Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 32


__ADS_3

Pagi yang mendung dengan hujan yang perlahan semakin turun dengan derasnya. Membuat Elena hanya menggeliatkan tubuhnya enggan untuk membuka mata. Elena sudah kembali ke rumah Rega sejak kemarin, dan pagi ini ia harus pergi bekerja. Namun cuaca sepertinya mendukung Elena untuk kembali tertidur.


"Sudah pukul berapa ini?" Elena memfokuskan pandangannya pada jam di dinding, baru pukul 7 kurang. Elena kembali meringkuk dengan guling di pelukannya.


Dering ponsel membuat Elena kembali membuka mata. Dengan berat hati ia mendudukkan dirinya, meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas. "Ya halo...," Sapa Elena tanpa niat.


"Kau baru bangun tidur? Aku sudah di jalan menuju tempat tinggalmu. Cepat bagun dan bersiap-siaplah!" Ucap seseorang di seberang telepon.


"Ini masih terlalu pagi, di luar juga baru turun hujan. Kau tidak perlu ke sini, aku ke kantor naik taksi saja."


"Kau tidak menghargai niat baik ku. Aku ingin mengantarmu, aku tunggu di depan gerbang."


Panggilan di putus secara sepihak oleh Nathan. Elena menyibak selimut yang menggulung tubuhnya. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan diri seperti perintah Nathan.


20 menit kemudian, Elena sudah rapi lengkap dengan setelan kerjanya, berjalan menuju pintu utama ingin segera menemui Nathan yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.


Saat membuka pintu sosok Rega yang pertama Elena lihat. Sepertinya pria itu baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya. Elena melihat Rega dengan mulut setengah terbuka, terkejut dengan kehadiran pria itu yang sudah beberapa hari tidak ia temui. "Kau sudah pulang, kenapa tidak mengabariku?" Tanya Elena.


"Aku sengaja ingin mengejutkanmu. Sepertinya aku berhasil." Rega tertawa pelan. "Kau sudah ingin berangkat? Di luar masih hujan sebaiknya nanti saja."


"Ya kau berhasil." Elena mulai gelisah bagaimana kalau Rega tau ia pergi dengan pria lain. " A-aku akan berangkat sekarang karena aku ingin membeli sesuatu dulu sebelum berangkat ke perusahaan." Kilah Elena.


Rega menatap lekat Elena yang berusaha bersikap tenang. "Biar ku antar. Kau akan basah kalau menunggu taksi di depan."


"Tidak perlu, kau baru saja pulang pasti lelah. Biar aku berangkat sendiri. Kau istirahat saja." Elena berusaha menolak. Elena melirik ke arah gerbang yang sudah terparkir mobil hitam milik Nathan yang masih menunggunya. "Bisa gawat kalau Rega sampai melihat mobil Nathan, aku harus membuat Rega segera masuk ke dalam rumah." Batin Elena.


"Sayang, kau seperti menyembunyikan sesuatu?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun. Lebih baik kau segera masuk." Elena menarik lengan Rega memasuki rumah.

__ADS_1


■■■■■■


Sedangkan di dalam mobil Nathan melihat semua yang di lakukan Elena. Nathan menahan kuat-kuat dirinya agar tidak keluar dari mobil. Ia tidak boleh bertindak gegabah atau semuannya akan menjadi lebih sulit. Nathan memukul stir mobil saat melihat Elena menarik tangan tunangannya memasuki rumah. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, Nathan tidak rela gadisnya bersama pria lain.


"Kenapa lama sekali? Sedang apa mereka?" Nathan sudah berpikir yang tidak-tidak. Dirinya mulai cemas.


Cukup lama Nathan menunggu. Hingga akhirnya Elena keluar menuju ke arahnya, berjalan tergesa di tengah rintiknya hujan.


Nathan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kenapa lama sekali?" Tanya Nathan setelah Elena duduk dengan tenang.


"Maaf, aku harus meyakinkan Rega dulu."


Nathan menoleh ke samping, menatap pada kekasihnya. "Meyakinkan yang seperti apa?"


Ucapan Nathan membingungkan Elena, "Meyakinkan dengan kata-kata. Tidak usah berpikir yang tidak-tidak terhadapku. Aku mencintaimu." Elena berucap sambil menatap manik haselnut milik pria itu.


"Aku percaya. Tapi tetap saja aku cemburu melihat kedekatanmu dengan wakil direktur itu."


Nathan mengusap-usap dagunya yang terasa sedikit kasar karena belum sempat bercukur. Pertanyaan Elena membuatnya langsung teringat dengan Jessica yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui. "Itu tidak penting. Lagi pula aku sudah tidak berhubungan dengannya.


