Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 5


__ADS_3

Dengan kaos putih yang hampir usang dan celana jeans panjang, Arnetta merasa bahwa penampilannya kali ini benar-benar tidak pantas bersanding dengan Jullian. Pakaiannya cukup memalukan untuk menginjakkan kakinya ditempat ini. Apalagi ketika pertama ia datang bersama Jullian, beberapa pasang mata menatapnya penuh curiga, seolah ia tengah dikira salah memasuki tempat. Dan lagi, Jullian yang memakai blazzer terlihat sangat elegan dan tak pantas bersanding dengannya. Kalau sudah begini, tak ada satu pun yang mengira bahwa mereka adalah pasangan. Arnetta sedikit bersyukur sekaligus kecewa.


Wanita itu bergerak gelisah ditempatnya. Meski ia duduk dengan tenang, tak menapik bahwa kini tangannya bergetar hebat. Suasana siang dengan hidangan makanan yang lezat seharusnya cukup membuat dirinya tenang, namun tatapan mata elang milik Jullian yang terus mengintimidasinya merusak segalanya. Ingin rasanya Arnetta segera bangkit dan pergi dari tempat itu. Kalau akhirnya akan seperti ini, ia takkan mau menerima ajakan Jullian untuk datang ke tempat ini.


Entah mengapa, Arnetta merasa bahwa Jullian bisa dengan mudah mempengaruhi dirinya. Kelembutan pria itu masih sama ketika terakhir kali mereka berkencan. Saat itu merupakan kenangan terakhir. Kenangan Indah sebelum ia menemukan fakta bahwa Jullian menikah dengan Lusi.


"Bagaimana kabarmu, Arnetta? Kudengar kau baru saja kembali dari luar negeri." Jullian sibuk memotong daging dihadapannya sambil sesering mungkin melihat ke arah Arnetta.


"Y-Ya, begitulah." Kalau boleh dibilang, Arnetta merasa tenggorokkannya terasa sangat kering, padahal sejak awal ia lebih banyak meneguk air mineral dihadapannya dari pada menyantap daging yang seharusnya terasa sangat lezat itu.


Tapi, siapa yang bisa terlihat baik-baik saja jika saat ini seseorang yang pernah hadir dilubuk hatinya berada didepan matanya. Pria itu terlihat baik-baik saja, bahkan sangat baik. Arnetta menebak dalam hati jika Jullian cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.


'Tanpanya.'


Jullian menanggapinya dengan anggukan singkat, seperti tidak begitu tertarik dengan apa yang dilakukan wanita itu disana. "Jika aku diijinkan untuk mengetahuinya, sebenarnya apa yang kau lakukan bersama ayah?"


Senyuman kecut tak tahan untuk tidak Arnetta pertunjukkan dihadapan pria itu. Hatinya nyeri mendengar panggilan Jullian yang begitu akrab pada Rivai. Seandainya pria itu benaf-benar menikahinya, entah apakah Jullian akan menyebut Rivai sama atau tidak. Membayangkannya saja sudah membuat Arnetta kehilangan muka.


"Ibuku sakit." Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa perintah, dan juga ekspresi muram Arnetta. Membayangkan bagaimana ibunya saat ini sedang membutuhkannya menusuk hatinya. Sebagai seorang anak Arnetta merasa tak berguna. Selama ini Ratih tak pernah meminum obatnya. Penyakit yang ia kira sudah tak lagi muncul, kini semakin menjadi.


"Sakit?"Jullian tampak sedikit terkejut dengan kedua alisnya yang meninggi. Arnetta tak pernah tahu jika ayahnya tidak pernah membahas apapun pada menantu kesayangannya ini.


Arnetta yang menyadari apa yang telah diucapkannya salah, langsung tergagap. "Ah, tidak. Hanya sakit biasa."


"Kau membutuhkan uang?"


Pertanyaan Jullian langsung menusuk tepat dijantungnya. Ia merasa pertanyaan itu seperti sebuah panah. Seluruh tubuhnya panas dingin mengingat Jullian mampu dengan mudah menebak kesulitan apa yang dihadapinya. Mungkin saja halnya seperti Lusi dan juga Bocah laki-laki bernama Arif. Tak salah jika bocah kecil itu menatapnya penuh curiga.


