Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 8


__ADS_3

"Uncle bangun! Sekarang sudah hampir pukul sebelas siang," ujar Elena dengan suara keras.


Merasa tidak di gubris oleh Nathan, Elena menyingkap selimut yang menutupi tubuh pria itu. Segera ia merutuki tindakannya tersebut, pria itu tidur hanya dengan celana boxer yang melekat dengan pas pada tubuhnya.


"Oh God!" Elena segera menutup kembali tubuh Nathan dengan selimut. Gadis itu keluar dengan membanting pintu kuat, menimbulkan suara benturan keras membuat Nathan langsung terjaga dari tidurnya.


"Aku harus kelaparan lagi," Elena berucap lirih, semalam ia juga tidak sempat menghabiskan semua makanan nya.


Pintu kamar terbuka Nathan keluar hanya mengenakan boxer ketat tanpa dilapisi dengan kimono, membuat Elena memalingkan wajahnya ke arah lain karena ia malu.


"Tadi aku mendengar pintu terbanting, apa itu ulahmu?" tanya Nathan dengan menaikkan kedua alisnya.


"Tidak! mungkin kau salah dengar!" Bantah Elena.


"Tidak mungkin aku salah dengar,---- Aku di sini kenapa kau malah menghadap ke sana?"


"Lihatlah dirimu, kau tidak malu hanya berpakaian seperti itu." Elena meremas pinggiran sofa yang ia duduki, ia malu melihat pria tersebut yang dalam ke adaan setengah telanjang.


Nathan mendekat membungkukan badannya di depan Elena mengurung gadis itu dengan kedua lengannya, lalu mengecup puncak kepala Elena cukup lama. "Kenapa aku harus malu? di sini hanya ada dirimu saja. Suatu saat kau akan terbiasa dengan diriku yang tidak menggunakan apapun." Ucap Nathan tepat di depan wajah Elena dengan kekehan menyebalkannya.


"Tutup mulutmu itu laki-laki tidak tau malu!" Wajah Elena sudah seperti kepiting rebus mendengar ucapan vulgar Nathan.


"Aku hampir lupa mengucapkan selamat pagi untukmu."


"Sekarang sudah pukul sebelas lebih, sudah tidak pagi lagi, Uncle!" Balas Elena membuang napasnya lemah.


"Benarkah?" jawab Nathan mengedarkan matanya mencari jam ruangan itu. "Ternyata aku tidur hingga sesiang ini," kata Nathan duduk di samping Elena.


"Kenapa wajahmu cemberut begitu?" tangan Nathan terulur membelai wajah Kekasih kecilnya.


Elena meraih tangan Nathan dan menjauhkan dari wajahnya, "A--aku----,"Elena menggantung ucapan nya saat mendengar suara aneh dari dalam perutnya.


"Kau lapar?" Potong Nathan dengan tertawa.

__ADS_1


Merasa kesal Elena meremas kuat benda pusaka milik Nathan membuat pria itu berteriak keras sambil melontarkan berbagai umpatan untuk gadis itu.


"Sialan, kau ingin membuat milikku patah, El." ujar Nathan dengan suara keras.


"Aku bersyukur kalau bisa langsung patah!" Balas Elena santai.


"Ini aset berhargaku untuk menciptakan penerusku kelak, tapi malah ingin kau patahkan!" kata Nathan menatap tajam Elena dengan rahang mengeras.


"Aku meragukan aset berhargamu itu masih berfungsi dengan normal atau tidak, nyatanya sampai sekarang Uncle belum memiliki keturunan juga." Ujar Elena mengejek.


Nathan menatap garang Elena yang telah berani mengatainya. Ia tersinggung dan tidak terima, manik hazelnutnya menatap tajam gadis itu menusuk hingga dalam.


"Itu karena aku belum menginginkan nya!"


Elena hanya menelan silvianya dengan kasar.


"Aku akan pulang ke mansion. Sisil mencariku karena semalam tidak pulang!" kata Nathan.


"Apa kau akan kembali ke sini?"


"Beri tau aku password apartemen ini, tidak lucu kalau aku harus terus terkurung di sini!" Kata Elena menatap Nathan yang berdiri di depan pintu kamar sambil menatap pada ponselnya.


