Kaulah Takdirku

Kaulah Takdirku
' kEhadiRan Roni '


__ADS_3

Sekarang semua orang sudah berada di ruang tamu, Syheril didudukkan di sofa yang ada diruang tamu, Syehril hanya memandang Roni diam, dan meneteskan air mata, ingin rasanya Syheril mengadu semua apa yang dialaminya tapi dia tak mampu mengatakan apa pun, mulutnya lemas.


" Kamu Roni, kan?" Tanya Egi memastikan, dan di jawab anggukan oleh Roni ." Aku Egi, sepupunya Syasya." Egi mengulurkan tangannya kepada Roni .


" Roni " Ucapnya dengan membalas uluran tanga Egi


" Ini Syasya sahabatnya Syheril dan juga cewek aku. " Syasya gantian mengulurkan tangannya ke Roni.


" Dulu aku sering denger kamu dari Syheril. " Kata Syasya.


" Iya dulu.... " Roni tak melanjutkan perkataannya.


Ditolehnya kembali Syehril yang duduk diam sedang memandangnya. kini pandangan Syheril memang sudah tak sekosong awalnya, cuman dia terus menerus melihat ke arah Roni.


" Apa dia sudah makan?" Tanya Roni pada Egi atau Syasya untuk memastikan, padahal dia sendiri sedari kemaren malam juga belom makan apa-apa.


" Tadi aku suapin, tapi dia gak mau." Jawab Syasya.


Roni langsung mengambil posisi jongkok di depan Syheril, dia sedikit medongakkan kepalanya untuk melihat wajah Syheril yang memang saat ini posisinya lebih tinggi sedikit.


" Kamu makan ya." Pintanya pelan, Syheril hanya menggelenggkan kepala.


" Kenapa? kamu gak lapar?" Syheril hanya menggelengkan kepalanya dan kembali diam. Roni berdiri dan tidak memaksa Syheril. " OK "


" Dimana ayah dan ibu?" Tanya Roni pada Egi.


" Ayah ibu maksudnya? "


" 4yah dan ibu Syehril !"


" AHHH..... mereka kemaren jemput kamu ke Malang." Jawab Egi mengingatnya


" Ooohhhh"


" Syehril udah pernah ke makam Dhika gak?"


" Boro boro, sejak Dhika kecelakaan tiga bulan lalu, dia langsung Syok hingga kayak gini." Jawab Syasya.


" Aku mau ajak dia kesana! "


" JANGAAAN !!!" Cegah Syasy. " Kita semua takut kalo dia dibawa ke makam Dhika dia malah tambah parah. " Lanjutnya.


" Syheril. " Panggil Roni dan dia kembali menghampiri Syehril, dia mengambil posisi berlutut lagi di depan Syheril.


" Kamu sayang sama Dhika kan ?" Tanyanya.


Syheril hanya mengangguk dan kembali meneteskan air matannya.


" Ayok aku ajak kamu ke makamnya." Kata Roni masih dengan lemah lembut.


" Dhika jahat sama aku, dia ninggalin aku di hari pernikahan kami." Tiba-tiba Syheril berbicara akan kekecewaanya.

__ADS_1


Roni tersenyum tipis, dia lega kalo Syheril mau bicara walaupun dengan sedih.


" Yang jahat itu Dhika ato kamu Ril,?" Kata Roni."Ayo aku ajak kamu ke makam Dhika , biar kamu tau siapa yang jahat. "


" Yakin mau ajak Syheril kesana? " Saut Egi.


" He-em."


" Aku anterin deh sama Syasya. "


Akhirnya selang beberapa menit mereka telah sampai di makam Dhika. Ini adalah pertama kalinya Syheril kesini, karna gak ada yang berani ngajak Syehril ke makam Dhika.


" Mau jalan sendiri ato aku gendong?" Tanya Roni berbisik, sebenernya memang bukan pertanyaan penting, Roni cuman pingin Syheril sedikit bicara apapun itu.


" Kursi Roda !" Jawab Syheril lemah.


" Gak ada, hanya ada dua pilihan, jalan atau gendong?" Roni sedikit tegas karna Roni tau sebenernya Syheril masih bisa berjalan cuman dia enggan dan tak punya semangat.


" Jalan !" jawabnya.


Roni menuntun Syheril pelan, diikuti dengan Egi dan Syasya yang berjalan beringingan di belakangnya.


sasampainya tepat dedepan makam Dhika, Syheril langsung lemas melihat nama Dhika mampang di atas batu nisan.


Kakinya langsung lemas, dia berlutut dan menangis sejadi jadinya. Dia menangis diatas makam Dhika. Syasya ikut mengalirkan air matanya melihat sahabatnya yang seperti itu lagi, Syasya ingin meraih badan Syheril tapi di cegah oleh Roni. " Biarkan dia menangis, biarkan dia menghadapi kenyataan ini. "


Setelah beberapa lama, tangisan Syehril sudah tak terdengar yang tersisa hanyalah isakan tangis saja.