Arnetta merasa dirinya memang terlihat seperti pengemis, sampai Jullian pun mengetahui maksud tujuannya mendatangi rumah Rivai. Tapi, apa mau dikata, ia sudah terlanjur hilang arah. Harga dirinya sudah jatuh saat pertama kali ia memutuskan untuk menginjakkan kakinya di rumah itu, meski ia tahu bahwa keluarga itu takkan pernah menyambutnya. 


"Ibuku harus segera dioperasi. Aku tidak bisa memiliki tujuan lagi untuk meminta selain pada pria yang merupakan ayah kandungku sendiri. Aku membutuhkan uang untuk biaya perawatan ibuku. Kemarin, saat aku baru tiba di Indonesia, Ibuku jatuh pingsan. Di rumah sakit Dokter mengatakan jika ibuku tidak meminum obatnya secara rutin, yang semakin memperburuk keadaannya dan harus segera dilakukan operasi. Mereka meminta 500 juta untuk semua biaya pengobatan. Aku tidak punya apapun untuk dijual, setelah ibuku menjual rumah kami pada Rivai." Arnetta menundukkan wajahnya. Antara malu dan sesak dirasakannya setelah mengakui semua itu, terlebih pada pria yang pernah mendiami hatinya. Bahkan, sampai saat ini.


Sedikit lama keduanya terdiam dalam keheningan. Arnetta menunggu, ia tahu dirinya telah membuat harga dirinya semakin terperosok jatuh mengakui kesusahannya pada Jullian. Ia pun tak berharap Jullian sudi menolongnya. Entah mengapa, dilubuk hatinya Arnetta tak merasakan sakit hati yang selama ini ia pendam. Bertemu langsung dengan Jullian membuat rasa sakit dan benci itu menguap dan berganti dengan rasa rindu. Sepasang mata indah milik pria itu berhasil membuatnya kembali jatuh cinta. Perasaan meluap dalam dadanya seolah sedang bertengkar dengan akal sehatnya.


Ia ingin sekali memeluk pria ini, menciumnya, dan menggenggamnya. Arnetta berpikir dirinya mungkin sudah nyaris gila. Pendiriannya untuk tidak jatuh cinta pada Jullian ternyata hanya angin lalu belaka. Kenyataannya hatinya selalu kembali memihak pada Jullian, meski itu terlarang sekali pun. Ia harus sadar kehadirannya disini tidak lebih dari sekedar meminta bantuan. Kenyataan bahwa Jullian kini merupakan kakak iparnya membuat dinding pembatas yang tak boleh ia lompati. Arnetta harus tahu batasannya sebagai orang luar.


Tapi ibunya ...


"Arnetta, angkat wajahmu dan tataplah aku." Nada perintah dari Jullian seperti sebuah kode otomatis yang membuat Arnetta tanpa ragu langsung memandangnya. Sepasang mata hitam miliknya pun telah digenangi air mata yang siap jatuh kapan saja.

__ADS_1


"Tolong aku."


Wanita itu tak lagi bisa mengontrol emosinya. Dalam pergolakan batin ia merasa sangat tersiksa. Tak ada lagi yang bisa membuatnya tenang. Tidak pikiran yang melayang ke arah ibunya, tidak juga hatinya yang sakit berhadapan dengan Jullian. Memikirkan bagaimana bisa hidupnya hancur seperti ini, Arnetta merasa Tuhan seperti sedang mengujinya terlalu jauh. Ia tak tahu rencanaNya. Yang ia tahu, saat ini hatinya perih. Sangat sakit.


"Aku akan menolongmu, Arnetta." Ucap Jullian pelan.


Diusapnya kasar air mata itu. Perasaannya tidak sedikit pun merasa ringan, tapi dirinya merasa lebih tenang. Ia tak tahu dan tak peduli apa yang membuat Jullian sebegitu mudahnya memberikan bantuan kepadanya. Yang Arnetta tahu, Jullian yang duduk dihadapannya adaalh malaikat penyelamatnya. Ia tak tahu bagaimana nantinya ia akan membalas kebaikan Jullian. Meski hanya kata-kata, ia tahu Jullian memang berniat menolongnya.


"T-Terima kasih." ucapnya pelan. "Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu. Aku akan melakukan apapun yang kau minta."


