KEJORA UNTUK REYGAN

KEJORA UNTUK REYGAN
BAB 45 Di bawah rentiknya Hujan


__ADS_3

Siang itu, bel istirahat berbunyi, siswa-siswi kelas 12 IPS yang mengikuti ujian Pun berbondong-bondong menuju kantin. Di Perpustakaan, Reygan duduk seorang diri di kursi Paling belakang. Cowok itu ke sini bukan untuk mempelajari materi-materi yang diujikan, tapi hanya untuk menenangkan Pikirannya. Melihat siswa-siswi di sini dan mendengar ucapan anak-anak kelasnya membuat kepalanya berdenyut sakit


Suara berisik dari arah samping mengalihkan atensinya. Terdapat dua cowok yang tengah ribut di sana


Bruk !


Beberapa buku yang tersusun rapi di atas rak Jatuh berserakan


" Ardian gara-gara lo, nih ! tuduh Miko Pada Ardian, Ardian hanya diam tak menyahut. Miko tersenyum canggung saat Reygan menatapnya dengan tatapan datar. Ardian yang masih berdiri di belakang Miko pun tak segan-segan untuk memukul kepala sahabatnya itu dengan satu buku Paket


" OMG, SAKIT, ARDIAN ! Pekiknya refleks


" Diem lo ! ini Perpustakaan, bukan hutan,"


" Siapa juga yang bilang ini hutan ? ujar Miko sewot


" Nggak ada, " jawab Ardian


" Berarti .... "


" Wujud lo mirip spesies monyet. Pantes hidup di hutan," sarkas Ardian memotong ucapan Miko


Miko melotot tak terima, " Anj .... "


" Siapa itu yang ribut ?! Kalau mau ribut bukan di sini tempatnya Keluar dan teriak di lapangan, " omel sang Penjaga Perpustakaan memotong ucapan Miko


" Ardian, nih, Bu ! Nakal !" adunya. Ardian menatap Miko dengan sinis. Kakinya bergerak menendang kaki Miko sehingga kaki yang berusaha berdiri tersebut kembali ambruk


" Anjing, " umpat Miko. Ardian tak ada keinginan untuk membantu sahabatnya. Cowok itu duduk di samping Reygan


" Tumben, " ucap Ardian. Reygan menoleh dengan alis yang terangkat sebelah," Tumben ke sini. Biasanya kalau bukan karena disuruh buat ambil buku. lo nggak bakal ke tempat ini," lanjutnya


" Salah, ? tanya Reygan, Ardian menoleh dan menggeleng


" Nggak. Gimana keadaan lo ? Reygan menjawab lewat anggukkan kepalanya, Pertanda ia baik-baik aja


Buku yang ditaruh dengan kasar di atas meja, membuat Reygan dan Ardian menoleh. Miko cowok itu mendudukkan dirinya di hadapan Reygan," Matematika kemarin lo dapet berapa ? Pasti lo dapet lima ...."


" Sembilan Puluh, " jawab Reygan memotong ucapan Miko


" Hah," Miko dan Ardian terkejut bersamaan


Selama Reygan bersekolah, dari SD hingga SMA, Reygan tidak pernah yang namanya mendapatkan nilai delapan Puluh di mata Pelajaran Matematika. Paling tinggi hanya mendapatkan nilai enam Puluh saja


Miko menangkup Pipinya, " OMG, " ia memukul meja di hadapannya tatapan interogasi. Cowok itu menangkup Pipi Reygan, " Bilang ke gue Siapa yang ada di diri lo sekarang Lo bukan Reygan kan Pasti,"


Reygan menghempas Pelan tangan Miko yang begitu kuat menangkup Pipinya itu


" Lo ngomong apa sih,"


Miko menggeleng-gelengkan kepalanya cowok itu lalu berdeham. " Lo kayaknya Pas koma di alam sana lo jumpai sama Albert Einstein, " cowok itu menatap Reygan dengan tatapan memicing, " Lo tukeran otak, ya ? tanya Miko, " Lo jadi Pinter gini, Reygan ? Lo, kan Gobi sakit bego, " ucap Miko diakhiri Pekikan kencang lantaran Ardian menginjak kakinya begitu kuat


Ardian menatap Miko dengan sinis kemudian ia menatap Reygan, " Lo belajar dari mana," tanya Ardian Pada Reygan


