Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 27


__ADS_3

Nathan membanting pintu Ferrari F430 dengan kekuatan penuh. Ia memandang ke arah balkon tempat kamar Elena berada, "aku akan membawamu kembali, kau lihat saja nanti!" Cetus pria itu dengan mata berkilat. Nathan memutus pandangannya pada rumah itu. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan elit tersebut.


Nathan membawa mobilnya menuju sebuah club malam untuk melepas penat yang bersarang di pikirannya. Ia memasuki tempat itu seorang diri tanpa Leo yang biasa menemaninya. Nathan sedang malas bertemu pria itu, sang adik semenjak tadi juga terus-terusan menelponinya. Mengirim pesan, menanyakan keberadaan dirinya. Namun semua itu ia abaikan.


"Hai tampan! mau aku temani malam ini?" Sapa wanita berpakaian minim, berusaha menggoda Nathan yang duduk sendirian di meja bartender.


Wanita itu dengan lancang meraba-raba dada bidang milik Nathan sambil menggerakkan tubuhnya dengan erotis. "Menyingkirlah!" Perintah Nathan keras. Pria itu mengibaskan tangannya ke samping, mengusir wanita pengoda itu agar menjauh darinya.


"Kasar sekali!" Gerutu wanita itu setelah tubuhnya terdorong paksa.


"Perempuan sinting," gumam Nathan sambil meraih gelas sloki berisi vodka yang di berikan bartender. Nathan menikmati rasa panas yang menjalar di tenggorokannya. Nikmat duniawi yang bisa melupakan apa saja.


"Nathan, tidak menyangka aku bisa bertemu denganmu disini." Kata seorang wanita yang mendudukkan dirinya di kursi sebelah Nathan.


Nathan menatap pada wanita itu lalu menyunggingkan senyum tipis.


"Beberapa hari ini kau tidak menemuiku, aku sangat merindukanmu." Wanita tersebut berbicara dengan suara manja.


"Maaf aku belum sempat menemuimu, Jess! Ada beberapa hal penting yang harus ku urus. Aku harap kau bisa mengerti, jangan cemberut seperti itu, kau terlihat jelek!" Nathan menatap lembut wanita bernama Jessica.


"Aku hanya tidak suka kau abaikan."


Nathan megusap lembut pipi mulus wanita itu. "Aku minta maaf! Aku menyayangimu."


Jessica merangkul lengan berotot milik Nathan, tanpa aba-aba ia mengecup pipi Nathan dan di balas kekehan oleh pria tersebut.


"Bagaimana dengan pemotretanmu hari ini? Dan kenapa kau bisa datang ke tempat ini? Setahu ku kau tidak pernah mau menginjakkan kaki di tempat seperti ini." Nathan kembali menenggak minumannya hingga tak bersisa.


"Seperti biasa, sangat menyenagkan! Aku datang kesini karena ada seseorang yang baru saja ku temui, hanya membicarakan tentang kontrak kerja baru. Sebenarnya tadi aku ingin langsung pulang, tapi secara kebetulan melihatmu sedang duduk sendirian di sini aku langsung menghampirimu saja." Tutur Jessica sambil menyedot gelas jus yang berada di tangannya.

__ADS_1


"Temani aku malam ini." Cetus Nathan dengan mata yang sudah tampak memerah. Pria itu sudah mulai mabuk.


"Tentu saja!"


Setelah itu mereka pindah duduk di sofa yang lebih nyaman sambil berbincang ringan, membahas keseharian yang mereka berdua lalui.


"Sejak kita bertemu kembali saat itu, keadaanmu sama kacaunya dengan sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" Jessica meraih tangan Nathan lalu mendekapnya dengan perasaan cinta yang begitu dalam.


Nathan menolehkan wajah datarnya pada Jessica masih dengan bibir terkatup, "separuh jiwaku pergi hingga membuatku kehilangan akal sehat." Kata Nathan di tengah mabuknya.


"Sudah ada aku di sini. Seharusnya kau bisa bangkit lagi, memulai kehidupan yang baru bersamaku."


"Kau hanya sebagai selingan, bukan yang ku utamakan. Hanya dia yang ku cintai hingga saat ini." Kata Nathan terdengar menohok.


Kata-kata Nathan cukup melukai perasaan Jessica, wanita itu sudah berharap banyak dengan hubungan yang sedang ia jalani bersama Nathan. Ia tidak terima jika hanya di jadikan selingan oleh Nathan, ia harus menjadi pemilik seutuhnya pria itu.


