mengerikan.
"A-Aku ... seperti salah kamar." Arnetta tercekat. Bayangan wajah Jullian melintas dipikirannya. Ia ingat bagaimana Jullian dengan tulus membantunya dan menjelaskan bahwa pekerjaannya hanya menemani istri kliennya.
"Arnetta. Jullian pasti tidak salah memilihkan seorang gadis."
DEG
Tubuhnya mendadak beku. Serbuan rasa panik bercampur dengan ketegangan. Salah seorang pria disana menyebutkan nama yang seharusnya tidak pernah ia dengar.
"Sini! Ikutlah bersama kami. Aku yakin kau akan puas." Kelakarnya mengerikan.
GREP!
Arnetta memekik ketika pria tua yang membukakan pintu menariknya masuk. Ia meronta sekuat tenaga. Tangisnya sudah berada diubun saat dirinya hampir masuk ke dalam kamar tersebut. Ia menjerit berharap para laki-laki tua ini mau melepaskannya.
"Tidak! Jangan!" Hanya itu yang bisa ia ulangi saat isakannya sudah mulai menjadi usaha terakhirnya.
"Sssst! Jangan menangis. Kami akan menghiburmu, sayang."
Ketiga pria tua disana akhirnya berdiri dan berusaha membawa Arnetta masuk ke dalam kamar itu. Rontaan Arnetta bagaikan tak ada artinya saat keempatnya sudah hampir menggiringnya masuk.
"Jangan! ... Aaaaargh!" Arnetta menendang apapun tak peduli bahwa kakinya mulai terasa perih. Kepalanya sudah pening dan pandangannya yang rabun tak menjadi alasan baginya untuk berhenti.
'SRAK'
Arnetta semakin meronta saat lengan dressnya sudah robek oleh salah satu tangan pria itu. Ia terbelalak ketakutan. Ia ingin sesegera mungkin pergi dari sini. Ia sungguh ketakutan sekarang.
"Sialan! Wanita ini terlalu bising!" Ucap salah satu pria tua yang tadi merobek lengan dressnya.
'PLAK'
__ADS_1
Perih dan panas pada pipinya membuat Arnetta menyadari bahwa dirinya tak cukup kuat untuk melakukan perlawanan. Wajah sang ibu yang menunggunya di rumaj sakit menjadi satu-satunya kekuatan yang tersisa baginya. Dengan sekuat tenaga, Arnetta berusaha melepaskan tubuhnya yanh hampir terangkat dari lantai. Ia takkan menyerah malam ini.
Entah mendapatkan kekuatan dari mana, wanita itu melayangkan kakinya pada pria tua yang menyeretnya masuk ke dalam kamar ini. Melihat rekannya kesakitan, ketiganya melonggarkan pegangannya dan membuat Arnetta bersiap untuk kabur. Ketika ia sudah berada diluar kamar, Arnetta berlari sekencang-kencangnya. Tubuhnya hampir limbung beberapa kali. Bida didengarnya teriakan pria-pria tua itu yang memangginya dan sempat didengarnya bahwa salah seorang seperti tengah menyumpah pada Jullian.
Arnetta tak tahu dan tidak peduli. Ketakutannya sudah memuncak. Ia tidak bisa melakukan ini. Otaknya masih cukup waras untuk menjual dirinya. Dan hatinya, perih sekali.
***
Seorang wanita tampak berlari menembus dinginnya udara malam. Pakaiannya yang tak lagi memiliki bentuk sempurna pun tak digubrisnya. Dinginnya angin malam tak menjadi rasa untuknya. Air mata terus menggenangi wajahnya kala ia terus menolehkan kepalanya ke belakang, dan berharap jika orang-orang itu sudah tak lagi mengejarnya.
Ketika ia melihat sebuah gang buntu yang gelap dan sempit, wanita itu berlari ke sana. Ia berjongkok dibalik dinding itu dan mempertajam pendengarannya. Sementara, hal yang bisa didengar olehnya hanya detak jantungnya yang menggila. Deru napasnya pun kalah dengan suara yang hanya bisa didengarnya sendiri. Selain suara gemuruh jantungnya, ada sesuatu yang terasa sakit didalam dadanya. Bayangan ketika dirinya menyadari bahwa ini semua hanyalah sebuah jebakan.