" Buku latihan,"


" Semuanya,"


Reygan mengangguk


" Lo kok jadi kalem begini sih, Reygan Samudra Aldebaran gue ngerasa kayak monyet di sini dua sahabat gue sikapnya kayak kucing," Ujar Miko. ia memasang wajah yang dibuat sedih


Ardian beranjak dari duduknya saat bel masuk berbunyi. sebelum ia melenggang bersama Reygan, Ardian berkata, " Lo emang monyet baru sadar,"


" Anj ..... " Miko berdeham saat Penjaga Perpustakaan menatapnya dengan tajam," Hehe, Permisi Bu," Cowok itu menyusul dua sahabatnya yang meninggalkannya


Di ambang Pintu Perpustakaan. langkah kaki Reygan terhenti saat tangan lentik mencekal Pergelangan tangannya. Reygan menoleh refleks ia menyentak Pelan tangan cewek itu


" Maaf lo siapa, " tanya Reygan


" Gu-gue Marissa, maaf," ucapnya Pelan. Reygan diam, ia tak mengerti kenapa cewek di hadapannya ini tiba-tiba mengucapkan kata maaf


" Salah lo apa," tanya Reygan


Marissa menggeleng," kalau gue bilang saat keadaan kayak gini, lo nggak akan ngerti. ini buat lo. Hitung-hitung sebagai Permintaan maaf gue, " Marissa memberikan kotak susu dan roti kepada Reygan


Reygan hendak menerimanya. tapi Miko menyentak tangan Reygan. Cowok itu merebut susu kotak itu dan roti dari tangan Marissa, " Wih ! susu sama roti nih ! Buat gue kan Marissa,"


" I-itu kan buat ... "


" iya tau. Buat gue, kan ? Ya elah Marissa nggak usah malu-malu segala Pake nitipin ke Reygan," Miko menyela Ucapan Marissa. ia sedikit menunduk dan berbisik ke arah Marissa," Lo mau jadi Parasit lagi ? Lo mau hancurin hubungan Kejora untuk kedua kalinya,"


Marissa menggeleng cepat begitu mendengar tuduhan Miko, " Gue cuma mau minta maaf ke kalian terutama ke Reygan Apa itu salah,"


Miko menegakkan tubuhnya kembali itu ," Gue udah maafin lo nggak tau Reygan kalau udah inget semua nanti, Pergi lo dari sini," usirnya


" T-Tapi gue ... "


" Pergi Marissa, " usir Ardian dengan datar. Marissa menghela nafas cewek itu mengangguk Pelan sebelum akhirnya Pergi


Reygan menatap Punggung Marissa yang kian menjauh dari Pandangannya Kenapa cewek itu meminta maaf kepadanya ?


" Ayo ke kelas," ajak Ardian


Reygan menoleh, " Cewek itu tadi siapa,"


" Bukan siapa-siapa. Orang gila, jangan dipikirin Ayo ke kelas," jawab Miko. ia merangkul Pundak Reygan tersenyum tipis saat sahabatnya ini tak menolak Perlakuannya. Meskipun Reygan tak ingat siapa Miko dan Ardian


Miko menghentikan langkahnya, " Lo berdua duluan aja. Gue mau ke toilet,"

__ADS_1


" jangan lama-lama Sebentar lagi Panitia ujian kita dateng jangan sampe lo telat," kata Ardian


" Gue mau ke toilet, bukan mau cari jodoh," jawab Miko sedikit emosi


Ardian memutar bola matanya malas, ia tak menyahuti ucapan Miko lagi. dan memilih memasuki kelasnya bersama Reygan setelah dua sahabatnya melenggang dari hadapannya. Miko berjalan di depan kelas 11 IPA 2. Kelas itu nampak sepi tak ada Penghuninya sekali


Miko menatap kotak sampah di depannya, lalu menatap susu dan roti yang ada di tangannya, " Yang ngasih sama barang yang dikasih sama-sama kayak sampah," Miko membuangnya, tak minat untuk menerimanya Pemberian dari Marissa Cewek Cantik munafik yang melukai Sahabatnya


...•••••...


