Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 5


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Elana menikmati paginya dengan bersantai di taman belakang mansion dengan secangkir cappuchino hangat di tangannya. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan sinarnya. Pagi ini Elena terbangun lebih awal dari biasanya sehingga ia memutuskan untuk menikmati udara pagi yang segar, untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kalut.


Sudah beberapa hari ini Arsen jarang menemuinya, bahkan susah sekali saat di hubungi. Elena selalu positif thinking, mungkin kekasihnya itu sedang sibuk. Namun tidak biasanya Arsen sampai seperti itu, sesibuk-sibuknya ia pasti masih sempat untuk sekedar memberi kabar. Elena membuang napasnya lemah, semoga semuanya akan baik-baik saja.


Ia juga sedang merencanakan hal-hal yang akan di lakukannya untuk mengisi waktu liburnya. Entah apa yang harus di perbuat Elena selama libur akhir semester, ia sama sekali tidak memiliki ide. Tidak mungkin Elena terus berdiam diri di rumah bisa-bisa ia mati kebosanan.


Sudah hampir satu bulan juga Elena tidak bertemu dengan Nathan. Pria tersebut sedang mengurus bisnisnya di luar negeri, kapan pria itu akan kembali? Elena tidak tau. Elena cukup merindukan kehadiran pria tersebut.


"Hello, Elena! Sedang melamunkanku!" Suara bariton itu menyadarkan Elena dari lamunannya.


"Sejak kapan Uncle kembali?" Tanya Elena sedikit terobati rasa rindunya pada pria itu. Elena tidak menyangka orang yang baru saja ia pikirkan sedang duduk di sampingnya.


"Semalam. Senang aku kembali, Baby?"


Seketika wajah Elena tampak merona, Ia ketahuan merindukan pria tersebut. Oh gosh, mau taruh di mana mukanya.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Nathan dengan senyum jahil. "Ah! kau malu karena ketahuan merindukanku ya! Celetuk Nathan sambil tertawa keras.


"Jangan menggodaku Uncle!" kata Elena sebal.


"Tidak perlu merasa malu begitu! I miss you too," Ucap Nathan dengan meraih jemari Elena lalu mengecupnya.


Elena menatap manik hazelnut di hadapannya yang memancarkan sorot kelembutan dan kedamaian, membuat ia merasakan desiran aneh.


"Mau sarapan bersama!" Ajak Nathan.


"Emm... boleh!" gadis tersebut menyetujuinya.


Saat di dalam mobil tidak ada yang memulai pembicaraan. Nathan sibuk dengan kemudinya sedangkan Elena mengunci rapat mulutnya.

__ADS_1


"Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Aunty di mansion, memangnya Aunty ke mana?" Akhirnya Elena membuka pembicaraan, karena dari tadi mulutnya sudah gatal ingin berbicara.


Nathan mengangkat bahunya, "Semalam aku pulang ia tidak ada di kamar dan sebelumnya tidak memberitauku sedang di mana! Mungkin Sisil pergi dengan teman-temannya. Aku juga tidak tau." ungkap pria tersebut.


"Kau suaminya, masa iya istrinya pergi ke mana tidak tau!" Balas Elena dengan mencibir.


"Karena aku malas mengurusi hal yang tidak penting!" jawab Nathan. Pria itu menutup rapat sesuatu yang sudah di ketauinya sejak lama.


"Ia istrimu, bagaimana bisa tidak penting." Ucapan tidak percaya Elena mengetaui Nathan yang tidak perduli dengan Bibinya.


"Karena suatu hal yang tidak perlu kau ketahui." Nathan melempar tatapan menusuk pada kekasih kecilnya.


Mereka kembali saling diam. Sampai tiba di Restoran yang terlihat cukup ramai, mereka menapakkan kakinya di depan pintu lalu mengedarkan matanya mencari tempat yang nyaman untuk mereka tempati.


"Mau pesan apa?" Tanya Nathan matanya menjelajahi daftar menu yang ia pegang.


"Uncle saja yang pilih, aku pemakan segalanya." ujar Elena.


