
2 tahun kemudian
"Di perusahaan tempat ku bekerja membuka lowongan untuk posisi Resepsionis. Kau pandai berbahas inggris kan? Itu akan memberi poin plus untukmu." Kata Rega dengan antusias.
Elena berpikir sejenak untuk tawaran Rega yang cukup menggiurkan. Sudah cukup lama Elena berdiam diri di sebuah desa kecil jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia menyembunyikan dirinya di sana, menjauh dari jangkauan Nathan yang mungkin sedang mencarinya saat tau ia pergi tanpa pamit.
Demi balas budi, Elena rela meninggalkan Nathan yang sangat mencintainya, yang rela melakukan apa saja untuk dirinya. Semua itu karena Sisil meminta timbal balik atas kebaikkannya yang sudah mau merawat hingga menyekolahkannya. Elena tidak tau bahwa Sisil tidak sebaik yang gadis itu pikirkan. Sisil adalah wanita bermuka dua, pandai berakting seolah-olah dirinya baik di depan suami dan keponakkannya. Semua itu hanya untuk memanipulasi.
Waktu 2 tahun sudah cukup bagi Elena untuk melupakan dan meghapus bayangan Nathan dari pikirannya. Pria itu sudah hidup dengan bahagia.
Dia sudah memiliki cinta yang baru.
Aku hanya kekasih masa lalu yang sudah di lupakan.
Aku hanyalah obsesinya yang mungkin sudah tidak lagi.
Biarkan masa yang indah itu menjadi kenagan manis yang tidak akan sangup aku ceritakan pada siapapun.
1 tahun yang lalu Elena tidak sengaja membuka situs berita di internet, di sana terpampang foto pria yang sangat ia rindukan sedang bersama seorang wanita. Yang lebih menarik perhatian Elena adalah judul berita yang sedang menjadi trending topik yaitu Trillionaire tampan Nathan Wijaya di duga habis melamar kekasihnya di sebuah cafe. Tak bisa di pungkiri saat itu perasaan perih menghujam keras hatinya. Tapi Elena sadar, ia yang sudah meninggalkan pria itu, tidak sepantasnya ia menyesalinya.
"Aku bahagia kalau pada akhirnya dia bisa bahagia dengan yang lain. Karena aku tau diriku sudah menanam luka di hatinya." Batin Elena.
"Bagaimana, kau mau tidak?" Tanya Rega lagi.
Suara Rega membuyarkan lamunan Elena, "Sepertinya itu tawaran yang bagus, aku mau mencobanya. Aku ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik."
Rega menghela napas lega. "Besok ikut dengan ku ke kota untuk bertemu langsung dengan HRD, dan jangan lupa persiapkan berkas-berkas yang di perlukan untuk melamar pekerjaan."
"Siap bos!" Kata Elena sambil tertawa. Elena harus siap jika sewaktu-waktu bertemu kembali dengan Nathan.
__ADS_1
Rega adalah anak dari pemilik toko tempat Elena bekerja saat ini. Ia bekerja di perusahaan properti sebagai Wakil Direktur. Rega mulai berteman baik dengan Elena sejak 2 bulan gadis tersebut tinggal di rumahnya. Pria humoris itu selalu menemani Elena saat akhir pekan. Rega selalu pulang ke desanya saat hari libur, walaupun jarak yang di tempuh sangat jauh pria itu selalu menyempatkan diri untuk pulang, menengok ibunya yang sedang sakit keras.
Elena terdampar di desa itu karena tanpa sengaja ia menaiki mobil sayur yang sedang berhenti di tepi jalan. Mobil tersebut akan kembali ke desa sehabis menyetor sayuran di kota. Elena tiba di sana tanpa membawa apapun hanya uang 500 ribu yang ada di dompetnya. Barang-barang pemberian dari Nathan ia tinggalkan di apartemen pria itu.
Elena sangat bersyukur di tengah kesengsaraannya ia bertemu Ibu Emma, ibunya Rega. Wanita paruh baya yang baik hati, wanita itu memberi tempat tinggal dan pekerjaan untuk Elena.