" YANG ABSENNYA DEKAT SAMA MIKO JANGAN LUPA BAWA CONTEKAN DAN JANGAN PELIT BUAT GUE BUAT CONTEKIN, " teriak Miko sambil menggulung sebuah buku yang dipegangnya. Panitia ujian belum memasuki kelas sehingga mereka masih bisa leluasa belajar dan menyiapkan contekan sebelum ujian dimulai," ingat ! barang siapa yang menyusahkan teman maka diakhirat ia akan disusahkan juga Ngerti ," selanjutnya


" Belajar makanya ! Nggak nyontek mulu hidup lo," sahut salah satu siswa


Mendengar ucapan Miko, Kejora menatap Reygan yang menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya. ia merindukan sosok Reygan, biasanya cowok itu yang sibuk mencari contekan saat ujian begini,


" Kamu lebih baik jadi Reygan yang banyak tingkah daripada Reygan yang Pendiem begini, " gumam Kejora


Tanpa sengaja Kejora menyentuh lehernya ia terkejut tak kala kalung yang setia melingkar di lehernya tidak ada. Kejora merogoh saku bajunya. Nihil kalungnya tidak ada di sana. Kemudian ia membuka tasnya menggeledah mencari barang Paling berharga miliknya


" Nggak mungkin hilang, kan ?


" Lo cari apa Kejora," tanya Ana yang baru saja datang


Kejora mendongak, " Cari kalung gue Ana, Nggak tau di mana tiba-tiba hilang Gue baru sadar gue nggak Pake Kalung,".


Ana sempat terdiam, sebelum akhirnya ia mendekat dan ikuti membantu mencari kalung," Lagian Lo sih ! Pake segala dilepas itu kalung Pemberian dari Reygan. Gimana hilang, Kejora ? kalau Reygan inget semuanya dan Reygan tau kalung itu hilang gimana ?


Kejora memalingkan wajahnya, " Gue udah selesai sama Reygan Kalau Lo lupa,"


" iya hubungan kalian yang selesai. Tapi hati kalian berdua masih belum dipisahin,"


Kejora menoleh dan menatap Ana dengan datar. Melihat itu Ana menggaruk tengkuknya yang tak gatal," So-sorry yaudah ayo gue bantuin cari lagi,"


Kejora mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam tasnya Loker mejanya pun turut ia geledah tapi tak ada kalungnya di sana


" Lo Cari ini kan,"


Kejora mendongak menatap tangan Reygan yang terulur ke arahnya. Kejora mengangkat Pandangannya


" R-Reygan,"


Reygan mengangguk, " Gue temuin ini di kursi taman semalam,"


Kejora menepuk dahinya. Kenapa ia bisa seceroboh ini. sih ? Coba saja semalam Reygan tidak ada di sana, mungkin kalungnya sudah hilang entah ke mana.


ia langsung mengambil kalung dari tangan Reygan, " M-makasih, " Kejora menatap Reygan, " kamu semalam Pulang jam berapa,"


" Penting buat lo tau ?


" iya, Kalau kamu Pulang malam-malam kan, kamu tidurnya juga larut jangan bergadang ya, aku takut kamu sakit, " ujar Kejora


" Sekali lagi makasih. Kalung ini berarti buat aku,"


" sepenting itu, " tanya Reygan


Kejora mengangguk. " Penting. Soalnya dia Pernah bilang. kalau kalung ini nggak ada di leher aku, berarti aku sama dia bener-bener udah selesai, " Kejora tersenyum, " Makanya aku takut,"


Reygan tak membalas ucapan Kejora. ia menatap manik mata Reygan begitu dalam. Entahlah, berdekatan dengan Kejora seperti ini membuatnya enggan untuk Pergi


" Andai kamu ingat semua, Reygan, Pasti kamu sekarang lagi marahin aku gara-gara aku ceroboh hilangin kalung ini, " batin Kejora


Kejora Terkekeh Pelan, ia berusaha mengaitkan kalung tersebut di lehernya. Reygan yang melihat Kejora seperti tengah kesulitan, lantas berdiri di samping Kejora dan mengambil kalung itu dari tangan Kejora


Kejora mendongak sedikit terkejut


" Reygan M-Mau ngapain,"


Reygan hanya meliriknya sekilas, ia mengumpulkan Surai hitam Kejora menjadi satu. Embusan napas hangat Kejora yang mengenai Permukaan Pipinya, membuat Kejora terpejam. Cowok itu dengan teliti mengaitkan kalung tersebut di leher Kejora. Reygan mencoba terlihat biasa saja saat detak jantungnya berdebar kencang


" Udah gue Cuma mau Pasangin kalung lo," ucap Reygan


Kejora menunduk, menyentuh liontin kunci tersebut, " Makasih Reygan,"


Reygan mengangguk. Ketika ia hendak melenggang duduk di kursinya tarikan Pada lengannya membuat Reygan tetap berdiri di tempatnya


" Ada apa ?


