
Seberkas sinar menghambur melalui sela tirai yang tidak tertutup sempurna. Betapa wanita itu tahu bahwa pagi sudah datang dan membawa hari baru untuknya. Semalaman nyaris dirinya sulit untuk memejamkan matanya. Pikirannya melayang bersamaan dengan bayangan betapa mengerikannya hari yang sebelumnya ia jalani. Terasa bagaikan mimpi kala matanya terbuka dengan paksa dan menemukan wajah pria yang selalu menimbulkan perih di hatinya. Jarak diantara mereka hampir tak ada. Semalaman pria itu tak pernah melepaskan dirinya dari peluknya.
Benci.
Itulah yang dirasakan Arnetta. Ingin sekali dirinya melihat pria itu merasa hal yang sama dengannya, tapi disisi lain ada nurani yang berkata untuk memaafkan saja. Apalagi ada nyawa yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Merupakan bagian dari dirinya dan orang yang ia tak sukai itu.
Tak suka. Sudah cukup lama ia mempertimbangkan perasaan apa yang tepat untuk ia namai sekarang ini. Jullian, pria itu seperti monster baginya. Dengan pertemuan kembali yang seolah menjanjikan harapan, begitu mudahnya dihancurkan. Kedua tangan yang masih setia melingkar di atas perutnya pun merupakan tangan yang telah merusak hidupnya.
Apa yang bisa diharapkan Arnetta dari hidupnya kini. Keluarga tak ada, uang pun tak punya dan sekarang ia pun sudah hamil. Yang paling parah ia sadar bahwa anak yang tumbuh di rahimnya merupakan anak hasil perkosaan. Ya, tak ada cinta saat anak ini entah sengaja atau tidak dihadirkan. Sejak awal Arnetta tak pernah berpikir bahwa kejadian itu bisa berbuah kehamilan. Ada masa lalu kelam yang sama pernah terjadi padanya, tapi tidak sampai membuatnya hamil.
Kali ini Tuhan benar-benar mengujinya. Mau tak mau setiap kali melihat ke arah perutnya yang sudah terasa kaku, ia pun ingin menangis. Bayi ini satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Ia tak memiliki siapapun di dunia ini yang terikat darah dengannya. Jika bertanya ayahnya, Arnetta takkan mau bersusah payah mengingatnya. Dulu dirinya dan mendiang ibunya kelaparan pun pria itu tetap tidak peduli.
Sungguh, seperti remuk redam hatinya. Dadanya terasa berat bernapas kala mengingat kepahitan hidupnya. Terkadang ia penasaran dan sering bertanya dalam hati, kapan Tuhan memanggilnya. Arnetta merasa raganya cukup lelah menerima siksaan demi siksaan dalam hidupnya. Dan, siksaan itu terasa semakin nyata saat Jullian menghancurkannya.
"Kau sudah bangun?"
Arnetta hanya diam saja tanpa berniat berpura-pura tertidur kembali. Ia melihat sepasang mata elang milik pria itu sedikit demi sedikit terbuka. Jullian menghadiahkannya sebuah senyuman tipis tulus dan tak lama mendaratkan kecupan di keningnya.
Seharusnya hal itu membuatnya tersentuh. Arnetta harusnya merasakan dirinya menghangat atad perlakuan pria itu. Tapi, entah kenapa ia tak merasakan apapun. Dirinya seolah kaku dan terpatri untuk tidak merasakan apapun. Namun, tatapan matanya tetap bersiborok dengan sepasang mata milik Jullian.
__ADS_1
"Selamat pagi !" Sapanya lembut.
Kini suara bariton milik Jullian terdengar lembut dan hangat. Tidak ada makian atau umpatan yang dilayangkan untuk Arnetta, yang biasanya menampung amarah kejinya.
Jullian yang baru saja terbangun merasakan betapa indahnya saat melihat wajah wanita yang pernah singgah di hatinya. Atau mungkin, masih berada di hatinya. Ia tak mengharapkan wanita itu akan membalas sapaannya. Sudah cukup harapan yang ia pegang agar Arnetta mau bersamanya. Jullian takkan menuntut lagi. Selama wanita itu masih mau hidup bersamanya, maka Jullian takkan berharap lebih.
Tak salah jika Arnetta hanya diam menerima perlakuannya tadi. Wanita itu berhak untuk marah dan tidak terima. Jullian bisa memahami segalanya, asalkan wanita itu tetap berada di sisinya.
Diarahkannya sebelah tangan menuju ke perut wanita itu. Disana, tepatnya anaknya dan Arnetta akan tumbuh besar. Ia sungguh tak sabar menanti perut wanita itu membesar. Pasti, Arnetta akan seribu kali lebih cantik dari pada wanita hamil mana pun di dunia ini. Ia ingin segera menimang bayi miliknya sendiri. Darah daging yang sudah ia nantikan selama bertahun-tahun.
