Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 14


__ADS_3

Hari-hari Elena berjalan seperti biasa hanya ada satu yang berbeda, yaitu tanpa kehadiran Nathan di sampingnya. Pria tersebut menghilang tanpa kabar sejak malam itu.


Bagaimana perasaan Elena bertemu dengan Arsen beberapa hari yang lalu? Jawabanya tidak merubah apapun dari dalam diri Elena, baginya kisah mereka sudah berakhir dengan buruk. Kemarin ia sempat merasa bimbang namun Elena tersadar ia tidak boleh terperosok lagi pada jurang yang sama. Sekalinya berhkianat lain waktu pasti akan terulang kembali. Elena tidak menyesali apa yang sudah terjadi, ia malah bersyukur sudah mengetahui keburukan Arsen sekarang, karena ia tidak perlu membuang waktunya untuk mencintai orang yang salah.


Pagi ini Elena menyibukkan diri dengan ikut membantu Renata membuat kue kering. Ia masuk kuliah siang. Gadis cantik itu sedikit kebingungan melihat banyaknya bahan untuk membuat kue yang berserakkan di atas kicthen table.


"Harus di apakan semua bahan-bahan ini, Ren?" Matanya mengamati semua bahan yang ada.


"Pertama kita akan kocok telur bersamaan dengan butter cair ini, setelah tercampur rata tambahkan gula pasir dan tepungnya." Jelas Renata dengan cekatan menyiapkan peralatan yang di butuhkan.


"Terus yang lainnya?"


"Nanti di masukkan paling terakhir!" Jawab Renata sambil tersenyum, "Nona bisa membantu saya memecahkan telur-telur ini!" Jarinya menunjuk beberapa butir telur di meja.


"Tentu!"


Mereka asik melakukan kegiatan membentuk adonan, dengan berbagai macam bentuk lucu sebelum memanggangnya.


Acara menghias mereka terganggu dengan suara bel yang berbunyi. Elena meminta Renata agar meneruskan pekerjaannya, ia yang akan melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.


Sebelum membuka, Elena mengintip dari lubang kecil di pintu terlihat seorang laki-laki berdiri di balik pintu dengan memakai topi sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas.


Pintupun terbuka. "Anda siapa?"


"Selamat pagi, Nona. Saya kurir pengantar barang." Kata orang itu dengan ramah. "Ada paket untuk anda!" Kurir itu menyerahkan bungkusan hitam yang lumayan besar pada Elena. Lalu menyerahkan note kecil beserta bolpoint pada Elena agar di tanda tangani.


"Terima kasih!" Ucap Elena sopan.


"Saya permisi." kata kurir tersebut sebelum pergi.


Sambil menutup pintu, Elena masih mengamati benda yang berada di tangannya. Ia mencari nama pengirim di kertas yang terpempel pada bungkusan tersebut tapi tidak ada.


Karena di hantui rasa penasaran. Elena segara merobek bungkus luarnya, dan di dalamnya berisi kotak hitam terdapat pita silver di bagian depan. Dengan jantung berdebar gadis itu mengintip isi kotak tersebut. Ia membukanya dengan hati-hati hingga tampaklah isi di dalamnya, sebuah buket bunga mawar pink yang sangat cantik membuat Elena membulatkan bibirnya. Siapa yang mengirim bunga itu untuk Elena?



Ada dua orang yang kemungkinan sebagai pengirim bunga tersebut. Elena menemukan kertas kecil yang tergeletak di dalam kotak hitam itu lalu membacanya.


Kau milikku


Hanya itu yang tertulis di sana. Ia masih belum tau siapa pengirimnya. Tanpa mau ambil pusing, buket bunga itu Elena letakkan begitu saja di ruang tengah. Ia ingin meneruskan kegiatan memanggang kue yang sempat tertunda.


"Siapa yang datang?" Tanya Renata berbasa-basi.


"Oh itu tadi kurir mengantarkan paket untukku."


Wanita pelayan itu mengulas senyum di tengah kesibukannya memasukan loyang ke dalam oven.


"Aku nanti akan mampir ke mansion sebentar sebelum ke kampus, mau memberi Aunty kue yang sedang ku buat ini!" Kata Elena dengan ceria.


"Pasti Aunty nona suka!"


"Semoga saja. Ini kan kau yang membuat, aku hanya mebentuknya saja, pasti enak!" Jawab Elena menertawai dirinya.

__ADS_1


"Yang ini sudah matang. Apa Nona mau mencobanya?" Renata meletakan loyang yang terdapat kue kering yang masih mengeluarkan asap.