Demi Tuhan! Arnetta merasa senang luar biasa. Sedikitnya beban dipundaknya sudah terangkat dengan sendirinya. Namun, tanpa disadari oleh wanita itu Jullian kini tengah tersenyum kecil saat mendengar ucapan Arnetta yang akan mengabulkan apapun yang dipintanya.


"Nanti malam datanglah ke Hotel Horrison, tempat yang sama dimana kita pertama kali melakukan makan malam, Arnetta."


DEG


Senyum diwajah wanita itu meluruh seketika. Sekelilingnya seolah berhenti dan hanya menyisakkan degup jantungnya yang terdengar kasar. Sepasang mata bundar itu terbelalak mengarah pada Jullian yang menatapnya sedikit tajam. Disana, tentu saja Arnetta masih mengingat bagaimana dirinya yang menipu Jullian dan berpura-pura sebagai Lusi. Ia tak tahu jika Jullian masih mengingatnya, sama seperti dirinya.


"Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Aku sadar bahwa waktu itu kita terlalu terbawa suasana. Seharusnya aku bisa berpikir jernih saat itu. Itu adalah kesalahan fatal dalam hidupku."


Arnetta hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana bisa Jullian mengartikan semua momen yang mereka lewati bersama saat itu adalah sebuah kesalahan. Mungkin baginya itu sama sekali tak berarti, namun bagi Arnetta kenangan itu bagaikan borok yang takkan pernah hilang begitu saja. Sampai detik ini semua tawa dan canda, serta cinta diantara mereka masih ia rekam dalam memorinya. Tak ada satu pun yang tertinggal pada setiap detiknya, apalagi saat dimana Jullian mengutarakan keseriusan dihadapan ibunya. 


"Jam sembilan malam. Datanglah, dan tanya salah satu kamar yang telah dipesankan oleh Jullian Basuki."


"Kamar?" Arnetta kembali membeo. Tak pernah terbayangkan pekerjaan seperti apa yang akan diberikan Jullian di sebuah kamar hotel yang tak ia kenali dengan baik. Ia memang pernah sekali kesana, tapi hanya untuk makan malam bersama Jullian. Tidak lebih.


Seakan membaca pikiran wanita itu, Jullian segera meralat ucapannya. Namun, ia tetap memutuskan untuk bangkit dari kursinya. "Ada satu rekanan wanitaku yang harus kau temani sampai suaminya kembali bersamaku untuk meeting. Aku hanya meminta satu hal itu saja darimu."


Jullian mengeluarkan sebuah kartu nama dari salah satu saku Blazzernya dan memberikannya pada Arnetta, "Kirimkan pesan singkat nomor rekeningmu padaku. Sore ini akan aku kirim uang untuk operasi ibumu. Kalau begitu aku permisi, Arnetta Revallina."


Pikiran Arnetta mendadak kosong. Sepanjang ucapan Jullian, ia sama sekali tidak menyimaknya dengan baik. Otaknya terlalu lamban dalam memproses semua yang terjadi didepan matanya. Jullian yang begitu mudahnya memberikan bantuan kepadanya sedikit membuat nalurinya merasa takut. Entah rasa apa yang saat ini menyelimuti relung dihatinya, ia takut melihat wajah Jullian yang seolah menyiratkan hal tak baik beberapa saat sebelum kepergiannya. Hanya saja, untuk sekarang Arnetta harus berpikir positif dengan semua yang ada. Hanya Jullian harapannya kini mengingat Rivai sudah lepas tangan atas semua yang terjadi pada hidupnya.


Semoga Tuhan lebih berbaik hati padanya.


***


Semilir angin sore membawanya kembali, memaksanya untuk mengingat kembali bagaimana kehidupan seorang Arnetta sebelum perjanjian bodoh yang ia lakukan bersama Lusi. Tahun-tahun berlalu sangat cepat. Ia sampai tak bisa mengingat dari mana mulanya rasa sakit itu timbul. Sejak Lusi memintanya untuk berpura-pura menjadi dirinya, atau ketika melihat Jullian bersanding dipelaminan bersama kakak tirinya itu?


Semuanya terjadi begitu saja tanpa ingin ia reka kembali.

