
Dewi yang sudah bangun sejak pagi juga sudah menyiapkan beberapa keperluan dirinya untuk dibawa ke tempat tinggal barunya sebagai pelayan di rumah Sang Bos Kejam. Dia sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam koper tidak banyak yang dia bawa hanya beberapa pakaian dan keperluan mandi untuknya meskipun mungkin di sana sudah di siapkan untuk semua pelayan tetapi dia tetap akan membawanya. Dewi yang sudah siap segera turun ke bawah dan di bawah sang mama dan sang adik sudah menunggu dirinya.
Mama yang melihat dewi menarik kopernya terlihat sedih karena akan di tinggal sang putri tercinta dalam waktu yang cukup lama. "Jangan lupa hubungi mamah ya nak jika kamu sudah sampai di tempat kerjamu saat di sana, mamah bakalan rindu nak samamu." ungkap mamah terlihat sedih melepas putrinya tapi dia juga tidak ingin egois karna tahu bahwa putrinya bekerja untuk keluarga.
Dewi yang melihat sang mama terlihat sedih dia pun merasakan hal yang sama karna jauh dari keluarga adalah hal tersulit untuknya namun ini semua demi kebaikan sang mamah juga adiknya agak tetap aman dari Laki-laki kejam yang tak lain adalah bosnya. "Mamah tenang saja dewi akan langsung menghubungi mamah jika sudah sampai di sana dan jika ada waktu senggang dewi akan sering memberikan kabar, jadi mamah jangan khawatir ya pokoknya mamah harus selalu jaga kesehatan sampai dewi kembali." ucap dewi sambil tersenyum untuk menghilangkan rasa khawatir sang mamah tercinta. Lalu dia melirik ke adiknya "Jaga mamah ya dan sekolah yang rajin supaya kamu bisa bekerja dan membantu kaka, okay?". katanya kepada adiknya dan hanya di berikan anggukan saja.
"Ya sudah aku harus segera berangkat dan sepertinya taksi juga sudah datang, aku pamit ya mah." ucapnya sambil memeluk sang mamah dan beralih ke adiknya lalu pergi memasuki taksi di depan rumah yang sudah menunggunya.
"Pak, kita pergi ke alamat ini ya pak." kata dewi sambil memberikan alamat ke tempat yang sudah di beri tahukan oleh jack melalui seluler pribadinya.
"Baik nona" jawab pak supir taksi.
Dalam perjalanan dewi hanya melamun sambil memandangi perjalanan dan merenungkan nasibnya yang menurutnya selalu banyak cobaan yang harus dia hadapi dengan tegar sampai dia tidak sadar bahwa dia sudah sampai ke alamar tersebut.
"Nona, kita sudah sampai ke alamat tujuan." ucap pak supir kepada dewi dan dewi seketika langsung sadar bahwa dia sudah sampai. Dia menatap bangunan mewah dan megah bak Istana Kerajaan di negeri dongeng.
"Pak, apa benar ini alamatnya sepertinya salah pak tidak mungkin kita berada di wilayah istana kerajaan?". ujar dewi seperti tidak yakin dengan apa yang dia lihat dari dalam mobil.
__ADS_1
"Betul nona, ini alamat yang anda tunjukkan kepada saya coba saja nona cek alamatnya sama persis dengan yang tertera di gerbang tersebut." kata pak sopir yakin bahwa dia tidak salah tujuan.
Dewi pun mengecek kembali alamat tersebut dan benar sesuai dengan yang di berikan oleh Jack. "Baiklah pak kalau begitu saya akan turun, ini uangnya dan terimakasih pak." ujar dewi lalu turun ke dalam mobil.
"Ini bukan rumah tapi istana megah, apa jangan-jangan bos kejam itu titisan pangeran pantes saja dia sangat sombong. Ya tuhan apa aku beneran akan bekerja di sini bisa-bisa aku gak akan istirahat kalau harus membersihkan istana seluas ini." ucap dewi lalu dia mendekat ke arah gerbang pagar untuk mencari bel namun sebelum dia mendekati gerbang tersebut yang jaraknya lumayan dekat dengan pintu gerbang pagar suara sirene mengagetkan dirinya sangat kencang dan nyaring.
