
Pagi telah tiba, semalaman dewi sudah di ajarkan apa saja keperluan untuk Sang Tuan yang terkenal dingin dan kejam. Dewi yang sudah bangun sejak subuh segera menuju ke kamar Tuannya untuk mempersiapkan segala keperluan Reza yang di mulai dari menyiapkan air hangat untuk mandi, baju kantor (kemeja dan jas), memilihkan kaos kaki, dasi, jam tangan hingga sepatu yang sesuai dengan warna senada itu semua harus terlihat perfect tanpa celah dan kesalahan.
Tepat di depan pintu kamar tuannya, dewi mencoba bersikap tenang sambil menarik nafas, tentunya kamar Tuannya memang tidak pernah di kunci karna yang di izinkan masuk hanya kepala pelayan dan sekarang tugas itu di limpahkan ke dewi sebagai pelayan pribadinya.
"Huh, ayok semangat dewi. Ini hari pertama kamu menjadi pelayan pribadi singa itu, semoga semuanya berjalan lancar. Semangat." ujarnya menyemangati dirinya lalu dewi mulai membuka knop pintu tersebut.
Reza yang memang memiliki Indra pendengaran yang sangat baik sebagai Ketua Mafia tentunya dia harus memiliki ekstra hati-hati dengan keadaan disekitarnya apalagi saat sedang tidur. Saat suara knop pintu terbuka Reza yang memang tahu di jam segini biasanya kepala pelayan yang masuk maka dia hanya melirik saja akan tetapi saat dirinya melirik untuk mengetahui siapa yang masuk ternyata itu adalah dewi yang masuk ke dalam kamarnya dia pun tersenyum devil.
Dewi yang tidak tahu bahwa Reza sudah bangun langsung saja masuk ke dalam kamar mandi tuannya. Dia mulai menyalakan keran air bathub sesuai dengan yang di ajarkan Mr.Bobby bahwa airnya jangan terlalu panas dan menaruh wewangian ke dalam air dengan aroma vanilla punya sang tuan.
"Orang kaya memang berbeda, tapi kenapa kamar mandi ini sangat gelap buat aku semakin merinding saja. Lebih baik aku segera siapkan yang lainnya, tapi dimana tempat lemarinya tadi pas masuk aku tidak melihatnya, mendingan aku segera pergi dari sini." ujarnya.
Dewi keluar dari kamar mandi dan melihat jika sang tuan masih tidur dan dia mencoba melihat sekeliling untuk mencari dimana lemari itu berada namun dia semakin bingung dengan yang dia cari namun tidak menemukan apapun.
"Astaga, kamar ini terlalu luas aku sampai bingung dimana lemari bos kejam itu." katanya pelan yang terlihat bingung tanpa melihat sesuatu di bawahnya hingga saat dewi berjalan dia tidak sengaja menyenggol vas yang berada tepat di depan kakinya.
PRANG
"Oh Tuhan, apa yang aku lakukan." ucapnya panik lalu melirik ke arah tuannya yang ternyata reza sudah terduduk di atas kasur dengan mata yang melotot tajam.
"SIALAN, APA YANG KAU LAKUKAN. BERANINYA KAU MENGHANCURKAN BARANG MAHALKU." bentak reza kepada dewi lalu dia berjalan mendekati dewi sedangkan dewi semakin panik dan mundur perlahan.
"Ma-maaf tuan, sa-saya tidak sengaja. Sa-saya tidak melihat jika ada vas bunga di bawah." ujarnya ketakutan dengan seluruh badan yang gemetar saat melihat mata reza yang tajam dan memerah bak iblis yang siap mencabut nyawa.
"Jadi maksudmu salah vas itu karna berada di bawah sana. IYA." kata reza dengan aura dinginnya membuat seluruh ruangan terasa dingin.
__ADS_1
"Bu-bukan itu maksud saya tuan, to-tolong maafkan sa-saya tuan." ucap dewi memohon namun Reza tetaplaj Reza ketua mafia yang tidak memiliki hati nurani.
"Ck, memaafkan mu? Kau bahkan pernah menghina attitude ku, apa kau lupa?". ujar reza yang semakin emosi saat mengingat kejadian waktu itu. Dewi hanya menggeleng ketakutan dan terus mundur namun Reza terus berjalan dekat ke arahnya.
"Kau tidak akan bisa kemana pun, karna kau sudah masuk ke dalam Istana Iblis. HAHAHAHA." ucapan reza dan tawaan reza semakin membuat dewi ketakutan.
"Ma-maaf tuan, tolong maafkan saya." katanya.
