Kaulah Takdirku

Kaulah Takdirku
Tak pernah sesakit ini.


__ADS_3

 


Dhika dan seluruh pengurus OSIS menyiapkan beberapa perlengkapan dan peralatan untuk acara pelepasan pengurus Lama, mereka semua terlihat sibuk lalu lalang, ada beberapa yang telihat sibuk mendekore panggung, ada yang latihan untuk mengisi acara, ada pula yang sedang sibuk mendiskusikan sesuatu. Sekolah mereka memang tidak mempunyai aula indoor jadi seluruh kegiatan mereka di adakan di lapangan olah raga yang cukup luas menampung seluruh siswa-siswi. Acaranya memang tidak berlangsung Hari ini, tapi semua telah di siapkan dengan baik.


 


" Kegiatan pelepasan jabatan ini fix kita mulai jam 7 malam, untuk seluruh penanggung jawab acara saya mohon di cek ulang jangan sampai ada masalah, untuk dokumentasi jangan lupa, bendahara - sekretaris juga jangan lupa membuat penutupan jabatan kita. Biar pengurus OSIS yang selanjutnya tidak kebingungan." Jelas Dhika saat memimpin rapat OSIS yang di dengarkan secara seksama oleh seluruh anggotanya.


" Oh ya, hanya sekedar mengingatkan, jangan lupa ingatkan lagi ke kelas masing - masing untuk dreascode nya , hanya menggunakan kaos berwarna putih. " Tambah Rendi.


Setelah rapat selesai, mereka pun bubar, Sementara Dhika dan Rendi masih santai di ruang OSIS.


" Buruan yuk." Ajak Rendi.


" Kemana?" Tanya Dhika.


" Pulang Dhika, ini sudah hampir Sore."


"Syasya nungguin kamu?"


" Enggak ! kan dia mau jalan sama Syheril. "


" Ya udah ! gak usah buru- buru, aku mau ajak rundingan ne sama kamu. " Kata Dhika dengan semangat. " Bantuin aku nembak Syheril ya. " Lanjut Dhika dengan semangat.


" Nembak Syheril ? kan kalian udah pacaran, tunangan, malah mau nikah endingnya, mau nembak gimana lagi? " Jawab rendi yang gak habis pikir dengan kelakuan Dhika.


" Namanya juga menemukan cinta, seorang pembunuh pun pasti berubah jika cinta sudah masuk dalam kehidupannya."


" Sok puitis kamu!"


" Syirik! "


Mereka pun berjalan menyusuri koridor sekolah. Dengan sedikit bercanda mereka saling meledek, Rendi tau betul gimana sahabatnya ini, dulu dia memang dingin dan cintalah yang dapat merubah sahabatnya.


***


Syasya mengajak Syheril jalan ke salah satu mall di Suabaya yang berada di jalan embong malang. Cewek-cewek memang lebih suka ngemall apalagi Syasya yang notabennya anak orang berada. Nonton , makan, shoping, uda mereka lakuin bersama, kini tinggal mereka cari dresscode untuk acara tengah semester yang juga acara pelepasan pengurus OSIS.


" Kaos Syasya , kaos!" Kata Syheril mengingatkan kepada Syasya yang sedari tadi pilihannya jatuh ke baju putih namun bermodel tak keruan.


" Ini kan kaos." Timpali Syasya sembari menunjukan baju warna putih dengan model kera sabrina dan bagian bawah kaos ada sedikit renda renda.

__ADS_1


" Bukan kayak gitu, aduh ngomong sama orang kota itu susah. "


" Gak papa Ril, ini bagus kog, lagian gak ada larangan buat model kaosnya. "


" Terserah deh." Syheril menyerah.


" Kamu gak beli sekalian, aku bayarin. " Tawar Syheril.


" Enggak, kata Dhika dia uda siapin baju buat aku."


" Oohh..so sweeet...!" Kata Syheril sembari memukul mukul lengan Syheril dengan pelan. " Eh , tapi gimana udah bisa 100% gak ke Dhika nya ?" Tanya SyaSya kemudian.


"Hmm... gimana ya?" Syeril tak langsung menjawab dan semakin membuat SyaSya penasaran , Syheril pun tersenyum. " Uda gih bayar sana, jangan nyerocos aja tu mulut." Syheril mendorong Syasya ke meja kasir.


Setelahnya mereka langsung melangkahkan kaki mereka menuju parkiran mobil. Tak terasa langitpun sudah gelap.


" Mau kemana kita ?" Tanya Syheril setelah masuk ke dalam mobil Syasya.


