
"Habis menemui ibumu itu, ******?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu membuat Arnetta langsung diam membisu. Mendadak tubuhnya bergetar hebat, merasakan ketakutan akan kemarahan yang akan dilemparkan kepadanya. Ia tahu kesalahan apa yang diperbuat sampai pada akhirnya mengundang kemarahan Jullian, tapi Arnetta hanya ingin menemui ibunya. Ia merindukan Ratih sampai hatinya terasa ngilu. Apa yang dikatakannya tadi bahkan hanyalah kebohongan demi menutupi penderitaannya.
Arnetta berjalan pelan. Sangat pelan, bahkan hampir seperti menyeret kedua kakinya. Langkahnya terlalu berat untuk berjalan ke arah pria itu, karena ia tahu setelah ini takkan ada belas kasih untuknya. Tatapan marah Jullian sudah menjelaskan hukuman apa yang akan diterimanya nanti.
Ketika kakinya melangkah semakin dekat ke arah pria yang kini berdiri didepan pintu masuk utama rumah sakit, Arnetta sadar bahwa dirinya hampir tidak bernapas. Napasnya yang pendek diikuti dengan degupan jantungnya yang menggila. Tangannya pun sampai tak bisa berhenti bergetar. Ia tahu dibalik tatapan kemarahan yang dilayangkan Jullian kepadanya, akan ada kesakitan yang menantinya.
Arnetta tahu Jullian takkan berbelad kasih lagi kepadanya.
SRET!
Jullian langsung menyeret tangan Arnetta dan melempar wanita masuk ke dalam mobil begitu wanita itu sudah berada dihadapannya. Dengan napas memburu, ia sudah tak memperdulikan apakah wanita itu terluka atas perbuatannya. Debuman keras pintu membuat pandangannya terhalang pada Arnetta yang tanpa disadarinya mengaduh kesakitan tanoa suara didalam sana. Begitu pria itu ikut masuk ke dalam mobil, ia langsung menatap Arnetta dengan tatapan membunuh.
"Siapa sangka wanita ****** sepertimu bisa keluar rumah tanpa seijinku. Apakah kau memang sengaja menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah wanita peliharaanku, ******?"
Arnetta menangis. Entah sejak kapan ia sudah terisak hebat. Bahkan sebelum Jullian melemparkan kata-kata hinaan, ia sudah putus asa.
"M-Maafkan aku ... Maafkan aku ..."
Suara wanita itu tersamarkan oleh isakan tangis. Arnetta menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon ampun pada pria itu. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Jullian tak butuh penjelasan. Semua perlakuan yang ia terima telah menyiratkan bahwa pria itu sudah tidak lagi menganggapnya sebagai manusia. Alih-alih memilih kata yang lebih sopan, Jullian malah menegaskan bahwa Arnetta adalah peliharaan, yang nyaris sama dengan binatang.
GREP!
Jullian mencengkram rahang Arnetta dan tersenyum sinis.
"Kau ingin dilihat orang lain? Apa kau ingin semua orang tahu siapa ****** kecil ini? Baiklah, kau akan dapatkan itu semua malam ini."
Dengan kasar pria itu menghempaskan wajah Arnetta dengan kasar. Ia menjalankan mobilnya tanpa bicara lagi. Tatapannya hanya terfokus pada jalanan dengan tangan yang mencengkram stir mobil.
Sedangkan disampingnya Arnetta tak bisa menghentikan tangisannya. Wanita itu membekap mulutnya dan terisak hebat. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria ini. Hatinya terlampau sakit untuk menerka kemalangan apa yang akan menimpanya. Mengingat bagaimana keadaan ibunya yang menderita saat ini, ingin sekali Arnetta bertukar posisi. Biarlah ia sakit, asalnya jangan ibunya. Kalau perlu, jika ibunya tak bisa tertolong, Arnetta sudah berencana akan mengakhiri semua ini.
Rasa sakit di dadanya hingga berdenyut membuatnua sadar bahwa kematian pun lebih indah dari pada bertahan hidup di dunia. Arnetta takkan sanggup menjalani hidup seperti ini tanpa ibunya.
"Turun!"
Arnetta melihat bahwa tempat ini bukanlah rumah Jullian, bukan juga area rumahnya yang dulu. Tempat ini seperti hotel dengan gedung bertingkat tiga yang nampak penuh warna lampu dari luar. Meski tak mengenalnya, tapi Arnetta tahu tempat ini bukanlah tempat yang baik untuknya. Apalagi ketika ia melihat seorang pria tua tengah berjalan keluar gedung bersama seorang wanita yang berpakaian minim sambil berangkulan mesra.
__ADS_1
Sadar kemana Jullian membawanya, dengan mata terbelalak Arnetta menatap pria itu dengan tatapan memohon.
"Tolong! Aku akan melakukan apa saja. Apa saja. Kau suruh mati pun aku mau. Tolong bawa aku pergi dari sini."