Mata Elena berbinar melihat kue-kue cantik dengan bentuk lucu. Gadis itu mencomot satu yang berbentuk kepala beruang lalu di masukan ke dalam mulut. Elena mengunyah dengan mata terpejam menikmati perpaduan rasa manis dan gurih di dalam mulutnya.


"Astaga! ini enak sekali. Aku ingin memakannya lagi." Cetus Gadis tersebut, meraih satu kue lagi dan langsung memakannya.


Renata menggelengkan kepala, ia sangat gemas melihat majikannya bertingkah seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. "Itu karena baru matang jadi lebih nikmat. Harumnya saja sudah membuat ngiler."


"Iya. Aku sampai tidak bisa berhenti memakannya!" ujar Elena dengan tertawa.


"Nona tenang saja. Saya membuat dalam jumlah banyak, kalau habis nanti akan saya buatkan lagi." Balas pelayan itu.


Elena menampilkan wajah kaget. "Aku bisa gemuk kalau memakannya terlalu banyak!" kata Elena sambil mengunyah. "Aku akan bersiap-siap dulu! Setelah kue yang ini matang, tolong kau masukan ke dalam wadah dan tata secantik mungkin." kata Elena menyerahkan loyang yang berisi kue hasil cetakannya pada Renata.


At Nathan's Mansion


"Aunty!"


Elena menghampiri Sisil yang sedang duduk di gazebo samping mansion. Senyum Elena merekah melihat Auntynya sedang menatap ke arah dirinya dengan senyum tipis.


Gadis itu memeluk erat tubuh Sisil. "Aku merindukan Aunty!"


"Aku juga merindukanmu." Jawab Sisil mengusap rambut panjang keponakkannya.


"Oh iya ... Aku membawa sesuatu untuk Aunty!" Kata Elena dengan ceria. "Ini kue buatanku, meskipun bukan aku yang membuat adonannya." Elena menyerahkan kue buatannya pada Sisil, meminta wanita itu untuk segera mencicipinya.


"Kuenya enak, sayang!" Ujar Sisil berusaha tersenyum.


"Di dalam sini masih ada banyak, Aunty bisa memakan semuanya."


Elena menatap wajah Sisil yang tampak lesu. "Aku tidak merasa di repotkan, justru aku sangat senang." Elena menjeda ucapanya, "Aunty sepertinya sedang dalam keadaan yang kurang baik, ada apa?"


"Aunty baik-baik saja, sayang!" Sisil mengusap pipi Elena.


"Kalau ada masalah cerita padaku."


"Entah bagaimana bisa dirimu yang tampak polos bisa menghancurkanku hingga tak bersisa." Batin Sisil menatap keponakkannya dengan kristal bening terkumpul di kelopak matanya.


Mereka memakan cemilan tersebut di gazebo hingga menjelang siang.


■■■■■■


Hari ini hari yang paling melelahkan bagi Elena. Kenapa bisa begitu? Hanya karena ia lupa menyelesaikan makalahnya. Tadi saat dosen memintanya, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali sambil meringis bodoh. Dan akhirnya ia harus menggosok seluruh toilet yang ada di lantai 3 sebagai hukumannya.


Penampilan Elena sudah seperti emak-emak beranak lima. rambut di kuncir kuda yang jauh dari kata rapi, keringat bercucuran di dahi hingga mengalir ke pelipis, serta baju lepek karena basah oleh keringat. Elena megusap peluh di keningnya ia sudah menyelesaikan hukumannya tinggal melapor lalu segera pulang.


Elena melangkah menuju ruangan Dosen, suasana kampus tampak sepi hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang. Kaki Elena menginjak undakan tangga pertama namun matanya tiba-tiba tertutupi oleh telapak tangan yang besar, membuat ia menghentikan kayuhan kakinya dengan tubuh menegang. Ia di seret paksa oleh orang itu entah mau di bawa kemana. perasaan takut mulai menghantui Elena, bagaimana kalau ia di culik dan di jual untuk di jadikan wanita penghibur?


Gelap itu yang bisa Elena lihat, mulutnya juga di bekap, ia hanya bisa menjerit tertahan. Elena Mencoba menyingkirkan tangan orang itu dengan tangannya yang di biarkan bebas, tapi tangan orang tersebut terasa sekeras batu yang tidak terkoyak sedikit pun.


"Arghhh!" Pekik pria tersebut saat tangannya di gigit kencang oleh Elena.


