
Dewi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera menuju ke dapur.
"Akhirnya kerjaan ku lancar hari ini, tapi kejam itu kan ada di rumah apakah aku harus memasak untuknya? Tapi aku gak berani untuk bilang kepadanya namun kalau aku tidak bilang dan dia tiba-tiba kelaparan cari makan pasti aku di salahkan lagi, oh tuhan aku harus bagaimana?". ujarnya dilanda kebingungan.
Tiba-tiba suara bel berbunyi dari luar.
Ting.Tong..
"Siapa yang datang ya? Apakah tuan asisten itu yang datang? Lebih baik langsung aku buka saja deh."
Saat pintu terbuka, sosok pria tampan berjas putih dokter melihat ke arah dewi begitupun sebaliknya dewi juga melihat ke arah pria tersebut.
Pria itu tertegun melihat paras cantik yang teduh dari seorang wanita di depannya "*s*iapa wanita ini, sungguh cantik bahkan matanya sangatlah Indah" ujarnya dalam hati.
"Maaf, bapak dokter cari siapa ya? Seingat saya, saya tidak memanggil dokter apakah tuan bos yang memanggil bapak dokter ke sini?". tanya dewi kepada pria berjas dokter tersebut.
Pria tersebut adalah Tristan salah satu anggota mafia yang bertugas sebagai dokter mereka. Tristan yang mendapatkan pertanyaan dari gadis tersebut tersenyum "Ya benar, bos itu yang memanggil saya untuk ke sini. Apakah dia ada di dalam kamarnya nona?".
"Benar bapak dokter, tuan saya berada di dalam kamarnya. Mari tuan silahkan masuk."
"Terimakasih nona, dan kalau bisa jangan panggil saya bapak dokter karna saya belum menikah dan punya anak panggil saja dokter Tristan." perintahnya kepada dewi yang kurang suka dengan panggilan bapak dokter.
"Baiklah dokter tristan, maaf dokter kalau boleh tahu dokter mau minum apa biar saya siapkan."
"Teh hangat saja dan pastikan tidak terlalu manis nona, baiklah saya naik ke atas dulu." saat hendak pamit dewi pun memanggilnya lagi.
__ADS_1
"Maaf dokter, saya mau minta tolong sama dokter, bolehkah dokter sekalian bertanya sama tuan bos beliau mau makan apa biar saya masakkin karna saya tidak berani mengganggu nya." kata dewi sambil menundukkan kepalanya.
Tristan yang tahu betul sifat ketuanya pun mengerti "Baiklah nona, saya permisi."
Ceklek
"Berani sekali kau masuk kedalam kamar ku, kau ingin mati ya?" jawab reza di dalam selimutnya yang tidak tahu siapa orang tersebut yang memasuki kamarnya.
"Ck, ini aku ketua." ujar Tristan sambil melihat sekeliling kamar ketuanya itu yang tidak pernah berubah sama sekali.
"Kau!! Ck, kau telat sekali datangnya siap-siap lah rumah sakitmu ku ledakkan." kata reza yang sudah mulai duduk di pinggir kasurnya.
"Ya.ya terserah kau saja, lebih baik segera aku periksa sakit apa dirimu ini sehingga keliatan sekali lemahnya."
"Kau mau mati ya? Kau dan jack sama saja jika di luar markas kalian bener-bener menyebalkan." ujarnya kesal
Tristan segera mengecek keadaan Reza, sedangkan di bawah dewi merasa khawatir akan kondisi tuannya.
"Apakah karna pukulan ku tadi maka tuan kejam harus sampai di periksa seperti itu? Aku harus ngapain sekarang, aku gak mungkin diam saja seperti ini bagaimana pun ini adalah kesalahan ku." katanya gelisah.
Tristan yang sudah mengecek keadaan Reza mulai bertanya sesuatu kepadanya.
