
Benda dingin itu bergerak di atas permukaan perut buncit seorang wanita yang kini fokus menatap ke arah layar yang menampilkan wajah berupa gumpalan dari sebuah nyawa yang bersemayam di rahimnya. Tujuh bulan. Sudah selama itu sosok mungil telah tumbuh kuat di dalamnya. Malaikat kecil dari kejadian yang tidak ia inginkan, tapi kini sangat dicintainya.
"Lihat kan? dia sehat sekali. Sepertinya sudah tidak siap bertemu dengan kedua orang tuanya." Ujar sang dokter kandungan dengan menggerakkan alat usg di atas permukaan perut itu.
Sensasi dingin memang di rasakan oleh Arnetta, pasien yang kini sedang melihat sosok sang anak itu, tapi rasa hangat sudah menjalari hatinya kala melihat wajah putranya, anak laki - laki yang akan lahir dari rahimnya itu. Anaknya dengan pria yang sudah membawakan neraka ke dalam hidupnya.
"Hidungnya mancung, ya. Mirip sekali dengan ayahnya." Sekali lagi sang dokter bersuara, tapi kali ini langsung ditanggapi oleh sosok pria yang dikiranya adalah ayah dari si jabang bayi.
"Tentu saja. Dia anakku."
Patrick dengan wajah pongah dan bangga mengakui jika hidung mancung sang jabang bayi memang menurun darinya. Pria itu memang sejak pertama menjalankan perannya sebagai seorang calon ayah dengan apik. Pertama kali melakukan USG, pria itu bahkan sampai menangis melihat wajah calon bayinya. Tak mugkin ada satu pun orang yang akan mengetahui jika Patrick bukanlah suami sekaligus ayah dari calon bayinya.
Arnetta yang melihat reaksi pria itu hanya bisa tersenyum kecut. Andai saja jika Patrick benar-benar suaminya, mungkin ia akan merasa bahagia. Pria itu pasti akan menjadi ayah yang snagat baik bagi anak-anaknya kelak. Tapi, apalah daya ... Arnetta tahu kalau semua itu hanyalah angan-angannya saja. Pria itu tidak bisa terus-terusan ia jadikan tameng. Lambat laun akan ada sosok yang pasti mendampingi Patrick di hari tuanya dan ia tahu itu bukanlah dirinya.
"Saya akan resepkan beberapa vitamin untuk si ibu ya."
Dokter itu pergi setelah memberitahukan hal tersebut kepada Arnetta dan juga Patrick yang masih mendalami perannya sebagai seorang ayah. Pria itu pun kembali memalingkan wajahnya ke arah perut buncit Arnetta dengan tatapan hangat. Seolah pria itu memang bukanlah hanya berperan, melainkan dirinyalah yang sebenarnya adalah seorang ayah sungguhan. Hal ini pun masih tak luput dari pandangan mata Arnetta yang membuat hati wanita itu bimbang.
Dalam hati Arnetta tahu kalau dia tidak menaruh perasaan apapun lagi kepada lelaki mana pun. Rasanya kepada seorang lelaki sudah hampir musnah karena sudah banyak sekali luka yang ia terima dari sosok laki-laki. Kalau pun ada yang pernah memberikan kebaikan kepadanya, maka Patrcik lah orang pertama yang melakukannya.
"Kenapa ?"
Pria itu menyadari jika sejak tadi Reva terus memerhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kebisuan wanita itu membuatnya menerka banyak kemungkinan, Tapi setelahnya Reva hanya diam dan kemudian meminta tolong denga isyarat untuk dibantu duduk. Wanita itu tampak tak banyak bicara selama mereka berkonsultasi. Seolah Reva memiliki pikirannya sendiri tanpa mau dibagikan oleh siapapun.
Arnetta hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia sudah lelah berkutat dengan pikirannya. Toh, jika ia menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya, ia akan menerima reaksi yang sama. Patrick menolak idenya untuk berhenti berpura-pra menjadi suaminya.
Ketika mereka sudah sampai di depan meja dokter, Patrick tampak begitu perhatian, memperhatikan setiap langkah kaki Reva. Pria itu begitu mawas diri begitu dokter mempersilahkan mereka duduk. Bahkan pria itu sampai menarik kursi agar Reva bisa duduk dengan mudah. Melihat adegan tersebut dokter dan suster yang berada di sana langsung melemparkan tatapan kagum. Bagaimana tidak, Patrick, yang dulu tidak pernah terdengar isu dengan wanita apalagi rekan sejawatnya kini datang dengan seorang wanita hamil yang diakuinya sebagai istri. Padahal terakhir saat rekam jejak pria itu bekerja di rumah sakit ini, banyak suster wanita yang membicarakan orientasi seksual Patrick yang mulai di ragukan.
__ADS_1
"Kau sangat perhatian sekali dokter Patrick."
Pria itu langsung salah tingkah mendengar pujian itu untuknya. Berulang kali, ia tak pernah terbiasa dengan pujian itu. Bukan tak terbiasa karena ia tak menyukainya, justru Patrick selalu ingin mendengar pujian itu dari semua orang. Ia sangat suka ketika orang lain memujinya sebagai sosok suami yang baik. Rasanya hatinya berdebar kala ia mendalami perannya sebagai seorang suami sekaligus calon ayah.
Mendebarkan. Menenangkan.
Tidak ada perasaan risih sejak pertama kali orang lain mengira Reva adalah istrinya dan mereka sedang menanti kehadiran sang buah hati. Kalau saja ... Reva mau, ia berkeinginan untuk menikahi wanita itu dan menjadi suami, sekaligus ayah untuk anak wanita itu. Terserah, ia tak peduli dari mana benih itu berasal. Ia selalu merasa kalau anakyang di kandung Reva memiliki ikatan istimewa dengannya.
