
Sudah satu bulan Dewi bekerja sebagai pelayan di Apartemen bos mafia tersebut dan sudah cukup lama mereka tidak bertemu lagi setelah kejadian waktu itu. Pagi ini dewi yang sudah sampai di Apartemen tersebut segera mengganti bajunya di kamar belakang lalu segera menuju dapur.
"Sampai kapan aku harus melakukan ini semua, jika saja aku tidak bertemu dengan tuan kejam itu gak akan ada kejadian seperti ini, huhfft semangat dewi". ujarnya
Dewi tidak tahu bahwa di lantai atas Reza masih tertidur pulas karna semalaman dia berada di markas dan baru pulang tadi subuh jadi dia tidak berangkat ke kantor pagi ini.
Saat dewi sedang membersihkan lantai dekat tangga terdengar suara seperti benda jatuh dan cukup kuat dari lantai atas tepatnya kamar sang bos apartemen.
Bug
"Astaga, suara apa itu? Apa ada maling di dalam apartemen mewah ini? Maling nya tidak tahu apa ya ini milik rumah tuan kejam bahkan memiliki senjata!! Aku harus cek ke atas." kata dewi sambil memegang alat pembersih lantai. "Duh, aku kan gak boleh masuk ke kamar tuan kejam itu tapi gimana ini kalau sampai ada maling dan ambil barang-barang tuan kejam itu bisa-bisa aku lagi yang di salahin." dilema dewi.
Sedangkan yang di dalam kamar tidak tahu kalau dewi berada di balik pintu.
"Sial, kepala ku pusing banget dan si jack sialan itu kenapa nomornya gak bisa di hubungin bakalan aku potong gajinya." ucapnya sambil berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
Ceklek
"AAAAHHH" teriak dewi yang kaget karna pintu terbuka dadakan dan dengan spontan dewi langsung memukulnya dengan gagang pel yang di kiranya maling tersebut karna dia belum melihat siapa sebenarnya yang di depannya itu sedangkan reza yang kepalanya terkena pukulan sudah menahan amarah dikarenakan kepalanya sedang sakit malah di tembah kena pukulan.
__ADS_1
Reza langsung mencekik leher dewi dengan satu tangannya "DASAR CEWEK SIALAN, APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK" dengan suara yang tegas penuh amarah dan matanya nyalang seperti ingin memakan hidup-hidup musuhnya itu.
Seketika dewi langsung menatap ke arah depan dan syok saat tau siapa di depannya itu. "Sa-saya tidak tahu kalau di da-dalam itu ada tuan, saya ki-kira ada maling karna ta-tadi saya mendengar suara benda ja-jatuh tuan, tolong lepaskan sa-saya ini terlalu sakit." ujar dewi menahan rasa sakit karna cekikan di leher begitu kuat.
"Dasar wanita bodoh, kau pikir siapa yang berani masuk ke wilayah ku? Bahkan di depan banyak petugas keamanan, kau bener-bener mau mati. HAH?". katanya yang masih penuh emosi
"Ingat gadis bodoh, kau masih berhutang denganku apa kau mau hidup adikmu itu aku buat sengsara atau ibumu yang sudah tua itu ku buat tidak bisa berjalan lagi? Beraninya kau memukuli ku dengan alat pembersih yang jorok itu, sialan."
Dewi yang mendengar itu semua langsung ketakutan dan menangis "Tolong tuan ja-jangan sakiti keluarga saya, sa-saya minta maaf tuan to-tolong ampuni saya, sa-saya akan melakukan apapun ta-tapi tolong jangan sakiti keluarga sa-saya tuan." tangisnya bercampur rasa sakit karna cekikan itu.
Reza yang kepalanya sakit sudah tidak bisa menahannya lagi ingin segera berbaring ke dalam kamar akhirnya melepaskan cekikan tersebut "Ck, baiklah kali ini kau ku ampuni dan tunggu perintah ku untuk penebusan kesalahanmu hari ini, sekarang segera ambil air minum dan antar ke sini." ujarnya langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Dewi terperosok jatuh ke lantai mengasihi dirinya sendiri dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, sambil menarik nafas dan mengelap air matanya ia pun turun ke bawah untuk mengambil air minum.
Tok.tok.tok
"Tuan, ini air minum yang tuan minta sudah saya bawakan." ujar dewi yang masih gemetar.
"Taruh saja di depan pintu, karna kau tidak boleh masuk ke dalam sini."
__ADS_1
"Baik tuan, saya permisi." pamitnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di rumah mewah kelaurga Dywney pagi ini Vevi sudah bersiap untuk melakukan interview di sebuah perusahaan.
"Apa kau yakin nak mau melamar pekerjaan di perusahaan tersebut? Kenapa tidak bekerja saja di tempat papi mu?". kata sang mami
Vevi yang sedang sarapan menoleh ke arah maminya "Mi, sebelum aku memegang tanggungjawab untuk perusahaan papi justru aku harus punya pengalaman terlebih dulu di tempat lain aku gak ingin langsung bekerja di tempat papi yang pada akhirnya semua karyawan papi merasa tidak enak untuk training aku karna mereka tahu aku Putri dari pemilik perusahaan tersebut, maka dari itu aku memilih tempat lain sebagai tempat pengalaman ku karna aku yakin di tempat itu tidak semua orang tahu aku Putri dari siapa." ujar vevi yang memberikan penjelasan dengan baik kepada maminya itu.
Sang papi yang mendengar penjelasan dari Putri satu-satunya merasa bangga kepada anaknya itu yang tidak ingin selalu ketergantungan dengan kemewahan yang di berikan kepadanya sejak kecil. "Baiklah, papi setuju papi berdoa semoga interview nya lancar hari ini dan bekerjalah dengan baik agar papi bisa percayakan perusahaan papi kelak kepadamu."
"Siap pi, kalau soal itu akan aku buktikan ke papi dan mami. Baiklah aku pergi dulu sudah mau telat, bye pi bye mi."
Sekitar 15 menit vevi sudah sampai di sebuah perusahaan ternama nomor satu di negaranya, dia pun melangkah dengan pasti tanpa rasa gugup sedikit pun.
"Oke, pria dingin i'm coming." ujar semangat lalu memasuki perusahaan tersebut.
...--------------...
__ADS_1
Next Episode ⤵️