Elena mendorong orang itu setelah ia terbebas dari rengkuhan pria tersebut. "Uncle! Aku pikir ada orang jahat yang ingin menculikku." Kata Elena mencabikkan bibirnya.

__ADS_1


Nathan mengelus telapak tangannya yang masih berdenyut, tampak bekas gigi Elena di sana. "Ini sakit, Sayang!"


"Bukan salahku. Untung tidak ku gigit sampai kulitmu robek, hingga dagingnya keluar!"


"Kedengarannya sadis sekali!" Kata Nathan dengan wajah ngeri.


"Kenapa kau bisa ada sini?" Elena melangkah mundur saat melihat Nathan melangkah maju semakin menipiskan jarak di antara mereka.


"Menjemput calon istri!" Nathan mengulum senyum melihat kepanikan Elena.


Punggung Elena membentur dinding di belakangnya, "Nathan, stop!" Elena menoleh kesamping kanan-kirinya yang tidak tampak seorangpun. "Kau mau apa? Tidakkah kau melihat penampilanku yang seperti gembel ini! Menyingkirlah, aku sangat bau." Tutur Elena yang tidak yakin dengan aroma tubuhnya.


Nathan masih saja menjilati rahang hingga ke leher Elena tanpa merasa jijik sambil mencengkram kuat pinggul kekasihnya. "Aku menyukainya."


Elena memutar bola matanya malas. "Jangan berbuat mesum disini! Memalukan kalau sampai ada yang melihatnya," sambil mendorong pria itu agar menjauh.


"Kau selalu saja mengacaukan kesenanganku." Terdengar nada kecewa di ucapan pria tersebut.


"Seharusnya Uncle tau tempat!" Elena menarik napas pelan, "aku harus menemui dosen sebentar, kau tunggu saja di parkiran."


"Oke... jangan terlalu lama!" Menatap datar Elena.


"Dia marah," ucap Elena lirih menatap punggung kokoh Nathan yang berjalan menjauh.


Sudah cukup lama Nathan duduk dengan gelisah di dalam mobil menunggu kedatangan Elena. Sebenarnya ada perlu apa Elena menemui Dosen hingga selama ini, sudah hampir satu jam wanita itu belum juga muncul. Lalu Nathan menghubungi nomor Elena ia sudah bosan menunggu.


"Kau di mana? Kenapa lama sekali?" Kata Nathan setelah Elena menerima panggilannya.


"A-aku akan segera ke sana," jawab Elena terdengar gugup.


"Cepatlah!"


Elena melepas tautan tangannya dengan Arsen, memberi alasan agar bisa segera pergi menghampiri Nathan yang sudah menunggu sejak tadi. Arsen memaksanya untuk berbicara yang menurut Elena sangat tidak penting. Pemuda itu mengungkapkan penyesalannya dengan menunjukkan ketidak berdayaan di depan Elena.


"Cukup, Arsen! Aku harus segera pergi. Terimalah kenyataan bahwa kita tidak di takdiran untuk bersama." Kata Elena menghentikan penuturan Arsen yang membuatnya muak. Ia segera meninggalkan mantan kekasihnya itu.


Dengan setengah berlari Elena menghampiri Nathan, mendaratkan bokongnya di kursi samping kemudi dengan napas memburu. Elena terlalu banyak berolahraga hari ini, hingga badannya terasa lemas.


"Dari mana saja? Aku sampai bosan menunggumu!"


"Em, i-itu Dosennya terlalu lama berbicara! Aku minta maaf." Balas Elena tidak berani melihat Nathan yang sedang menatapnya dengan satu alis terangkat.


"Kau itu mahasiswi atau kuli? Kenapa penampilanmu berantakan sekali, dan juga bau matahari!" Ucap Nathan sambil mencondongkan tubuhnya mengendus Elena.


"Hari ini aku menjadi cleaning service dadakan. Membersihkan seluruh toilet kampus hingga tanganku terasa kebas, hanya karena aku lupa menyelesaikan makalahku!" Jawab Elena lirih sambil menyengir memamerkan deretan gigi putihnya.


"Lain kali jangan di ulang lagi kecerobohmu itu." Nathan mendekatkan wajahnya pada Elena, berusaha meraih pipi bulat milik kekasihnya untuk di cium. Namun Elena memalingkan wajahnya, tangan gadis itu terangkat mendorong wajah Nathan agar menjauh.


"Uncle dari mana saja? kenapa baru muncul sekarang?" tanya Elena menatap lurus ke depan.


"Menenagkan diri!"


Terdengar helaan napas dari gadis berpenampilan berantakan itu.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2