
Tidak lama kemudian Tristan datang bersama asistennya ke kediaman Reza untuk memeriksakan penyakit Reza atas info yang dia dapat dari Kepala Pelayan yang tak lain adalah Mr.Bobby.
"Dimana tuanmu?" tanya tristan dengan ekspresi serius kepada Mr.Bobby.
"Tuan Reza berada di kamarnya Tuan Tristan." jawabnya. Lalu tristan segera naik ke atas untuk menemui reza.
Sesampainya di dalam kamar sang pemilik kamar yaitu Reza tengah berada di balik selimut menutupi tubuhnya yang timbul ruam merah akibat alergi yang di deritanya.
"Cepat kau periksa, aku sudah tidak tahan merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhku." ucap reza yang tahu siapa yang datang ke kamarnya.
Tristan yang mendengar ucapan reza langsung segera mengambil suntikan pereda alergi yang obatnya memang khusus untuk menyembuhkan dirinya "Ck, kau sakit saja masih bisa berteriak. Ya baiklah." katanya.
Setelah selesai menyuntikkan obat itu reza sudah mulai tenang dan memejamkan matanya, tristan dan asistennya segera pergi keluar untuk menemui Mr.Bobby mempertanyakan masalah tersebut.
Mr. Bobby yang sudah menunggu di bawah anak tangga segera menghampiri Tristan "Tuan, bagaimana keadaan tuan muda?." tanya bobby cemas.
"Dia sudah kuberikan obatnya jadi sudah aman, bagaimana tuan mu bisa kambuh alerginya bukankah kau paling tahu dia memiliki alergi terhadap apa, jika tuan besar tahu maka habislah kau Mr.Bobby." ujar tristan sengaja menakuti kepala pelayan itu.
Mr.Bobby yang mendengar nama Tuan Besar disebut sudah pasti panik karna dia sangat mengenal amarah tuan besarnya yang memang sedari dulu dia sudah lama mengikuti tuan besarnya sebelum dipindahkan ke mansion Sang Pewaris dari Tuan Besar Kenric.
"Tolong tuan jangan bilang Tuan Besar atapun Nyonya, saya lebih takut dengan Tuan Besar daripada Tuan Muda, ini juga bukan kesalahan saya sepenuhnya karna ada pelayan baru yang di tugaskan Tuan Reza untuk mengatur segala keperluannya dan dialah yang menambahkan resep makanan tanpa sepengetahuan saya." ucap Mr.Bobby
Tristan menaikkan alisnya bingung dengan perkataan Mr.Bobby bahwa ada pelayan baru di mansion itu "Pelayan baru? Sejak kapan ada pelayan baru dan kenapa ketua langsung memperkerjakan orang baru untuk mengatur semua keperluannya bukankah itu lebih berbahaya jika pelayan tersebut kasih racun kepadanya?." tanya tristan kepadanya.
"Maaf tuan, kalau tentang itu saya juga tidak tahu karna pelayan itu dibawa Tuan muda langsung ke sini untuk bekerja selama 5 bulan kedepan." jawab Mr.Bobby.
"Aku yakin jika tuanmu sedang menghukum seseorang dan bisa jadi pelayan baru itu adalah mainannya." jawab tristan yang memang sudah sangat hafal dengan watak reza.
"Baiklah Mr.Bobby saya pamit pergi ke rumah sakit lagi, tenang saja rahasia aman terkendali dari Tuan Besar. Tuanmu akan bangun 2 jam lagi karna efek obat biusnya hanya 2 jam saja jadi pastikan dia meminum obatnya dan hindari makanan yang membuat dirinya kambuh dari alergi itu." ucap tristan lalu pamit pergi dari mansion reza.
...
__ADS_1
Malam telah tiba, reza yang sudah bangun sedari tadi sudah segar kembali dan ruam merah di seluruh tubuhnya juga sudah sedikit membaik meski dirinya masih terbilang demam namun bukanlah reza jika sakit harus istirahat dirinya malah lebih menyukai beraktivitas seperti sekarang ini dia sedang berada di tempat gym yang berada di lantai atas mansion sedang berolahraga untuk mengurangi rasa lemah di badannya efek obat dan sakitnya.
Reza menekan sebuah tombol lalu berbicara "Mr. Bobby, panggil pelayan baru itu untuk membawakan ku jus orange ke sini sekarang juga." ujarnya.
Mr.Bobby segera memberitahukan kepada Dewi sedangkan Dewi yang dapat perintah langsung segera pergi karna dia tahu jika dia telat akan mendapatkan hukuman lagi.
Saat dewi telah sampai tepat di depan ruangan gym, Reza langsung menyuruhnya masuk dengan lambaikan tangan menyuruhnya mendekat. Dewi yang melihat langsung tubuh laki-laki lawan jenisnya jujur saja dia terpesona apalagi dengan keringat yang mengalir di tubuh reza membuatnya tidak bisa berpaling hingga dewi tersadar lalu menundukkan kepalanya.