Selama ini Jullian hanya melimpahkan kasih sayang pada Arif, yang jelas bukan anak kandungnya. Ia mencintai Arif seperti anaknya sendiri. Tapi, memiliki anaknya sendiri merupakan kebahagiaan baginya. Tak terlukiskan betapa senangnya ia saat tahu Arnetta hamil. Ia memang tak pernah mengharapkan wanita itu akan hamil. Dirinya pun juga tak pernah berpikir untuk melakukan proteksi atas tindakan bejatnya pada Arnetta. Kala itu pikirannya terlalu kalut saat dendam yang selama ini dipendamnya meledak begitu saja. Dan, kini Jullian takkan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Ia akan segera menjadi seorang ayah. Masa lalu yang pernah terjadi diantaranya dan Arnetta adalah lembaran lama yang harus di tutup.
Pertanyaan itu sontak menyentil perasaan si pemilik perut. Tanpa sadar Arnetta yang sedari tadi memperhatikan gerakan halus dari tangan Jullian langsung menitihkan air mata. Tanpa suara, cairan bening itu lolos begitu saja dari kedua matanya. Arnetta tak bohong saat ia berkata benci pada pada pria itu. Namun, suara Jullian jelas menunjukkan kasih sayang yang tulus untuk anaknya. Yang tak pernah Arnetta dapatkan dari siapapun, kecuali ibunya. Sungguh, ia ingin sekali mengakhiri ini semua. Batinnya lelah. Tak tahu apakah dirinya harus merasa bahagia atau sedih. Semua bercanpur jadi satu sampai membuat dadanya terasa seperti didobrak paksa.
Jullian belum menyadari bahwa wajah wanita itu sudah basah, dibarengi dengan nyeri di dadanya yang membuat Arnetta ingin muntah.
Ya, wanita itu sungguh ingin muntah saat ini.
Tanpa aba-aba, Arnetta langsung melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Satu hal yang paling membuatnya lega saat membuka pintu tersebut adalah kloset yang terpampang langsung terbuka. Ia pun tanpa menundanya lagi, langsung memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Arnetta tak peduli yang dimuntahkan itu adalah makanan siang atau malamnya kemarin. Yang jelas, perutmya bergejolak seolah meminta untuk dikeluarkan habis.
__ADS_1
Jullian panik begitu melihat Arnetta berlari ke arah kamar mandi. Ia pun segera berlari mengikutinya dan menemukan wanita itu muntah-muntah hebat di kloset. Ia pun ikut berjongkok di samping Arnetta sambil memijat tengkuknya.
"Apakah masih mual?" Pertanyaan Jullian terdengar begitu melihat Arnetta menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Namun, bukannya menjawab, wanita itu malah terisak hebat. Arnetta menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil mengubur tangisannya. Suara pilu itu terdengar semakin kencang kala buncahan emosi yang tertahan selama ini keluar dalam bentuk kata.
"Tolong... Aku lelah, Jullian. Aku mohon. Aku lelah." Keluhnya.
Jullianntak mengerti lelah yang dimaksud Arnetta seperti apa. Semula ia pikir bahwa lelahnya wanita itu karena ia baru saja kehabisan tenaga memuntahkan semua isi perutnya. Akan tetapi, kata-kata selanjutnya hampir membuat jantungnya meledak.
"Anak ini... Dia hasil perkosaan. Aku tak sanggup merasakannya. Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih atas kehadirannya. Aku mohon, aku lelah."
Napas Arnetta mulai terengah-engah, seolah apa yang baru saja ia katakan telah menguras habis seluruh tenaganya. Wanita itu hampir luruh di lantai, kalau saja Jullian tidak mendekapnya erat.
Sama seperti Arnetta, Jullian pun kini tak kuasa menitihkan air mata. Entah sejak kapan, ia tak malu untuk terlihat cengeng. Tapi, perasaan perih yang menggema di dadanya memaksa untuk dikeluarkan. Menyadari bahwa perasaan Arnetta dan dirinya sama, mau tak mau Jullian merasakan penyesalan yang teramat dalam.
Apa yang dikatakan Arnetta tidak salah. Anak mereka yang sedang tumbuh di rahim wanita itu adalah hasil perkosaan dan dialah pelakunya. Jullian yang telah memperkosa Arnetta hingga wanita itu hamil. Selamanya, wanita itu akan selalu mengingat dari mana asalnya kehamilan tersebut. Dan, Jullian tahu bahwa dirinyalah yang paling bertanggung jawab atas semuanya.
"Tidak! Anak kita memang anak hasil perkosaan. Tapi, dia akan memiliki martabat tertinggi, karena dia anakku dan kau ibunya." Ucapnya sekuat tenaga, sama seperti Arnetta, Jullian merasa tenaganya langsung habis saat mengucapkan kalimat tersebut. Tenaganya seolah terkuras bersama hatinya yang terasa berat.
"Kita akan menikah, dia akan lahir sebagai anak kita, Arnetta."
__ADS_1