
Tubuh Elena terbaring dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Jarum infus menusuk pada urat yang terlihat menonjol di punggung tangannya. Wajah pucat dan bibir kering yang terlihat jelas dari diri Elena saat ini.
"Kau hamil dan aku tidak mengetahuinya! Aku terlalu bodoh."
"Aku hanya memikirkan egoku."
"Maafkan aku yang telah membunuhnya ," Nathan menggengam tangan Elena sambil sesekali menciumi punggung tangan gadis itu.
Gumaman pelan terdengar dari mulut Nathan yang membaringkan kepalanya di samping tubuh Elena yang masih betah memejamkan mata. Nathan menarik napas dalam lalu beranjak berdiri saat pintu kamar inap itu terbuka. Muncullah Leo sambil membawa dokumen penting di tangannya.
"Selamat siang, Sir! Saya membutuhkan persetujuan Anda dengan menanda tangani dokumen ini." kata Leo.
"Kenapa tidak kau suruh Eveline saja. Aku sedang malas mengurusi urusan perusahaan." jawab Nathan datar.
"Nona Eveline sedang tidak ada di tempat. Sudah beberapa hari ini dia pergi ke Jerman. Apa Anda tidak diberi tahu?"
Nathan membuang napas kasar sambil menggeleng pelan. "Baiklah, kemarikan dokumen itu."
Setelah menerima sebuah map hitam dari Leo, Nathan membaca sekilas tulisan yang ada pada kertas tersebut. Cukup lama Nathan memfokuskan penglihatannya pada tulisan yang berderet sangat panjang itu. Hingga akhirnya jemari Nathan menggenggam sebuah pena dan menorehkan tanda tangannya disana.
"Sudah ku tanda tangani. Aku serahkan semua urusan perusahaan kepadamu." tutur Nathan.
"Baik, Sir!"
Selepas Leo pergi Nathan mendudukkan dirinya di kursi kayu yang berada dipojok ruangan. Nathan memijat keningnya dengan tubuh yang tampak letih.
Bulu mata Elena mulai bergerak perlahan. Sepertinya gadis itu sudah mulai siuman. Ringisan pelan terdengar dari mulut Elena. Nathan sontak berdiri lalu berlari mendekat ke Elena. Nathan berdiri setengah membungkuk di samping ranjang.
"Apa yang kau rasakan? Bagian mana yang sakit?" Kecemasan Nathan mulai timbul.
"Perutku sakit, Nath!" cetus Elena lirih. Elena memejamkan mata dibarengi dengan ringisan yang menambah kekhawatiran Nathan.
"Tahan sebentar. Dokter sebentar lagi akan ke sini untuk memeriksamu." ucap Nathan setelah menekan tombol yang langsung terhubung dengan ruangan dokter yang menangani Elena.
Sementara Elena diperiksa Nathan memilih berdiri di dekat dinding yang berlapis kaca tebal.
__ADS_1
Nathan mengamati Dokter wanita yang sedang berbicara dengan Elena. Seutas senyum terbit di bibir Elena. Entah apa yang baru mereka bicarakan tapi Nathan menyukai senyuman itu. Di lubuk hatinya yang paling dalam Nathan merasakan sakit seperti teriris jika membayangkan reaksi yang akan Elena tunjukan kalau tau dirinya baru saja keguguran. Buah hatinya pergi meninggalkannya. Nathan tidak akan sanggup melihat itu.
Ruangan tersebut kembali sunyi setelah sang dokter pamit pergi. Elena menoleh ke arah Nathan yang berdiri tegang. Elena melihat kerapuhan dari sorot mata Nathan yang terlihat sayu.
"Nathan..." Suara Elena hanya seperti gumaman.
"Tetaplah berbaring!" seru Nathan setengah berteriak.
"Aku kenapa?" tanya Elena parau.
"Meski kenyataan ini akan menyakitimu kau berhak tau. Aku tidak ingin hal ini menjadi masalah untuk kita dikemudian hari. Kau pasti akan sangat terpukul tapi aku akan berada di sampingmu untuk selalu menguatkanmu." batin Nathan di tengah lamunannya.
Ruang rawat inap VVIP yang diminta Nathan memberikan kenyamanan tersendiri untuk pasien dan orang yang menungguinya. Ruangan itu lebih mirip seperti kamar hotel. Tidak membosankan. Ranjang yang ditiduri Elena memiliki ukuran yang besar, muat untuk menampung tiga orang sekaligus.