"Kau, karna kau aku harus menderita ingat hukumanmu belum selesai jadi kemarilah." ucap reza tersenyum devil.
Dewi yang tetap menundukkan kepalanya mencoba mendekat meski dihatinya terasa takut kepada Reza si muka dingin.
"Taruh jus itu di meja sana lalu kau tunggu aku hingga selesai nanti hukuman mu ada di lapangan sedang menantikan dirimu." katanya kepada dewi.
"Ba-baik tuan." jawab dewi yang sudah merasakan kecemasan.
Sekitar 10 menitan Reza telah selesai olahraga lalu dia menyuruh dewi untuk mengikuti dirinya hingga telah sampai di lapangan belakang mansion, di sana sudah banyak beberapa bodyguard berbaju hitam berbaris seperti menunggu dirinya datang.
"Hm, bagus. Ambilkan senjataku dan siapkan tali untuk mengikatnya." ucap reza dengan wajah dinginnya dan dewi yang mendengar hal itu seketika langsung melihat ke arah Reza.
"Kenapa dengan matamu, kau berani menantangku, heh." ujar reza yang tidak suka melihat mata dewi membesar padahal dewi seperti itu karna kaget dengan instruksi reza kepada bawahannya.
"Ti-tidak tuan, sa-saya hanya ka-kaget kenapa tuan ingin mengikat sa-saya dengan tali?". jawabannya.
Reza langsung tersenyum devil yang sebagian orang sudah paham dengan tatapan dan senyuman itu. "Kau akan tahu nanti jenis hukuman apa yang akan kau terima atas kesalahan mu tadi pagi." kata reza dengan aura seriusnya.
Dewi yang lagi dan lagi mendengar kata hukuman cuma bisa pasrah karna memang dia salah sudah menambahkan resep makanan tanpa bilang ke Mr.Bobby.
Bodyguard yang di suruh reza untuk mengambil senjata dan tali telah datang "Ikat dia di pohon itu dengan tangan dan kaki terbuka." perintah reza kepada bodyguardnya.
"Baik ketua." jawabannya yang langsung menghampiri dewi.
__ADS_1
"Ja-jangan mendekat, tuan tolong ampuni saya tuan." jeritan dewi namun di anggap angin lalu oleh Reza.
Saat dewi sudah di ikat sesuai perintah Reza lalu ia mulai membidik senjatanya.
"Jika kau ingin selamat, maka jangan banyak bergerak karna bisa saja tembakan ku meleset dan langsung mengenai kepala atau jantungmu." ujar reza yang mampu membuat dewi terdiam tidak berontak lagi namun airmata sudah mengalir deras di pipinya.
"Ini hukuman mu yang sudah berani mempunyai ide dengan menambahkan resep dari resep Mr.Bobby, aku akan membidik tepat di atas kepalamu jika kau bergerak maka kepalamu lah yang menjadi sasaran ku." ucapnya dan dewi hanya bisa menangis terdiam.
DOR
"Hoho, ternyata kau penurut juga dan kepalamu masih aman, kini giliran tangan mu yang sudah lancang menunjukkan jarimu dan bilang bahwa aku tidak memiliki attitude, ingat jangan bergerak jika tidak mau tangan mu bolong oleh senjataku, Bersiaplah."
DOR
"Ck, tidak seru ternyata kau sepenakut itu dengan nyawamu. Ambilkan aku buah apel dan suruh dia menggigit apel itu dengan mulutnya." kesal reza yang menurutnya tidak seru karna dewi benar-benar diam tidak bergerak walau airmata terus mengalir di wajahnya.
Kepala bodyguard itu segera mengambil buah apel atas perintah ketuanya. Yang lainnya cuma bisa menonton hal itu karna menurut mereka Sang Ketua memang selalu suka bermain-main jika menghukum pelayan di mansion itu.
Tidak lama apel yang di bawakan bodyguard itu datang dan langsung menyuruh dewi untuk menggigit apel itu, dewi yang tadinya menolak tidak mau melihat aura kemarahan dari reza tidak berani dan langsung menurut.
"Jika apel yang kau gigit sampai terjatuh maka pisau belati kesayangan ku yang akan menancap di bibir dan lidahmu, jadi semua tergantung kepadamu." ujar reza dengan wajah khas dinginnya.
Dewi sudah pasrah jika memang dia harus terluka ataupun mati karna baginya hidup pun dia sudah tidak sanggup lagi. Saat dewi melihat pisau akan mendekat dia memejamkan matanya.
Sreeeetttt...
...----------------...
Next Episode ..
__ADS_1