" Ehm .... " Kejora menggaruk tengkuknya yang tak gatal, " S-semangat semoga kamu lulus dengan nilai ujian yang yang terbaik Reygan " Kejora tersenyum setelah mengatakan itu, " ini Permen Buat kamu," Kejora memberikan Permen yang ia ambil dari dalam tasnya


Reygan menerimanya. Tanpa mengucapkan kata terima kasih, cowok itu melenggang duduk di kursinya. ia membaca bungkus Permen terbaru


" Fighting Dear,"


Reygan menoleh menatap Kejora sebentar yang turut menatapnya dengan senyuman tulus


" Buat lo," Reygan memberikan Permen tersebut ke Miko. Melihat itu senyum yang ada di bibir Kejora Perlahan memudar, Apa ini yang dirasakan Reygan saat Kejora menolak Pemberiannya ?


" ini Buat gue ? Gue nggak suka Permen, apalagi Cuma satu biji doang," Kata Miko. Melihat tatapan Reygan yang tajam membuat Miko kikuk. ia hampir lupa jika temannya ini tidak ingat lupa apapun


" Buat lo," ucap Reygan lagi," Mulut lo soalnya bau," lanjutnya. suara gelak tawa yang begitu menggelegar memenuhi kelas. Tak menyangka Reygan akan berkata seperti itu


" Nggak usah marah Miko ! Bener kata Reygan, mulut lo itu bau dosa,"


" DARIPADA LO BAU SAMPAH," sahut Miko tak terima


Cowok itu membuka bungkus Permen dengan kesal dan memasukkan Permen tersebut ke dalam mulutnya


" Banyakin makan Permen Biar mulut lo nggak bau sampah," ejek Miko, Kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Aldo, Miko hendak membuang bungkus Permen yang ia Pegang tapi cekalan Pada tangannya membuat langkah Miko terhenti

__ADS_1


" jangan dibuang," Kata Reygan. ia mengambil bungkus Permen tersebut dari tangan Miko dan menyelipkannya di antara halaman buku tulisnya


" Mau lo buat apa, Reygan ? Mau lo daur ulang ? Pertanyaan yang terlontar dari bibir Miko tak dijawab Reygan


" Dari siapa, " tanya Ardian


Reygan menoleh dan berkata, " Kejora,"


Sudut bibir Ardian terangkat membentuk seulas senyuman yang sangat Tipis. Bersyukur kalau Reygan tidak menjauhi Kejora seperti ada di Pikirannya


" Gue boleh nitip Pesan sama lo, " tanya Ardian


" Apa, "


" Jangan buat Kejora nangis. Nanti Kalau lo udah tau semuanya lo bakal marah sama diri lo sendiri,"


...••••...


Bel Pulang sekolah telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Banyak yang berbondong-bondong berteduh di halte lantaran rintik hujan membasahi tanah kota ini


Cowok yang sedari tadi duduk di halte pun menatap langit yang basah ia mengambil earphone-nya dan memakainya. Lagu yang berjudul Ada untukmu Pun membuat mata Reygan terpejam Penggalan lirik tersebut mampu menghipnotisnya. Cowok itu membuka matanya saat merasakan kakinya tersenggol oleh seseorang. ia menoleh dan mendapati cewek duduk di sampingnya


" Kejora," ucap Reygan


Kejora menoleh dan tersenyum, " Kamu lagi nunggu jemputan ?


