
Keesokan harinya.
Langkah Elena terhenti di ujung tangga paling bawah. Elena memperhatikan Nathan dari jauh. Pria tersebut sedang membahas sesuatu yang tidak terlalu jelas dipendengarannya.
Sejak tiba kembali di mansion Elena belum sekalipun membuka mulutnya di hadapan Nathan. Entah, Elena merasa begitu benci dengan pria tersebut.
Setelah terdiam cukup lama Elena kembali meneruskan langkahnya yang ingin mencari udara segar di taman belakang. Terus berdiam diri di kamar membuatnya merasa sesak karena terus teringat kekerasan yang Nathan lakukan.
"Permisi Nona! Anda ingin ke mana?" tanya kepala pelayan yang berpapasan dengan Elena disayap kanan mansion.
"Oh, aku hanya ingin ke taman." Elena mengulas senyum simpul.
"Sebaiknya ada pelayan yang menemani Anda!"
Elena menggeleng. "Tidak perlu! Aku akan baik-baik saja tanpa ditemani."
"Tuan tidak akan mengizinkan Anda pergi sendirian."
"Jangan beri tahu dia!"
"Tapi Nona--,"
Elena mengangkat tangan kanannya. Tangan satunya ia letakkan di depan bibir untuk menghentikan ucapan kepala pelayan. "Diamlah! Jangan beritahu Nathan. Dengan begitu semuanya akan menjadi lebih baik."
Kepala Pelayan itu langsung terdiam. Ia membungkuk hormat lalu membiarakan sang Nona melagkah pergi.
Semilir angin lembut menyambut kedatangan Elena di taman yang masih sangat asri dengan pepohonan yang rindang. Suara rantig pohon yang bergoyang karena angin mampu merilekskan otot-otot Elena yang menegang.
Mata Elena terpejam dengan ujung bibir melengkung ke atas. Rasa damai seketika merasuk ke dalam jiwa, membangkitkan semangat hidup yang sempat surut.
"Aku ingin melupakan kejadian kelam itu, tapi bayangan itu terus saja menghantuiku."
"Apakah aku harus berdamai dulu dengan diriku sendiri lalu berusaha menerima Nathan yang sudah menyesali perbuatannya?"
"Tuhan, Bantu aku!"
Kedua tangan Elena menutup wajahnya dengan kedua siku ditumpukan ke atas lutut. Helaan napas panjang mulai terdengar. "Rumit. Apakah ini karma untukku?"
Hingga mentari mulai meninggi Elena masih betah duduk di kursi taman yang berada di bawah pohon. Tempat yang sebelumnya terasa teduh kini sepenuhnya sudah tersorot sinar matahari yang menusuk kulit.
Di lain tempat, tepatnya di dalam mansion Nathan tengah panik mencari keberadaan Elena yang tidak ada di mana-mana. Semua pelayan dan penjaga dikumpulkan di lantai utama mansion. Semuanya menunduk ketakutan mendengar nada bicara Nathan yang penuh emosi.
"Dari sekian banyak mata yang ada di sini bagaimana bisa tidak ada satupun yang melihat istriku pergi! Memang apa yang kalian lakukan?"
Nathan murka. Ia takut Elena pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Kepala pelayan yang tampak santai perlahan mendekat. "Maaf Tuan, sebelumnya saya tidak ingin mengatakan hal ini tapi saya tidak bisa melihat para pelayan yang tidak tau apa-apa terkena imbasnya. Nona Elena saat ini sedang berada di taman belakang."
Nathan mengetatkan rahangnya. Lega bercampur kesal. "Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?"
"Nona berpesan agar tidak memberitahu Anda."
"Bodoh!" Nathan memutar tubuhnya berjalan menjauh membuat aura mencekam di ruangan tersebut perlahan menudar. Semua yang ada di sana bisa bernapas lega.
"Apa yang harus ku perbuat untuk mengembalikan Elena seperti dulu? Saat ini dia melihatku bagaikan moster yang sangat mengerikan." ucap Nathan pada diri sendiri.
Nathan terus melangkah lebar agar bisa melihat keadaan Elena. Nathan cemas. Nathan takut Elena mengalami depresi dan membahayakan dirinya sendiri.
Tubuh Nathan yang berbalut pakaian formal sudah tiba di luar mansion. Nathan memandang jauh. Kini sosok Elena yang menjadi objek utamanya. Gadis yang mengenakan dress hijau tosca selutut terlihat sedang duduk santai dengan kedua kaki diayun-ayukan ke udara.
