
Setelah mereka duduk di taman kris dan alecia melanjutkan perjalanan ke supermarket tengah kota, selama perjalanan kris dan alecia hanya diam tanpa ada yang ingin membuka topik obrolan hingga sampai di sebuah supermarket mereka turun lalu masuk ke dalam.
Kris mengambil troli "Jika ada yang ingin kau ambil maka beli lah kali ini biarkan kakak yang traktir." sanggah kris.
"Aku hanya ingin membeli coklat, snack dan es cream rasa strawberry ka." ucap cia kepada kris.
"Baiklah, ayok kita cari." kris berjalan di belakang cia memperhatikan gadis itu memilih beberapa cemilan hingga ada troli yang menabrak kris dari belakang.
"Ck, sial." ujar kris yang tentunya kaget karna merasa badannya di tabrak troli dari belakang dan langsung berbalik untuk melihatnya dengan penuh amarah.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja trolinya gak ada remnya." kata seorang wanita itu dengan santai tanpa rasa takut dengan wajah amarah kris.
"Kau pikir itu mobil yang ada rem, kau sangat pintar mencari alasan nona." ucap kris yang mengepalkan tangannya.
"Haiss, sudahlah tuan saya juga sudah minta maaf dan tidak sengaja kenapa harus marah begitu sih. Dasar pria emosional." ujarnya langsung pergi begitu saja.
"Sudahlah kak kris, ayok temani cia cari es cream." ajak cia yang langsung menggandeng kris supaya tidak buat suasana makin keruh.
Sedangkan di tempat buah, perempuan tadi langsung samperin mami nya yang lagi sibuk cari buah apel.
"Dari mana tadi, mami cariin kamu malah ngilang." kata maminya yang masih sibuk memilih buah.
"Aku tadi lagi cari wafer mam terus gak sengaja nabrak orang eh orangnya malah marah-marah gak jelas." ucapnya sedikit ketus mengingat hal barusan yang terjadi.
Sang mami menepuk jidatnya "Astaga vevi, jelas saja orang itu marah kepadamu nak karna kamu memang salah sudah menabraknya." menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya itu.
Wanita yang menabrak kris adalah vevi gadis tomboy yang memiliki sifat jahil dan tidak takut kepada siapapun kecuali orang tuanya dan sahabatnya.
"Aku sudah meminta maaf dan urusan sudah selesai kok mam." katanya santai.
...
...
__ADS_1
Malam semakin larut setelah mengantar alecia pulang ke mansion dan berpamitan kepada tuan besarnya, kris langsung menuju ke arah markas dengan perasaan yang tidak menentu ada rasa sedih, kesal, marah bahkan benci kepada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk memperjuangkan hatinya. Setelah sampai di markas, di sana ada dicky dan juga tristan yang sedang asik main kartu domino sambil minum. Kris langsung duduk dan menyambar minuman yang ada di meja itu. Tristan yang memang jarang ke markas karna kesibukannya di rumah sakit sebagai dokter melirik ke arah dicky untuk meminta jawaban atas sikap kristian yang menurutnya tidak biasa itu sedangkan dicky yang di kasih kode oleh tristan hanya mengangkat bahunya saja tanda bahwa dia tidak tahu apapun.
"Hey bung, kau kenapa tumben wajahmu kusut begitu?" tanya tristan langsung.
Kris hanya meminum saja secara terus menerus tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya karna hatinya bener-bener sedang kalut.
Dicky menghela nafas "Apa ini berhubungan dengannya sampai kau jadi seperti ini?". pertanyaan dicky yang sukses menghentikan kris minum dan langsung menoleh ke arahnya karna dicky memang tahu tentang perasaan kris terhadap gadis yang dicintai sahabatnya.
Tanpa menjawab pertanyaan itu kris langsung bangkit dari sofa menuju ke arah kamarnya yang ada di markas. Setelah kepergian kris, tristan mulai bertanya kepada dicky.
"Apa yang kau maksud, apakah ada yang disukai olehnya?" tanya tristan yang penasaran dengan pertanyaan dicky barusan kepada kristian.
"Aku tidak tahu apapun hanya menebak saja." jawab dicky acuh yang memang tidak ingin yang lain tahu soal siapa gadis yang di sukai sahabatnya karna baginya itu urusan kris biarlah kris sendiri yang memberi tahu nantinya.
"Ck, sepertinya selama aku tidak kesini banyak sekali yang tidak ku ketahui. Lalu dimana musa kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga ke markas apa dia sedang di bar bersama gadis-gadis murahan di sana?"
"Maybe, sudahlah bro kita lanjutkan saja permainan ini urusan yang lain biarkanlah mereka mengurusi masalah pribadi mereka sendiri." ucap dicky yang memang tidak ingin ikut campur masalah pribadi teman-temannya.
