Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 21


__ADS_3

Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Nathan. Setiap hari ia menghabiskan waktunya hanya untuk menenggak berbagai minuman beralkohol, semata-mata hanya untuk meringankan beban pikirannya. Kekasihnya sampai saat ini belum juga di temukan. Terhitung sudah hampir satu bulan lamanya Elena pergi.


Hidup Nathan berubah kacau. Pria itu tidak lagi memperhatikan penampilannya. Dengan sorot mata sayu dan bola mata memerah. Rahang kokohnya sudah di penuhi bulu-bulu halus, membuat wajah tampannya terlihat sangat berantakkan.


Malam ini Nathan menghabiskan malam dengan mengasingkan diri di ruang VVIP di sebuah club malam mewah tempat favoritnya hampir satu bulan belakangan. Bersama 2 wanita cantik di samping kanan-kirinya. Hanya tempat itu yang bisa melupakan sejenak sosok Elena yang selalu menghantui pikiran Nathan.


Leo membuka pintu ruang VVIP, lalu melangkah masuk. Di atas sofa ia melihat Tuannya yang sedang di cumbui oleh 2 orang wanita perpakaian seksi. Leo mendudukan dirinya sedikit lebih jauh dari posisi Nathan berada.


Salah seorang wanita di samping Nathan mengerutu sebal. "Kau ini pria normal atau bukan, kenapa tidak pernah berereksi setiap kali kami rangsang?" Leo yang mendengar ucapan wanita tersebut hanya melirik sekilas.


"Diamlah. Kau hanya perlu memberi kenikmatan untukku. Kau paham, Dear!"


Kedua wanita itu mengangguk patuh.


Sudah gelas ke tujuh yang Nathan habiskan hanya dalam waktu satu jam sejak ia duduk di dalam ruangan tersebut. Pandangan Nathan sudah mulai kabur dan kepalanya sudah terasa pusing. Pria itu berkali-kali merancau tidak jelas, dan nama kekasihnya yang selalu ia panggil.


Melihat Nathan yang sudah mabuk berat, Leo menyuruh wanita-wanita itu pergi, tapi sebelumnya ia memberikan sejumlah uang pada wanita tersebut sebagai bayarannya.


"Terima kasih. Kurasa bosmu itu laki-laki yang payah!" Ucap wanita dengan bibir merah menyala sambil terkikik.


"Tidak usah banyak bicara, segera pergi dari sini." Kata Leo datar.


Leo menghela napas sejenak sambil mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya ia malas kalau setiap malam harus memapah tubuh lemas Tuannya. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia tega meninggalkan begitu saja Nathan yang sedang mabuk di tempat seperti ini. Nathan orang yang sudah membantunya kembali hidup di dunia ini. Berkat pria itu Leo tidak jadi mati di tangan ayah tirinya. Leo bersumpah akan mengabdi pada Nathan seumur hidupnya.


"Kenapa hidupmu jadi semenyedihkan ini, Tuan?" Gumam Leo sambil mengamati wajah lelah Nathan. "Aku berjanji akan segera menemukan Nona Elena. Aku ingin Anda kembali bangkit menjadi Nathan yang keras dan penuh wibawa. Tidak seperti sekarang, terlihat konyol."

__ADS_1


"Aku mendengarnya." Kata Nathan lirih, masih dengan mata terpejam.


Leo tersentak mundur mendengar bibir Nathan yang tiba-tiba berucap. Ia mengira Nathan sudah tidak sadarkan diri. "Maaf Tuan."


"Apa ada perkembangan tentang kekasihku?" Tanya Nathan pelan. Pria itu bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya.


"Belum ada perkembangan, semua masih sama. Aku pikir Nona Elena pergi ke luar negeri sehingga kami sulit untuk menemukannya." Jawab Leo.


"Suruh semua orangku berpencar di setiap negara. Aku sangat mencemaskan keadaan Elena." Kata Nathan dengan mata berkunang-kunang.


"Baik, Tuan!"


"Aku merasa lelah, antarkan aku pulang!"


