
CEKLEK...
Arya membuka pintu apartemen Andin, pria itu menatap seorang pria yang sedang bersama dengan isterinya.
"Apa yang kau lakukan di sini, bang?" tanya Arya kepada kakaknya.
George dan Andin langsung menoleh, mereka berdua nampak menatap Arya yang sudah berada di apartemen Andin.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?" tanya George kepada adiknya.
"Aku? Tentu saja aku tinggal di sini Apakah Abang tidak tahu atau wanita itu tidak memberitahukan kepada Abang kalau aku dan dia tinggal di satu apartemen?" tanya Arya yang membuat Andin hanya terdiam.
"Apartemennya masih dalam perbaikan, Mas. jadi dia tinggal bersamaku." jawab Andin.
George tidak bisa mengatakan apapun, karena memang benar mereka berdua secara hukum adalah suami istri namun George terlihat tidak menyukai Arya yang tinggal satu apartemen dengan Andin walaupun dia tahu kalau adiknya itu tidak akan pernah mencintai Andin atau berusaha untuk menerimanya.
"Masuklah Arya." George menyuruh adiknya itu untuk masuk ke dalam apartemen milik Andin. padahal tempat itu adalah tempatnya Bersama sang istri.
Tatapan mata Arya menatap kakaknya itu, ada sebuah kekesalan yang begitu dalam ingin sekali Arya mengumpat atau mengatakan sesuatu. Bagaimana tidak, kakaknya itu benar-benar sangat menyebalkan. George seolah pemilik dari apartemen itu dia nampak berbicara begitu asyik kepada istrinya bahkan bercanda gurau kepadanya.
"Sekarang Abang tinggal di mana?" tanya Arya kepada George.
Terlihat George tersenyum, pria itu menatap adiknya kemudian membersihkan tangannya yang sedang membantu Andin memasak.
"Aku tinggal di dekat apartemen Tiara, mungkin berbeda berapa ruangan." jawab George yang membuat Arya langsung terdiam.
Arya tidak akan pernah mengira Kalau kakaknya itu akan bertindak begitu cepat, dia harus menutup hatinya agar Tiara tidak mendapatkan serangan dari musuh-musuhnya. namun di sisi lain Arya harus menerima kepahitan ketika kakaknya semakin mendekati istrinya itu, ada dua pemikiran yang ada di otak Arya dia harus merelakan istrinya bersama kakaknya atau dia harus menerima Andin dengan segala konsekuensinya.
Arya langsung memasuki kamar di sebelah kamar Andin, pria itu nampak tidak mau keluar namun di dalam kamar itu masih terdengar suara canda gurau dari George dan Andin.
"Tiara, Bisakah kamu membuatkan aku kopi?" Arya yang baru keluar dari dalam kamarnya.
"Kenapa kau harus meminta padaku? Kenapa tidak membuat kopi sendiri?" tanya Andin yang membuat Arya hanya bisa terdiam.
Dari wajah Andin Arya dapat melihat kekesalan wanita itu, karena dia tidak segera kembali pada saat dia membutuhkan seseorang. sebenarnya Arya sudah kembali waktu itu juga Namun karena jarak yang begitu jauh membuat pria itu baru kembali saat pagi hendak menjelang. Aryo tidak bisa melakukan apapun ingin menceritakannya kepada Andin pun itu Percuma saja.
__ADS_1
"Duduklah Arya, Abang akan membuatkanmu kopi. lagi pula Kau pasti belum makan." ucap George yang kemudian mempersiapkan makanan yang sudah dia buat bersama dengan Andin.
Senyum Andin benar-benar begitu merekah, wanita itu begitu bahagia saat bersama dengan George, sangat berbeda ketika dia bersama dengan Arya wanita itu selalu menampakan senyum yang tidak menyenangkan apalagi sikap Arya yang selalu kasar dan dingin.
"Oh ya bang, Apa yang membuat Abang pindah bekerja di negara ini?" tanya Arya kepada George.