"Kau mau ku maafkan? Maka kau ikut aku dan rasakan betapa sakitnya dari penghinaan yang kau ucapkan kepadaku, semua harus setimpal." ujarnya sambil menarik lengan dewi dengan kuat dan hal itu membuat dewi kesakitan.
Reza menyeret lengan dewi dengan kuat dan memasukkannya ke dalam kamar mandi. Dewi yang lengannya terasa sakit atas perlakuan reza sudah mulai menangis. Saat mereka sudah masuk ke dalam kamar mandi, reza mulai memasukkan kepala dewi ke dalam bak bathub secara berulang kali sampai dewi hampir kehabisan nafas.
Um.Um.Um...
Reza yang melihat air mata dewi tidak ada rasa simpati sedikit pun "Menangislah dengan kuat, tidak akan ada satu orangpun yang berani menolongmu di kediaman ku. Rasakan ini." reza mendorong tubuh dewi hingga kepala dewi terbentur ke dinding kamar mandi.
Dewi terkujur lemas dan tak berdaya apalagi di bagian kepalanya dia merasa pusing dan sakit. Namun bukan reza jika dia belum puas dengan permainannya. Dia mulai mengambil shower di tekannya tombol air panas lalu di siramnya dewi dengan air panas itu.
"Panas.panas. auu sakit tuan, panas.panas.panas." rintihan dewi yang terasa kepanasan dan terasa sakit di seluruh badannya akibat dorongan keras tadi.
Reza mematikan air shower itu lalu mencengkram dagu dewi dengan kuat "Ini belum seberapa hukuman dariku, mulai saat ini kau adalah mainan ku, kau adalah boneka ku dan setiap kali kau melakukan kesalahan di depan mataku maka hukuman mu akan lebih berat dari ini, wanita sialan. Cuiihhh." reza meludahi wajah dewi dan melepaskan cengkramannya lalu pergi begitu saja dari sana.
Dewi yang di tinggal sendirian di dalam kamar mandi dengan kondisi yang memprihatinkan hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
"apa salahku tuhan kenapa nasibku tidak pernah beruntung, adil kah hidup ini untukku." ucapnya sambil menangis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama bagian kepalanya akibat benturan keras itu.
__ADS_1
Dewi mencoba berdiri dan berjalan meski tertatih-tatih, saat dia membuka pintu kamar mandi ternyata Tuannya tidak ada di sana lalu dia segera berjalan ke pintu keluar yang ternyata ada salah satu pelayan yang sudah berada di depan pintu.
"Maaf nona, saya di suruh Mr.Bobby membantu nona sampai ke kamar untuk diberi pengobatan karna saat tuan selesai mandi, nona sudah harus berada di meja makan untuk menyiapkan makanan tuan jadi nona harus segera diobati itu perintah Mr.Bobby." ucap pelayan tersebut.
Dewi mencoba tersenyum untuk memberi tahu bahwa dia tidak apa-apa "Tidak ada yang terluka, saya hanya perlu ganti baju saja karna baju ini sudah basah dan tadi saya hanya kepleset di kamar mandi maka dari itu bajuku basah dan tuan jadi marah sama saya." kata dewi yang menutupi kejadian sebenarnya meski sebenarnya dia memang merasakan sakit di kepalanya.
"Apakah benar begitu? Tapi Mr.Bobby bilang nona pasti habis kena hukuman tuan dan biasanya yang habis di hukum oleh tuan reza pasti ada bagian yang luka?". tanyanya kepada dewi lagi.
"Tidak ada sungguh saya hanya terpleset saja. Terimakasih sudah membantu saya, biarkan saya ganti baju dulu." ucap dewi sopan dan tersenyum kepada pelayan itu.
"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke dapur dulu." pamitnya.
"Tunggu, kalau boleh tahu siapa namamu?". tanya dewi kepadanya.
"Ah benar kita belum berkenalan. Nama saya Intan. Salam kenal." ucapnya sambil menjabat tangan dewi.
"Baiklah Intan terimakasih, nama saya dewi jadi panggil saja saya dewi jangan pake nona." ujar dewi menerima jabatan tangan itu dan itu juga tersenyum lalu dia meninggalkan dewi untuk kembali bekerja di bagian dapur sedangkan dewi mencoba berjalan secara perlahan untuk berganti baju di kamarnya.
"Aku harus kuat, semua ini akan aku hadapi meski harus menerima rasa sakit ini sampai di titik rasa lelahku dan aku tidak sanggup lagi maka aku akan memilih pergi." kata dewi dengan senyuman kesedihan di matanya dan terus mencoba bertahan.
...----------------...
*See you next episode 🤗
__ADS_1