"Suara apa ini, kenapa suara ini begitu kencang sekali." katanya kaget sambil menutup telinganya lalu tidak lama keluarlah beberapa orang memakai pakaian serba hitam dengan tubuh yang begitu besar dan tinggi sambil membawa senjata laras panjang. Dewi yang melihat hal tersebut langsung berdiam diri tanpa bergerak sedikitpun karna kakinya seakan mati rasa.
"Ya tuhan ada apa ini, kenapa mereka semua menakutkan dan kenapa mereka membawa senjata, apakah aku akan di tembak di tempat seperti di film-film" Ujarnya dengan suara pelan dan seluruh tubuh yang gemetar.
"Anda siapa dan ada perlu apa anda mendekat ke arah gerbang mansion ini?" tanya pria bertubuh kekar itu kepada dewi dengan wajah yang sama seperti jack atau bosnya yaitu sama-sama dingin.
Dewi yang di tanya masih diam karna ketakutan jadi lidahnya pun ikut kaku namun pria tersebut lagi-lagi bertanya kepadanya.
"Katakan anda siapa jika anda masih diam maka senjataku akan langsung tembus ke jantungmu nona." kata pria tersebut sambil menyokong senjatanya dan hal itu membuat dewi semakin gemetar hebat dan dia berusaha untuk berbicara.
"Sa-saya Dewi pe-pelayan yang di pindahkan oleh bos da-dari apartemen ke si-sini, Tuan Jack yang memberikan alamat ke sa-saya, ini tuan." ucap dewi dengan tangan gemetas dia memberikan ponsel itu kepada pria tersebut. Pria itu mengambil dan cek apakah benar Bos Jack yang memberikan alamat mansion mewah Sang Bos Besar yang tak lain Ketua Mafia mereka. Saat di cek ternyata memang benar dan dia menginstruksikan kepada anggotanya untuk menurunkan senjata tersebut.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu ikut kami." katanya memberikan seluler dewi kepada dewi dan pergi bersama anggotanya masuk ke dalam gerbang tersebut. Dewi yang sebenarnya masih takut dan gemetar mencoba mengikuti langkah mereka untuk memasuki mansion tersebut.
Saat mulai masuk ternyata jarak mansion masih jauh dari posisi gerbang tersebut, dewi yang tadinya merasakan takut seketika rasa takut hilang menjadi rasa kagum karna halaman itu luas namun sayangnya tidak ada bunga-bunga Indah yang mewarnai halaman luas itu hanya ada beberapa pohon namun di rasa dewi halaman itu masih kurang tanpa ada bunga-bunga mewarnai halaman luas itu seperti halaman kosong.
Saat sudah sampai di pintu mansion dewi lagi-lagi di buat takjub oleh pintu tersebut yang seperti di buat oleh emas begitu kokoh dan bercahaya. Pintu tersebut terbuka, beberapa pelayan ikut keluar dengan satu orang yang berjalan paling depan.
"Nona, itu Tuan Bobby pelayan utama di mansion ini. Dia adalah Kepala pelayan yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan Bos Besar jadi nona ikut dia. Mr.Bobby ini saya serahkan nona ini utusan dari Bos Jack." kata pria itu langsung pergi begitu saja. Bobby yang melihat dewi memang sebelumnya sudah tahu dari Jack karna Jack sudah memberikan informasi tersebut.
"Kenalkan saya Bobby Faust kepala pelayan di mansion ini, nona boleh panggil saya Mr.Bobby." ujarnya kepada dewi.
Dewi yang melihat Mr.Bobby tersenyum melihatnya seperti melihat sang papah karna Mr.Bobby memang sudah berumur. "Baik Mr.Bobby, kenalkan saya Dewi Belinda Queenara panggil saja saya Dewi." ucapnya sopan kepada pak bobby.
"Baiklah nona Dewi, akan saya tunjukkan dulu dimana kamar nona lalu kita akan bahas soal pekerjaan nona selama bekerja di mansion ini. Mari nona." katanya mengajak dewi masuk ke dalam bersama beberapa pelayan.
Saat masuk ke dalam dewi terperangah karna di buat takjub dengan isi dalam mansion tersebut. Ini begitu Indah, megah, mewah dan mungkin banyak beberapa barang yang terlihat mahal seperti terbuat dari emas.
__ADS_1