Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 1


__ADS_3

"Elena bangun ini sudah jam berapa? Memangnya kau tidak pergi ke kampus?" teriak Sisil sambil mengedor pintu kamar Elena.


Masih hening tidak ada sahutan dari dalam. Sambil menghela napas kasar Sisil kembali mengedor pintu tersebut sedikit lebih keras.


"Elena!"


"Anak ini tidur apa pingsan? Kenapa sulit sekali dibangunkan?" keluh Sisil yang mulai lelah.


Pintu kembali digedor.


"Astaga, Aunty brisik sekali!" teriak Elena frustasi sambil mendudukkan dirinya kasar di atas kasur.


"Cepat bersiap-siap. Aunty tunggu di meja makan untuk sarapan bersama!" Sisil berujar dari luar.


"Iya," balas Elena malas.


Hening. Elena diam dengan tatapan kosong. Tak berapa lama kesadarannya berangsur-angsur mulai terkumpul, Elena langsung membelalakkan mata saat menoleh dan melihat jam di atas nakas sudah menunjukan pukul sembilan lebih.


"Oh god!" Elena segera melompat dari atas tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi. Terdengar dentuman pintu yang ditutup dengan kasar.


Terlalu lama kalau harus mandi, pikir Elena. Alhasil ia hanya membasuh muka dan menggosok gigi agar mempersingkat waktu.


Tidak kurang dari lima menit Elena sudah berpenampilan rapi, kini ia sedang berdiri di depan cermin. Hanya tinggal menyisir rambut panjangnya yang sedikit bergelombang lalu pergi menemui Sisil yang mungkin sedang nenunggunya.


"Elena, kau tidak sarapan dulu?" tanya Sisil kepada Elena yang berdiri sambil menenggak segelas susu dengan rakus.


"Tidak Aunty. Aku sudah hampir terlambat." jawab Elena tidak fokus dengan lawan bicaranya.


"Makan dulu sarapanmu. Sebentar saja!" pinta Sisil.


"Aku benar-benar tidak sempat. Simpan saja untuk nanti!"


"Aku pamit!" Alena membalik tubuhnya dengan kaki siap melagkah.


"Biar ku antar." Suara bariton tiba-tiba terdengar tepat di samping Elena.


Elena terkejut dan refleks menoleh. Matanya terkunci pada sosok laki-laki berahang tegas yang menatap datar ke arahnya. Terpesona, hanya itu yang ada dalam benak Elena. Di hadapannya berdiri tubuh tegap Nathan dengan stelan jas mahalnya. Terlihat sangat tampan meski tanpa berekspresi. Andai Nathan bukan suami Auntynya mungkin Elena sudah jatuh cinta kepada pria tersebut.


Tanpa menunggu jawaban dari Elena yang masih terpaku Nathan segera melangkah keluar.


"El!" Sisil menggeleng heran.


"Jarang-jarang dia mau menawarkan tumpangan, jadi tunggu apa lagi?"


"I-iya, Aunty."


Elena mengusap keningnya sambil menghela napas pelan. "Sebenarnya aku ingin menolak tawarannya tapi bagaimana caranya?" Elena membatin.


"Aku pergi."

__ADS_1


"Iya sayang, hati-hati!" Sisil mengulas senyum lembut kemudian melambaikan tangan ke arah sang keponakan yang mulai melagkah cepat.


Di dalam mobil Elena hanya diam tanpa menolehkan kepalanya ke arah kemudi. Sudah menjadi kebiasaan keduanya hanya saling bungkam saat sedang bersama. Elena tidak menyukai pria di sampingnya itu. Ia begitu muak dengan sikap Nathan yang suka seenaknya sendiri.


"Kau tampak tidak suka berada satu mobil denganku!" ujar Nathan melirik sekilas Elena yang melihat ke arah luar.


"Tentu saja," jawab Elena dengan tidak acuh.


"Ayolah, Sayang! Jangan mengabaikanku seperti itu!" cetus Nathan sambil berkonsentrasi pada jalanan yang cukup padat.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Bersikap manjalah mungkin kau akan terlihat lebih manis!" balas Nathan sambil mengulum senyum.


Elena memelototkan matanya. "Hanya dalam mimpimu!" jawab Elena ketus.


Nathan menghela napas panjang. Tangannya terulur meraih jari lentik Elena lalu menggenggamnya erat.


"Kau selalu saja galak setiap kali bersamaku. Dengan kau bersikap seperti itu membuatku semakin jatuh cinta padamu!"


"Sinting," gumam Elena malas.


***


"Sayang!"


Elena menoleh saat mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya memanggil. Di sana di ujung lorong itu, kekasihnya tersenyum lebar sambil berjalan menghampirinya.


"Mau pulang, gara-gara bangun kesiangan membuatku terlambat dan akhirnya dosen sialan itu tidak mengizinkanku mengikuti kelas!" aku Elena kepada Arsen dengan suara lesu.


"Bukankah itu salahmu juga, heh! Sudah jangan sedih!" kata Arsen sambil mengusap sudut bahu Elena untuk menenangkan gadis tersebut.