"Bukannya kau sudah bertunangan dengan wanita itu?" Elena penasaran dengan kebenaran tentang hubungan Nathan bersama wanita cantik yang sempat ia lihat dulu.


"Siapa bilang? Kami hanya berteman baik." Jawab Nathan ringan.


"Aku pernah melihat beritamu di internet waktu itu."


"Dan kau percaya dengan berita tidak bermutu seperti itu. Asal kau tau saja itu hanya berita hoax. Aku hanya dekat dengannya tanpa ada ikatan apapun, hanya sebagai partner di ranjang-," Nathan menggantung ucapannya.


"Jadi seperti itu." Elena menahan kecemburuannya pada Nathan. Ia mengalihkan pandangannya, menatap ke luar melalui jendela mobil di sampingnya.

__ADS_1


Nathan merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia keceplosan dengan mengatakan sesuatu yang mungkin bagi Elena menjijikan. Ia tau Elena tidak menyukai ucapan yang baru saja dirinya lontarkan. Terbukti dari perubahan sikap yang di tunjukan Elena. "Sayang, maaf seharusnya aku tidak mengatakan hal itu."


Elena masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak mendengar ungkapan maaf dari Nathan.


"El, kau marah padaku?" Nathan menoleh ke arah Elena meraih dagu gadis itu agar meghadapnya.


Elena segera menepis tangan Nathan enggan melihat pria tersebut. "Aku tidak marah hanya malas padamu." Ujar ketus Elena.


"Kau marah karena aku tidur dengan wanita lain?" Kata Nathan sambil mengusap keningnya. "Aku melakukannya waktu kau pergi dariku, sekarang sudah tidak lagi. Aku tidak dalam keadaan baik-baik saja waktu itu, aku juga pria dewasa yang butuh kepuasan. Jujur saja aku melakukan itu bukan hanya dengan dia. Aku minta maaf." Aku Nathan berkata jujur pada Elena.


Dada Elena semakin sesak mendengar pengakuan dari Nathan. Ia pergi dengan berjuta kesedihan tapi orang yang di tinggalkan, yang katanya sangat mencintainya itu malah having fun bersama para wanita. Terbesit keinginan untuk membalas Nathan. "Tidak perlu kau perjelas lagi. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Karena aku juga melakukannya, jadi kita sama." Ucap Elena tersenyum simpul.


Tubuh Elena langsung terlempar ke depan karena Nathan menginjak rem dengan tiba-tiba, untung ia memakai sabuk pengaman kalau tidak mungkin keningnya akan benjol. "Apa yang kau lakukan? Mengerem tiba-tiba itu sangat berbahaya untuk kita dan pengendara lainnya." Omel Gadis itu masih dengan jantung berpacu dengan cepat.


"Kau sudah tidur dengan pria sialan itu?" Nathan mengeram tertahan dengan tangan mencengkram kuat pergelangan tangan Elena. "Jawab aku, El?" Nathan menambah tempo suaranya.


Elena meringis merasakan ngilu akibat cengkraman kuat di tangannya. "Kau menyakitiku, Nathan!"


"Jawab dulu pertanyaanku." Desis Nathan tanpa perduli dengan Elena yang sudah meneteskan air matanya. "Apa kau tuli sehingga tidak mendengar ucapanku, huh." Bentak Nathan. Pria itu sudah di kuasai oleh emosi.


"Aku mohon lepaskan. Kenapa kau marah seperti itu? Aku saja bisa memaklumimu kenapa kau tidak." Kata Elena, menatap berani ke arah Nathan.


Plak! Tamparan keras di layangkan Nathan pada Elena. Sakit itu yang di rasakan Elena saat ini. Bukan hanya di pipi yang terasa sakit tapi juga hatinya. Elena tidak menyangka akan mendapatkan tanparan dari kekasihnya. Itu baru pertama kalinya Nathan menampar dirinya. "Kau menamparku!" Kata Elena mengusap pipinya yang terasa panas dengan lelehan air mata.


Nathan diam di tempatnya, ia juga tidak menyangka akan melakukan itu. Ia mengusap kasar wajahnya, mengembalikan pikiran jernihnya. "Sayang, a-aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku min---,"


"Aku tidak apa-apa." Elena berkata sinis sambil membuka pintu mobil dengan kasar. Segera meninggalkan pria yang sudah tega menyakitinya. Keberuntungan memang sedang memihak pada Elena, ia segera mendapatkan taksi sebelum Nathan sempat meraihnya.


"Aaaarrrrggghh." Nathan berteriak dengan kekuatan penuh saat taksi yang di tumpangi Elena melaju semakin menjauh. "Bodoh!" Makinya pada diri sendiri.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2