Hidup tak seindah kisah didalam Novel. Pahit. Semuanya pahit.
Kalimat itu masih enggan meluruh didalam otaknya. Ia bisa mendengar gemanya sampai sekarang. Wanita itu merasa bahwa kalimat itu seolah tengah menertawainya, mengejeknya yang masih mengharapkan cinta yang abadi.
Tidak ada. Semuanya hanyalah kesakitan dan kepahitan. Semua tak lebih dari sebuah bayangan semu yang hanya ia lihat sebagai keindahan. Kenyataan bahwa masa lalu indah bisa merubah masa depan fiktif adanya. Hingga kini, saat ini, detik ini kesakitan itu semakin menjalar menusuk ke tulangnya.
Hatinya sakit. Dirinya terguncang atas semua yang terjadi tadi. Jullian berusaha menjualnya. Ia tak pernah bisa menduga bahwa Jullian tega memperlakukannya serendah ini. Ia... Arnetta merasa dirinya sama rendahnya seperti pelacur.
"Jadi, setelah kau lancang lari dariku, kau bersembunyi disini, Sayang?"
Tubuh wanita itu mendadak beku. Tangannya yang terkait terasa sangat dingin kala suara itu menusuk langsung ke inderanya. Wanita itu tak berani mengangkat kepalanya. Ia tak bisa melihat pria itu menatapnya dengan penuh kebencian seperti beberapa saat yang lalu. Ia tak bisa melihat kebencian yang melekat di mata pria itu. Ia tidak bisa.
'SRAK'
"Arrgh...!" Wanita itu meringis sejadinya saat kepalanya terangkat paksa dan yakin bahwa anak rambutnya sudah ada yang terlepas didalam genggaman kasar pria itu. Wajahnya terus merunduk, tak berani melihat si pemilik tangan yang kini berada dihadapannya. Ia tahu sebanyak apapun dirinya meminta pengampunan, pria itu takkan sudi mengampuninya begitu saja. Mata tajamnya yang menusuk sudah menjadi penanda dari kemarahannya.
"Kau sudah mulai berani mempermainkanku, Arnetta." Ucapnya sengit.
Tangan-tangan kecil itu mengikuti tangan pria yang tengah menjambak surainya dengan lemah. Ia berharap jika belas kasih yang selama ini ditunjukkan olehnya akan tampak sekarang. Tapi, saat ia mengintip dari balik celah kosong, pria itu tampak menyeringai mengerikan. Hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"A-Ampuni aku, Jullian. Aku mohon." Cicitnya. Wanita itu tak tahu lagi apa yang bisa diperbuatnya untuk mengurangi rasa sakit ini. Ia tak bisa berpikir dengan jernih, selain mengemis ampun darinya. Jullian harus mengampuninya, demi dirinya dan juga ibunya yang sedang menunggu saat ini.
Jullian melonggarkan jambakannya pada wanita itu. Ia membawa wajah Arnetta sedikit menekat ke arahnya dan menempatkan bibirnya didepan telinga wanita itu. "Akhirnya, ... kau tahu bagaimana posisimu sekarang. Kau tak lebih dari seorang ******, Arnetta. Aku sudah membelimu dengan sangat mahal."
DEG
Arnetta sekali lagi dibuat membeku. Rasanya dunia seperti baru saja menghantam kepalanya. Dingin yang bukan angin malam itu menjalar seketika ke sekujur tubuhnya tanpa sadar. Kalimat yang menyentak kesadarannya didengarnya sangat jelas dan baik dari bibir pria itu. Kata manis yang selama ini diingatnya hancur lebur seketika.
"Kalau kau tidak mau melayani para tamuku, baiklah ... Mulai detik ini kau harus melayaniku. Suka atau tidak, kau harus melakukannya atau nyawa wanita tua itu akan melayang ditanganku."