" Dengerin aku Syheril, Dhika meninggal itu sudah takdir ALLAH. Jadi kamu harus menerima kenyataan. Kalo kamu kayak gini terus, aku yakin Dhika disana pasti akan membencimu. Karna Dhika tidak mau melihat wanita yang di cintainya menderita. " Syheril mendengarkan perkataan Roni dengan masih diiringi isakan tangis.


" Dan kamu !!! katanya kamu mencintai Dhika, menyayangi Dhika. mana??? kamu sama sekali tidak menunjukkan itu. Perasaan mu semuanya itu palsu. Kalo kamu sayang sama Dhika, kamu harus kembali seperti dulu, kamu harus semangat. Ingat ALLAH menyukai hambanya yang sabar dalam setiap ujiannya."


" Sekarang kita pulang ya... kita semua Sholat berjama'ah di rumah. kamu juga harus doakan Dhika, karna hanya doa lah yang di butuhkan orang sudah meninggal , bukan tangisan atau penderitaanmu. "


Entah apa yang membuat Syheril mendengarkan omongan Roni, karna memang Syehril sekarang menganggap semua omongan Roni itu benar. Di lihatnya kembali batu nisan Dhika. Tangan Syheril mulai menyentuh batu nisan itu.


*****


Setelah kembali ke rumah disana orang tua Syehril sudah berada di rumah dengan cemas, ditambah lagi papa mama Dhika juga ada di sana.


" Kalian dari mana?" Tanya Ayah Syheril khawatir.


" Kami dari makam Dhika yah. " jawab Roni dengan mencium tangan Ayah Syehril dan gantian ibu Syehril kemudian. Roni juga melihat sosok sebaya dengan ayah dan ibu Syehril. Roni pun juga menyalami mereka.


" Kamu Roni??" Tanya papa Dhika.


" Iya om. "


Syheril langsung berjalan ke kamar tanpa memerdulikan semua orang yang ada di ruang tamu.


" Syheril. " Panggil Ayahnya.

__ADS_1


" Biarkan saja ayah, dia akan baik baik saja." Kata Roni.


Akhirnya mereka semua duduk di ruang tamu, sementara Syasya dan Egi pamit pulang karna mereka belum pulang sejak semalam. kedua ibu itu menyiapkan makan siang untuk semua orang termasuk dengan Roni.


" Tadi apa dia baik-baik saja di makam Dhika ?" Tanya papa Dhika kepada Roni


" Dia terhanyut dalam kesedihannya om, tapi biarkan, dia harus menghadapi kenyataan."


" Trimakasih banyak ya nak Roni." Kata papa Dhika.


" Untuk apa om?"


" Kamu sudah membantu kami. Sekarang dia sudah terlihat lebih baik dari pada sebelumnya. "


" Tidak perlu berterimakasih om, saya mencintai Syehril dari dulu, demi dia saya akan lakukan apapun. asalkan dia bahagia. "


Ayah Syheril yang mendengar ucapan Roni menundukkan kepala, karna dia juga sudah melihat sendiri pengorbanan apa yang telah di Roni lakukan. Apa lagi sekarang Roni sudah ada di rumahnya setelah semalem ia telpon.


" Saya pamit ya yah. " Katanya.


" Mau kemana?"


" Saya pulang ke Malang dulu, kasian ibu. "


" Nanti kalo Syehril diem lagi gimana? atau nanti kalo dia mencari mu gimana?"


" Saya pasti balik kok yah, mungkin besok. "


" Kamu pake mobil saya aja, biar cepet balik. " sahut papa Dhika.


" Gak usah om."


" USAH !!! kamu harus cepet balik, ato sekalian ajak ibu kamu biar kamu gak pulang bolak balik malang. " Tegas papa Dhika.


"Baik lah om, cuman saya gak bakal ngaka ibu kesini. gak orang di rumah. "


Roni pun pamit pergi dan berlalu. sementara yang lainnya tetep berbincang di ruang tamu.


" Suruh Roni menikahi Syehril saja. " kata papa Dhika pada ayah Syheril.


" Gak bisa!"


" Kenapa?"


" Dulu dia pernah menderita aku gak mau Roni menderita lag.i "


" Menderita gimana?? kamu gak denger dia tadi bilang ' dari dulu sudah mencintai Syehril ' aku gak mau ya Pram, kalo.Syehril kayak gini terus. dia sudah seperti anakku dan jika Roni juga pasti setuju akan hal ini." Cerocos papa Dhika.


Ayah Syehril terdiam, tak bersuara


" Biar waktu yang menjawabnya nanti. kalo memang mereka sudah berjodoh dari awal, aku tidak akan menentangnya, "

__ADS_1


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰bersambungπŸ‘ˆπŸ‘ˆπŸ‘ˆπŸ‘ˆπŸ‘ˆ


__ADS_2