Nathan masih berdiri di dekat dinding kaca. Pria itu menyembunyikan kegelisahan dibalik wajah datarnya. Ia masih memikirkan kata-kata seperti apa yang akan ia ucapakan pada Elena saat ini. Nathan sangat ingin memberitahu kabar buruk itu namun ia ragu.
"Nathan, apa yang terjadi padaku? Kenapa kemarin aku bisa mengeluarkan darah sebanyak itu." tanya Elena. Ia penasaan saat Dokter tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Nathan melangkah berat ke arah ranjang. "Tidak apa-apa, sayang."
"Berjanjilah kau tidak akan membenciku." ucap Nathan kemudian.
Elena menatap wajah gusar Nathan. Ia bingung dengan perbuhan sikap Nathan yang terlihat penuh penyesalan. "Apa maksudmu?"
"Calon anak kita pergi," jawab Nathan penuh kepedihan.
"A-aku hamil?" Elena menatap nyalang Nathan. Setetes air mata terjatuh dari pelupuk mata Elena. Hatinya seperti diremas mendengar jawaban Nathan yang tak pernah ia sangka.
"Itu yang Dokter katakan. Kalau saja aku tidak memaksakan kehendak mungkin saat ini dia masih tumbuh di perutmu. Semakin hari dia akan berkembang sehingga membuat perutmu membuncit dan disaat waktunya telah tiba dia akan terlahir ke dunia untuk bertemu dengan kita, namun karenaku semua itu hanya tinggal angan semata." Mata Nathan mulai bekaca-kaca. Bola matanya sudah berubah memerah. Dada yang bertambah sesak membuat Nathan mencengkram kuat ujung selimut yang digunakan Elena.
Elena hanya menatap kosong tanpa menyauti perkataan Nathan. Kabar yang baru di dengarnya memukul keras jiwanya. Elena juga merutuki kebodohannya sama seperti Nathan. Ia berpikir dirinya tidak pantas disebut calon ibu karena ia tidak bisa merasakan ada kehidupan di dalam perutnya. Ia merasa bodoh dan tidak peka.
"Sayang, maafkan aku!" tutur Nathan.
Elena menoleh ke samping. Melihat Nathan dengan pandangan serius. "Sebenarnya ada apa denganmu? Sebelumnya kau bersikap kasar dan memperlakukanku dengan seenakmu sendiri. Kau melampiaskan semua kekesalanmu kepadaku. Kau juga dengan tidak tau malu menghancurkan pernikahan orang lain tanpa rasa bersalah sedikit pun. Aku tidak pernah paham dengan jalan pikiranmu, Uncle." Elena berkata tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.
__ADS_1
"Mana mungkin aku membiarkan istriku menikah lagi." tekan Nathan.
"Aku belum pernah menikah dengan siapapun! Kau jangan mengada-ada!" protes Elena.
"KAU ISTRIKU, ELENA!" kata Nathan dengan bentakkan.
"SEJAK KAPAN?!" balas Elena tak kalah keras. Elena sudah muak dengan sikap Nathan. Emosi yang mulai berkobar membuat Elena melupakan kondisinya yang masih lemah.
Nathan mengatur napasnya beberapa saat. Emosinya sudah mulai terpancing. Kalau tidak segera diredamkan mungkin ia bisa berbuat rusuh.
"Sejak kapan, Nathan?" tanya Elena lagi dengan suara lebih pelan.
"Sejak kita di villa."
Elena mulai mengingat-ingat momen di villa waktu itu. Tapi tidak ada yang spesial. "Waktu itu tidak ada acara pemberkatan selayaknya pernikahan pada umumnya."
"Memang. Tapi kau sudah menandatangani dokumen pernikahan kita saat Leo meminta tanda tanganmu dengan alasan ingin mengurus kartu debit dan kreditmu yang terblokir," jelas Nathan.
"Itu tidak sah. Kau sama saja menipuku."
"Seratus persen sah di mata hukum." ucap Nathan tegas, "Maafkan aku yang sudah mengabaikamu karena berniat ingin memberi pelajaran untukmu. Aku sakit hati karena kau lebih memilih laki-laki itu."
Elena menatap malas Nathan. "Dia lebih tersakiti gara-gara kau mengambil paksa calon istrinya."
"Jangan membuatku bertambah frustasi, Elena." Nathan menjeda ucapannya.
"Hingga kepalaku mau pecah karena itu." lanjut Nathan yang mengepalkan kedua tangannya.
"Sekali lagi, i'm sorry!" Nathan memilih keluar. Ia menghindari perdebatan yang mungkin tidak akan ada ujungnya.
*****
Next Chapter>
Ig : @alona.diandra18
__ADS_1