Tentu saja George tidak akan menjawab pertanyaan Arya Karena itu adalah ruang pribadinya, George hanya memberikan senyum kepada adiknya itu. tak ada perkataan yang keluar dari mulut Andin, wanita itu mempersiapkan makanan kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Kau tahu Andin, makananmu adalah makanan yang sangat aku rindukan saat kau sudah berada di sini. aku selalu merindukan masakan yang kau buat saat aku berada di Korea." ucap George yang membuat Andin hanya tersipu malu.
Pandangan mata Arya terus menatap Andin yang sedang tersenyum, hatinya benar-benar kesal dia tidak akan pernah mengira kalau George secara terang-terangan mengatakan hal itu kepada Andin di depan Arya. hati Arya benar-benar terbakar seperti ledakan magma gunung Merapi yang sudah memecahkan larvanya.
"Bolehkah kita makan bang? karena aku lapar aku tidak ingin terus-menerus mendengarkan percakapan kalian." ucap Arya yang membuat Andin hanya terdiam.
Andin tidak ingin memperkeruh suasana, dia hanya menatap George dengan tatapan mata yang benar-benar begitu bersyukur. setelah ritual makan sore itu akhirnya George hendak kembali ke apartemennya sedangkan Arya masih berada di sana.
"Arya, Apakah tidak sebaiknya kau tinggal bersama abang?" tanya George kepada adiknya.
"Iya, benar sekali Mas. kalau bisa bawa pria ini keluar dari apartemenku Percuma saja kalau dia ada di sini, dia tidak akan bisa membantuku." ucap Andin yang membuat George dan Arya saling menatap satu sama lain. bisa dilihat kebencian itu begitu dalam di wajah Andin ketika mengatakan hal itu.
"Tentu saja aku tidak suka, kau berada di sini hanya untuk menggangguku kan? membuatku tidak nyaman dan membuatku seperti pembantumu." ucap Andin.
"Ingin sekali Arya berusaha melakukan sesuatu agar istrinya itu tidak semakin membencinya, namun sesaat kemudian Arya langsung masuk ke dalam kamarnya. dia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau keluar kembali.
"Biarin aja Mas, besok pagi tolong Mas ke sini dan ambil seluruh barangnya. aku tidak mau pria itu tetap berada satu apartemen denganku." pinta Andin yang membuat George menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, tidurlah hati-hati ya kalau ada apa-apa langsung telepon aku." pinta George.
"Baik Mas." jawab Andin.
Seketika George mengusap rambut Andin, pria itu tersenyum begitu sumringah dengan semua keinginan yang ada di hatinya. sekitar 10 menit kemudian terlihat Arya yang berada di dalam kamar nampak pria itu membuka pakaiannya.
"Brengsek, aku tidak seharusnya mendapatkan luka ini lagi." ucap Arya yang terlihat menatap lengannya yang tertembak kemarin. ponsel Arya berdering pria itu menatap ponselnya dan ternyata itu adalah panggilan dari Miguel.
"Ada apa Miguel?" tanya Arya.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan, Apakah lukanya masih mengeluarkan darah?" tanya Miguel kepada Arya.
"Kau Jangan khawatir, aku baik-baik saja lagi pula luka seperti ini tidak akan membuatku mati kan." jawab Arya yang kemudian mematikan ponselnya.
Sudah berulang kali Arya mendapatkan luka di tubuhnya, terlihat pria itu membuka pakaiannya dan menatap tubuhnya yang mempunyai beberapa luka di badannya. Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya menghembuskan nafasnya dengan begitu berat saat melihat beberapa luka yang sudah menjadi lukisan di tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu bersamaku, aku takut suatu saat kau akan terluka seperti ini. aku takut kehilanganmu Aku tidak akan siap aku tidak akan mampu melihatmu pergi dariku." ucap Arya yang kemudian memakai kemejanya kembali.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku
- pembalasan dendam Dahlia
- Permaisuri kesayangan kaisar
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
__ADS_1