
"Minggir! Aku benci sekali melihat wajahmu."
Jullian hampir saja lupa bagaimana caranya bernapas saat mendengar suara wanita itu terdengar kembali setelah beberapa hari dan kemudian mengucapkan kebencian kepadanya. Entah kemana perginya rasa ketakutan wanita itu kepadanya. Seolah yang terlihat di hadapannya adalah Arnetta versi yang lainnya lagi.
Tak pernah ada yang menduga setelah seharian tak sadarkan diri, wanita itu kini bangun dengan kepribadian yang bertolak belakang. Arnetta yang lantang mengucapkan kebenciannya menatapnya nyalang tanpa rasa takut seperti kemarin. Rasanya ... Ia telah menemukan kembali sosok wanita yang lima tahun lalu membuatnya tergila-gila.
"Arnetta ..."
Wanita itu membuang wajahnya kembali ke arah lain. Arnetta enggan menatap pria itu. Rasa benci yang amat mendalam melihat Jullian, membuatnya mual. Ia ingin memuntahkan apapun yang ada di dalam lambungnya. Melihat kehadiran pria itu di hadapannya malah memperburuk keadaan. Ia sendiri tak tahu mengapa dirinya berani dengan lantang mengatakannya. Yang dirasakannya saat ini adalah semua yang terucap dari bibirnya.
Berkali-kali Jullian pernah menyakitinya, tak pernah sekalipun Arnetta menanam kebencian yang begitu dalam. Rasa kehilangan dan ketidakmampuannya menjaga sang Ibu-lah yang membuatnya memilih untuk pasrah. Sejak awal Arnetta sudah menerima takdirnya dengan ikhlas. Tapi, hari ini dirinya seolah telah dilahirkan kembali. Dan melihat wajah pria itu saat pertama kali membuka mata membuat Arnetta merasa sangat marah.
Rian yang berdiri di belakang Jullian langdung bergerak maju melihat keadaan wanita yang baru saja siuman dari tidurnya. Tak seperti pasien berbadan dua yang sering ia tangani, Arnetta bangun dengan kondisi sehat bugar seperti orang yang baru saja mengisi baterai di tubuhnya. Ia pun mengisyaratkan Jullian untuk menyingkir sebentar. Meski tak rela, Rian merasa lega melihat Jullian menurutinya begitu saja.
Dokter muda itu pun mengambil tempat duduk di hadapan Arnetta dan menatapnya lekat-lekat.
"Kau ingat namamu, kan?"
Kali ini wanita itu mau memandang lawan bicaranya. Ia mengangguk perlahan. "Arnetta Revalina."
"Kau ingat dia siapa?" Tanya Rian kembali sambil menunjuk ke arah Jullian yang sedang bersedekap di belakangnya. Tak lupa juga pria itu memberikan tatapan tajam pada Arnetta yang kini mengikuti arah tangan Rian.
"Aku ingat. Dia Jullian dan ..."
__ADS_1
Demi Tuhan, jeda yang dilakukan Arnetta adalah pengocok perut yang pas bagi Jullian saat ini. Muntah adalah hal terakhir yang akan ditunjukkan Jullian di hadapan wanita itu. Tapi, tatapan meragu yang dilayangkan wanita itu membuatnya ingin menerjang Arnetta dan membuat wanita itu mengingatnya sesegera mungkin. Memang Jullian merasa bahwa Arnetta yang ada di hadapannya memiliki pribadi yang sama seperti wanita yang lima tahun lalu meninggalkannya. Hal itu pulalah yang membuat Jullian pernah tergila-gila padanya. Tapi, dalam keadaan sebaik apapun jika kondisi Arnetta sakit, maka Jullian akan lebih memilih sebaliknya. Lebih baik ia menemukan Arnetta dalam keadaan takut hebat padanya.
"... Aku tidak tahu."
Jullian langsung menerjang tubuh Arnetta dan mengguncangkan kedua pundaknya. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan dari mulut wanita itu.
"Katakan! Selama kau tidur dan membawa kamar mengejutkan ini, apakah kau sengaja ingin membalasku? Apa kau memang sudah merencanakan ini semua?"
"Jullian, tenanglah!"
Rian berusaha untuk menenangkan temannya itu. Tapi, usahanya sia-sia saat Jullian tak meresponnya sama sekali. Kedua tangan pria itu bahkan masih mencengkram kedua bahu Arnetta hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Kau memang sengaja, kan?"
Arnetta tak bisa menahan laju air matanya. Wanita itu membiarkan Jullian melihatnya menangis kali ini. Ia merasa sangat takut dengan Jullian yang kini menatapnya dengan kedua mata yang sulit ia artikan. Antara sedih dan kecewa, tidak ada kemarahan disana meski Arnetta tahu pria itu sedang meneriakinya.
Tidak ada yang akan menyakitinya, tidak ada yang akan menghinanya, dan tidak ada yang akan menghancurkan hatinya.
"Lebih biarkan dia istirahat, Jullian. Tubuhnya butuh banyak tenaga." Ucap Rian menengahi. Ia tampak tak tega melihat sosok Arnetta yang begitu rapuh dan kebingungan.