Tak ada janji manis, kini Arnetta tahu hidupnya yang kelam akan menantinya. Ia akan hancur, pasti hancur ditangan pria yang sangat ia cintai ini.
***
Jullian tanpa ampun menghentakkan tubuh Arnetta yang tak lagi berdaya diatas ranjangnya. Kegelapan yang sengaja ia ciptakan membuat sosok lemah itu sudah yak lagi terlihat. Tubuh mungilnya yang bergerak mengikuti Jullian pun sesungguhnya telah menanggung luka yang amat dalam. Baik fisik maupun jiwanya Arnetta sudah hancur. Wanita itu telah rusak setelah apa yang diterimanya malam ini.
Arnetta menangis, tanpa satupun yang tahu betapa derasnya air mata itu mengalir. Suaranya sudah habis untuk berteriak memohon ampunan. Rasa nyeri ditubuhnya seperti pelengkap rasa sakit hatinya malam ini. Ia takkan pernah bisa melupakan malam ini. Cukup disadarinya usaha apapun yang ia lakukan untuk membela diri akan berakhir sia-sia. Entah akan sampai berapa lama lagi Jullian menyiksanya meski napasnya sudah memendek.
"Aku tidak pernah tahu bahwa kau masih begitu sempit, ******. Apakah kau memuaskan mereka dengan cara lain?"
Suara Jullian menajam saat menggerakkan tubuhnya mengoyakkan pertahanan Arnetta. Sempat terbesit rasa iba dan terkesima saat tahu bahwa wanita yang kini ia gagahi nyaris belum tersentuh. Tapi, sekelebat bayangan kotor tentang cara Arnetta memuaskan pria lain kembali mengundang dendam dalam dirinya. Ia ingin wanita ini hancur.
Wanita itu bukanlah perawan. Ia tahu itu. Dan hal tersebut yang paling dibencinya mengingat ada lelaki lain yang lebih dulu menggagahi wanita ini selain dirinya.
Tangan besar Jullian kasar menekan sisi wajah yang sudah tak lagi berbentuk. Luka yang kini menjadi riasannya tak dipungkiri lagi sudah menjadi pelengkap rasa sakit yang ia alami saat ini. Lelaki itu sudah menamparnya setelah Arnetta melakukan serangan untuk membela diri. Punggung wanita itu pun penuh dengan luka cambukkan.
Ya, Jullian memukulinya karena Arnetta sempat menendang ************ pria itu seperti yang ia lakukan di hotel tadi.
Dadanya sesak, ia ingin berteriak tapi tak mampu. Ia lumpuh sampai mati rasa. Kenyataan bahwa sosok yang ia pikir dapat meringankan lukanya justru menjadi pemula dalam kisah penderitaannya. Arnetta yakin dirinya akan hancur ditangan pria ini.
"Seharusnya kau tahu takdirmu hanya akan menjadi pelacur dan berada dibawah kakiku ... kau akan hancur. Kau akan mati dalam penderitaan sampai kau memohon untuk kubunuh, sayang."
Ketika pelepasan itu memasuki diri Arnetta, air mata terakhir jatuh sebagai penutup dari bayangan menyakitkan itu. Kegelapan menjemput sisa kesadarannya dan menjatuhkan dirinya dalam mimpi.
Jullian segera memisahkan diri dari Arnetta. Dipandanginya tubuh mungil penuh luka yang ia torehkan. Pria itu sudah berubah menjadi monster. Arnetta pasti sudah tak sadarkan diri saat ini. Ia yakin pergerakan napas pelan yang dilihatnya bukanlah bentuk kesadaran wanita itu.
Pedih.
Melihat wanita itu tak berdaya sedikit mencubit hatinya. Ia ingin ... sangat menginginkan wanita itu dengan cara yang berbeda, bahkan meski sudah lima tahun terlewati. Namun, hatinya sudah hancur. Kesalahan Arnetta yang meninggalkannya dalam keadaan hancur lebur semakin menyiksanya.
"Kalau saja kita bertemu dijalan yang berbeda, maka aku akan sangat memujamu, Arnetta." Gumamnya diselingin dengan air mata yanh jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1