
Esok hari pun tiba. Hari masih tampak gelap tapi Elena sudah siap akan berangkat ke kota dengan membawa barang seadanya.
"Ibu yakin tidak ingin ikut kami ke kota? Kalau ibu ikut aku bisa menjagamu di sana." Kata Elena dengan sedih.
Tangan Ibu Emma terangkat megusap lembut rambut Elena yang memiliki panjang sebatas bahu. "Aku akan baik-baik saja. Ibu lebih nyaman tinggal di sini, karena di sini rumah ibu. Kalau ada waktu kau bisa datang kemari untuk mengunjungiku."
"Aku akan merindukanmu!" Elena memeluk tubuh lemah yang duduk di atas kursi roda sambil mengeluarkan tangisannya.
Ibu Emma mengusap punggung Elena dengan mata berkaca-kaca. "Kita masih bisa berhubungan lewat telepon, jangan sedih begitu! Ibu pasti juga akan merindukanmu, kau masih memiliki masa depan yang harus kau gapai."
Ibu Emma memperlakukan Elena seperti anak kandungnya. Berat untuk Elena meninggalkan wanita tua tersebut.
"Sudahlah, El! Kita harus berangkat sekarang." Tutur Rega setelah memasukan barang bawaan Elena ke dalam mobil.
"Aku pamit, aku ingin kau berjanji padaku untuk selalu menjaga kesehatanmu."
"Ibu berjanji." Seutas senyum terbit dari bibir wanita paruh baya tersebut.
"Kami berangkat, bu." Rega pamit sambil mencium punggung tangan sang ibu.
"Kau harus menjaga Elena dengan baik. Awas saja kalau ibu sampai mendengar sesuatu yang buruk terjadi pada Elena." Pesan Ibu Emma untuk putra semata wayangnya.
"Itu pasti akan aku lakukan."
Kedua pasangan itu memasuki mobil. Tidak berselang lama, fortuner putih melaju meninggalkan wanita paruh baya yang masih terdiam, dengan senyum merekah menatap kepergian putranya bersama wanita yang ia harap bisa menjadi menantunya kelak.
■■■
Sedangkan di dalam mobil Elena duduk dengan pandangan mata tertuju pada hamparan kebun yang membentang luas di sepanjang perjalanan menuju kota. Elena akan meninggalkan desa yang sudah memberi kedamaian untuknya. Ia akan kembali menginjakkan kaki di kota yang sama dengan laki-laki yang mungkin masih menetap di dasar hatinya. Memulai sejarah baru yang belum di ketahui akan seperti apa.
"Sudah jangan menagis! Apa kau mau setelah tiba di kota wajahmu berubah seperti badut dengan hidung merah dan mata bengkak?" Cetus Rega menakuti-nakuti.
Elena menolah pada Rega yang sedang menyetir, "aku tidak mau. Tapi aku mengkhawatirkan ibu, sebenarnya aku tidak ingin menangis tapi air mata ini selalu saja keluar." Kata Elena dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ibu akan baik-baik saja seperti yang ia katakan tadi. Jadi, tenangkan dirimu. Apa yang akan di katakan HRD jika melihat wajah kusutmu itu?"
Elena terdiam. "Apa aku sudah pasti akan di terima di sana?" Tanya Elena merasa ragu, ini pertama kalinya ia bekerja di perusahaan besar.
"Sudah pasti. Karena aku memiliki jabatan yang tinggi di sana, suaraku akan sangat membantumu." kata Rega dengan yakin.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah minimalis namun tidak mengurangi kesan mewahnya. Rumah tersebut milik Rega yang pria itu tempati seorang diri bersama beberapa asisten rumah tangga yang bekerja padanya.
"Ayo turun! Kau bisa istirahat sebentar di dalam, setelah itu kita baru pergi ke perusahaan." kata Rega sambil melepas sabuk pengaman di tubuhnya.
Elena mencuri lirik pada Rega, ia ingin mengatakan sesuatu namun gadis itu tidak enak hati untuk mengungkapkannya. "Rega, apa aku melamar kerja hanya perpakaian seperti ini?"
Rega tersenyum sambil megacak puncak kepala Elena. "Tentu saja tidak. Nanti saat menuju ke kantor kita bisa mampir ke butik sebentar, membeli beberapa setelan kerja untukmu."
"Oh begitu...,"
Elena keluar dari mobil sedikit terhuyung, kepalanya terasa sedikit pusing mungkin karena terlalu lama berada di dalam mobil. Ia menumpukan tangannya di badan mobil, memejamkan mata sebentar untuk mengurangi rasa peningnya.