__ADS_1


Pandangannya kembali jatuh pada hamparan tanah yang mungkin akan segera dibangun sebuah bangunan baru. Tanah yang diratakan ini menjadi saksi bisu dimana ia dan ibunya menghabiskan waktu bersama. Sebelum semuanya berubah, hidupnya baik-baik saja.


Dalam lima tahun semuanya berubah begitu saja. Arnetta merasa dirinya seperti baru saja memejamkan mata, lalu ketika membukanya ia sudah berada ditempat yang berbeda. Ini bukanlah dirinya. Tahun demi tahun yang tak pernah ia duga sudah mengubah jalan hidupnya. Kini ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar Jullian dapat meringankan bebanya. Ia akan melakukan apa saja untuk membalas kebaikan pria itu.


"Kau harusnya tahu bagaimana wajahnya!"


"Ya, seharusnya aku melihatnya tadi."


Tatapan Arnetta beralih pada dua orang wanita yang mengenakan pakaian formal kantoran. Keduanya tampak begitu menikmati obrolan mereka hingga tak menyadari sepasang mata memandang penuh kerinduan. Ketika salah seorang diantaranya menyadari kehadiran Arnetta, ia pun berhenti.


"Neeta ..."


Wanita yang semula cekikikan langsung terdiam secara perlahan. Pandangan mereka bertiga pun bersiborok dalam keheningan. Meski rindu, ketiganya tak memiliki niat untuk mencurahkan perasaan menyesakkan itu.


Arnetta yang berada di ujung sana menyadari tatapan berbeda yang dilayangkan kepadanya. Tersirat bahwa kedua orang itu terkejut melihat kehadirannya, namun tatapan lain yang tak ia harapkan pun terlihat. Rowena, salah seorang teman sekaligus pemilik bar tempatnya dulu bekerja sudah tidak lagi memandang Arnetta dengan cara yang sama. Jelas sekali ada perasaan benci melihat kehadiran wanita itu lagi dihadapannya. Berbeda jauh dengan wanita yang berada disampingnya, Maria. Wanita itu hanya terdiam membisu dengan eskpresi tak berarti.


Seketika, ekspresi kedua temannya membuatnya bingung.


"Aku pamit duluan. Sampaikan salamku pada suamimu, Maria." Ucap Rowena yang segera melangkah melewati Arnetta dengan lebar.


Pemandangan itu tak luput dari tatapan Seorang Arnetta yang pernah menjadi temannya. Selama lima tahun, ia tak tahu apa yang terjadi padanya dan juga kedua sahabatnya. Ia hanya pergi untuk mendampingi ibunya berobat. Selebihnya, ia sama sekali tidak mengetahui apapun lagi.


"Halo, Neeta." Maria melangkah mendekati Arnetta yang masih dilanda kebingungan. "Ternyata berada di negeri orang membuatmu mudah melupakan masa lalu, ya?"


"M-Maria, ... Apa yang terjadi?" Untuk kesekian lamanya, ia baru menemukan kalimat tanya itu didalam otaknya, setelah kebingungan melihat sikap Rowena yang tak lagi bersahabat dengannya.


Wanita itu tampak mengulas senyuman kecil. Bukan senyuman yang disenangi oleh Arnetta, malah sebaliknya. Maria tersenyum seperti mengejeknya. Seperti Arnetta telah melakukan sesuatu yang salah tanpa merasa bersalah.


"Apapun yang tak kau mengerti, semuanya sudah terlambat. Kini kami tahu siapa sebenarnya diri kami masing-masing. Terima kasih, karena sudah mengingatkan."


"Aku ..."


Marian melangkah pelan meninggalkan Arnetta yang dilanda kebingungan sekaligus kecewa. Ia tak habis pikir dengan sikap kedua sahabatnya yang tiba-tiba berubah drastis. Bukankah seharusnya ia yang bertanya dan perlu dijawab, tapi yang didapatkannya justru malah membuat hatinya semakin berat. Arnetta pun menoleh, hendak memanggil Maria. Namun, niatannya itu tak pernah terlaksana saat menyadari pemandangan punggung sempit yang berjalan menjauhinya.


Tanpa sadar, air matanya menetes. Jauh didalam dadanya, sesak itu mulai terasa. Ia kehilangan napasnya, Ia sendirian sekarang.


Semuanya menghilang seperti debu tanpa ia sadari, dan tak diketahui dimana letak kesalahannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumamnya penuh kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2