"Baiklah." Nathan menatap sejenak Elena yang sedang menatapnya datar.


From : Arsen Nicholas💜


Maafkan aku baru membalas semua pesan darimu, aku sedang sibuk sayang! Aku harap kau mengerti. Jangan menghubungiku dulu. Love you!!


Berbagai pertanyaan sudah berkumpul di dalam kepala Elena. Arsen sibuk apa? Kenapa ia tidak boleh menghubunginya? Ada apa dengan kekasihnya itu? Elena merasa ada yang tidak beres.


Nathan mengeryitkan keningnya, menyadari raut wajah Elena yang berubah sejak menerima pesan dari seseorang. Apa ada hal buruk yang terjadi? Pikir pria tersebut.


"What happen? Apa ada hal buruk?" Tanya Nathan penasaran.


"Ti---tidak, semua baik-baik saja!" Bohong Elena.

__ADS_1


"Ku harap memang benar begitu!" Jawab Nathan merasa kurang puas dengan jawaban Elena. Tapi ia tidak mau memaksa gadis itu untuk bercerita.


"Uncle, apa aku boleh tinggal di Aprtemen?"


Pertanyaan Elena membuat Nathan menghentikan makannya, lalu memperhatikan wajah Elena cukup lama. "Kenapa harus tinggal di apartemen? kau tidak betah berada di mansion!"


"Aku selalu merasa bersalah setiap kali bertemu dengan Aunty. aku kurang nyaman berada di mansion! dan aku juga ingin belajar hidup mandiri." cetus Elena memberi alasan agar bisa tinggal di apartemen bersama Melda. Ia kemarin sempat membicarakan hal itu dengan sahabatnya, mungkin kalau mereka tinggal bersama akan lebih seru. Bisa mengobrol sebelum tidur, maskeran bersama, memasak bersama, bergantian mengerjakan pekerjaan rumah, dan masih banyak lagi hal-hal yang mengasyikan lainnya.


"Akan aku pikirkan. Tapi keinginan mu pindah ke apartemen tidak untuk menghindariku kan!" Ucap sarkas Nathan.


"T-tidak," kata Elena. "Salah satunya itu!" Lanjutnya dalam hati.


Nathan menyipitkan matanya, meneliti ke arah Elena yang tampak salah tingkah.


"Kenapa Uncle menatapku seperti itu?"


Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu Nathan menerima telepon dari orang kepercayaannya tanpa menjauh dari hadapan Elena.


"Biarkan saja, kau hanya perlu memantaunya!" Jawab Nathan lalu memutus sambungan telepon tersebut.


"Ada apa? kau terlihat serius saat berbicara dengan Leo tadi."


"Leo memberitahuku salah satu karyawan mencoba memanipulsai data keuangan perusahaan." Balas Nathan sambil meraih tangan Elena.


Sengatan aneh di rasakkan oleh Elena saat tangan pria itu menyentuh punggung tangannya. Ia mencoba menekan kuat-kuat hatinya yang mencoba menghianatinya. ia mulai merasakan kehilangan sosok yang ada di depannya saat pria itu tidak ada di dekatnya. Merasakan sesak saat Nathan sedang bermesraan dengan Sisil istrinya. Ia berada dalam posisi yang kurang beruntung, hanya di jadikan wanita ke dua oleh pria itu.


Andai orang tuanya masih hidup mungkin semua ini tidak akan terjadi, Elena akan hidup dengan tenang di dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan kesederhanaan. Namun takdir membawa Elena terperangkap dalam kungkungan seorang Nathan yang memiliki jiwa iblis di balik wajah malaikatnya.


Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa yang buruk telah berlalu dan masa depan yang indah telah menunggu.


Elena hanya perlu menguatkan hatinya. Ia ingin tinggal terpisah dengan Nathan karena ingin membuang perasaan yang seharusnya tidak ia miliki. Dengan menjauhi pria itu mungkin perasaan itu bisa terhapus walau hanya sedikit, tapi setidaknya Elena sudah mencobanya. Ia tidak mau menjadi keponakkan yang tidak tau berterima kasih kepada Aunty nya.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2