"Tapi bagaimana dengan ibu? Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di sini." Elena menatap pada Rega yang duduk di depannya. Elena tidak tega meninggalkan Ibu Emma yang sedang sakit hanya dengan pembantu.
Rega menyugar rambutnya ke belakang, "Sudah dari dulu aku memintanya untuk ikut denganku ke kota, tapi ibu tidak pernah mau. Ibu lebih suka hidup di desa. Dia lebih nyaman di sini, udara kota tidak baik untuk kesehatannya."
"Coba kau bujuk lagi, siapa tau ibu perubah pikiran. Dulu ibu masih baik-baik saja, berbeda dengan sekarang." Balas Elena.
"Nanti akan ku coba. Apa sekarang persaanmu sudah baik-baik saja?"
Tangan Elena terangkat menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajah, lalu menyelipkan rambut tersebut ke belakang telinga. "Aku sudah jauh lebih baik di banding dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Aku sudah berdamai dengan perasaanku, dan aku sudah tidak memikirkannya lagi."
"Apa sekarang kau sudah bisa menerimaku?" Ucap Rega dengan wajah serius bercampur cemas.
"A-aku--,"
"Sepertinya aku harus menunggu lagi!" Potong Rega sambil membuang napasnya lemah.
"Menunggu apa?" Elena menyipitkan mata.
"Menunggu dirimu yang akan membalas perasaanku, sepertinya sangat sulit kau membuka hati lagi." Kata Rega lemas.
"Aku ingin mencoba membalas perasaanmu itu." Jawab Elena mengulum senyum.
Rega menatap langsung pada Elena dengan wajah penuh keterkejutan. "Kau seruis? Kau menerima cintaku?" Cetus Rega dengan semangat.
__ADS_1
"iya."
"Ya Tuhan... terima kasih sudah mau mengabulkan doaku selama ini." Dengan tidak tau malu Rega berteriak-teriak tanpa perduli dengan sekitarnya.
"Rega, apa yang kau lakukan?" Elena menatap kekonyolan Rega dengan bibir terbuka. Ia melihat di sekeliling banyak pengunjung lain yang menatap heran ke arahnya.
"Kalian tau, aku sedang bahagia saat ini. Kalian semua pesan saja makanan yang kalian suka, aku yang akan membayarnya." Cletuk Rega dengan lantang.
Semua pengunjung di kedai tersebut menampakkan binar bahagia saat Rega berucap demikian. "Ga, apa kau sudah gila ingin metraktir orang sebanyak ini?" Elena berkata dengan wajah tidak percaya.
"Tenang saja, aku sanggup jika harus mentraktir orang satu desa."
Elena memutar bola matanya jengah. "Ternyata kau bisa sombong juga."
"Sekali-sekali tidak apa-apa!" Senyum di wajah Rega tampak tidak surut sejak tadi.
"Kau tidak bercanda kan ingin memulai hubungan denganku? satu tahun lebih aku selalu menerima penolakan darimu, aku mencoba bersabar dan terus mencoba, berharap suatu saat hatimu akan menerimaku. Akhirnya penantian panjangku tidak sia-sia."
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari sosok pria di depannya, Elena merasa takut jika dirinya tidak sesuai dengan yang di harapan Rega.
"Sudah malam, ayo pulang. Pasti ibu sudah menunggu di rumah." Elena mengalihkan pembicaraan. "Aku juga harus menyiapkan surat lamaran untuk besok."
"Kau duluan saja ke mobil, aku ingin membayar tagihan orang-orang yang ku traktir." Kata Rega sambil mengusap punggung tangan Elena.
Elena mengangguk mengiyakan.
Semoga jalan yang Elena pilih benar. Memulai hidup baru dengan orang yang berbeda dan mengubur dalam-dalam cinta masa lalunya yang menyakitkan. Tidak ada harapan untuk kembali pada seseorang yang sudah ia kecewakan, semua sudah berbeda.
----------
__ADS_1
Next Chapter》