" Pulang aja, nanti kena omel mas Dhika aku, kalo kemalaman."


" Ok. ok. "


"Eh kamu gantiin aku nyetir dong, capek aku. "


Syasya hanya menepuk pelan jidatnya, dia gak nyangka kalo temennya ini gak bisa bawa mobil.


" Kapan - kapan aku ajari. "


" Gak usah deh, buat apa coba, mobil aja aku gak punya."


" Gimana sih kamu, kamu lupa ya, kalo kamu bakal jadi istri mas Dhika, jangan kan mobil,! truk juga pasti kamu di belikan." Cerocos Syasaya


" Sialan!, buat apa coba aku truk. " Syheril kesal dan menggerutu sendiri.


Syasya menancapkan gas mobilnya, Kota Surabaya memang kota metropolitan ke dua setelah jakarta, pemandangan kerlap kerlip lampu malam sangat memanjakan mata Syheril, apalagi jalan Tunjungan yang penuh dengan beraneka ragam lampu hias. kemacetan pun tak bisa terelakan dari sudut manapun. Hampir sekitar jam delapan malam Syheril sampai rumah. Dilihatnya mobil Dhika sudah terparkir rapu di depan rumah Syheril


" Duh... mas Dhika itu ngapain coba? " Gerutu Syasya yang takut di marahi Dhika. " Aku langsung pulang deh." Kata Syasya setelah menurunkan Syheril, Syasya langsung tancap gas pergi.


Syheril melangkahkan kakinya memasuki halaman rumahnya, Dhika terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


" Kok malem banget sih pulangnya? " Tanya Dhika kesal.

__ADS_1


" Baru pulang di cemberutin, nanti aku pergi lagi ne. " Ancam Syheril dan dia langsung dapet pelukan hangat dari Dhika.


"Jangan, aku cuman khawatir aja, aku takut kamu kenapa-napa."


" Iya- iya." Syheril tersenyum dan membalas pelukan Dhika, tangan Syheril mulai mengelus ngelus punggung Dhika dengan pelan.


" Oh ya, besok aku gak bisa jemput sekolah ya." Tutur Dhika sembari melepas pelukannya.


" Tumben ne, gak takut aku ngilang sekarang?udah bosen ?" Tanya Syheril dengan sedikit menggoda Dhika.


" Bukan gitu, kamu jangan ngomong kayak gitu, gak suka aku. Besok aku gak bisa jemput soalnya mau ngurusin gladih resih buat pensi lusa. "


"Ooo."


" Dan ini... " Dhika memberikan sebuah kantong paperbag kepada Syheril. " Baju buat acara pensi. " Lanjut Dhika. Syheril menerimanya dan mengintip iai bungkusan itu.


"Awas lho kalo jelek. " Katanya memperingatkan, Dhika yang gemas akhirnya mencubit ke dua pipi Syheril.


***


 


Disisi lain tanpa mereka sadari ada yang mengintip dan memperhatika mereka dari jauh, orang itu tidak lain adalah Roni, melihat Syheril yang sudah bahagia dengan Dhika, Roni pun merasa senang, tapi hatinya juga merasa sakit. Roni tidak bisa memendam dan menahan rindunya kepada Syheril, maka dari itu dia diam-diam ingin melihat Syheril dari jauh.


 


Dia memegangi dadanya yang terasa sesak, butiran air mata mengalis tipis di pipinya, mencoba menguatkan hati, dia mulai melangkah untuk pergi, dengan menaiki motornya dia telah berlalu dari rumah Syheril.


Melintasi jalanan Surabaya yang penuh dengan kemacetan, Roni lebih memilih menghentikan kendaraanya di pinggir jalan, hatinya masih belum bisa nerima, tapi semua ini adalah kehendak- NYA.


"*S*akit ya allah, kenapa sesakit ini, kenapa tidak engkau jodohkan aku dengan dia. kenapa harus bersama orang lain."


Roni kesal dengan memukul mukul spido meter sepedanya.


"Harusnya sejak awal kita tidak usah bertemu kalo ujung ujungnya seperti . Ya ALLAH. kuatkan aku."


Tak tahan dengan keadaan ini Roni tak melanjutkan perjalan pulangnya, dia lebih memilih tidur di rumah saudaranya, dia sudah tidak bisa mengendalikan pikirannya.


-----------------bersambung---------------


Tetep baca kelanjutannya ya, jangan lupa like and coment...

__ADS_1


kritik dan saran akan sangat membatu untuk kedepannya. 🙏


__ADS_2