"Kau harus kurangin minuman alkohol mu itu, mau sampai kapan kau meminum dalam dosis alkohol yang tinggi seperti itu secara terus menerus, apakah kau belum bisa melupakan dia hingga harus seperti ini terus? Ingatlah dia tidak pernah mencintai mu karna sejak kecil dia mencintai pria lain yang kau sendiri tahu siapa pria tersebut meski pria itu tidak tahu dan lagian dia memilih pergi darimu karna merasa terpaksa dan tertekan bila berada di dekatmu karna orang yang dia cintai bukan kau, sadarlah mau sampai kapan seperti ini terus bahkan aku dan jack sudah berusaha mencari nya namun kenyataannya dia tidak pernah ditemukan seperti bersembunyi untuk tidak kau temukan." ujar tristan yang tahu semua cerita tentang mereka bertiga karna tristan juga termasuk salah satu sahabat mereka hanya saja waktu itu dia sempat pindah keluar negeri dan akhirnya kembali lagi saat sudah remaja untuk membantu mengembangkan rumah sakit milik keluarganya yang berada di sini.
"Ck, aku tahu dia tidak pernah mencintai ku bahkan saat dia mencoba menjalin hubungan denganku, aku pun tahu dia terpaksa dan merasa tertekan tapi aku gak perduli karna aku memang sangat mencintai dirinya jadi semua butuh waktu untuk melupakan dirinya." ucapnya sambil memandangi sebuah foto seorang wanita yang sedang tersenyum.
__ADS_1
"Waktu? Bahkan ini sudah bertahun-tahun sejak kelulusan kuliah kita di beberapa waktu lalu, jadi apa lagi yang kau tunggu lupakan lah dia masih banyak wanita lain, cobalah perlahan untuk dekat dengan wanita lain."
"Ck, kau buat kepala ku semakin sakit. Sudahlah kau pulang saja sana." usirnya.
"Hey, enak saja kau mengusir ku. Aku bahkan belum minum teh hangat buatan pelayan manismua itu, oh ya kau mau makan apa karna pelayan mu ingin masak makan siang." ucapnya
Reza yang mendengar ucapan tristan tiba-tiba merasa tidak enak hatinya. "Apa kau bilang, Pelayan manis?? Ck, manis apaan mukanya sungguh bodoh dan kumel, kau sudah buta? Bilang padanya aku ingin makan salad saja dan ingat jangan banyak mayones karna aku tidak suka."
"Apa salad? Hey, kau harus makan siang yang benar lalu minum obat, kau tidak boleh makan itu dan aku yang akan rekomendasi kan makan siang yang sehat untukmu." katanya kepada ketuanya.
"Kalau bagitu ngapain kau bertanya kepadaku, sana keluar lah kalau sudah selesai panggil aku." ujarnya langsung masuk kedalam selimut.
"Ck, ketua menyebalkan." langsung melangkah pergi untuk turun ke lantai bawah.
Dewi yang melihat Dokter Tristan turun langsung menghampiri nya.
"Dokter, apakah tuan sakit parah? Apakah sakitnya di bagian kepala? Lalu bagaimana keadaan tuan dokter?". banyak pertanyaan yang dewi lontarkan karna memang sedari tadi dia sangatlah gelisah memikirkan itu semua
Tristan yang mendengar semua pertanyaan dewi hanya tersenyum tipis. "Tuan mu hanya pusing saja karna banyak kerjaan di kantor yang membuat kondisinya drop jadi sakitnya tidaklah parah seperti yang kau khawatirkan, dan untuk makan siang ini bisakah kau membuat makanan yang sehat untuk orang yang sedang sakit karna tuan mu harus meminum obatnya." ucap tristan.
"Baiklah dokter akan saya siapkan, untuk teh dokter sudah saya letakkan di atas meja ruang tengah. Jika masakan saya sudah selesai akan saya panggil dokter juga untuk makan siang, saya permisi dokter." kata dewi yang langsung menuju dapur.
"Gadis yang manis, sopan santun dan berparas teduh. Semoga saja selama kau bekerja dengan ketua kau tidak mengalami kesulitan atas semua sikap nya." ujar tristan yang melihat punggung dewi merasa kasihan kepadanya.
...----------------...
__ADS_1
Next Episode ⤵️