Namun, Jullian hanya diam. Pria itu lebih memilih menatap keluar kaca mobil dari pada harus membalas ucapan Arnetta. Sampai dua orang berbadan besar menyeret wanita itu keluar dari mobil Jullian hanya diam. Pria itu tak memperdulikan suara teriakan minta tolong dari wanita itu.
Arnetta memandangi Jullian sampai ia tak bisa melihat lagi bayangan pria itu. Sakit dikedua lengannya yang hampir patah dicengkram dua orang pria berbada besar masuk ke dalam gedung itu sudah tak dihiraukannya lagi. Kata tolong rasanya sudah tak ada artinya saat menyadari Jullian lebih memilih membuang tatapan darinya. Hatinya mendadak beku. Punggungnya mendingin ketika menyadari betapa tidak berharganya ia bagi pria itu. Jullian sudah membuktikan bahwa sosok Arnetta tak ubahnya sampai. Ia sudah dibuang. Selamanya akan seperti itu, bahkan sekalipun ia berhasil kabur dari tempat dimana para wanita menjajakkan tubuhnya ini, Arnetta sudah tak memiliii tempat untuk berpulang.
Kedua orang pria berbadan besar itu membawa Arnetta menaiki lantai dua gedung ini. Keduanya berhenti ketika mereka sampai di pintu paling ujung di salah satu lorong yang mereka lewati. Arnetta sudah tidak lagi memberontak. Tatapannya kosong memandang depannya. Kakinya berjalan begitu saja mengikuti kemana kedua pria ini akhirnya membawanya.
Setelah mengetuk beberapa kali, salah seorang dari pria bertubuh besar itu memberitahukan kedatangan Arnetta sebelum akhirnya meninggalkannya, setelah mendapatkan jawaban dari dalam. Saat pintu terbuka, sosok pria tua bertubuh tambun dengan menggunakan kimono handuk sudah menantinya. Seringainya yanh mengerikan membuat Arnetta hampir berteriak ketakutan. Ia ingat bagaimana senyuman seperti ini akan membawanya ke dalam penderitaan.
"Selamat datang, sayangku."
Pria itu merentangkan tangannya. Arnetta mundur selangkah. Ia ketakutan. Sangat ketakutan. Masih segar dalam ingatannya kejadian yang sama pernah menimpanya. Bos tempatnya bekerja sekaligus temannya juga melakukan hal demikian sampai ia harus kehilangan keperawanannya secara keji.
"Tidak! Tidak!" Racaunya sambil menggeleng. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu?"
Pria tua itu menurunkan tangannya dan menyurutkan senyumannya. Wajahnya yang garang langsung terlihat bersamaan dengan teriakan tak terima yang di keluarkannya.
PLAK!
"Tolong, jangan! Ampuni aku! Tolong... hiks..."
Pria tua itu langsung menindih tubuh Arnetta dan berusaha menciumnya. Sedangkan wanita itu terus melakukan penolakan. Berkali-kali ciuman pria tua itu meleset.
"Kau seharusnya pasrah. Aku akan bermain lembut jika kau menurut." Ucapanya di sela ciuman itu.
"Tidak! Tolong!"
SREEET
Terdebfar suara robekan kain yang semakin membuat Arnetta kalang kabut. Teriakannya pun semakin menjadi. Ia benar-benar ketakutan. Bayangan dimana ia pertama kali kehilangan kesuciannya langsung membakar matanya dan mengundang air mata lebih banyak lagi.
"TIDAAAAAAAAAK!"
Teriakan penolakan terus dilakukannya sampai Arnetta menemukan sebuah botol yang terletak tak jauh darinya. Ia pun tak menyianyiakannya dan melayangkan benda itu ke kepala pria tua yang hampir memperkosanya. Bunyi pecahan terdengar seperti angin segar darinya. Begitu pria itu terkulai diatasnya, Arnetta segera bangkit dan berlari meninggalkannya.
__ADS_1
Arnetta terus berlari. Tak peduli tatapan beberapa wanita yang melihatnya dengan bingung. Bajunya yang sudah tak lagi berbentuk pun tak dipedulikannya. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah keluar dari sini. Namun, keinginan itu pun harus ia pendam lagi saat melihat sosok Jullian yang sudah menunggunya didepan pintu masuk. Pria itu bersedekap dengan tatapan puas melihatnya.
Arnetta tahu posisinya. Ia sadar betul kehidupan apa yang sekarang dijalaninya. Namun, ia lebih merelakan menjual tubuhnya dengan orang yang sudah menolongnya. Memberikannya uang untuk menyelamatkan ibunya. Sosok pria yang pernah dicintainya. Selain itu, ia takkan pernah bisa menjalani kehidupannya seperti wanita normal. Ia sudah tidak normal. Ia sudah rusak.
"Bagaimana? Apakah menyenangkan, ******?"