"Tanggal kelahiramu!" jawab Nathan mendekat pada Elena mengecup kening gadis itu sebelum pergi.


■■■■■■


Langit cerah tanpa awan, matahari bersinar tepat berada di atas ubun-ubun. Elena yang sedang berjalan di antara orang-orang itu tidak memperdulikan terik matahari yang menusuk kulit putihnya. Hari ini moodnya sedang dalam keadaan tidak baik, ia akan pergi berkunjung ke apartemen Melda setelah kemarin ia gagal datang ke sana. Setelah Nathan keluar dari apartemen Elena segera berganti pakaian dan ikut meninggalkan apartemen tersebut.


Ia begitu kesepian butuh teman untuk mengisi hari-harinya yang kosong. Elena memasuki gedung apartemen Melda, ia berjalan menuju lift karena benda itu yang akan mengantarnya ke lantai di mana apartemen Melda berada.


Dengan langkah ringannya, Elena sudah tiba di depan pintu apartemen sahabatnya itu. Ia ingin memberi kejutan pada Melda dengan tiba-tiba datang tanpa memberitahu sebelumnya. Gadis itu menekan tombol password yang ada di pintu, ia sudah sering datang ke sana sehingga tau passwordnya. Elena menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan manis lalu mengarahkan tangannya pada handle pintu dan memutarnya pelan.


Di dalam ruangan itu tampak sunyi tidak ada tanda-tanda ada orang di sana. Apa Melda sedang tidak ada di apartemen? Elena masih mencari sosok sahabatnya itu, ia menghampiri pintu bercat putih. Elena yakin sahabatnya ada di sana, mungkin masih tidur di siang bolong seperti ini.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?" ucap Elena tidak percaya dengan apa yang sedang di lihatnnya.


Teriakan Elena mengusik pasangan yang sedang terlelap hanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Melda melepas tautannya dengan laki-laki yang tertidur di sampingnya. ia menatap Elena dengan wajah pucat pasi, Melda tidak menyangka dengan kedatangan tiba-tiba Elena di apartemennya.


"Kalian menghianatiku! kau tega melakukan ini padaku, merebut kekasihku!" Air mata Elena mulai menetes. "Apa selama ini aku ada salah kepadamu?"


"El, aku minta maaf!" tutur Melda lirih.


"Simpan saja kata maafmu itu!" Kata Elena sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Elena berjalan ke sisi ranjang ke arah Arsen yang masih tertidur pulas. Ia menarik paksa rambut pemuda itu hingga membuat pemiliknya mengerang kesakitan di dalam tidurnya.


"Bangun, sialan!"


Arsen segera terbangun dengan mendudukkan dirinya di atas kasur.


"Ini yang kau katakan sedang sibuk sehingga melarangku untuk menghubungimu!" Kata Elena dengan nada tegas.


"Sayang, aku tidak bermaksud melakukan ini. Aku tidak sadar melakukannya." Kata Arsen memberi alasan pada kekasihnya.


"Aku tidak menyangka kalian orang terdekatku tega menusukku dari belakang. Kalian sudah menipuku!" kata Elena dengan tertawa sumbang.


"Maafkan aku, " Jawab Arsen bingung harus beralasan apa.


"Kita putus!" Kata Elena final. ia segera meninggalkan tempat itu dengan berlari keluar.


"Aku tidak menyangka sahabatku sendiri sudah menipuku berpura-pura baik di depanku nyatanya semua itu hanyalah sampah!" Kata Elena dalam hati sambil berlari memasuki lift.


Di dalam kamar yang gelap seorang gadis terduduk sambil memeluk kedua lututnya di sudut rauangan. Ia sudah di posisi seperti itu sejak berjam-jam yang lalu, Elena meratapi kesedihannya seorang diri. Ia kecewa, ia sakit tapi tidak ada yang bisa Elena lakukan. Orang yang di cintainnya sudah sangat tega menghancurkannya dengan sekali hempas. dan sahabat terdekatnya dengan tidak tau diri sudah menikungnya.


----------

__ADS_1


Next Chapter》


__ADS_2