Jessica menarik kerah kemaja yang di kenakkan Nathan agar pria itu sedikit merendahkan wajahnya. Ia segera menautkan bibirnya pada bibir Nathan yang setengah terbuka.


Berbeda dengan suasana di mansion yang tampak tegang, karena orang pertama di mansion itu tidak berada di tempat, keberadaannya tidak di ketahui. Sejak kepergiannya tadi pagi, sampai sekarang yang sudah menjelang pagi lagi Nathan belum juga kembali, bahkan tanpa memberi kabar di mana keberadaannya saat ini.


Eveline menatap ponselnya dengan gelisah. Ia mengkhawatirkan kakaknya yang belum sepenuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Pria itu belum benar-benar waras.


"Leo, coba kau lacak lagi keberadaannya." Pinta Eveline setengah membentak.


"Maaf nona, tetap tidak ada hasil. Ponsel tuan dalam keadaan mati."


"Astaga! kemana perginya kakakku yang bodoh itu?"


Leo menundukkan kepala, "Nona harus bersabar, mungkin sebentar lagi tuan akan pulang!"

__ADS_1


"Aku ingin sekali memukul kepalanya saat ia pulang nanti. Dia sudah sering sekali membuatku mencemaskannya, padahal di luar sana dia sedang bersenang-senang dengan para wanita penghibur." Omel Eveline sambil memijat pangkal hidungnya.


Leo menerima telepon dari orang suruhannya. Ia tampak sedang berbicara dengan serius.


"Orang suruhan saya sudah menemukan keberadaan Tuan Nathan, Nona! Tuan berada di club malam bersama Nona Jessica, keadaan tuan dalam keadaan mabuk berat."


Eveline menghela napas jengah. "Bawa kakakku kembali."


"Baik Nona!"


Bersama wanita itu! Eveline muak mendengarnya. Di dunia ini ada beribu-ribu wanita tapi kenapa Nathan harus kembali dekat dengan wanita itu lagi. Sejak dulu ia tidak menyukai Jessica dekat dengan Nathan. Apa dengan mempertemukan Nathan dengan Elena adalah solusi yang tepat? dengan begitu Nathan akan menjauh dari Jessica dengan sendirinya. Eveline tersenyum sendiri membayangkan hal itu.


"Bagaimana Leo? Apa Kak Nathan sudah di bawa pulang oleh orang suruhanmu?" Tanya Eveline dengan tidak sabar.


"Sudah, mereka masih dalam perjalanan kemari. Anda bisa tenang karena Tuan akan tiba di mansion sebentar lagi." Jawab Leo berusaha meredamkan kegelisahan sang nona.


Beberapa waktu kemudian, 3 orang berbadan besar memasuki mansion sambil memapah tubuh lemah Nathan yang terkulai lemas. Pria tersebut berhasil menghabiskan 2 botol vodka.


"Oh gosh... dia merusak dirinya lagi dengan mabuk-mabukan tidak jelas." Pekik Eveline mendekat pada orang-orang itu. "Bawa dia masuk ke kamarnya!" Wanita itu mengekor di belakang para pria berbadan besar.


"Kami permisi, Nona!" Kata salah satu orang tersebut setelah membaringkan tuannya di atas kasur.


Di balas anggukan oleh Eveline.


Tangan lembut Eveline mengusap peluh yang terdapat di kening Nathan. Ia sangat menyayangi kakaknya tersebut. Jari lentik Eveline menbelai rambut hitam sang kakak dengan sayang. "Aku rindu dengan kakakku yang selalu tampil penuh wibawa dan bersikap tegas, bukan kakakku yang berantakan seperti ini. Aku rindu nasehatmu yang selalu kau lontarkan saat aku membuat kesalahan, walau hanya kesalahan kecil yang tak ku sengaja sekalipun. Kakak, i love you." Eveline berucap di depan Nathan yang dalam kondisi tidak sadar. Ia sudah berkali-kali menangisi pria lemah itu.


Besok aku akan menemui Elena. Hanya dia yang bisa membuat kakakku kembali hidup, tidak perduli kalau dia akan menolak keingianku. Aku akan memaksanya hingga dia bersedia kembali bersama kakak sialan ini. Yakin Eveline menampilkan senyum miring.


----------

__ADS_1


Next Chapter》


__ADS_2