Dengan sigap Rega memegagi kedua sudut bahu Elena, "Kau kenapa?" Tanya Rega dengan panik, lalu membantu Elena berjalan memasuki rumah.
"Tunggu sebentar," Rega menuju dapur meminta salah satu pelayan membutkan teh hangat seperti yang Elena minta.
Secangkir teh sudah ada di tangan Elena. Gadis itu menyeruput teh yang masih sedikit berasap, membuat sensasi hangat mengalir di tenggorokannya. Rasa pening yang sebelumnya gadis itu rasakan perlahan menghilang.
Beberapa jam kemudian...
"Kau yakin tidak apa-apa datang sesiang ini? Sekarang sudah hampir jam makan siang, Ga!"
"Aku biasa datang jam segini, tapi sanpai sekarang tidak ada yang memprotesku." Jawab Rega santai.
Elena melebarkan bola matanya. "Hei... tapi tujuan ku ke sini untuk melamar kerja, berbeda dengan mu wakil bos yang bisa datang seenaknya." Cerca Elena.
"Sayang, kau hanya tinggal mengikutiku, tidak perlu panik begitu!" Ucap Rega.
__ADS_1
Rega memanggilnya sayang, wajah Elena seperti terbakar. Ia hampir melupakan kalau pria di sampingnya itu sekarang adalah kekasihnya. Kekasih sebenarnya bukan hanya sekedar pelarian, yakin Elena dalam hati.
Penampilan Elena sudah seperti wanita kantoran. Memakai rok span hitam di atas lutut, kemeja putih di padukan dengan blazer abu-abu. Tak lupa high heels hitam setinggi 10 cm menemani lagkahnya memasuki lobi perusahaan yang terlihat sepi. Di meja resepsionis tedapat satu wanita yang sedang menerima tamu seorang pria berjas dengan posisi memunggunginya.
Langkah Elena terhenti saat Resepsionis tersebut memanggil Rega. Pria di samping Elena juga menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap dua orang yang berjalan ke arahnya.
"Selamat Siang, Sir. Ada yang ingin bertemu dengan Anda!" Ucap wanita itu dengan sopan.
"Ah, Mr. Orlando. Apa kabar?" Mereka saling berjabat tangan.
Elena membalik tubuhnya bermaksud melihat orang yang sedang berbicara dengan Rega. Namun sesuatu yang tidak di harapkan Elena terjadi. Baru beberapa jam Elena kembali ke kota itu, ia sudah di hadapkan dengan seseorang yang tidak ingin di temuinya. Keduanya tampak menunjukkan wajah terkejut. Tubuh Elena menegang dengan bibir terkatup rapat.
"Nona Elena." Ucap Leo lirih, ia masih dalam keterkejutannya. Tidak di sangka Leo tanpa sengaja bertemu dengan Elena.
Perasaan takut mulai hinggap dalam diri Elena. Apa yang akan Leo lakukan saat berhadapan langsung dengan orang yang sejak lama di carinya? Elena memohon jangan sampai ia di seret paksa oleh pria itu.
Rega bingung dengan dua orang yang saling menatap kaget. Rega menyentuh bahu Elena, menyadarkan kekasihnya. Elena merubah arah pandangannya pada Rega, menatap wajah Rega yang menunjukkan raut kebingungan. "Ada apa? Kenapa saat melihat Leo kau tampak terkejut?"Tanya Rega dengan kerutan di keningnya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Elena memberi senyum palsu.
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak." Elena berucap tanpa ragu sambil menatap Leo yang membelalakkan mata.
"Perkenalkan dia Leo temanku!"
Elena mengulurkan tangannya dengan ragu pada Leo yang menatapnya dingin. Mereka berjabat tangan dengan saling menatap penuh arti. "Elena, senang bisa berkenalan dengan Anda." Ucap Elena di barengi senyuman.
"Dia siapa?" Tanya Leo pada Rega, ingin tau kenapa Elena bisa berada di tempat itu.
"Kekasihku." Tutur Rega dengan bangga. "Dia ingin melamar kerja di sini-, astaga, aku harus segera mengantar Elena ke ruangan HRD, kau bisa kan ke ruanganku sendiri? Aku akan segera menyusulmu." Ucap Rega sedikit panik karena sudah di tunggu sejak tadi.
Leo masih menatap Elena yang memasuki lift tanpa berkedip. Wanita pujaan hati tuannya seolah-olah tidak mengenalinya, perasaan kesal langsung menyelimuti pria berwajah dingin itu. "Biar pertemuan ini hanya menjadi sebuah rahasia." Batin Leo.
__ADS_1
----------
Next Chapter》