Elena hanya mengangguk. Arsen adalah kekasih Elena sejak satu tahun yang lalu. Pemuda itu baik dan sangat perhatian kepada Elena. Dia laki-laki yang cukup tampan dengan tubuh tinggi tidak besar cenderung kurus. Memiliki lesung pipi yang terlihat manis saat ia tersenyum.


"Mau aku antar pulang atau jalan-jalan terlebih dahulu?" tanya Arsen, ia tau kekasihnya sedang tidak dalam mood yang baik.


"Kau tidak sibuk?"


"Hari ini aku belum memiliki kegiatan apapun."


"Terserah kau saja!" jawab Elena pasrah.


Sepasang kekasih itu berjalan beriringan menuju parkiran kampus sambil bergandengan tangan. Banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Cantik dan tampan membuat mereka tampak serasi.


"Aku sangat mencintaimu El, sungguh!" batin Arsen dengan rasa cinta yang begitu dalam untuk gadis di sampingnya. Mata Arsen sesekali melirik wajah Elena yang fokus menatap ke depan.


"Arsen, aku lapar. Bagaimana kalau kau mengajakku makan saja?" tutur Elena.


"Baiklah. Kita cari tempat makan!" jawab Arsen sambil mengelus rambut Elena dengan sayang.

__ADS_1


"Aku yang memilih tempatnya ya," pinta Elena lagi.


Merasa gemas Arsen mencubit pelan sebelah pipi Elena. Membuat sang empu menatap horor kepadanya.


"Pilih sesukamu tempat yang kau inginkan!" Arsen mulai melajukan kendaraannya.


Beberapa waktu kemudian...


Tiba di depan Restoran yang cukup mewah. Keduanya turun dari mobil lalu berjalan beriringan memasuki Restoran tersebut. Arsen mengapit tangan Elena menuju meja yang terletak di paling ujung dekat dinding kaca agar mereka bisa makan sambil melihat suasana luar.


Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan kemesraan keduanya dengan tatapan tidak suka.


"Nikmatilah kebersamaan kalian selagi masih bisa!" ucap seseorang dengan seringai misteriusnya.


***


Seperti biasa makan malam diiringi dengan kecanggungan. Hanya Sisil yang tampak bercerita heboh namun hanya dianggap angin lalu oleh sang suami. Elena hanya mengangguk dan tersenyum palsu untuk menanggapi. Lain halnya dengan Nathan yang hanya diam dengan wajah datar tanpa memperdulikan celotehan sang istri.


"El, aku besok akan pergi ke Singapura. Kau tidak apa-apakan kalau aku tinggal?" kata Sisil tiba-tiba sambil menatap Elena yang sedang mengunyah pelan.


"Aku cukup terkejut tapi aku tidak apa-apa!" jawab Elena sambil tersenyum. "Untuk apa Aunty ke sana?" Elena meletakkan sendok ke atas piring kosong lalu fokus menatap Sisil.


"Menghadiri pesta temanku. Mungkin aku akan pergi selama lima hari untuk sekalian berlibur." jelas Sisil sambil melirik ke arah suaminya.


"Oh... dengan Uncle juga?" tanya Elena membuat Nathan segera mengangkat wajahnya. Elena membalas tatapan Nathan dengan wajah sengit.


"Tidak, Unclemu terlalu sibuk bekerja. Mana mungkin ada waktu untuk sekedar berlibur!" sindir Sisil.


Nathan langsung menoleh kepada istrinya sambil tersenyum masam lalu meneguk air dalam gelas hingga tandas.


"Maafkan aku. Mungkin lain waktu aku akan menemanimu!" ucap Nathan untuk menenangkan istrinya.


Sisil hanya membalas dengan senyum tipis. Ia paham kalau suaminya itu pria yang sibuk. Toh, di sana ada banyak teman-temanya jadi tidak masalah untuknya pergi sendiri.


Tatapan Nathan beralih kepada Elena. "Kau baru pulang, El?" tanya Nathan melihat Elena masih menggunakan pakaian yang ia kenakakan sejak pagi.


"Iya Uncle."


"Dari mana saja?" Nathan menatap Elena penuh selidik.


"Ada kelas tambahan jadi pulang terlambat."


"Benarkah?"


Elena mengangguk. "Aku sudah selesai, aku permisi ke kamar dulu ya," Elena langsung beranjak dari kursinya. Berjalan tergesa menaiki tangga untuk menghindari tatapan penuh makana dari Nathan.


Diam-diam Nathan memperhatikan langkah Elena yang sedang menaiki tangga. Di lubuk hati yang paling dalam ia ingin sekali memiliki gadis itu seutuhnya, tapi ia sadar bahwa yang di sukainya keponakannya sendiri anak dari mendiang kakak Sisil. Pusing memikirkan perasaannya, Nathan membuang napasnya kasar. Ia langsung berdiri dari kursinya berjalan meninggalkan meja makan tanpa memperdulikan Sisil yang menatapnya bingung.


*****

__ADS_1


Next Chapter>


__ADS_2