Hari sudah berganti matahari sudah terbit, dewi yang sudah di perjalanan menuju apartemen bos barunya sudah tahu arah mana apartemen tersebut. Setelah sampai ia langsung cepat-cepat menuju lantai atas untuk masuk ke arah apartemen itu. Sesampainya di sana ia sudah berganti pakaian pelayan seperti sebelumnya dan mulai bekerja membersihkan apartemen itu meski menurutnya apartemen itu sudah bersih namun ia tetap bekerja sampai suara telepon disana mengejutkan dirinya.
📞 "Hallo, selamat pagi." katanya setelah mengangkat telepon tersebut.
📞 "Bersihkan ulang dapurnya, aku melihat dapur itu masih kotor." ucap pria di balik telepon tersebut.
📞 "Hah? Apa maksudnya?" ujar dewi yang bingung karna tiba-tiba ada yang menelepon malah menyuruh dirinya membersihkan dapur.
📞 "Apa kau tuli HAH!!" bentak pria tersebut. "Cepat kau bersihkan ulang dapurnya atau hukuman mu akan ditambah satu bulan." dengan suara yang tinggi dari dalam telpon itu.
Dewi baru sadar bahwa yang menelepon dirinya pastilah pria kejam itu karna siapa lagi yang tahu tentang hukuman tersebut, dengan cepat dewi mematikan telepon itu begitu saja dan langsung menuju dapur sedangkan di seberang sana ada pria yang emosi karna teleponnya di tutup begitu saja.
"Sialan, wanita sialan beraninya dia mematikan telepon ku.!! Tunggu aku pulang dan kau akan ku beri pelajaran." ujarnya mengepalkan tangannya yang tidak terima telepon darinya di matikan begitu saja.
Sedangkan di dapur dewi masih sibuk membersihkan dapur tersebut meski tidak tahu dimana letak kotornya dan dia juga bingung bagaimana bisa pria kejam itu tahu sedetail itu kalau dapur masih kotor padahal yang dilihatnya dapur itu sudah bersih.
__ADS_1
"Hufft, kenapa pria itu tiba-tiba harus telepon sih dan kok bisa dia tahu kalau dapur masih kotor memang dia bisa melihatnya padahal jelas-jelas ini sudah bersih, apa dia mengerjaiku? Ck, menyebalkan." gerutu nya mengingat reza yang di panggilnya pria kejam.
Dewi lupa bahwa Reza bisa melihat semua aktivitas nya dari cctv apartemen yang terhubung dengan handphone nya, dan memang dapur itu sudah bersih akan tetapi bos mafia itu memang begitulah sifatnya suka menindas orang yang menurutnya sangat menyenangkan.
Jam sudah menunjukkan siang hari, dewi yang memang perutnya sudah lapar bingung mau makan apa sedangkan di kulkas tidak ada bahan makanan apapun karna reza memang gak pernah makan di apartemen apalagi di mansion pribadinya, dia lebih sering makan di luar.
"Duh, laper banget dan tadi memang gak sempat sarapan karna buru-buru.!! Apakah di sini enggak ada satupun makanan ya?" ujar dewi yang mulai mencari bahan makanan namun tidak ada satupun yang bisa dia makan sampe akhirnya dia menemukan mie instan di dalam lemari dapur tersisa 2 bungkus, jika ditanya kenapa ada mie jawaban nya itu punya jack yang memang sengaja dia simpan untuk sewaktu-waktu kalau dia lagi di apartemen bosnya.
"Makan ini sajalah dari pada gak makan siang sama sekali." ucap dewi yang mulai memasak mie tersebut hingga matang dan mulai memakannya. Lalu telepon berbunyi lagi di saat dewi sudah selesai makan mie tersebut.
"Pasti dia lagi yang telepon, karna gak mungkin orang lain kan ini apartemennya." kata dewi yang menuju ke arah telepon berdering.
📞 "Hallo, selamat siang."
📞 "Bagus, kau sudah berani memakai alat masak rumah ku tanpa seizin dari ku bahkan kau juga sudah memakan makanan yang ada di rumahku." ucap reza dengan suara dinginnya.
📞 "Maaf tuan, saya lapar belum makan siang dan gak mungkin saya keluar untuk cari makan di bawah karna saya takut dibilang kabur, maafkan saya tuan."
📞 "Buang alat masak dan piring yang sudah kau gunakan barusan, aku tidak sudi menggunakan barang sisa bekas orang lain apalagi seorang pelayan sepertimu." ujar reza ketus
Deg
Apakah sehina ini diriku sampai barang yang bekas diriku di suruh nya untuk di buang. bathin dewi terasa terhina.
📞 "Baik tuan, maafkan saya sudah memakai barang tuan tanpa izin dari tuan, maafkan saya tuan."
📞 "Hm, dan jangan sekali lagi kau buat kesalahan atau kau akan tahu akibatnya. Ingat kau selalu aku pantau dari CCTV jadi berhati-hatilah dalam bertindak." ujarnya langsung mematikan telepon itu.
Kuatkan aku tuhan, semoga ini cepat berlalu. dalam hati dewi menjerit merasakan sakit.
...----------------...
See you next episode :)
__ADS_1