
Malam semakin larut Reza dan beberapa anak buahnya sudah dalam perjalanan untuk melakukan misi balas dendam sebagai hadiah kecil untuk musuhnya yang beberapa kali sudah meneror Red Dragon khususnya kepada dirinya dengan cara ingin menculik adik kesayangannya itu.
"Ryan, ledakan sekarang juga markasnya yang berisikan semua senjata andalannya itu." perintah sang ketua yang di anggukin oleh ryan. Ryan segera menyalakan komputer pintarnya lalu menekan enter. Dalam hitungan detik markas itu meledak dan terlihat dari cctv komputer laptopnya yang ia pasang saat memasang bom rakitannya bersama anak buahnya kala itu.
"Markasnya sudah meledak ketua, lihatlah ketua." ujar ryan yang memberikan informasi kepada ketuanya yang berada di kursi belakang.
Reza mengambil laptop itu lalu senyum menyeringai menghiasi wajahnya "Bagus, aku yakin mereka pasti sudah mendapatkan informasi ledakan ini dan kita segera ke sana." ucapnya senyuman aneh namun sorot mata yang tajam. Ryan dan Jack yang melihat ketua mereka dari spion depan bergidik ngeri.
Kali ini malaikat maut akan datang. ucap jack dan ryan dalam hati.
Mereka masih fokus melanjutkan perjalanan menuju markas utama, sedangkan di lain tempat khususnya di markas utama sang bos yang disebut oleh anak buahnya itu sedang ngamuk dan marah besar kepada anak buahnya setelah mendapatkan informasi jika tempat persenjataan elit mereka telah hangus dilahap api karna telah di ledakkan oleh bom yang begitu dahsyat.
"Sialan, brengsek !!! Siapa yang sudah berani-beraninya meledakkan markas ku.!!" sorot mata yang tajam dan aura yang menyeramkan mampu membuat semua anak buahnya bergidik ngeri tidak ada yang berani menjawab satupun. "Cepat cari tahu siapa dalang dari ledakan tersebut jika aku tahu siapa orangnya akan ku habisi dia dengan tanganku sendiri." ujarnya mengepalkan tangan dengan geram dan memerintahkan anak buahnya.
"Baik bos." ucap anak buahnya yang langsung pergi untuk mencari bukti dalang semuanya.
Tidak lama kemudian beberapa anak buahnya berlari masuk ke dalam ruangan bosnya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" jawab asisten bosnya yang tak lain adalah tangan kanan bos mafia Tiger Black.
"Di depan ada rombongan gangster memasuki wilayah kita tuan dan anak buah kita yang berjaga di depan sudah melalukan aksi penjagaan, sepertinya kita tengah di serang saat ini ada baiknya kita menyiapkan diri tuan." ujar anak buahnya, ia yang mendengar langsung menghampiri bosnya untuk memberikan informasi tersebut.
"Brengsek!! Siapa yang berani melakukan penyerangan di wilayah ku, apa kau tahu gangster mana?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak tahu bos, sebaiknya kita segera menyiapkan diri dengan persenjataan yang ada karna markas kita yang satunya sudah meledak dan hangus."
"Sialan, sepertinya mereka sudah menyiapkan ini semua dengan matang tanpa sepengetahuan kita.!! Akan aku habisi mereka semuanya." geramnya yang ingin langsung keluar.
"Bos, lebih baik bos bersembunyi di ruangan bawah karna persenjataan kita tidak lengkap bagaimanapun aku yakin ini jebakan jadi lebih baik bos menyelamatkan diri biar aku yang menghadapi mereka."
Rendy yang mendapatkan jawaban seperti itu tidak terima karna di anggap tidak bisa melakukan apapun, ia langsung mencekik leher anak buah kepercayaannya itu. "Apa maksudmu hah? Kau pikir aku takut untuk menghadapi mereka, ingat akulah bos di sini bos dari Mafia Tiger Black." katanya dengan sorot mata yang tajam.
"A-aku tahu bos, tapi situasinya lagi tidak memungkinkan untuk bos ikut berperang sa-saat ini karna persenjataan kita tidak lengkap, bagaimana pun juga a-aku yakin ini jebakan!!" ujarnya tertatih karna dicekik begitu kuat. Rendy yang mendengar anak buahnya berbicara lalu melepaskan cekikikan nya itu karna ia selalu percaya dengan ucapan anak buahnya dan mungkin saja ini memang jebakan jika ia sampai terluka maka balas dendam keluarganya tidak akan tercapai.
"Baiklah, segera informasikan kepadaku siapa yang berani menyerang markas kita dan aku tunggu kau di bawah jadi berhati-hatilah." katanya kepada anak buah kepercayaannya itu dan anak buahnya hanya mengangguk saja.