Yang Nathan lihat Elena sangat menikmati waktunya. Ia tampak baik-baik saja, tapi Nathan ragu apakah kehadirannya akan kembali merenggut senyum yang tercetak di wajah gadis tersebut?
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku sadar kata maaf tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang hilang, tapi aku janji akan menjadi suami yang lebih baik untukmu." Nathan berkata dalam hati. Langkah tegasnya kini membawanya ke hadapan Elena.
Nathan berjongkok. Salah satu lututnya digunakan untuk tumpuan. Tangannya terulur meraih tangan halus sang istri lalu dikecupnya.
"Aku mencarimu seperti orang kesetanan, tapi aku bersyukur bisa menemukanmu di sini."
Elena menatap lurus ke depan. Menolak membalas tatapan sendu Nathan.
"Sayang," panggil Nathan.
"Tampar dan pukul aku. Jangan terus mendiamiku seperti ini. Sungguh, aku tidak akan kuat." Nathan meremas lembut tangan Elena. Matanya menatap perut rata Elena yang terpampang di depannya.
Elena masih enggan untuk berbicara. Nathan berdiri. Memandang lama wajah Elena yang tak berekspresi.
"Sekali lagi aku minta maaf." Nathan membungkuk lalu meraih dagu Elena kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Elena yang terasa dingin.
Tidak ada respon. Elena diam bagaikan patung. Nathan mulai ******* ingin tau respon seperti apa yang akan Elena tunjukkan.
Seperti yang Nathan pikirkan bahwa Elena akan kembali menolaknya. Dorongan tangan Elena di dadanya memberi tanda Nathan untuk segera mengakhiri ciumannya.
"Aku masih butuh waktu."
"Please, jangan dengan cara seperti ini!"
Elena mendongak. Iris mata keduanya saling bertemu. "Aku harap kau mau mengerti. Aku sudah berusaha ingin berdamai tapi hatiku terus saja menolaknya."
"Baiklah. Mungkin ini caramu untuk menghukumku." Nathan menyerah. Ia tidak bisa terus memaksakan kehendaknya.
Tidak ada sautan dari Elena.
__ADS_1
"Aku berharap tidak terlalu lama kau menyiksku."
Pandangan Elena dibuang ke arah lain.
"Sudah terlalu lama kau di luar. Segera masuk dan beristirahatlah!" Akhirnya Nathan mengalihkan topik pembicaraan.
"Ayo ku antar!" ajak Nathan.
Elena patuh. Ia beranjak lalu berjalan lebih dulu. Nathan mengusap kasar wajah lalu leher belakangnya sambil mengikuti Elena dari belakang.
Baru setengah perjalanan tiba-tiba Elena memelankan langkahnya. Terdengar ringisan tertahan dari Elena hingga menarik Nathan untuk segera melihat apa yang sedang terjadi.
"Sayang, kau kenapa?" Nathan panik.
Elena menggeleng lemah. "Kepalaku mendadak pusing."
Tanpa kata Nathan membopong tubuh Elena. Refleks Elena mengalungkan tangannya ke leher Nathan.
"Kau terlalu lama berada di luar. Tidak baik untukmu yang belum sepenuhnya pulih." Nathan menasehati sang istri.
"Aku bosan."
"Kau bisa memintaku untuk menemanimu. Aku akan melakukan apa saja demi membuatmu tidak merasa bosan." tutur Nathan sungguh-sungguh.
"Apa yang bisa dilakukan pria kaku sepertimu? Mungkin aku malah akan mati kebosanan!" ucap sarkastik Elena.
"Apa saja bahkan dengan mempermalukan diriku sendiri."
"Tidak. Terima kasih!" tolak Elena ketus.
"Baiklah. Kau masih marah padaku. Jadi apapun yang kulakukan pasti akan selalu salah."
"Begitukah?" Elena menatap wajah Nathan yang tampak tegang.
Nathan tidak menanggapi. Ia berjalan santai sambil mengendong Elena tanpa merasa terbebani.
*****
Next Chapter>
Hai... hai!
Setelah sekian purnama Alona baru muncul lagi nih🙏
Entah kalian masih ingat sama cerita ini atau enggak. Jujur aku sendiri yang nulis sudah lupa hehe
__ADS_1
Karena kesibukan di dunia nyata memaksa Alona hiatus sebentar.
Alona tunggu like dan komennya ya,☺️