
"Nona Elena memaksa pulang, Sir!" Leo melaporkan.
Siang itu Leo ditugaskan Nathan untuk menjaga Elena yang masih dirawat di rumah sakit. Nathan harus menghadiri meeting penting. Tidak ada lagi yang bisa pria itu andalkan, adik yang biasa menangani semua urusan perusahaan pergi begitu saja tanpa pamit.
"Biarkan saja. Tidak perlu kau tanggapi." jawab Nathan diseberang sana.
"Baik, Sir."
Sambungan telepon pun terputus. Leo tersenyum canggung ke arah Elena yang memperhatikannya secara intens. Elena mendelikkan matanya karena sebal dengan Leo yang mengabaikan dirinya yang merengek minta pulang.
"Leo!"
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa membantu Anda."
"Aku sudah baik-baik saja. Kau bisa melihatnya sendiri kan kalau aku sudah bisa berjalan. Aku bosan disini."
"Saya tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan Anda dari sini. Tuan sudah memperingatkan saya untuk tidak menanggapi keluhan Anda. Tuan hanya menginginkan Anda kembali pulih, jadi bersabarlah." kata Leo lagi.
Elena mendengus sebal. "Kau ini sama saja seperti Nathan. Tidak ada gunanya aku memelas kalau pada akhirnya aku masih tetap terkurung disini."
"Saya akan melaksanakan semua perintah yang diberikan Tn. Wijaya."
"Ya, ya. Aku paham! Dia bosmu. Dia yang membayarmu. Jadi apalah dayaku."
Leo menatap datar Elena yang sedang mengerutu.
__ADS_1
***
Elena memandang kosong jendela yang tertutup kaca, di luar sedang hujan lebat. Kaca di depan Elena berembun sehingga tampak buram. Satu tangan Elena mengusap lembut perutnya yang tertutup baju rumah sakit. Kehidupan di dalam perutnya sudah lenyap tanpa sepengetahuannya. Elena menyesali itu.
"Maafkan Mommy, sayang. Semoga kau bahagia disana. Semoga kelak kita bisa bertemu. Saat itu terjadi, Mommy akan meminta maaf padamu atas keteledoran Mommy hingga membuatmu pergi sebelum kita bertemu." ucap Elena yang menyerupai bisikan.
Air mata yang tanpa sadar mengalir di pipi Elena diusap lembut oleh gadis itu hingga tak bersisa. Bayangan Ibu Emma yang duduk dikursi roda dengan senyum manis terbentuk di bibirnya melintas dipikiran Elena. Perasaan bersalah masih terus mengusik batin Elena, ia tau perasaan Rega dan ibunya saat acara pemberkatan yang kacau karena ulah Nathan.
"Bagaimana kabar Ibu Emma saat ini? Aku mencemaskan kesehatannya." gumam Elena.
Elena ingin sekali menelpon Rega untuk meminta maaf tapi tidak ada ponsel yang bisa Elena gunakan untuk menghubungi pria itu.
"Ayo berpikir, Elena!"
Tak berselang lama pintu ruang perawatan Elena terbuka. Nathan masuk dengan Leo berjalan di belakangnya. Penampilan mereka telihat sangat rapi. Nathan memperpendek jaraknya dengan Elena.
Elena segera memutar tubuhnya. Dada bidang berbalut jas biru tua menjadi pemandangan pertamanya. Mata Elena mulai dinaikkan ke wajah Nathan yang menampilkan senyum cerah. "Sungguh kau ingin membawaku pulang?"
"Tentu saja. Aku tau kau terus saja memakiku di dalam hati." sindir Nathan.
Mulut Elena terbuka mendengar sindiran keras Nathan. Memang benar yang dikatakan Nathan, dirinya sering sekali mengucapkan kata-kata kasar untuk suaminya itu. Suami? Elena belum percaya bahwa Nathan adalah suaminya. Pernikahan yang tak diketahui Elena dimulai sejak kapan hingga tiba-tiba Nathan menyeretnya paksa dengan mengaku bahwa mereka sudah menikah. Elena belum bisa menerima itu.
"Sok tau!" ucap Elena ketus.
"Kau terlihat lucu saat merajuk seperti itu, sayang!" Nathan mulai menggoda Elena.
__ADS_1
Elena memutar tubuhnya menghadap kembali ke jendela. Kedua tangan Elena mengusap rambutnya yang terurai. "Semua yang terjadi akhir-akhir ini menyulitkanku untuk berpikir dengan baik. Kejadiannya datang secara bersamaan aku benar-benar tidak siap ada diposisi seperti ini, Nathan." aku Elena.
"El..."
Tanpa ragu Nathan mendekap tubuh lemah Elena, menyandarkan kepala gadis itu didadanya. Elena hanya diam tanpa memberi reaksi. Satu tangan Nathan berada didepan dada Elena sedangkan tangan yang lainnya menggenggam jemari Elena dan meletakkan tautan tangan itu didepan perut Elena. "Maafkan aku," ucap Nathan lirih lalu mendaratkan ciuman lembut dipuncak kepala Elena.
Elena memejamkan mata merasakan hembusan napas Nathan dipuncak kepalanya. Kedamaian perlahan menghinggapi diri Elena yang sebelumnya dilanda kegelisahan.
"Aku juga menyesali apa yang terjadi padamu, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan. Dia memilih pergi dibanding bertahan dirahimu. Dan aku yakin suatu hari nanti akan ada janin lain yang tumbuh di rahimmu." Nathan berbicara lembut disamping kepala Elena.
"Tapi aku takut dengan dirimu yang sekarang. Kau berbeda. Aku melihat dirimu yang seperti monster." cetus Elena mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Nathan semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya berdenyut nyeri memdengar pengakuan Elena. Cemburu mengubah sikap Nathan yang penuh kelembutan menjadi kasar dan kejam. "Aku sendiri tidak bisa mengendalikan diriku."
"Aku tidak mau memiliki pendamping hidup seperti itu. Kalau kau masih bersikap kasar lebih baik biarkan saja aku pergi."
"Aku tidak mau mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu. Aku melakukan semua ini karena aku terlalu mencintaimu. Aku tekankan sekali lagi aku mencintaimu, El." kata Nathan yang terdengar berat.
Suasana kamar inap tersebut berubah syahdu. Leo yang sebelumnya ikut memasuki ruangan bersama Nathan lebih memilih pergi karena terlalu malas melihat adegan romantis yang dilakukan tuannya.
"Semoga kata-katamu bisa dipertanggung jawabkan." Elena melepaskan dirinya dari rengkuhan Nathan. Ia pergi kearah ranjang untuk kembali menidurkan dirinya disana.
Nathan mematung ditempatnya sambil menatap kosong keluar jendela. Nathan tau Elena belum memaafkannya. Gadis itu secara halus menolak sentuhannya.
*****
__ADS_1
Next Chapter>
Part kali ini hanya pendek. Semoga bisa mengobati rindu kalian pada bang Nathan & Elena. 😆