Tiba di apartemen, Leo menidurkan Nathan di atas ranjang. Melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Nathan dengan telaten, lalu mengantinya dengan piama baru agar pria itu merasa nyaman dalam tidurnya.


Leo mendesah ringan. "Aku sudah seperti babysitter." Eluhnya lalu melenggang ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut.


Setiap malam Leo juga harus berjaga, karena sewaktu-waktu Nathan akan terbangun sambil berteriak histeris seperti baru mendapat mimpi buruk. Leo harus ekstra bersabar dan menguatkan fisiknya. Di siang hari ia harus mengurus perusahaan dan malamnya ia harus mengurus bayi besar yang sangat merepotkan. Tidak ada orang lain yang bisa di percaya Leo untuk menjaga Nathan dalam kondisi seperti itu.


Leo merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Ia tidak perduli dengan tubuhnya yang akan terasa pegal saat bangun nanti.


Di atas kasur Nathan tidur dengan pulas. Pria itu harus membuat dirinya tidak sadarkan diri agar bisa memejamkan mata. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itu memang kenyataannya. Elena sangat berpengaruh besar dalam hidup pria itu. Nathan sudah seperti hidup tapi mati. 


Kalian pasti ingin tau keadaan Sisil saat ini. Perempuain itu sekarag tinggal bersama kekasihnya di apartemen sempit dengan ekonomi pas-pasan. Teragis memang, namun itu sudah menjadi garis hidupnya. Kalau memang bukan untuk di miliki mau di genggam sekuat apapun pada akhirnya akan terlepas juga.

__ADS_1


Nathan terlihat mulai gelisah dalam tidurnya. Entah apa yang sedang pria itu mimpikan. Laki-laki kalau sedang terluka memang sangat menyeramkan. Baru beberapa jam yang lalu Nathan tertidur, dan saat ini ia sudah terbangun dengan peluh bercucuran.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Leo dengan khawatir.


"Ya... aku hanya mimpi buruk. Maaf sudah merepotkanmu!"


"Tidak masalah. Saya tidak merasa di repotkan. Dan saya cukup paham dengan apa yang sedang Anda lalui." Jawab Leo datar. Mereka berdua sangat cocok menjadi rekan kerja. Sama-sama meliliki wajah dingin yang bisa membekukan siapa saja.


"Ambilkan obatku di dalam laci itu!" Nathan menunjuk laci samping tempat tidur.


"Tidak. Anda tidak bisa mengonsumsi obat itu terus-menerus, karena bisa memberi efek buruk untuk tubuh Anda." Tolak Leo tegas.


"Cepat berikan padaku! Aku sangat membutuhkan obat itu. Kemarikan!"


"Tidak akan." Leo menatap wajah pucat milik Nathan. Terlihat lingkar hitam di bawah matanya, bibir yang mengering bahkan sampai ingin terkelupas, tubuh berotot pria tersebut tampak menyusut di karenakan tidak pernah menyentuh makanannya.


"Aaarrgghhh! Aku ingin mati saja." Teriak Nathan sambil menarik kuat rambutnya.


Leo panik mendengar erangan Nathan yang menusuk telinga. Ia memeluk Nathan, mengusap pelan punggung rapuh milik Nathan. "Tenangkan dirimu! Semua akan baik-baik saja." Setelah Nathan sudah mulai tenang, Leo melepas tautannya. "Percayalah! Tuhan sedang menguji Anda dengan masalah ini. Jika Nona Elena memang di takdirkan untuk Anda suatu saat ia akan kembali ke sisi Anda, Tuan. Yang Anda butuhkan saat ini hanya bersabar." Ucap Leo panjang lebar.


Ucapan Leo ada benarnya juga, pikir Nathan. Tidak ada gunanya ia seperti itu, semua malah akan lebih kacau. Nathan akan mencoba menjalani hari-hari seperti biasa. Ia akan bangkit dari keterpurukannya, demi kelangsungan hidupnya dan ribuan orang yang bergantung padanya.


---------


Next Chapter》

__ADS_1


__ADS_2