
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Syheril, Syasya memandu jalan lebih dulu sembari membawa tas Syheril, dengan sangat keras ia mengetuk pintu rumah Syheril.
Tok...Tok...Tok...
Diulanginya beberapa kali,sampai akhirnya ibu Sheril pun membuka pintunya, ibu Syheril keget melihat apa yang ada di hadapannya.
" Lho lho.... Ada apa ini?, kenapa syheril kayak gini? " Tanya ibu Syheril panik melihat anaknya yang sedang digendong Dhika.
" Tolong bawa dia masuk ke kamarnya atas. " Kata ibu Syheril sambil menunjuk ke arah atas, Dhika langsung menuju ke atas di susul dengan Syasya dan Rendi yang baru saja tiba dari memakirkan mobilnya.
" Kenapa anak saya ?" Tanya ayah Syheril langsung dengan nada emosi melihat anaknya terbaring dan berdaya.
" Kami juga gak tau om, kami menemukan Syharil sudah pingsan di toilet sekolah. "Jelas Syasya yang juga masih cemas..
"Kalian ini satu kelas?" Tanya ibu Syheril sambil membawakan kompres untuk Syheril.
" Saya Syasya tante, saya temen satu kelasnya Syheril." Kata Syasya memperkenalkan diri.
" Dan ini kakak saya Rendi, kalo yang itu temennya kakak saya Dhika. kami satu sekolah tante." Lanjut Syasya kemudian sambil memperkenalkan dua cowok itu bergantian.
" Eh nak Syasya bisa tolong bantuin ibu, gantiin pakaian Syheril." Syasya langsung mengangguk atas permintaan ibunya Syheril.
" Kita keluar dulu yuk."kata Dhika.
Akhirnya mereka keluar hanya meninggalkan ibu dan Syasya dalam kamar.
Ayah Syheril membimbing jalan pada cowok-cowok itu untuk menuju ruang tamu.
" Apa di sekolah kalian, sering ada yang kayak gini?" Tanya Ayah Shyeril sembari melihat ke arah Dhika dan Rendi bergantian.
" Maksudnya om? " Tanya Dhika.
"Syheril bukan anak yang gampang pingsan dan lemah. dia gak muda di kerjain sama orang lain . Tapi sepertinya ada yang sengaja mengerjain Syheril."
Dhika dan Rendi langsung saling menatap, mereka bingung gak berani bilang kalo memang Syheril sebenernya sengaja di kunciin di toilet.
" Ayah, ini jadinya gimana? kita batalin ini acara makan malamnya? " Tanya ibu Sheril yang tiba tiba keluar dengan menyuguhkan air putih untuk tamunya.
" Keadaannya gimana anak kita. "
" Sudah mendingan sih, cuman nunggu sadar. "
" Hmmm. " Ayah Syheril masih berfikir. " Kalian buru- buru mau pulang? " Tanya ayah Syheril pada dua cowok yang ada di depannya.
" Saya gak kok om. " Jawab Rendi.
" Saya harus buru-buru pulang om, ada janji di rumah." Jawab Dhika gantian.
" Nak Rendi, om titip Syheril sebentar gimana? om dan tante ada janji penting. " Tutur ayah Syheril.
" Dengan senang hati om." Jawab Rendi dengan cepat dan kilat, Sementara Dhika merasa sedikit emosi karna dia tidak bisa ada disana bersama dengan Syheril. Dhika sendiri bingung kenapa ada perasaan seperti itu.
" Saya pamit om." Kata Dhika selanjutnya dan langsung berdiri dan pamit sama kedua orang tua Syheril.
Kedua orang tua Syheril pun kini telah siap-siap untuk pergi ke acara yang sudah di siapkan oleh sahabatnya.
" Nak Rendi kami titip Syheril bentar ya, nanti kalo sudah sadar tinggal aja gak papa."
__ADS_1
" Baik tante. "
"Oh ya buk, bawa itu foto." Kata ayah Syheril sambil menunjuk foto Syheril dekat meja samping sofa.
" Oh iya, biar di wakili ini aja Syherilnya." Kata ibu Syheril seraya mengambil foto Syheril.
***
" Yakin yah ini alamatnya? " Tanya ibu Sheril tak percaya melihat rumah yang ada di depannya, begitu megah dan mewah.