"Kami, sangat menantikan anak ini." ucapnya sambil mengelus perut buncit Arnetta yang tertegun dengan sikap Patrick. Wanita itu bahkan tidak bersuara sama sekali sampai mereka sampai ke parkiran mobil. Di sana, di dalam mobil Arnetta hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Wajah gusar wanita itu sangat kentara sampai Patrick, yang menyadarinya agak segan menegurnya.
Ketika mereka sampai di rumah, Arnetta langsung turun begitu saja tanpa basa-basi. Wanita itu bersikap seolah sedang memendam amarah entah pada siapa, tapi bagi Patrick rasanya wanita itu memiliki rasa tidak suka dengannya hari ini.
"REVA!"
Patrick dengan spontan meneriakkan nama wanita itu, meski ia tidak berniat demikian. Tanpa sadar hatinya gundah bersamaan dengan nada bicaranya yang agak tinggi membuat wanita itu membalikkan badan dengan wajah terkejutnya. Matanya terbelalak begitu mendengar namanya dipanggil dengan sangat kencang.
"A-Ada apa ?"
"A-ada apa ?"
Ya, dan sekali lagi wanita itu menanyakan ada apa dengan Patrick. Sejak dari rumah sakit tadi, ia memang memilih untuk tidak banyak bicara. Tidak ada alasan khusus. Ia merasa begitu lelah hari ini. Banyak gejola batin dalam dirinya yang cukup menguras tenaga apalagi perlakuan pria itu tadi saat di dokter kandungan semakin membuat ia merasa berada dalam posisi yang sulit.
Patrick mendekatkan dirinya pada wanita itu. Tatapannya lurus memandang Reva dan ia ingin bertanya apakah hari ini ia sudah berbuat kesalahan. Sejak kepulangan mereka dari rumah sakit sikap wanita itu terasa janggal dan ia tak suka akan hal itu.
"Justru aku yang harusnya bertanya, ada apa denganmu?"
Reva mengerutkan dahinya dengan heran. "Tidak ada apa-apa."
__ADS_1
Dan ya, Patrick tidak memiliki masalah atau kesalahan apapun. Dalam hal ini, ialah yang bersalah.
"Kalau begitu kenapa kau sangat dingin sekali ? Apakah aku berbuat salah padamu ?"
Arnetta terdiam sejenak. Tidak. Bukan kesalahan yang di perbuat pria itu. Patrick adalah pria terbaik yang pernah ia temui dalam hidupnya. Tak mungkin jika satu kesalahan darinya dapat melenyapkan semua kebaikan yang pernah ia terima. Hanya saja, sikap Patrick yang terlampau baik membuatnya semakin gundah. Ia harus segera menegaskan semuanya sebelum dirinya semakin terperosok dalam kesalah pahaman ini.
"Tidak. Kau adalah pria baik, tidak mungkin berbuat salah padaku."
"Lantas apa masalahnya ?"
Arnetta menegakkan dirinya. Wajahnya tegas senada dengan hatinya. Ia harus berani menegaskan keadaan ini. Kalau-kalau Patrick tidak menyukai gagasan yang ada di kepalanya, maka ia siap angkat kaki dari rumah ini.
"Kau adalah pria yang terlalu baik, sangat baik. Terkadang aku sering salah paham denganmu. Kau tahu, sikapmu yang seperti ini membuatku semakin tidak enak hati. Jangan katakan kau mencintai wanita buruk sepertiku. Aku sudah hancur. Jangan lagi kau buat aku semakin hancur nantinya karena aku sudah salah paham padamu. Katakan, jika ini hanya kebaikan, aku minta tolong agar kau tidak melebih-lebihkannya lagi. Katakan saja kalau aku ini adalah temanmu, atau mungkin tetanggamu atau mungkin orang yang kau temui di jalanan yang sedang membutuhkan pertolongan."
Arnetta terus menyemburkan semua isi kepalanya di saat pria itu hanya terdiam membisu memandanginya seolah sedang mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Tolong jangan buat aku salah paham, Patrick."
Wanita itu menegaskan kalimat terakhirnya sebelum akhirnya berbalik badan dan berjalan memasuki rumah pria itu. Jika hari ini Patrick merasa tersinggung dengan ucapannya dan mulai membencinya, maka tidak ada alasan lagi baginya untuk bertahan di sini. Mungkin suatu hari nanti ia akan membalas semua kebaikan pria itu kepadanya.
Namun belum sempat Arnetta benar-benar pergi meninggalkan Patrick, suara pria itu tampak menyentak hati dan pikirannya sekarang. Ucapan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari pria itu.
"Aku tidak masalah jika kau salah paham dengan semua kebaikanku. Teruslah salah paham karena semua dugaan yang ada di kepalamu adalah benar."
Arnetta membalikkan tubuhnya dengan segera dan menangkap jika Patrick masih berdiri di tempatnya semula, tapi kedua tangan pria itu mengepal kuat seperti sedang menahan sesuatu.
"Teruslah salah paham, tapi yang harus kau tahu, aku benar-benar senang menjadi suami pura-puramu setiap saat. Jika kau berpikir aku memang mencintaimu, ya ..."
__ADS_1
Rasanya semua waktu terasa berhenti di antara keduanya. Baik Arnetta maupun Patrick sama-sama merasakan pergerakan waktu yang melambat di sekitar mereka.
"Aku memang mencintaimu."