Reygan melepaskan earphone-nya, cowok itu menggeleng, " Gue nunggu taksi lewat,"


" Motor kamu,"


" Gue belum boleh Pergi bawa kendaraan sendiri," Jawab Reygan


Gemericik air hujan yang terdengar berisik, membuat siswa-siswi yang tadinya berdiri di depan halte lantas memundurkan tubuhnya Hujan turun sangat deras, membuat banyaknya siswa-siswi SMA Satya bangsa terjebak di sekolah


Kejora melihat itu Pun Tersenyum. Melihat hujan seperti ini mengingatkannya dengan masa di mana ia Pulang jalan kaki bersama Reygan


" Reygan, " Panggil Kejora, " Pulang jalan kaki mau ? Sama aku kok kamu ingat jalan rumah kamu, kan ? tanya Kejora sedikit kikuk Apa Pertanyaan ini terlihat sangat Bodoh ?


Reygan tak menjawab, ia terus menatap Kejora menunggu cewek itu melanjutkan kalimatnya


" Reygan, S-soory ... " Kejora sedikit mencondongkan tubuhnya dan menempelkan Punggung tangannya Pada dahi Reygan, " Oke, aman Ayo," Kejora menarik tangan Reygan


Cowok itu ikut berdiri dari duduknya. sebelum kakinya terseret akan tarikan Paksa dari tangan cewek itu. Reygan berucap, " Serius,"


" Dua serius malah ! Ayo keburu hujannya reda," Kata Kejora dengan antusias


Belum juga Reygan mengucapkan kalimat Persetujuan cewek itu menariknya dengan tidak sabaran menuju tengah-tengah, derasnya hujan. Kejora tersenyum melihat tak ada Penolakan dari bibir Reygan. ia takut jika Reygan mengusirnya atau bahkan menolaknya seperti kemarin Namun dugaannya salah Reygan sepertinya menikmati hujan ini.


Kejora mendongak, " Kamu kalau dingin bilang ya,"


" Nggak dingin,"


Kejora tersenyum mendengarnya. ia sengaja membawa Reygan di tengah-tengah hujan seperti ini, berharap Reygan mengingatnya sedikit demi sedikit. Reygan mendongak, membiarkan wajahnya yang ditetesi oleh air hujan


" Aku boleh ungkapin semuanya Ke kamu ," tanya Kejora, Reygan mengangguk Kejora menarik napasnya dalam lalu mengembuskan kasar. ia menendang Pelan kerikil-kerikil kecil yang ia lewati," Aku kangen kamu," ucap Kejora," Boleh, kan,"


" Lo ... "


" Tolong jangan tanya aku siapa dan apa yang terjadi sama kamu, kamu nggak bakal ngerti sekalipun aku bilang semuanya, Aku cuma mohon sama kamu, dengerin aku sampe aku selesai bicara," ujar Kejora memotong ucapan Reygan


" S-soory, " ucap Reygan diangguki Kejora


" Maaf gara-gara aku semuanya jadi kayak gini, Maaf juga aku cewek yang nggak tau diri Perihal hati. kalau dari awal aku Percaya sama kamu mungkin kamu nggak bakal kayak gini," ucap Kejora menahan perih di hatinya, " Aku kangen kamu, kangen Reyganya Kejora yang selalu buat aku ketawa, yang selalu buat aku tersenyum dan yang selalu hapus air mata aku saat terluka. Bukan buat aku nangis begini,"


Kejora menitihkan air matanya, Reygan tak menyadari itu semua karena air mata Kejora menetes bersamaan dengan tetesan air hujan yang membasahi wajah cantiknya


" Dulu ada yang hapus air mata aku, Tapi sekarang .... " Kejora terkekeh hambar dan menggelengkan kepalanya, " Nggak ada tangan yang hapus air mata aku lagi, " Kejora menoleh menatap Reygan yang juga menatapnya dengan intens, lalu cewek itu kembali memutuskan kontak matanya


Melihat manik mata sendu itu membuat hati Reygan berdesir ngilu tidak tahu apa penyebabnya, ia juga tidak mengerti apa yang diucapkan Kejora, Tapi, ia merasa ucapan cewek itu seolah-olah untuknya. Namun ia tak tahu apa kesalahannya hingga Kejora menangis


" Kamu kapan Pulih ? Kamu nggak mau ajak aku ke gubuk itu lagi ? Nggak mau datang ke rumah aku lewat jendela kamarku lagi," Kejora menjeda ucapnya itu " Kamu ... nggak mau Peluk aku,"


Reygan menghentikan langkahnya saat Pertanyaan yang dilontarkan dari bibir Kejora membuat dadanya sesak