"Iya buk, ini bener kog alamat yang di kasih si Handoko." Jawabnya
" Coba deh yah, telpon dulu jangan-jangan salah, ngeri ibu mah. " Kata istrinya lagi yang masih ragu melihat rumah yang memang luar biasa BE-SAR bagi dirinya, ini mah rumah mungkin besarnya dua kali atau bahkan tiga kali lipat dari rumahnya.
" Iya deh buk, coba ayah telepon."
Tak lama kemudian sahabatnya Handoko itu keluar dari balik pagar rumah mewah itu." PRAMONO. " Panggilnya kepada ayah Syheril.
Si empunya nama pun menoleh dan segera menghampiri temannya itu dan sedikit melepas kangen dengan berpelukan. .
" Ayok masuk. " Ajak si Handoko.
" Ini rumah mu?" Tanyanya tak percaya.
" Iya, ayok."
Pramono yang tidak lain ayah Syheril akhirnya memakirkan mobil mini buz 'A***ZA' miliknya.
"Kamu sukses ya sekarang?" Kata Pramono
" Buk, ini temen ayah sekolah dulu, dia dulu buandelnya minta ampun tapi sekarang dia bisa sukses kayak gini." Pramono mengenalkan temennya pada istrinya dan mereka pun saling berjabat tangan.
" Ma...Mama." Panggil Handoko pada istrinya, dan akhirnya istrinya itu keluar dengan senyuman untuk menyapa tamu tamunya. Mereka semua saling berkenalan.
Mereka akhirnya menuju meja makan, dan sudah mengambil formasi untuk bersiap makan malam.
" Han, mana anak kamu?" tanya Pramono yang mulai sedikit curiga takut akan yang di kawatirkan Syheril benar. Kalo anak temennya ini cacat dan sebagainya.
" Sebentar lagi dia pasti datang, tadi katanya ada sedikit urusan makanya agak telat. "Jelas istri Handoko itu.
Tak lama setelah itu terdengar suara sesorang yang baru memasuki rumah.
" Assallammualaikum." Kata cowok yang tidak lain adalah anak dari sahabatnya itu.
Seketika semua langsung menoleh kearah cowok itu, betapa kagetnya orang tua Syheril setelah melihat sosok cowok itu, dilihatnya lagi dari atas sampai bawah dan dengan ekspresi yang sama cowok itu juga tak kalah kagetnya melihat sahabat orang tuanya itu.
Cowok itu semakin mendekat, dan tiba tiba senyum terpancar dari wajahnya.
" Kamu." Tutur Pramono semakin melihat anak dari temennya itu dari dekat.
" Iya om. " Kata anak itu dengan senyum dan kemudian mencimu tangan Pramono dan istrinya secara bergantian.
" Kamu kan yang tadi nganterin anak saya pulang? " Tanyanya pada cowok yang tak lain adalah DHIKA.
" Iya om."
" Jadi ini anak kamu Han?" Tanyanya sekali lagi kepada temannya yang masih tak percaya.
__ADS_1
" Iya ini DHIKA, anak saya yang mau saya jodohkan sama anak kamu." Jawabnya jelas dan padat.
"Sudah-sudah makan dulu." Sela mama Dhika, karna memang sudah jamnya makan malam, dan perutnya juga sudah keroncongan. Mereka pun makan tanpa membicarakan perjodohan lagi.
Dhika terlihat senang, entah rasa apa yang sedang di alaminya kini bahagia tapi kenapa? apa dia sudah benar benar mencintai Syheril, atau bahagia karna dia pikir bisa mengontrol cewek monyet itu, Dhika juga masih bingung dengan perasaannya.yang jelas apa yang dia rasakan selama ini ternyata tidak lah salah.
'Ternyata Allah memang menuntun hatiku kepada si pemiliknya, pantas saja selama ini aku selalu tertarik dengan Syheril'
-
-
-
-
-
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
-
-
-
-
-
Gimana nie readers ..... menurut kalian apa ini memang takdir 😊😊😊 yang jelas ini adalah karangan ku saja 😆😆😆😃😃😂😂
Di tunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like and comentnya ya... saran dan kritik akan sangat bearti.
TERIMA KASIH
🙏
__ADS_1