Meski berat untuk menyetujui usulan itu, tapi mau tak mau Jullian harus melakukannya. Apalagi ditambah dengan wajah Arnetta yang terlihat ketakutan saat mellihatnya. Banyak pertanyaan dalam benaknya yang terpaksa harus ditunda setelah kesehatan wanita itu sudah membaik. Kondisi Arnetta saat ini jauh dari kata baik untuk diajak sekedar tanya jawab.
Tanpa kata Jullian langsung mendorong wanita itu untuk berbaring dengan lembut. Sempat terlihat kilatan takut yang terpancar dari kedua mata wanita itu yang sedikit membuat ulu hati Jullian terasa perih. Ia memilih untuk mengabaikannya saja dan menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut. Tak lupa ia membubuhkan ciuman lembut di kening Arnetta sambil membisikan sesuatu yang Jullian yakini menahan laju napas wanita itu.
__ADS_1
"Selamat beristirahat, Ibu."
**
"Sekarang apa rencanamu?"
Jullian terduduk di ruang kerjanya bersama Rian sambil menegak cairan whiskey yang membasahi tenggorokannya.Matanya tampak menerawang jauh menembus ruangan yang hampir seluruh sisinya terisi oleh rak buku-buku tebal miliknya. Pikirannya melayang jauh ke arah pertanyaan yang baru saja dilemparkan untuknya. Satu jam ia tak bersuara dan membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Ia tahu alam telah mempertanyakan sumpahnya yang ia kelakarkan lima tahun yang lalu. Sumpah bahwa ia akan membuat hidup Arnetta menderita, bahkan memilih kematian lebih baik dari kehidupannya. Namun, Jullian tak bisa menangkis perasaan bahwa rasa sayang telah terbit kala benaknya membayangkan seorang bayi, darah dagingnya akan lahir ke dunia ini. Saat ini adalah saat yang dulu ia nantikan.
Ketika Arif lahir ia tak begitu memperdulikan siapa ayah dari anak itu. Yang ia rasakan adalah selama kehamilan Lusi, Jullian tampil sebagai sosok suami dan calon ayah idaman. Jullian kala itu hanya merasa bahagia dan senang menjalani perannya. Akan tetapi jauh berbeda dengan saat ini. Gugup dan cemas dirasakannya kala mengetahui bahwa darah dagingnya telah hidup di dalam rahim wanita yang sampai saat ini mampu mengunci hatinya. Ia terlalu gugup membayangkan apakah dirinya bisa menjadi sosok ayah yang baik bagi anaknya kelak, setelah apa yang sudah diperbuatnya pada Arnetta.
Bukannya setiap bayi memiliki keterikatan dengan ibunya?
"Jangan bilang kau belum memikirkan apapun? Demi Tuhan, hal pertama yang harus kau bereskan adalah perceraianmu dengan si iblis itu, Jullian! Gemas sekali melihatmu seperti ini."
Rian menghela napas panjang sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Terlalu rumit kehidupan cinta pria itu pikirnya. Tinggal nikahi saja wanita itu maka masalah akan selesai. Ia tidak mau ambil pusing soal masa lalu. Sama seperti caranya memandang istrinya di rumah, Rian tak pernah mengetahui atau pun mencari tahu masa lalu Adela. Selama wanita itu berada disisinya maka semua akan baik-baik saja. Kehidupan Jullian serta kerumitannya takkan kuat ia jalani.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Rian, Jullian malah langsung menyambungkan ponselnya dengan orang yang entah siapa tak Rian kenal. Tapi, setelah pria itu mendengar satu perintah tegas dari Jullian, ia tahu bahwa pria itu cukuop cerdas menerima sarannya.
"Segera selesaikan proses perceraianku dengan wanita sialan itu. Kalau perlu beri imbalan pada hakim agar segera mengetuk palu itu. Besok aku ingin statusku sudah tidak terikat dengan wanita itu dan segera persiapkan pernikahanku. Lusa aku akan menikah lagi!"
Rian sontak langsung bertepuk tangannya saat Jullian menurunkan ponsel pipih itu dari samping telingannya. Ia bersorak gembira kala melihat sahabatnya begitu tegas mengambil sikap. Cepat atau lambat wanita iblis itu memang harus segera disingkirkan dari dunia ini. Kalau perlu masukkan saja sekalian ke dalam api neraka.
"Keren sekali, Dude! Seperti melihat sinetron yang episodenya kejar tayang."
__ADS_1
Jullian inginsekali tertawa mendengar hal itu. Tapi perceraiannya bukanlah puncak dari permasalahannya. Arnetta yang akania nikahi lusa belum tentu akan menerimanya. Entah apakah ia masih bisa memaksakan kehendaknya lagi, mengingat semakin lama ia malah semakin lemah terhadapnya.
"Belum saatnya sinetron ini tamat, Rian. Aku masih tidak bisa memastikan apakah wanita itu mau menikah denganku apa tidak. Secara, aku sadar bahwa kehamilannya bukan karena dendamku semata, tapi karena aku tidak ingin kehilangannya lagi untuk kedua kalinya."