JANJI DI BAWAH REMBULAN

JANJI DI BAWAH REMBULAN
Menolongnya


__ADS_3

"Ya ampun.. Ini om-om nyusahin aja, masa dia terus membawaku ke dalam ruang rumah sakit." ucap Diana yang kemudian keluar dari ruangan tersebut. nampak disana Paman Samsul sudah berada ada di luar ruangan tempat pria itu masuk.


"Bagaimana, Apakah pria itu sudah diobati?" tanya Paman Samsul kepada Diana.


"Sudah Paman, Apakah Paman tidak tahu di ruang operasi tadi aku terus melihat darah pria itu bercucuran. aku sampai Syok paman, dan kau tau juga tidak paman, Untung saja aku tidak pingsan." jawab Diana.


"Untung bukan aku yang berada di dalam sana." ucap Paman Samsul.


"Memangnya kenapa, paman?" tanya Diana.


"Aku itu punya darah tinggi, kalau melihat sesuatu seperti itu bisa-bisa jantungku akan terhenti." jawab Paman Samsul.


"Hallahh... ngeles aja." ucap Diana yang kemudian duduk sembari menghela nafasnya dengan sangat berat, sesaat kemudian nampak Gadis itu teringat dengan bibinya yang ada di rumah.


"Ya ampun Paman!" seru Diana.


"Memangnya ada apa?" tanya Paman Samsul.


"Aku lupa menelpon bibiku." jawab Diana.


"Memangnya kenapa?" tanya Paman Samsul lagi.


"Bisa-bisa dia marah Paman, karena ini sudah udah sore." jawab Diana lagi sambil mengambil ponsel yang ada di tasnya.


Akhirnya Diana sudah memberitahukan keberadaannya kepada sang Bibi, karena Gadis itu takut kalau bibinya marah. bahkan mengira Diana melakukan sesuatu yang tidak baik.


"Paman, Paman, boleh tidak aku pulang?" tanya Diana.


"Memangnya kenapa?" tanya Paman Samsul.


"Aku lapar, aku mau makan." jawab Diana sambil wajahnya sudah terlihat lesu.


"Sama, aku juga lapar." jawab Paman Samsul yang kemudian mengajak Diana keluar dari dalam rumah sakit, menuju kantin yang ada di rumah sakit.


"Oh ya, nanti Saat kamu pulang jangan pulang dulu. nanti Paman Samsul yang akan mengantarkanmu pulang dan akan menceritakan semua kejadian ini kepada bibi mu." ucap Paman Samsul sambil menatap wajah Diana.

__ADS_1


"Bahkan itu lebih bagus, Paman. soalnya Bibi tidak akan marah padaku." jawab Diana sembari memakan makanan yang telah diberikan oleh Paman Samsul.


Sesaat kemudian nampak Diana telah melihat media sosialnya.


"Kamu sedang melihat apa?" tanya Paman Samsul.


"Ini aku tadi memotret wajah pria ini dan kumasukkan ke dalam media sosial. mungkin dengan begitu keluarganya akan tahu, paman." Diana berbicara sambil memakan makanan yang ada di meja. terlihat wanita itu sangat kelaparan karena tadi pagi belum sempat makan.


"Otakmu pintar juga." ucap Paman Samsul sembari meminum kopi yang ada di meja.


"Kalau aku tidak pintar, Paman. mana mungkin aku sekolah." jawab Diana.


Tak lama kemudian, akhirnya Diana dan Paman Samsul kembali keruangan tersebut. terlihat jelas di luar ruangan itu ada 2 pria berpakaian hitam.Diana dan Paman Samsul nampak terkejut.


"Siapa mereka?" tanya Paman Samsul.


"Mana ku tahu, Paman." jawab Diana.


"Lalu, ngapain 2 pria itu ada di luar?" Paman Samsul nampak menatap dua pria berpakaian hitam itu. Tak lama kemudian langkah kaki Diana semakin maju karena Paman Samsul mendorong tubuh gadis SMA itu.


"Paman sudah tua, tidak mungkin ada di depan." jawab Paman Samsul.


"Kalau yang benar itu, Paman. yang tua ada di depan, yang mudah di belakang." ucap Diana sambil mencibir.


"Itu slogan kuno, slogan baru adalah yang mudah di depan yang tua di belakang." jawab Paman Samsul yang terlihat sangat ngeyel.


Nampak 2 pria yang telah menatap Andesti dan Paman Samsul yang hendak keruangan tersebut, nampak mereka berdua langsung menghentikan Diana dan Paman Samsul.


"Kalian mau apa?!" seru dua pengawal tersebut.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu?!" seru Diana sambil berkacak pinggang di depan 2 pria tersebut. nampak dua pengawal itu saling menatap satu sama lain.


"Kalian tidak boleh masuk!" seru dua pengawal tersebut.


"Kalian ini tidak punya mata apa, aku harus melihat pria itu sudah bangun atau tidak. karena aku harus pulang setelah menolong dia!" seru Diana yang kemudian menyingkirkan 2 pengawal tersebut.

__ADS_1


Nampak Paman Samsul begitu melongo saat melihat gadis SMA itu dengan mudahnya menyingkirkan dua pengawal yang ada di depan pintu, sedangkan Paman Samsul nampak pria itu tidak berani untuk masuk karena dia takut dua pria besar yang ada di depan pintu itu menghajarnya.


Saat Andesti berada di dalam ruangan itu, terlihat jelas disana ada seorang pria yang sedang berada di dekat pria yang dia tolong.


"Kau siapa?" tanya seorang pria yang sudah berada di samping seorang pria yang ditolong oleh Diana.


"Om ini siapa?" tanya Diana kepada pria yang berdiri di samping pria yang ditolong, nampak pria itu sedikit tersentak hatinya saat dipanggil oleh seorang wanita dengan panggilan Om.


"Apakah kau yang menolong pria ini?" tanya pria itu kepada Diana. Diana menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian nampak pria itu menatap pakaian Diana yang masih seragam sekolah.


"Kau masih sekolah?" tanya pria itu.


Diana menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian Diana mendekati pria itu sambil tersenyum manis.


"Om ini teman Om itu ya!" tanya Diana. nampak pria itu menghela nafasnya kembali saat dipanggil gadis muda yang ada di depannya dengan sebutan Om.


"Iya." jawab pria itu.


"Baiklah kalau begitu itu, saya harus berpamitan ya, Om. karena aku sudah menunggu teman Om Ini dari tadi pagi, aku harus kembali agar bibiku tidak mencari ku." ucap Diana yang kemudian mengambil tasnya dan langsung keluar dari rumah sakit.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Mantan terindah


- Dewa perang dan Ratu sihir


- Permaisuri sang kaisar


- pembalasan dendam Dahlia


- Permaisuri kesayangan kaisar


- my little wife

__ADS_1


- Janji di bawah rembulan


__ADS_2