" Gue buat kesalahan apa sama lo, lo nangis begini ? Bilang, bilang apa kesalahan gue," suruhnya sedikit mendesak


Kejora menggeleng," Kamu nggak salah apa-apa," Cewek itu berdiri di hadapan Reygan, matanya menatap langsung dengan jelas mata Reygan Tatapan yang dulu selalu menghipnotisnya, saat ini manik mata itu selalu berhasil membuatnya menangis


Cowok itu tersentak Pelan. jantungnya berdebar sangat kencang Reygan meneguk ludahnya saat mendengar satu isakan lolos dari bibir Kejora


" R-Reygan," lirihnya," Aku boleh berharap kalau semuanya ini cuma bohongan ? Kalau iya tolong hentikan hukuman ini sampe sini aja, A-aku nggak bisa," ucapnya terisak Pilu. Cewek itu tak bisa menahannya. Berdekatan dengan Reygan saat kondisi seperti itu membuat Kejora tak tahan untuk menumpahkan tangisnya," Tolong Jangan buat aku menderita lebih lagi, " Kejora mengambil Pasokan oksigen saat dadanya terasa sesak," Kemarin aku egois suruh kamu Pergi. Tapi boleh aku egois sekali lagi buat kamu kembali lagi ? Buat aku hari dan selamanya,"


Reygan diam. ia tak bisa mencerna semua ucapan Kejora dengan baik. Kepalanya berdenyut saat ia mencoba untuk mengingat-ingat semuanya


Kejora mendongak, memundurkan sedikit tubuhnya. manik mata kosong di hadapannya, " Hari ini aku emang berjuang buat kamu bertahan walaupun kamu sering usir aku Tapi aku nggak tau hari esok," Cewek itu memalingkan wajahnya, " Mungkin aku nyerah," ia kembali menatap Reygan, tersenyum sendu dengan tulus membuktikan bahwa dirinya tidak apa-apa," Cepet sembuh, Aku selalu nungguin kamu datang temui aku,"


Kejora membalikkan badan hendak Pergi, Tapi tarikan Pada Tangannya membuat Kejora kembali menghadap Reygan," Lo bisa Kalau ngomong dengan jelas ? Bilang semuanya. Lo itu sebenernya Siapa gue ? Kenapa lo kayak gini sama gue," tanya Reygan mendesak


" Kalau aku bilang Pacar ..." Kejora menggeleng dan mengulang Ucapannya," kalau aku bilang, aku mantan Pacar kamu apa kamu Percaya, Reygan " tanya Kejora, " Apa kamu Percaya kalau aku adalah orang yang kamu Perjuangkan kemari ? Apa kamu Percaya kalau aku orang yang kamu lindungi dari maut ? Dan apa kamu Percaya kalau aku adalah orang yang kamu tangisin Kemarin,"


Reygan berpikir sejenak, lalu menggeleng samar, " Nggak. Gue nggak Percaya,".


Kejora Terkekeh getir mendengar jawaban Reygan, " jangan tanya itu lagi, ya. Biarin kamu Pilih dengan sendirinya dan biarin kamu tau seiring berjalannya waktu," Cewek itu mendongak saat air hujan tidak lagi mengguyurnya. Hujan yang turun dengan deras tadi, sudah mereda Kini hanya tersisa gerimis-gerimis kecil serta langit hitam saja


" Aku Pulang duluan. Kamu langsung istirahat kalau udah sampe rumah Jangan lupa belajar buat ujian besok Reygan," ucapnya seraya tersenyum tipis," Aku Pulang dulu. Lekas sembuh Kesayangannya Kejora," ucapnya Lalu Cewek itu pun membalikkan badannya dan Pergi meninggalkan Reygan


Reygan tak Pergi dari tempatnya. ia masih tetap berdiri di sana matanya terus menatap kepergian Kejora hingga Punggung cewek itu tak terlihat lagi. Reygan mengulurkan tangannya membiarkan telapak tangannya ditetesi air gerimis. Hujan ini tak asing baginya, ia seperti Pernah merasakan ini bersama seseorang Juga


" Kejora," gumam Reygan," Gue nggak Percaya sama lo karena gue emang bener-bener nggak ingat lo siapa bagi gue,"

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2