
Sebelum berangkat keacara akad di rumah Syheril . Dhika mondar mandir gak keruan. Berkali kali dia melihat ke kaca, di koreksi penampilan nya dari atas sampai bawah. " Udah layak gak ya?" Pikirnya.
Papa Dhika menepuk pundak Dhika pelan dari belakang tapi itu langsung membuatnya kaget.
" Udah, kasian Syheril nunggu kelamaan. " Kata papanya.
" Udah ganteng gak pa?" Tanyanya.
" Banget, anak papa ganteng banget." Katanya.
" Pa...aku deg deg kan banget. " Katanya kurang PD.
" Udah jangan kebanyakan mikir, cepet berangkat nanti malah kamu telat, papa sama mama gak ikut acara akad, tapi nanti papa sama papa ikut pas waktu resepsi."
" Iya pa."
" Rombongan keluarga sudah ada di luar, Rendy juga udah nungguin kamu."
Dhika berjalan keluar beserta ayahnya, Rombongan iring iring tak banyak, Rendy sudah berada di depan halaman rumah nya.
" Cie cie , calon suami lama amat dandannya. " Goda Rendy.
" Apa.an sih ? berisik." Kali ini Dhika mempunyai rasa malu yang sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Nak ingat, jangan sampek salah pas ijab nanti Syheril batal lho jadi istrimu." Tutur mamanya.
" Ah , mama malah bikin aku takut aja."
Dhika menyalami kedua orang tuanya untuk meminta restu dan doa, lalu dia menaiki mobilnya beserta dengan Rendy
" Eh, pake mobil kamu sendiri." Kata Dhika sinis saat Rendi membuka pintu kemudi mobil Dhika.
__ADS_1
" Eh, calon manten gak boleh nyetir sendiri, harus ada ajudan kayak aku." Katanya PD.
" Ogah ah, aku mau sendiri. mau latian ijab biar gak malu."
" Apa.an sih biasanya juga gak punya malu kamu. "
" Hak, awas." Dhika sedikit mendorong Rendy dan mengambil alih pintu pengemudi kemudian dia langsung duduk dan menutup serta mengunci pintu mobil.
" Ok ok... dasar pengantin alay. " Kata Rendy yang hanya di balas senyum nyengir oleh Dhika.
Dhika dan Rendy beserta para rombongan yang jumlahnya hanya 4 mobil sedan berangkat dari rumah Dhika. Dengan beriringan mereka melaju dengan kecepatan standart.
" Saya terima nikah dan kawinnya Syheril binti Pramono dengan emas kawin tersebut ,di bayar TUNAI. " Berkali kali Dhika latihan sendiri dalam perjalanan.
Sudah lancar dan benar tapi dia tetep tidak bisa menghilangkan kecemasannya.
Sekali lagi dia melafalkan untuk memantap hati, dia sedikit menutup mata, dan berucap.
Setirnya oleng karna setelah membuka mata dia melihat ada nenek-nenek yang sedang menyebrang di keramaian jalanan apa lagi dia ada di hadapan mobil Dhika. Dhika membanting setir ke kanan hingga melewati trotoar tengah jalan pembatas jalur jalan dan mobilnya di hantam oleh mobil dari arah berlawanan.
BRAKKK......BRAAKKKK.....
Kedua mobil yang bertabrakan itu akhirnya terhenti setelah terseret sekitar 50 meter, tidak jauh memang tapi kedua mobil itu sudah remuk.
Rendi yang melihat kejadian kecelaan yang di alami sahabatnya itu langsung lemas, tak berdaya. kakinya gemetar saat dia turun dari mobilnya. . .
" DHIIIIKAAAAAAA." Triak Rendy sambil gemetar.
Semua orang sudah berkerumun dan di negara +62 ini seperti biasa, semua sudah menggunakan kamera HaPe mereka untuk mengabadikan moment naas ini.
*****
Papa dan Mama Dhika sudah berada di rumah sakit setelah mendapat kabar dari Rendy, sementara Rendy di tugaskan menyampaikan kabar Duka ini ke rumah Syehril.
__ADS_1
" Pa..... anak kita pa Dhika. " Kata mama Dhika dengan bercucuran air mata.
Papa Dhika tak sanggup berkata dia juga syook tapi dia juga berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sangat terpukul.
" Kenapa ini terjadi pada anak kita pa??" Katanya lagi sambil menangis dan semakin menjadi.
Ketika jenazah Dhika di keluarkan dan hendak di antar pulang mama Dhika langsung berlari dan mengoyang- goyang jasad Dhika.
" Dhika bangun nak, bangun !!! kamu gak boleh pergi ninggalin mama kayak gini nak. Bawa menantu mama pulang, kamu harus tepatin janji kamu nak. Ingat Dhika Syehril menunggu mu. " Tutur mama Dhika dengan mengoyang-goyangkan jasad Dhika.
" Ma udah ma, jangan kayak gitu, sabar kasian Dhika kalo mama seperti ini." Bujuk suaminya.
Selang hampir setengah jam ambulans yang membawa jasad Dhika sudah sampai di rumahnya. Di sana sanak saudara yang tadinya akan hadir di pernikahannya kini akan menghadiri pemakaman Dhika.
Terdengar suara oran-orang yang sedang menyelawat membacakan surat yasiin. Dan papa Dhika juga melihat ayah Syehril, Egi dan juga Rendy datang.
Ayah Syehril dan papa Dhika saling berpelukan mereka hanya bisa menangis tanpa mengucap apa-apa dan akhirnya mereka sama-sama membaca surat yaasiin sebelum di makamkan.
"Di makamkan jam berapa ini pak ?" Tanya pak ustad yang biasa memakamkan.
" Tunggu sebentar pak ?" Kata papa Dhika.
" Kamu nunggu siapa?ada saudara yang belom hadir ?" Tanya Ayah Syehril pelan.
" Apa kita tidak menunggu Syheril ?"
" Menurutku tidak usah, dia sudah sangat terpukul, aku takut dia malah setres." Pinta ayah Syehril.
" Iya baiklah, mungkin itu yang terbaik untuk Syehril."
Akhirnya mereka sepakat untuk memakamkan Dhika tanpa menunggu kehadiran Syheril.
------------83®5@ππ8¤π9--------------
__ADS_1