Arnetta berjongkok dengan tubuh terguncang. Tangisnya yang tak lagi tidak bisa ia bendung terisak kencang. Tak ada orang yang mau membantunya. Tidak ada. Ia hanya perempuan ****** yang harus menjual tubuhnya demi ibunya. Saat bibirnya hampir menyentuh sepatu pria itu, Jullian langsung menarik rambutnya sampai rasanya kulit kepalanya akan terlepas. Pria itu memaksanya untuk mendongak dengan wajah bersimbah air mata.
Tak ada lagi rasa kasihan untuknya. Laki-laki ini memang berniat membunuhnya secara perlahan.
"Kau hanya sampah. Wanita rendahan sepertimu tidak pantas memohon kehidupan padaku. Kau harus ingat bahwa ini hanyalah sebuah peringatan. Jika sampai kau pergi tanpa sepengetahuanku, maka aku akan membiarkan laki-laki tua bangka itu memperkosamu."
***
Sosok wanita hanya terdiam duduk diatas kasurnya. Di sebuah kamar yang sempit dengan kasur yang hanya mampu ditiduri satu orang, wanita itu sudah memasrahkan nasibnya. Tatapannya yang kosong sudah membuat orang lain yang melihatnya tahu bahwa wanita itu sudah tak memiliki semangat hidup.
Tiga hari, sejak kejadian itu Arnetta sudah menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Ia akan duduk disini seharian dan akan di dandani sampai "bersih" ketika pria itu membutuhkannya. Kini ia adalah barang yang akan dibersihkan jika ingin dipakai, sedangkan setelahnya ia akan dibiarkan kotor.
Seperti sekarang ini, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam akan ada seorang pelayan yang masuk dan memandikannya seperti bayi. Mereka sudah menyabuninya dan mendandaninya sampai cantik. Tinggal menunggu kapan ia akan dibawa menuju kamar Jullian untuk "bekerja". Namun, malam ini yang masuk adalah Maria.
Wanita paruh baya itu sudah berdiri sejak lama didepan pintu kamar yang ditempati Arnetta, tapi butuh waktu setengah jam untuknya memberanikan diri masuk. Berulang kali wanita itu mengusap air matanya agar tidak jatuh membasahi wajahnya. Namun, usahanya tak pernah berhasil. Untuk itu selama beberapa hari ininia menolak melihat Arnetta.
Ia mungkin jahat membiarkan Jullian melakukan ini semua, tapi apalah dayanya sebagai seorang pelayan. Meskipun Jullian sudah ia asuh sejak kecil, tapi pria itu tetaplah majikannya. Apa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah perintah yang wajib untuk dipatuhi.
"K-Kau sudah ditunggu."
Maria membantu Arnetta berdiri. Sejak malam dimana Jullian pulang dengan menyeret wanita itu, Arnetta yang sekarang tak ubahnya mayat hidup. Wanita itu sudah tak pernah lagi berbicara. Menggerakkan tangannya pun hampir tak pernah. Semua pelayan di rumah ini semoat khawatir ketika menyadari perubahan wanita ini, tapi tak ada yang berani bicara. Layaknya boneka, Arnetta hanya bergerak mengikuti perintah. Bahkan, Jullian pun sampai memerintahkan para pelayan untuk mengurus wanita itu saat ia juga menyadarinya.
Dengan langkah berat, Maria menuntun Arnetta berjalan ke arah kamar Jullian yang letaknya hanya bersebrangan dari kamar wanita itu. Ia pun menangis tanpa suara sambil menggiring Arnetta untuk berjalan.
"Kau kuat. Kau kuat, sayang."
Sayangnya perkataan itu sama sekali tidak berpengaruh. Arnetta hanya diam membisu. Wanita itu benar-benar seperti boneka hidup yang tak bisa berinteraksi dengan siapapun. Bahkan kalau bukan karena make up dan lipstik, akan tampak wajah sepucat mayat yang membuat wanita itu tampak menyeramkan.
Ketika pintu kamar Jullian terbuka tanpa diketuk, Maria mengeratkan pegangannya pada kedua lengan Arnetta. Ia semakin berat melepaskan wanita malang itu. Jullian yang sadar akan tindakan pengasuhnya itu, langsung menarik Arnetta ke dalam pelukannya dan memberikan tatapan tegas padanya.
"Jangan pernah mencampuri urusanku. Arnetta disini bekerja. Bekerja sampai aku bosan. Kau harus sadar siapa dirimu."
__ADS_1
Seperti bom yang baru saja diledakkan, Maria langsung merasa ada ledakan tak menyenangkan didalam ulu hatinya. Terasa sakit saat ia mencoba menggali apa itu. Namun, pintu kamar yang tertutup keras sudah membuatnya menyerah pada anak asuhnya itu. Ia hanya berdoa dan terus berdoa agar Tuhan tidak memberikan penderitaan atas perbuatan Jullian.