Sementara di luar sedang terjadi peperangan yang sengit antara Red Dragon dan Tiger Black, Reza memang hanya membawa sedikit anah buah namun mereka bukanlah anak buah sembarangan karna mereka bener-bener terlatih dan mereka sudah menjadi pilihan yang terbaik dalam anggota mafianya yang berada di negara B ini.
"Ketua benar, ini tidak seberapa dengan anggota kita yang memang terlatih secara fisik." ucap jack yang juga sibuk melalukan penyerangan dengan pisau belati kecilnya itu dengan beberapa teknik beladirinya. Sedangkan ryan dan anak buah lainnya melakukan penyerangan dengan cara menembak karna daritadi musuhnya terus berdatangan tanpa henti.
"Jack kau urus yang disini dengan yang lain, aku akan masuk sendiri ke dalam mencari mereka yang sudah bermain-main denganku." ujarnya mulai menuju ke area dalam sambil terus melakukan penyerangan dengan melayangkan pedangnya ke arah lawan.
Saat sampai di dalam reza tidak menemukan siapapun di sana dan ia mulai kesal karna sudah tidak sabar ingin membunuh musuhnya namun yang dicari malah tidak ada.
"Brengsek, ternyata mereka sudah melarikan diri dari sini." ucapnya emosi dengan darah yang mendidih, saat reza ingin memasuki ruangan tiba-tiba anak panah mengarah ke arah dirinya. Ia yang memiliki indra pendengaran dan ketajaman mata yang begitu kuat langsung dengan sigap menghindar karna bunyi suara lesakan anak panah tersebut sudah mampu terbaca oleh dirinya.
"Siapa kau? Ck, sialan beraninya main petak umpet denganku!!" katanya yang mulai menajamkan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar secara hati-hati.
__ADS_1
"Brengsek, keluar kau sekarang juga!! Dasar pengecut." teriaknya dengan kuat namun bukan jawaban lagi yang ia dapat melainkan beberapa anak panah mulai mengarah ke arah dirinya dari berbagai sudut jendela yang ada di ruangan itu.
"ssttt, sialan!! Keluar kau pengecut dasar sampah." ujarnya yang terkena goresan anak panah di lengannya.
Jack dan Ryan yang sudah menyelesaikan di area depan segera menghampiri ketua mereka, saat sampai di sana jack melihat lengan ketuanya berdarah.
"Ketua, lenganmu berdarah? Apa kau tidak apa-apa?" ucap jack yang sedikit khawatir karna bagaimanapun ketuanya adalah orang yang harus ia jaga dengan nyawanya tak lain dari itu ketuanya juga termasuk sodara angkatnya sendiri.
"Apa kau khawatir jack? Ck, bahkan luka kecil begini tidak akan membuat ku mati jack."
"Aku tahu, tapi sepertinya badan ketua'lah yang tidak baik-baik saja jadi mari kita pergi dari sini karna semua sudah beres." ajaknya untuk segera pergi.
"Senior jack, sepertinya ketua terkena racun!! Lihatlah lengan ketua yang tergores itu mulai membiru." bisik ryan kepada jack. Jack yang mendapatkan bisikan dari ryan langsung mendekat untuk melihat lengan ketuanya dan benar saja itu racun.
"Ketua, mari kita pergi sekarang dan jangan membantah ucapan ku lagi." ucap jack yang langsung memapah reza sedangkan reza memang sudah mulai lemas jadi hanya mengikuti jack saja bahkan ia tidak tahu kalau panah tersebut beracun.
"Ryan, bawa ketua ke apartemennya yang ada disini dan aku akan langsung menghubungi anak buah kita yang tahu soal racun ini untuk segera memberikan obat penawarnya." perintah jack dan mereka semua segera pergi dari sana.
Sedangkan di atap markas yang jauh dari area lokasi penyerangan dengan lampu yang gelap dan tidak kelihatan itu ada seorang pria yang tersenyum lebar ia segara memberikan informasi kepada bosnya.
"Bos, penyerangan itu ternyata dilakukan oleh Red Dragon dan aku berhasil melukai ketua mereka dengan racun panahku, keluarlah bos penyerangan telah usai kita harus segera pergi dari sini dan menghilang sementara waktu." katanya lalu menutup telepon tersebut.
Bos, selama masih ada aku disisimu aku akan selalu setia dan menemanimu untuk membalaskan dendam keluargamu, semua aku lakukan untuk membalas budimu bos. Ujarnya dalam hati.
__ADS_1
...----------------...